Dokter, I Love You

Dokter, I Love You
Ikuti Kata Hatimu


__ADS_3

Melia sudah beberapa jam di dalam ruang operasi. Yin menunggu di ruang tunggu yang ditunjukkan Melia.


 


 


“Kenapa, kenapa mereka belum keluar juga? Bagaimana keadaan ayah?” gumam Yin mondar mandir. Kepalanya mendongak dan melihat ke arah pintu ruang operasi


 


 


“Apa ... mereka gagal?”


 


 


Yin berlari dan berdiri tepat di depan pintu ruang operasi. Menempelkan telinganya dan berusah mendengar sesuatu


 


 


“Kau tidak akan bisa mendengar apapun, nak. Mereka sangat jauh didalam. Tunggulah,” ujar seseorang yang mengagetkan Yin


 


 


Yin menoleh dan menautkan alisnya menghampiri seorang laki – laki setengah baya yang duduk di kursi ruang tunggu dan memegang tongkatnya.


 


 


“Dari mana Anda tahu?” tanya Yin


 


 


“Karena aku juga pernah masuk kesana,” jawab enteng lelaki itu


 


 


“Pernah masuk kesana?” tanya Yin memelototkan matanya


 


 


“Ya. Anakku meninggal didalam sana dan aku menerobos masuk untuk melihatnya,”


 


 


Yin terkejut,”A-apa kau bilang? Meninggal?”


 


 


Lelaki itu mengangguk. Masih dengan ekspresi yang sangat tenang, ia mendongak dan melihat Yin yang sudah berbalik melihat ke arah pintu


 


 


“Waktumu akan segera habis. Kau harus kembali ke duniamu. Untuk ayahmu, sebaiknya kau tidak membawanya kembali setelah operasi. Atau, ia akan bertambah parah,”


 


 


Yin berbalk cepat dan menatap lelaki itu. Matanya memicing tajam


 


 


“Siapa kau? Kenapa kau tahu aku bukan sari dunia ini?” tanya Yin


 


 


Lelaki itu menyunggingkan senyum dan berdiri


 


 


“Aku tahu dan aku juga tahu siapa dokter yang menolong ayahmu saat ini. Nak, pulanglah. Kau tak akan bisa memaksanya untuk kembali.


Karena, jika kau memaksanya, maka tubuhnya akan menghilang. Ia hanya bisa kembali dan pulih, kalau ia


sendiri yang ingin kembali ke duniamu.


Kau pun tak boleh mengatakan apapun padanya, kalau tidak maka ... catatan tentangnya


disini akan lenyap.


Sekarang, pergilah. Ayahmu ... dia akan kembali padamu,” ucap lelaki itu dan berlalu dari sana dengan langkah lambat. Ia berbelok ke arah lain dan menghilang


 


 


Yin terpaku. Ia melihat ke arah pintu ruang operasi


 


 


“Lan er ... Lan er akan menghilang jika aku memaksanya? Lalu, lalu bagaimana jadinya jika ia tak kembali. 3 alam akan hancur. Lan er ... aku mohon ... jangan sampai hal itu terjadi,” gumam Yin


 


 


Didalam ruang operasi, Melia yang membantu Wayne masih terlihat bersemangat, walau sudah 4 jam mereka disini. Cedera aorta yang dialami Yin Mou Chou lumayan parah.


“Melia, aku dengar temanmu tadi memukul Felix. Ada apa?” tanya Wayne dengan tangan masih terus memegang bipolar (pisau bedah elektrik)


 


 


“Entahlah, sepertinya Felix telah berbuat sesuatu yang salah dan temanku tak menyukainya,” jawab Melia


 


 


'Apa dia tahu kalau Felix sudah menikah?' batin Wayne


 


 


“Lalu, bagaimana denganmu? Apa kau akan melanjutkan pernikahanmu dengannya?”


 


 


“Hahaha ... apa yang kau bicarakan? Tentu saja iya. Kami sudah merencanakan sejak lama dan ini tinggal


sebulan lagi. Semua persiapan sudah hampir selesai,” sahut Melia


 


 


Wayne mengangguk dan melanjutkan untuk menjahit. Keduanya tak lagi berbicara hingga operasi selesai


 


 

__ADS_1


cesss ...


 


 


Wayne dan Melia keluar dari ruangan yang sangat dingin itu, ketika pintu ruang operasi terbuka.


 


 


“Melia, kamu ... sebaiknya pikirkan kembali,” ucap Wayne dan menghentikan langkah Melia. Wanita itu berbalik dan menautkan alisnya


 


 


“Pikirkan soal apa?” tanya Melia dengan ekspresi tak mengerti


 


 


“Pernikahanmu,” ucap Wayne. Laki - laki itu berjalan dan berhenti untuk membuang masker dan penutup kepalanya, lalu kembali melanjutkan langkahnya. Tak ada kata – kata apa – apa lagi setelahnya. Ia melenggang begitu saja meninggalkan Melia yang masih bingung dengan perkataannya


 


 


“Apa maksudnya?” gumam Melia


 


 


Dokter cantik itu keluar dan menemui Yin yang menyambutnya dengan wajah cemas


 


 


“Ba-bagaimana ayahku?” tanya Yin


 


 


Melia tersenyum.” operasinya berhasil. Sekarang tinggal menunggu ayahmu siuman,”


 


 


“Apa itu artinya ayahku bisa sembuh?” tanya Yin ebrbinar. Melia mengangguk


 


 


“Ya, Ayah Anda bisa sembuh. Semua sudah baik – baik saja. Kita akan tunggu beliau sadar,”


 


 


“Kapan itu?” tanya Yin tak sabar. Ia sudah menunggu lama agar sang ayah sadar


 


 


“Terus terang, tepatnya saya tidak tahu. Mungkin malam ini atau besok atau lusa. Karena kondisi pasien berbeda- beda,” terang Melia


 


 


Yin mengangguk. Ada kekecewaan diwajahnya. Melia menyentuh pundaknya dan kembali tersenyum


 


 


 


 


Yin mengangguk. Ia menatap Melia dalam. Ia masih teringat perkataan laki – laki tadi. Melia menarik


tangannya. Senyumnya memudar ketika ia melihat Yin manatapnya


 


 


“Tuan, saya kembali ke ruangan saya dulu,” pamit Melia dan segera pergi meninggalkan Yin


 


 


“Sekarang, adikku menjadi asing denganku,” lirih sedih Yin


 


 


 


 


Hari berikutnya, kesadaranYin Mou Chou kembali. Ia melihat ke sekelilingnya. Ruangan yang sangat asing.


