Duri Dalam Pernikahan

Duri Dalam Pernikahan
Ch.100 Bertemu Nanda


__ADS_3

Malam ini adalah malam pertunangan antara Radika dan Rere. Tampak Aileena tengah bersiap-siap di depan meja riasnya. Seperti biasa, Aileena memakai make up flawless dengan menonjolkan beberapa titik membuat wajahnya makin bersinar cantik. Setelah selesai, Aileena merapikan kembali gaunnya yang menjuntai panjang hingga sebatas mata kaki. Aileena memilih gaun berkerah sabrina berwarna hitam membuat keindahan bahu putihnya begitu menonjol.


Saat sedang merapikan gaun, tiba-tiba sepasang lengan kekar dengan bisep menonjol memeluk tubuhnya dari belakang membuat Aileena seketika menegang. Kemudian orang itu mengecup lehernya mesra setelah itu ke pipi membuat pipi Aileena bersemu merah.


"Mas ... " bibir Aileena mengerucut saat lelaki itu tiba-tiba saja mengecupnya. Untung saja sang suami tidak meninggalkan jejak asmaranya. Jejak kemarin malam saja belum hilang, membuatnya harus bersusah payah menutupinya menggunakan concealer dan foundation. Kalau ditambah lagi, bisa-bisa ia harus retouch lagi dong.


"Kamu cantik banget sayang." puji Fatur.


"Oh ya?"


"Hmmm ... Sangat. Ah, mas jadi takut ... "


Aileena menatap lekat wajah Fatur dari cermin meja riasnya saat mendengar Fatur mengucapkan kalimat itu.


"Takut? Takut apa?" tanya Aileena bingung.


"Calon tunangan mantan adik ipar kamu itu kan dulu suka kamu, Ai, mas takut, dia tiba-tiba batalin pertunangannya terus pingin ngejar kamu lagi kalau liat kamu secantik ini." ujarnya sambil mengeratkan pelukannya.


Aileena tergelak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Sungguh, pemikiran suaminya ini aneh-aneh saja, pikirnya.


"Mas serius, Ai-yang." ucapnya bersungut-sungut tak suka dirinya ditertawakan.


"Mas jangan aneh-aneh deh! Itu nggak mungkin. Ai nggak secantik itu sampai bisa merubah perasaan orang lain dalam sekejap." kilah Aileena masih dengan tawanya.


"Apanya yang nggak mungkin? Buktinya mas jatuh cinta sama Ai itu sejak pandangan pertama. Saat pertama kali Ai datang ke kantor buat cari rumah, sejak saat itu juga Mas jatuh cinta. Dengan dandanan biasa aja bisa bikin mas langsung klepek-klepek apalagi sedang dandan kayak gini, rasanya pingin mas umpetin aja Ai nya biar nggak diliat orang lain." ujarnya sambil terkekeh.


Aileena mencibir, "Emangnya Ai apaan pake diumpetin. Duit receh? Atau surat cinta?"


"Kok surat cinta?"


"Kan surat cinta suka diumpetin tuh biar nggak dibaca orang lain."

__ADS_1


"Cie yang pernah dapat surat cinta, tau banget. Kira-kira surat cintanya diumpetin dimana?"


"Mau tau aja. Rahasia." ejek Aileena sambil memeletkan lidahnya. "Yuk Ah, berangkat! Entar telat lagi." ajak Aileena sambil menggandeng lengan Fatur. Tak lupa ia mengecup mesra pipi Fatur membuat Fatur tersenyum bahagia.


"Mbak, Ai titip Fareez ya! Kalau ada apa-apa, hubungi saya atau mas Fatur aja." ujar Aileena sambil menyerahkan Fareezky ke gendongan Nina.


"Iya non, non pergi aja dengan tenang. Urusan Fareezky, serahin aja sama mbak."


"Makasih ya, mbak. Kalau gitu, Ai sama mas Fatur pamit pergi dulu ya mbak, mbok Ningsih." pamit Aileena pada Nina dan Mbok Ningsih.


"Kami pergi dulu ya, Nin, mbok." pamit Fatur.


"Iya non, tuan. Hati-hati di jalan ya!"


Aileena dan Fatur pun berangkat menuju rumah Rere sebab acara pertunangannya diadakan di rumah kediaman keluarga Andreas dan Santi. Karena jalanan yang lengang, hanya dalam 30 menit, suami istri itu pun telah tiba di rumah Rere. Acaranya tidak terlalu ramai sebab mereka hanya mengundang keluarga besar dan para sahabatnya saja.


Setibanya di sana, Aileena dan Fatur langsung menghampiri tuan rumah yang juga sudah dianggap Aileena seperti orang tuanya sendiri. Walaupun mereka bukan lagi mertuanya, tapi Aileena tetap menghormati dan menyayangi mereka. Tak lupa Aileena juga memberikan selamat pada bintang malam itu, siapa lagi kalau bukan Rere dan Radika.


"Makasih ya, mbak."


