
Kediaman Yin
Tian Long membawa Mei Lan langsung ke kediaman Yin, ketika istrinya itu terbangun dari tidurnya. Disana, tanpa sengaja ia mendengar pembicaraan Dewi Yue dan Yin
"Ibu, saat aku membawa Melia kemari, aku tak tahu kalau di saat itu, Yuan mengutus seseorang untuk membunuh Mei Lan. Aku, menguburkan Mei Lan di hutan di belakang sana dengan bantuan Han Feng. Aku harap ibu memaafkan aku," ucap Yin sedih.
Mei Lan membulatkan matanya. Ia segera berjalan masuk ke dalam kamar Yin, yang pintunya sudah terbuka dan menatap tajam ke arah kakaknya itu. Yin menunduk dan tak berani berkata apapun.
"Tolong katakan padaku. Apakah aku di duniaku ... sudah meninggal?"
Yin menatap Mei Lan dengan rasa bersalah. Ia menggeleng. Mei Lan merasakan sesak di dalam dadanya
"Jadi?"
"Kau belum mati. Aku yang membawamu ke tempat ini lewat pintu lemari itu, yang dulu dihadiahkan padaku oleh ibu," ucap Yin jujur dan menunjuk pada lemari yang ada di sudut kamarnya
Mei Lan menutup matanya. Tian Long merangkulnya.
"Jadi, sebenarnya ... ini adalah tubuhku? dan bukan tubuh Mei Lan? Kau yang sengaja mengganti tubuh kami?!"
Mei Lan membuka matanya dan menatap lurus ke arah Yin. Yin mengangguk. Nafas Mei Lan memburu
"Lan er aku ..."
"Namaku Melia. Bukan Lan er. Aku bukan Mei Lan. Walaupun aku dan adikmu memilki jiwa yang sama, tapi aku adalah Melia," ketus Melia
"Jiwa yang sama? Jadi, kau ... kau adalah ..."
"Iya, nak. Melia adalah reinkarnasi adikmu. Mei Lan ditakdirkan memiliki hidup yang singkat, sebelum akhirnya ia mendapatkan tubuh dan jiwa yang sempurna," jelas Dewi Yue
Saat ini Yin yang membulatkan mata. Sudut bibirnya terangkat
"Jadi, apakah itu berarti dia tetaplah adikku, bu?' tanya Yin senang
Dewi Yue tersenyum dan mengangguk. Air mata haru menetes di pipinya. Yin berjalan mendekati Mei Lan yang namanya kini kembali menjadi Melia
"Lan er ... eh, bukan ... Melia ... maafkan aku. Aku mohon maafkan aku," pinta Yin memelas dan terus mendekati Melia
Tian Long menjauhkan tubuh Melia, ketika ia melihat Yin hendak memeluk istrinya
Yin mengerutkan alisnya tak senang,"Dia adalah adikku. Apakah salah kalau aku ingin meminta maaf dan memeluknya?"
"Tidak, tapi kau tetaplah laki - laki. Dan, aku sama sekali tak mau ada laki - laki lain yang memeluk istriku," tukas Tian Long enteng
"Istri? Kalian belum menikah!" protes Yin
"Kami belum menikah, tapi Dewa Agung sudah merestui kami dan memberikan ujian pada Melia. Jadi, dia resmi jadi istriku. Hanya ritual, itu bisa dilakukan nanti. Yang penting Melia sudah jadi milikku seutuhnya,"
Blush
Wajah Melia memerah. Mulut Yin dan Feng Huang menganga tak percaya mendengar perkataan Tian Long. Feng Huang menggeleng. Melia mendesah
"Yin gege ... sudahlah ... seperti yang sudah dikatakan Dewi, ini adalah takdirku. Aku memaafkanmu," ucap Melia..
"Adik ... terima kasih," ucap Yin. Melia tak menjawab.
Yin tersenyum cerah dan kembali berjalan mendekati Melia. Tapi, lagi - lagi Tian Long dengan wajah datarnya menghindarinya
Dukk ...
"Auww ... kau adik ipar durhaka!" protes Yin seraya mengusap dahinya yang terpentok tiang di belakang Melia.
Tian Long dan Melia terus berpelukan, tak mempedulikan ocehan protes Yin
"Sudahlah ... ini sudah waktunya. Yin ingat pesanku. Kau harus mengingatkan Mei Lan. Sihirku hanya bisa membantu kalian sampai 2 kali dupa. Sekarang, Melia masuklah bersama Yin," titah Feng Huang
Tian Long menarik Melia dalam pelukannya dan menciumnya dalam.
"Huaah ... kalian memang sudah menganggap kami disini hanya angin lalu," kesal Feng Huang
"Kenapa kalian suka sekali memberi kami makanan anjing?!" seru Yin tak terima
Tian Long melepas lumatannya. Bibir Melia serasa kebas. Dewi Yue menggelengkan kepalanya dan tersenyum
"Sayang, aku harus menyegel auramu. Pejamkan matamu," pinta Tian Long
__ADS_1
Melia memejamkan matanya. Tian Long menaruh 1 jarinya beberapa centi di dahi Mei Lan. Sebuah ring yang Feng Huang berikan padanya waktu itu keluar dan perlahan masuk kedalam dahi Mei Lan.
