Duri Dalam Pernikahan

Duri Dalam Pernikahan
Ch. 42 Kedatangan Adnan II


__ADS_3

"Salahku? Kau menyalahkan aku? Kau tau, hari dimana semua kebusukanmu terbongkar awalnya hari paling membahagiakan bagi ku. Hari itu dengan kebahagiaan membuncah aku pulang untuk memberikan kejutan terindah padamu. Tapi apa yang aku dapat? Justru akulah yang mendapatkan kejutan tak terduga dari kalian. Kalian menusukku dari belakang. Kalian menghancurkanku hingga berkeping-keping. Duniaku hancur seketika. Andai aku tak ingat dosa dan buah hati yang sedang ku kandung, mungkin aku sudah bunuh diri. Sakit mas, kau tau bagaimana rasanya hatiku saat itu? Jadi bagaimana caraku memberitahukannya? Apa kau pikir aku mau dimadu dengan perempuan tak tau diri itu? Apa kau pikir aku masih mau disentuh oleh tubuhmu yang menjijikkan itu? Nggak mas. Aku sudah kadung jijik. " ucap Aileena dengan suara bergetar. Susah payah ia menahan gejolak di dadanya. Sekuat tenaga ia mencoba bertahan menghadapi lelaki egois di hadapannya itu.


"Ai, aku akui aku salah , aku mohon maafkan aku. Aku janji akan memperbaiki semua. Aku juga janji akan segera menceraikan Ima setelah ia melahirkan. Aku mohon kembalilah padaku, Ai. Demi anak kita, Ai. Dia membutuhkan ayahnya. Apa kau tega ia tumbuh tanpa seorang ayah? Pasti dia akan sedih nanti." ujar Adnan sambil perlahan meringsek ke hadapan Aileena.


Dada Aileena kian bergemuruh saat melihat Adnan perlahan mendekatinya. Nafasnya kian memburu. Ia panik.


"Tolong jangan mendekat!" tekan Aileena. Bahkan kini suaranya benar-benar bergetar. Tetapi Adnan tetap keras kepala.


"Tuan, saya mohon berhenti, kasian non Aileena." mbok Ningsih bersuara berharap Adnan dapat mengerti kondisi psikis Aileena yang sudah kian memburuk.


"Jangan ikut campur! Ini urusanku dan Aileena." sergahnya dengan mata melotot tajam.


Lalu Adnan memegang pundak Aileena mencoba tuk memeluknya.


"Lepas! Lepaskan aku!" Aileena sekuat tenaga berusaha mendorong dada Adnan agar tidak memeluknya.


"Aku merindukanmu, Ai!" ujarnya dengan tetap memaksa ingin merengkuh Aileena ke dalam pelukannya.


"Tapi aku tidak. Lepas, mas! Lepaskan aku!" teriaknya sambil terus memberontak.


Bugh ...


Bugh ...


"Dasar bajing*n! Apa matamu buta, hah! Kau tidak lihat Aileena ketakutan saat ini. Apa kau tau, akibat keegoisanmu ini bisa berdampak buruk pada Aileena dan calon anaknya? Kau memang bajing*n yang tak tahu diri." tukas Fatur dengan suara menggeram emosi menatap Adnan yang sedang mengusap darah di sudut bibirnya. Emosinya sudah di ubun-ubun. Ingin rasanya Fatur segera menghabisi Adnan, tapi ia harus segera mengurus Aileena yang tubuhnya sudah melemah dan hampir luruh ke lantai kalau tidak disanggah mbok Ningsih.


Fatur segera meringsek memeluk tubuh bergetar Aileena sambil mengusap punggungnya. Tak lupa ia mengecup puncak kepala Aileena membuat Adnan terbakar cemburu.


"Tenang, Ai! Mas disini. Jangan takut!" bisiknya menguatkan.


