
Tian Long membawa Mei Lan ke Ruang Giok di Pulau Es. Ia membaringkan tubuh Mei Lan di atas sebuah tempat tidur giok. Dibelainya lembut wajah Mei Lan.
“Sayang, kita akan berkultivasi disini bersama. Akhirnya aku bisa bersamamu,” ucapnya. Perlahan ia menundukkan kepalanya dan mencium lembut bibir Mei Lan
Tian Long mengambil posisi di depan tempat tidur giok Mei Lan dan menyilangkan kakinya. Ia menaruh kedua tangannya di depan dadanya dan menutup mata. Sebuah cahaya putih menutupi tempat itu.
Perguruan Bai Yun
Dewa Obat menelan saliva melihat 3 orang yang terbaring di tempat tidur yang berjajar di kediamannya.
“Dewa Obat, mereka adalah ayah dan kakak – kakak Mei Lan. Tolong obati mereka,” ucap Feng Huang
“Eh ... Dewa Tinggi ... Mei Lan lebih pintar dibandingkan hamba ini. Dia ...”
“Saat ini ... Mei Lan tidak bisa. Ia harus pergi memulihkan tenaga dalamnya,” kata Feng Huang memotong kata – kata Dewa Obat
“Dewa Obat, aku akan membantumu,” ucap Dewi Yue
“Ba-baiklah Dewa Tinggi, Dewi Yue ...”
Feng Huang menghela nafas melihat 3 orang yang terbaring. Ia merasa iba. Kerajaan Ming sudah hancur dan berpindah tangan. Dan sebentar lagi, Yuan ...
Ia menggeleng dan menghilang. Dewi Yue yang mengerti tatapan Feng Huang pun, menghela nafas. Ambisi hanya membawa kehancuran. Membawa bencana dan menyebabkan orang lain menderita
Kerajaan Ming
Yuan duduk sendiri dan melihat langit. Arak ditangannya seakan menjadi obat untuknya mengatasi kegundahan hati. Seisi Istana sudah kosong. Tak ada lagi tersisa. Hanya tinggal dirinya dan adiknya Yi Fei yang lumpuh
“Bai Yan ... katakan apa yang harus kulakukan sekarang?”
Bai Yan menoleh dan melihat atasannya. Ia menunduk dan tak bisa berkata – kata. Ia hanya bawahan yang harus menuruti apa yang dikatakan majikannya
“Hamba ...”
Yuan terkekeh. Ia kembali menegak araknya
“Bai Yan! Kemarilah. Minum arak bersamaku ... ayo ... sini ...”
Yuan menuangkan arak di sebuah gelas dan memberikannya pada Bai Yan. Lelaki itu menunduk dan menerima araknya
Keesokan harinya
Persiapan pengangkatan Yuan sebagai Kaisar telah siap. Yuan Ning dengan pakaian kebesaran sebagai Putri Kerajaan Ming tersenyum cerah.
Yuan, dibantu kasim baru memakai pakaian kebesarannya. Tak ada senyum kemenangan atau kebahagiaan di dalam hatinya.
Melangkah gontai, ia berjalan menuju aula pertemuan, dimana acara penobatan akan diadakan. Bai Yan memakai baju zirah lengkap dengan pedangnya.
Semua pejabat dan bangsawan yang diundang, membungkuk dan memberi hormat kepadanya. Wajah yang dingin tanpa senyum, membuat orang yang melihatnya menunduk
Sampai di depan tangga menuju singgasana, seorang laki – laki tua yang sebenarnya adalah jelmaan dari Tetua Shuoli, menaruh mahkota di atas kepalanya. Yuan dipersilahkan lelaki tua itu untuk naik dan duduk diatas tahta
“HIDUP KAISAR TAN YUAN MING. SEMOGA YANG MULIA PANJANG UMUR,” serentak semua yang hadir berlutut dan memberi hormat
Yuan mengedarkan matanya ke arah mereka,” Bangunlah,”
“TERIMA KASIH YANG MULIA,”
Setelah penobatan, Yuan kembali ke ruang kerjanya, “ Bai Yan. Aku tak mau diganggu,”
“Baik, Yang Mulia,” sahut Bai Yan dan segera menutup pintu
“Aku harus menguasai gulungan itu dan menjadi lebih kuat. Tak akan aku biarkan si ****** itu berlaku seenaknya di kerajaanku,” gumamnya
Bergegas ia menekan panel dibawah ranjangnya dan menuruni tangga itu. Matanya membulat, ketika dilihatnya penyangga untuk gulungan itu kosong. Ia mencari kesana kemari. Kosong. Tak ada
__ADS_1
“Kurang ajar, siapa yang berani masuk dan mengambilnya,” geramnya dengan alis bertaut dan tangan mengepal
Aaarrrghhh ...
Bammm ...
Kilatan bola api keluar dari kepalan tangannya dan menghantam dinding. Ruangan itu menjadi bergetar. Yuan melihat kesana kemari dan rontokan debu berjatuhan semakin cepat
“Arrghh ... sial!”
Yuan berlari meninggalkan ruang bawah tanahnya. Tak lama, terdengar dentuman keras.
Bammm ...
Yuan memejamkan matanya dan menggeram
“Sial. Ruangan itu sudah terkubur.”
Yuan segera menutup akses masuk ke ruang bawah tanahnya dan kembali ke ruang kerjannya
“Bagaimana ... bagaimana cara supaya aku bisa mengalahkan wanita iblis itu?”