Tian Long menarik tangannya dan tersenyum," Sayang, sudah selesai,"
Melia membuka matanya. Semua terasa berbeda. Ia melihat Tian Long dengan mata indahnya
"Sekarang, kau bisa pergi. Ingatlah, kau harus kembali. Jika tidak, maka ... aku akan menyusulmu," bisik Tian Long di akhir kalimat. Melia membuka matanya dan mendesah. Ia mengangguk. Tian Long kembali memeluk istrinya dengan erat
"Baiklah, baiklah. Sudah cukup. Melia, Yin, kalian berdua masuklah lebih dulu. Aku akan mengirim Tuan Yin pada kalian."
Yin dan Melia mengangguk. Menuruti titah Feng Huang. Yin membuka pintu itu. Cahaya terang menyilaukan menyambut mereka. Yin mengulurkan tangannya pada Melia dan disambut wanita itu. Keduanya saling mengangguk mantap
Wusss ...
Angin kencang menerpa keduanya saat masuk kedalam cahaya itu. Melia menutup matanya.
Ceklek
Melia membuka matanya, begitu ia mendengar suara pintu dibuka. Benar saja, sepertinya mereka telah sampai. Sebuah rumah kuno dengan furniture dari zaman dinasti kuno
"Kita ada dimana?" tanya Melia
Yin tersenyum, "Ini ... adalah rumah keluarga Yin yang tersisa,"
Melia menaikkan alisnya dan menahan nafas. Ia melihat ke sekelilingnya. Beberapa furniture yang pernah ia lihat di kediaman Yin di dimensi lain, memang mirip dengan yang terpajang di beberapa sudut rumah ini. Hanya saja, warnanya sudah berubah
"Tidak ada. Rumah ini ditinggalkan begitu saja," jelas Yin. Ia memberikan Melia baju dan tas Melia yang dulu dikenakan sebelum berpindah dimensi.
"Cepatlah. Waktu kita tak banyak," kata Yin mengingatkan. Melia mengangguk dan segera mengganti pakaiannya.
Ssss ...
Feng Huang muncul dan meletakkan tubuh ayah Yin itu di sebuah ranjang kuno.
"Sekarang, bawa dia pergi," kata Feng Huang. Yin mengangguk. Melia sudah berganti baju dan kembali menemui Yin
Feng Huang mengibaskan lengannya. Penampilan Yin Mou Chou berubah.
"Melia, sekarang semua tergantung padamu. Pergilah,"
Melia mengangguk. Yin menggendong ayahnya dan masuk ke Taksi yang masih terparkir di depan rumah kuno itu. Melia mulai sedikit mengingat awal sebelum ia pindah dimensi. Ia menaiki taksi yang sama, saat ia keluar dari club
"Yin gege ... dari mana kau tahu cara mengemudi?" tanya Melia. Tapi kemudian lidah Melia tercekat. Ia melihat Yin sangat berbeda dari sebelumnya. Rambutnya kini cepak dan memakai pakaian modern. Terlihat berbeda.
"Kenapa kau ... sepertinya aku pernah melihatmu," kata Melia
__ADS_1
"Kenapa? Apa kau sudah mulai lupa padaku, Melia?" tanya Yin cemas
"Kepalaku ... aku ..." rintih Melia.
Melia menutup matanya. Kepalanya terasa pusing. Matanya begitu kabur. Kesadaran Melia lama kelamaan hilang. Semua gelap
"Melia! Melia!" seru Yin panik. Ia segera melajukan kendaraanya lebih cepat, agar sampai kerumah sakit.
Yin memarkirkan taksinya sembarangan di halaman IGD.
"DOKTER! TOLONG DOKTER! Adik dan ayahku" seru Yin sambil berlari masuk ke IGD
Beberapa orang berpakaian putih berlari keluar dan mendorong brankar. Melia digendong masuk Yin ke dalam IGD. Sedangkan ayahnya dalam brankar yang di dorong
"Cepat, cek darah dan siapkan CT!" seru seorang dokter ketika ia memeriksa tubuh Yin Mou Chou.
"Nona! nona! bangun, nona!" panggil seorang dokter pada Melia
Dokter itu memeriksa dada dan mata Melia. Normal. Yin dengan cemas menunggu di depan bed rawat keduanya
"Eh ... dokter, bagaimana keadaan adik saya?" tanya Yin
"Adik Anda hanya pingsan, Ia akan segera sadar. Untuk Ayah Anda, saya masih menunggu hasil dari lab. Mohon bersabar," kata dokter itu
Yin mengangguk, "Terima kasih,"
'Aku tak mengerti dia bilang apa. Tapi, kalau Melia tak segera sadar dan mengoperasi ayah, aku takut waktunya tak akan cukup. Dan aku pasti akan kesulitan membawanya kembali,' batin Yin
Dini hari, Melia mulai sadar. Ia melihat ke sekitarnya. Yin tertidur di sofa. Dan, Yin Mou Chou entah berada dimana,
"Aku ... apa yang terjadi denganku? Kenapa aku ada disini?" gumam Melia seraya melihat tangannya yanmg terpasang infus.
Melia turun dari bed rawatnya dan berjalan mendekati Yin. Ia mengerutkan alisnya.
"Dia ... siapa? Kenapa ada disini?"
__ADS_1