"Apa-apaan kau, hah?" bentak Adnan tak terima ia kembali dipukul Fatur. "Memangnya kau siapa berani-beraninya ikut campur urusanku? Kau itu hanya orang asing, kau tau. Sedangkan aku adalah mantan suami Aileena. Aku adalah ayah dari anak yang dikandung Aileena, jadi kau tak punya hak untuk ikut campur." bentaknya lagi.


"Cih, anakmu? Dalam mimpi. Kau hanyalah mantan suami, ingat! Kau pun kini hanya orang asing bagi Aileena. Bukankah kau sendiri yang bilang tempo hari kalau yang dikandung Aileena itu adalah anakku." ujar Fatur seraya mencibir. "Kau mau tau siapa aku? Aku adalah calon suami Aileena. Dengar, CALON SUAMI. Dan kau tak perlu khawatir pada nasib anak yang ada di dalam kandungan Aileena. Sebab anak itu kini telah menjadi tanggung jawabku. Aku akan membesarkannya seperti anak kandungku sendiri. Lagipula dia tidak membutuhkan ayah seperti dirimu yang hanya seorang pecundang." sinis Fatur seraya mengangkat tubuh ringkih Aileena. Aileena kini tengah memejamkan matanya. Mungkin karena terlalu kelelahan membuatnya tak sadar memejamkan mata di dalam dekapan Fatur. "Aku minta kau jangan mengusik kehidupan Aileena lagi bila kau tak mau berurusan denganku.." tegas Fatur.


"Cuih, kau pikir aku takut!" ketus Adnan .


Lalu Fatur memberi kode kepada orang yang entah sejak kapan telah berdiri di belakang Adnan. Orang itu mengangguk lalu menyeret tangan Adnan agar keluar dari rumah itu.


"Lepas! Lepaskan aku brengs*k!" teriak Adnan tidak terima ia diusir secara kasar oleh seseorang bertubuh besar dan berotot.

__ADS_1


Setibanya di luar, orang itu segera melepaskan cengkramannya dengan tiba-tiba membuat Adnan yang tidak siap jatuh tersungkur ke lantai. Lalu pria itu berdiri di depan pintu, berjaga agar Adnan tidak kembali masuk ke rumah itu.


"Sialan! Brengs*k. Tunggu saja pembalasanku!" desis Adnan dengan amarah yang menggelora di dalam dadanya. "Aku pastikan, Aileena akan segera kembali padaku. Aku yakin, saat ini ia hanya marah padaku. Tapi bila amarah itu telah reda, ia akan segera kembali padaku karena Aileena hanya mencintai diriku ." imbuhnya dengan penuh percaya diri sebelum pergi dari kediaman Aileena.


...***...


Fatur telah membaringkan tubuh Aileena di ranjangnya. Fatur merapikan rambut Aileena yang berantakan dengan jari-jemarinya. Aileena membuka mata dan tersenyum tipis.


"Den, ini air putih untuk non Aileena." ujar Mbok Ningsih seraya menyerahkan segelas air putih ke hadapan Fatur. Setelah itu, mbok Ningsih keluar untuk menyiapkan makan siang.


Lalu Fatur membantu Aileena duduk dan meminum air yang diberikan mbok Ningsih.


"Sudah?" tanya Fatur.


Aileena mengangguk. Lalu Fatur meletakkan gelas yang isinya tinggal separuh dan kembali membantu Aileena untuk berbaring.


"Kamu nggak apa-apa, Ai?" tanya Fatur khawatir.


"Aku nggak papa kok, Mas." sahut Aileena lemah.


"Tapi kamu pucat sekali, Ai? Mas takut ..." ucapan Fatur terjeda saat tatapan matanya beralih ke perut Aileena.


"Tapi kamu nggak bakal rujuk sama dia kan?" tanya Fatur was-was.


"Ya nggak lah, mas. Ai nggak akan mungkin mau masuk ke lubang yang sama. " ujarnya.


"Alhamdulillah." seru Fatur lega membuat Aileena tersenyum.


"Makasih ya, mas."


"Makasih untuk apa?" tanyanya saat pandangan matanya bersirobok dengan mata Aileena.


