Duri Dalam Pernikahan

Duri Dalam Pernikahan
Ch.56 Bingung


__ADS_3

"Mama ... papa mana? Nda mau papa." lirih Nanda yang sedang terisak di pelukan Delima.


"Sayang, papa Adnan itu bukan papa Nanda jadi nggak usah tanyain papa lagi ya!" sahut Delima yang sedih melihat Nanda yang demam karena merindukan sosok Adnan. Tangannya sibuk mengompres kepala Nanda berharap suhu tubuhnya segera turun.


"Papa, ma, papa. Hiks ... hiks ... hiks ..."


"Sayang, jangan nangis lagi ya! Cup cup cup ... Nanda mau lihat foto papa Nanda yang sebenarnya nggak?" Entah mengapa tiba-tiba Delima merasa perlu memberitahu siapa ayah Nanda sebenarnya. Walaupun ia tahu, pasti Nanda belum bisa memahaminya, tapi ia berpikir lebih cepat lebih baik sebab ia tak pernah tau apa yang akan terjadi ke depannya.


"Nda mau liat poto papa." ucap Nanda tiba-tiba bersemangat.


Delima tersenyum lalu mengeluarkan sebuah foto yang sempat diambilnya dari foto profil Doni dan mencucinya. Entah, dia sendiri pun tak mengerti dengan dirinya sendiri. Tiba-tiba saja saat melihat sebuah counter, ia mampir dan mencuci foto Doni. Ia juga menuliskan nama lengkap Doni di belakang foto itu dan keterangan 'Papa Nanda'.


Lalu Delima memperlihatkan foto itu pada Nanda, seketika wajah berbinar Nanda menjadi muram. Dengan bibir mengerucut, perlahan bulir-bulir air mata Nanda turun membasahi pipinya membuat Delima kembali panik.


"Nanda kenapa? Itu foto papa, sayang. Papa Nanda sebenarnya. Kenapa malah jadi cemberut?" tanya Delima bingung.


"Itu ukan papa, Nda. Nda mau papa. Papa mana? Nda mau papa." rengek gadis kecil itu. Delima mengerang frustasi. Ternyata Nanda hanya menginginkan papa Adnan-nya saja. Sikap penyayang dan kedekatan Adnan dengan Nanda beberapa bulan ini ternyata melekat erat di otak Nanda sehingga ia hanya menangkap sosok Adnan sebagai papanya dan menolak orang lain.


"Tapi sayang, papa Nanda yang sebenarnya itu papa Doni, bukan papa Adnan. Udah dong sayang, jangan menangis lagi." Delima terus berusaha membujuk putrinya agar tak menangis, namun tak membuahkan hasil. Delima yang sedang hamil tua, tiba-tiba merasakan keram di perutnya. Ia mencoba menghela nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan hingga beberapa kali. Beruntung, kram itu bisa ia atasi sendiri. Nanda juga kini telah tertidur. Mungkin karena terlalu lelah menangis, akhirnya Nanda bisa tertidur juga. Delima berharap, tiada drama tangis menangis lagi.


Dipandanginya wajah sendu sang putri, hingga tanpa sadar, bulir-bulir air mata itu mengalir deras di pipi. Kembali hidup dalam kesulitan dan keterpurukan ternyata mampu membuatnya berpikir lebih baik. Ia mulai menyadari kesalahan-kesalahan fatal yang telah ia perbuat selama ini yang akibatnya bukan hanya pada dirinya sendiri, tapi juga putrinya.


Karena ambisi ingin hidup bahagia dengan keluarga lengkap, dia malah menghancurkan hidup anaknya. Andai kejadian malam itu tidak terjadi. Andai ia bisa ikhlas menerima penolakan ibu Radika. Andai ia tidak terlarut dalam perbuatan tercela itu lagi, mungkin hidupnya telah bahagia. Padahal Aditya telah mencoba menerima kesalahannya. Tapi ia malah kembali menorehkan luka dan melemparkan kotoran tepat ke muka Aditya sehingga ia kecewa dan menceraikannya.

__ADS_1


Ia juga merutuki betapa besar dosanya pada malaikat penolongnya itu. Bagaimana ia bisa begitu jahat dengan merebut suami dari perempuan sebaik Aileena. Dan kini, bukannya bahagia, hidupnya justru makin nelangsa. Diusir, diceraikan, hidup dalam kemiskinan. Delima khawatir, ia tak sanggup membesarkan anak-anaknya seorang diri.