“Aku bisa membantumu,”
Yuan terkejut dan berdiri. Seorang biksu muda tiba – tiba saja muncul dihadapannya
“K-kau ... kau bukan manusia. Siapa kau?” tanya Yuan dengan mata membulat
Biksu muda itu tersenyum dan menghitung tasbihnya
“Amitabha ... aku manusia tapi ... aku manusia yang berbeda darimu,” ucap biksu itu dan masih tersenyum
Yuan mengerjap dan memutari mejanya mendekati si biksu
“Kau, kau tadi bilang ada cara untuk mengalahkannya? A-apa itu?” tanya Yuan tanpa basa basi
“Dewi Agung Teratai? Siapa dia? Dimana aku bisa mencarinya?” tanya Yuan
“Dia ... adalah mantan tunanganmu, Yin Mei Lan,”
Yuan tercengang. Matanya membulat. Ia tak mempercayai telinganya
“Bagaimana mungkin? Dia ... kulitivasinya saja hanya ...”
“Hahahah ... ternyata kau memang bodoh. Yin Mei Lan menurunkan auranya, agar orang tak mengetahui tingkat kultivasinya. Apa kau tahu kalau ... yang mengalahkan pasukan Xue, adalah dia?”
Yuan kembali membelalak,”A-apa? Tidak mungkin!”
Biksu itu menggeleng dan tersenyum. Ia berjalan perlahan menuju pintu yang memperlihatkan danau buatan, disisi ruang kerja Yuan
“Yin Mei Lan adalah reinkarnasi Putri Da. Seorang Dewi terkuat yang pernah ada. Ratu Iblis bersusah payah mengumpulkan jiwanya yang terpencar diseluruh dunia, semua karena ulah Dewi Agung. Dengan kekuatannya ia memecah jiwa Ratu Iblis yang usianya sudah lebih dari 4000 tahun,” jelas biksu itu
“Kenapa kau ceritakan ini padaku?”
Biksu itu berbalik dan kembali tersenyum
“Aku adalah seorang biksu, tentu saja aku ingin menghancurkan iblis,” jawabnya
Yuan terkekeh,” Hahaha ... aku yakin lebih dari itu. bukankah begitu Biksu?”
Senyum biksu itu menghilang. Ia mendekati Yuan dengan mata yang tajam
“Kaisar, aku hanya memberi solusi. Jika kau ingin mengalahkan Ratu Iblis, maka hanya itu caramu satu – satunya,” kata biksu itu dan menghilang begitu saja
Yuan tercengang. Ia melihat kesana kemari. Nihil. Biksu itu benar – benar menghilang
“Mei Lan? dia reinkarnasi Putri Da? Dewi Agung Teratai?” gumamnya.
__ADS_1
“Bai Yan!” serunya
Ceklek
“Hamba, Yang Mulia,” jawab Bai Yan sambil berlutut
“Cepat kau cari dimana Yin Mei Lan dan bawa padaku,” titah Yuan
“Baik, Yang Mulia,”
Bai Yan segera keluar dan menutup pintu. Desahan keluar dari mulutnya. Ia menatap pintu yang tertutup
‘Yang Mulia, apa lagi yang akan kau lakukan?’ batinnya
Pesisir Barat
Dewa Tinggi Liu mendengar apa yang terjadi pada Mei Lan. Ia bergegas menuju kamar Raja Naga Laut Barat. bayangan Mei Lan selalu melayang di benaknya. Ia ingin menemuinya
“Dewa Tinggi,” sapa seorang kasim yang menunggu di depan kamar Raja
“Sampaikan pada rajamu. Aku ingin segera beremu,” kata Dewa Tinggi Liu
“Baik, Dewa,”
Dewa Tinggi Liu berjalan mondar mandir dan menunggu kasim itu keluar. Tak lama, kasim itu kembali
“Dewa, silahkan,”
Lelaki itu segera masuk dan melihat Raja Naga berdiri menunggunya
“Dewa Tinggi Liu, apa yang bisa hamba bantu,” Raja Naga membungkuk dan memberi hormat
“Hmm, Raja Naga ... aku ada keperluan mendadak. Aku akan segera kembali. Jika terjadi sesuatu, tiuplah peluit ini atau kau bisa mengirim utusan ke tempatku. Kau mengerti?”
“Hamba mengerti, Yang Mulia,” jawab Raja Naga itu dan menerima peluit kecil dari tangan Dewa Tinggi Liu.
Lelaki dengan badan yang gagah itu berbalik dan menghilang. Meninggalkan sedikit asap putih
Pulau Es
Dewa Tinggi Liu menatap pulau di depannya. Sebuah pulau yang terdapat di tengah laut dan hanya terdiri dari es.
Di dalam pulau itu terdapat ruangan milik Kerajaan Langit, yang merupakan sebuah ruangan yang dibuat oleh Kaisar Langit terdahulu dengan menggunakan lebih dari separo kultivasinya.
Sehingga tempat itu memiliki kekuatan spiritual yang sangat tinggi. Hanya Kaisar dan Putra Mahkota Langit yang boleh memasukinya.
Lain dari mereka, kultivasi mereka akan terserap secara otomatis, kecuali memiliki tanda darah dari Kaisar atau Putra Mahkota
“Mei Lan, apa kau baik – baik saja di dalam sana?” lirihnya. Matanya memandang sendu ke arah pulau itu
Tian Long yang sedang bermeditasi, merasakan kehadiran Dewa Tinggi Liu. Ia melihat ke arah Mei Lan yang terbaring dan masih setia menutup mata
“Haish ... kau memang magnet pria, sayang,” ucapnya dan kembali menutup matanya. Melanjutkan meditasi
***
Hai ... hai ...
part 1 sudah selesai.
Selanjutnya aku kasih Crazy Up untuk Part 2 hari senin atau selasa ya ...
karena semuanya sudah baik hati banget dukung aku ... terus dukung ya ...
part 2 gak kalah seru ...
__ADS_1