"Makasih karena selalu ada untuk Ai. Ai nggak tau, bagaimana jadinya kalau mas nggak datang tepat waktu." ujarnya sendu.


Lalu Fatur meraih tangan Aileena dan menggenggamnya erat. Kemudian, Fatur mencium punggung tangan itu lama dengan lembut.


"Ai, bagiku, kamu dan anakmu adalah tanggung jawabku. Andai aku bisa, aku ingin selalu di sisimu, menjagamu, melindungi mu. Tapi sayang, kau belum memberiku hak itu." tukas Fatur seraya mengusap puncak kepala Aileena.


"Apakah semua yang Mas ucapkan itu sungguh-sungguh?"

__ADS_1


"Apa kau melihat kebohongan di mataku?" tanya Fatur lalu Aileena menggeleng. "Atau mas harus bersumpah di atas Al Qur'an?"


Aileena lantas meraih tangan Fatur seraya menggeleng.


"Jangan!" sergahnya. "Tidak baik melakukan hal seperti itu." imbuhnya.


"Jadi mas harus bagaimana lagi untuk membuktikan kesungguhan, Mas?"


"Kalau apa yang Mas katakan itu sebuah kesungguhan, maka segera ajak orang tua mas kemari." tukas Aileena dengan tersenyum lembut.


Jantung Fatur tiba-tiba bergolak hebat. Dadanya bergemuruh hebat, bukan karena marah , kesal, atau takut, tetapi sebaliknya, ia begitu senang. Bukankah artinya itu sebuah pernyataan secara tidak langsung bahwa Aileena menerima dirinya menjadi calon pendamping hidupnya.


Tangan Fatur bahkan sampai bergetar, dengan mata berkaca-kaca, ia tidak tau harus berekspresi bagaimana untuk mengungkapkan rasa bahagianya.


"A-apa katamu, Ai? O-orang tuaku? Maksudnya kamu menerima mas begitu?" tanya Fatur terbata.


Fatur bahkan merasa dirinya sudah seperti Azis Gagap, bicara saja terbata-bata karena jawaban Aileena yang tak terduga.


"Siapa yang nerima mas? Emang mas nembak aku?" ujarnya seraya terkekeh pelan. "Mas ajak aja dulu orang tua mas kemari, bila mereka memberikan restu, Ai bersedia melangkah ke tahap selanjutnya." sambungnya membuat dada Fatur membuncah bahagia hingga tanpa sadar ia mengecup pipi Aileena. Aileena tersentak saat tiba-tiba Fatur mengecup pipinya. Walaupun singkat, tapi ternyata kecupan itu mampu membuat dada Aileena berdegup kencang. Wajah Aileena bersemu merah. Merasa malu, Aileena memalingkan wajahnya ke arah lain, membuat Fatur salah tingkah.


"Kamu marah, Ai? Maafin mas, ya! Mas terlalu bahagia sampai kelepasan." ucap Fatur merasa bersalah.


"A-aku tidak marah kok, Mas." sahutnya masih memalingkan wajah.


"Kalau tidak marah, kenapa kamu menghadap ke sana?" Lalu Aileena memalingkan wajahnya menghadap Fatur kembali. Tapi karena merasa malu, Aileena hanya menundukkan wajahnya. Ia tidak berani menatap wajah Fatur.


"Kamu malu?" goda Fatur sambil tersenyum jahil.


"Mas Fatur ih, udah tau masih nanya." rengek Aileena sambil mengerucutkan bibirnya.


Dalam hati, Fatur mengumpat, betapa ia begitu gemas melihat bibir pucat itu. Ingin rasanya Fatur mengecupnya, namun ia masih tau batasan.


"Unch, Ai-yang'nya mas kok gemesin banget sih! Udah nggak sabar rasanya pingin halalin " godanya lagi.


"Dih, emang udah pasti orang tua mas bakal ngerestuin kita?" timpal Aileena.


"Insya Allah, Ai-yang. Doain mas yah! Secepatnya, mas akan ajak orang tua mas untuk melamar kamu."


...***...

__ADS_1


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2