"Sepertinya mama harus menyerahkan dirimu kepada papa mu, nak." gumam Delima seraya menatap sendu wajah Nanda yang sudah tertidur pulas.


...***...


Siang ini Rere datang kembali ke rumah sakit. Ia telah memiliki janji dengan Rasyid dan mamanya untuk mengantarkan mereka pulang. Dengan santai, Rere melangkahkan kakinya di koridor rumah sakit. Naya yang melihat kedatangan Rere pun lantas menyapanya.


"Wah, ada calon pacarnya pak dokter nih! Mau mampirin dokter Radika ya!" goda Naya seraya berjalan bersisian dengan Rere dan kepalanya sedikit ia miringkan agar bisa menatap ekspresi Rere.


Rere yang mendengar nama Radika disebut pun hanya bisa menghela nafas lelah. Ia sedang malas berurusan dengan orang satu itu.


"Calon pacar dari mana, mbak? Dari planet Mars?" sahut Rere terkekeh. Walaupun malas membahas orang satu itu, tapi tak mungkin kan ia mengabaikan orang yang sedang berbicara dengannya saat ini.


"Rere bukan mau cari kak Radi kok, sus. Tapi Rere mau temuin Rasyid. Pasien kecelakaan beberapa hari kemarin. Dia mau pulang hari ini jadi Rere mau jemput dia." ungkap Rere jujur membuat Naya terkejut mendengarnya.


"Oh kirain." ujar Naya seraya terkekeh karena salah menerka.


"Ya udah, gue kesana dulu ya! Bye ..." pamit Naya yang ditanggapi Rere dengan anggukan.


Rere akhirnya tiba di kamar rawat Rasyid. Rasyid dan ibunya menyambut kedatangan Rere dengan senyum yang merekah. Rere pun membantu membereskan barang-barang, sementara ibu Rasyid pergi ke bagian administrasi untuk melakukan pembayaran.


tok tok tok ...

__ADS_1


Mendengar suara pintu diketuk, Rere pun segera menuju pintu untuk melihat siapa yang telah berkunjung dan ada keperluan apa.


"Kak Radi ..." seru Rere saat melihat siapa yang mengetuk pintu.


."Hai Re ... Apa kabar?" sapa Radika.


"Hmm ... kabarku Alhamdulillah baik. Ada perlu apa ya kak?" tanya Rere tak mau basa-basi.


Radika mengerutkan keningnya, mengapa sikap Rere seperti menjauh begitu pikirnya. Rere seolah menjaga jarak. Tatapan Rere terlihat sendu. Bahkan Rere selalu memalingkan wajahnya, tak mau menatap Radika.


"Kamu kenapa, Re? Ada masalah?" tanya Radika bingung.


"Nggak ada." ketus Rere. "Kalau kak Radi nggak ada kepentingan lain, mending kak pergi deh, Rere sibuk mau beresin barang-barang." imbuhnya.


"Kamu kenapa sih, Re? Kok tiba-tiba berubah kayak gini?"tanya Radika bingung.


"Aku nggak kenapa-kenapa kok. Berubah? Ah, itu perasaan kak Radi saja. Ya sudah, kalau tidak ada yang perlu dibahas, Rere masuk dulu. Bye ...' ucap Rere sebelum masuk ke ruang perawatan Rasyid membuat Radika tercengang di tempat. Lalu Radika menyugar rambutnya kasar.


"Bocah itu!" Radika merutuki dirinya sendiri kenapa malah bersikap aneh seperti ini.


Ya, tadi dia baru saja selesai melakukan operasi Caesar pada seorang ibu yang jalan lahirnya tak kunjung terbuka dengan sempurna padahal sudah mengalami kontraksi berjam-jam lamanya. Selesai operasi, Naya malah menghampirinya dan memberitahukannya. Entah ada apa pada dirinya, tanpa sadar, kakinya malah terayun ke ruang perawatan bocah laki-laki yang diselamatkan Rere. Tap saat Rere sudah ada di depan mata, ia malah bingung sendiri dan mencecar Rere dengan beragam pertanyaan yang justru membuat Rere kesal.


...***...

__ADS_1


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2