Manusia dengan pakaian aneh dan terbuka menurutnya.


 


 


Seorang dokter wanita, dengan jas dokternya dan rambut yang diikat ekor kuda datang mendekatinya dengan


senyum


 


 


“Halo, Tuan Yin. Anda sudah sadar? Suster memberi tahu saya kalau Anda sudah membuka mata beberapa saat lalu. Sekarang, ijinkan saya memeriksa Anda, ya?” ucapnya


 


 


Mata Tuan Besar Yin mengerjap. Ia melihat tangan wanita yang terulur dan membuka bajunya.


 


 


Grep


Tuan Besar Yin menangkap tangan wanita itu


 


 


Akhh ...


 


 


Ia merasakan sakit pada bagian dadanya.


 


 


“Tuan, biarkan saya memeriksa Anda. Tolong lepaskan tangan saya,” ujar dokter itu. Tuan Besar Yin perlahan membuka matanya dan melihat ke arah dokter itu


 

__ADS_1


 


“Lan er! A ... pa yang ... k-kau ...”


 


 


“Tuan, nama saya Melia. Dan saya disini mau memeriksa Anda. Jadi, tolong lepaskan tangan saya. Atau luka Anda akan kembali robek jika Anda memaksakan diri menggunakan tenaga seperti ini,” tegas Melia


 


 


Tuan Besar Yin perlahan melepas tangannya. Rasa sakit di dadanya sangat luar biasa menyiksanya.


 


 


Melia meminta bantuan seorang suster untuk membuka baju Tuan Besar Yin. Lelaki itu hanya bisa pasrah Ia tak memilki tenaga lagi


 


 


“Tuan Yin, usahakan untuk istirahat yang cukup dan jangan memikirkan hal yang berat – berat dulu ya. Untuk makanan saya akan memberitahu pihak dapur diet Anda,” jelas Melia.


Tak ada jawaban dari bibir Tuan Besar Yin. Melia keluar dari ruangan setelah meminta suster untuk menata kembali baju Tuan Besar


 


 


Yin berlari mendekatinya, ketika Melia baru saja menutup pintu ruang ICU


 


 


“Ba-bagaimana ayah? Apa dia sudah sadar?” tanya Yin. Melia mengangguk. Yin tersenyum lebar


 


 


“Iya, ayah Anda sudah sadar. Hanya saja ia harus tetap kami rawat disini. Jadi, mohon bersabar,” jelas


Melia


 


 


“Apa? Tidak, tidak. Saya harus membawa Ayah kembali malam ini juga,” jawab Yin. Melia terkejut dan membulatkan mata


 


 


“Tuan! Kalau Anda sayang ayah Anda, tolong dengarkan kami para dokter. Jika Anda membawanya kembali ke tabib, maka lukanya akan semakin bertambah parah.


Apa itu yang Anda inginkan? Luka operasi, hanya bisa disembuhkan dengan obat – obatan dari rumah sakit bukan herbal!” ucap Melia dengan nada tinggi


 


 


“Ehm, tapi kami hanya punya waktu hingga malam ini. Jika lebih dari itu maka ... kami tidak akan bisa pulang,” lirih Yin


 


 


“Omong kosong apa ini, Tuan? Setega itukah keluarga Anda? Dia adalah ayah Anda, berarti di adalah kepala


keluarga, kan? Kenapa Anda takut? Ini demi kesehatan ayah Anda agar pulih kembali,” omel Melia


 


 


Yin tersenyum getir. Ia tak bisa menjelaskannya pada adiknya secara gamblang.


 


 


“Tapi ... itulah kenyataannya. Kami, hanya punya waktu sedikit,” kata Yin lemah


 


 


Melia berkacak pinggang dan menghembuskan nafasnya kasar


 


 


“Bawa saya ke keluarga Anda. Saya akan menjelaskan pada mereka!”


 


 


Yin terkekeh. Ia menggeleng.


 


 


“Aku tidak bisa. Kau tidak bisa kesana. Kau harus menuruti apa yang hatimu katakan,” ucap Yin


 


 


Melia menaikkan alisnya lalu mengerutkannya,' apa maksudnya? Kenapa ikuti apa yang hatiku katakan?'


 


 


“Dokter. Terima kasih banyak. Tapi, tolong jangan lagi menahan kami,”


 


 


“Tuan, Apa Anda tahu kalau dengan memaksa seperti ini, nyawa ayah Anda akan semakin terancam?”


 


 


Yin menatap Melia dan menutup matanya.


 


 


'Bagaimana ini? Aku harus segera kembali. Tapi, ayah ...'


 


 


“Tuan, setidaknya Anda harus menunggu 1 minggu sampai ayah Anda sedikit membaik. Setelah itu, Anda boleh pulang,” kata Melia


 


 


“1 minggu?” tanya Yin dengan mata yang membualt. Melia mengangguk


 


 


***


Maukah Yin menunggu?

__ADS_1


__ADS_2