"Selamat juga ya, Ka. Jagain adik aku ya! Awas kalau kamu sampai sakitin, entar Rere nya aku umpetin biar kamu kalang kabut nyariin." ancam Aileena dengan tangan bersedekap di dada.


"Iya iya, baik Bu guru. Tenang aja, aku bakal jagain dan selalu setia. Promise!" ujar Radika sambil tersenyum lebar.


"Oke, gue pegang janji loe!" ujar Aileena sambil menganggukkan kepalanya.


"Tadi aku kamu, sekarang loe gue, dasar mak-mak labil." ejek Rere membuat Radika dan Fatir tergelak.


"Selamat juga ya! Semoga lancar sampai ke hari pernikahan." ucap Fatur yang ikut memberikan selamat.


"Terima kasih, kak."

__ADS_1


"Terima kasih, bang."


Sahut Radika dan Rere bersamaan.


Saat sedang asik mengobrol, tiba-tiba Aileena melihat Nanda yang sedang mendekat ke arah Radika.


"Om." panggil Nanda sambil menarik-narik celana bahan Radika. Radika pun menoleh ke bawah dan segera mengangkat Nanda ke dalam gendongannya.


"Ada apa, hm? Nanda ngantuk?" tanya Radika lembut dan Nanda mengangguk.


Aileena menatap sendu wajah Nanda. Dulu, ia begitu menyayangi Nanda. Ia sudah menganggap Nanda seperti anaknya sendiri. Tapi akibat perbuatan ibunya, ia jadi tak peduli lagi dengan Nanda. Kini, nasib Nanda begitu malang. Ibunya telah tiada dan ayahnya tidak mempedulikan dirinya. Aileena sudah tau kalau kakak Radika lah ayah biologis dari Nanda tapi sayang, ayahnya tidak mempedulikan Nanda sama sekali. Dulu, saat semuanya masih belum terungkap, Doni masih menafkahi Delima dan anaknya walaupun setelahnya mereka lama tak bertemu. Tapi saat mereka bertemu, Doni masih memberinya uang dan tak pernah membencinya. Tapi setelah semua kebohongan terungkap dan istrinya pergi entah kemana, Doni jadi membenci Nanda. Ia menyalahkan semuanya pada Nanda. Ia juga kerap memakinya sebagai anak pembawa sial.


Kedua orang tua Doni telah memperingatkannya agar tidak bersikap kasar pada Nanda, tapi ia hanya acuh tak acuh. Ia melimpahkan segala kekesalan dan kemarahannya pada gadis cilik yang belum genap berusia 3 tahun itu. Seolah dirinya lah penyebab segala kekacauan dalam hidupnya dan membuat istrinya yang sangat ia cintai pergi meninggalkannya.


"Nanda ingat bunda?" tanya Aileena pada Nanda. Ya, saat tinggal di rumahnya dulu, Aileena meminta Nanda memanggil dirinya bunda.


Nanda memandangi wajah Aileena dengan bibir berkerut lucu.


"Unda Ai?" tebak Nanda seraya mengingat.


"Wah, sayangnya bunda masih ingat ya! Sini, ikut bunda!" Aileena mengulurkan tangannya untuk menggendong Nanda.


Nanda pun mengulurkan tangannya dan masuk ke dalam gendongan Aileena. Tangan Nanda melingkari leher Aileena lalu ia merebahkan kepalanya di dada Aileena. Sepertinya ia sedang menyalurkan kerinduan pada mendiang ibunya melalui Aileena. Diciuminya wajah Nanda dengan penuh kasih sayang. Bagaimana pun Aileena membenci ibunya, Nanda tidaklah bersalah. Ia juga merupakan korban. Niat baik Delima ingin memberikan keluarga yang lengkap pada Nanda justru menjadi bumerang bagi dirinya dan anak-anaknya. Dan kini Nanda menjadi seorang piatu. Dia memang tidak yatim, tapi sikap ayahnya membuatnya layaknya anak yatim piatu. Pernah Aileena menyatakan ingin mengadopsi Nanda melalui Radika, tapi ternyata Doni mencegahnya. Walaupun ia membenci Nanda, tapi ia justru tak rela Nanda diambil darinya. Bahkan saat Radika ingin mengasuh dan mengajak Nanda tinggal di apartemen miliknya, Doni menolak keras. Ia lebih memilih Nanda tinggal bersama kedua orang tuanya.


"Unda, mama mana? Nda kangen mama. Napa mama ndak puyang-puyang?" lirih Nanda di pelukan Aileena.


Mendengar suara hati Nanda, tanpa sadar Aileena meneteskan air matanya. Nasib Nanda begitu malang, masih sekecil ini sudah harus merasakan penderitaan ditinggalkan seorang ibu, bukan untuk sementara tapi selamanya. Apalagi Delima kehilangan nyawanya berikut bayinya saat hendak menolong dirinya. membuat rasa bersalah di hati Aileena makin menjadi.


...***...


...Happy reading 🥰 🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2