
Tidak terasa telah 6 bulan berlalu semenjak kepergian Nanda kecil. Biarpun begitu, pencarian tetap berlanjut walaupun tidak seintense di awal.
Kehidupan Doni kini makin menyedihkan. Setelah ditinggalkan sang istri, kalau kedua orang tuanya, kemudian anak yang tidak pernah diperhatikannya, dan kini adiknya satu-satunya pun meninggalkannya dan tidak mempedulikannya. Radika sudah terlalu kecewa dan marah pada sikap Doni yang mengakibatkan perginya Nanda.
Hari-hari Doni hanya diisi dengan bekerja dan bekerja saja. Ia sempat terpuruk beberapa bulan yang lalu, tapi memikirkan banyak keluarga yang menggantungkan hidupnya dengan KSM Group, ia pun perlahan bangkit walaupun kini ia berubah menjadi sosok yang lebih dingin dan introvert. Dia juga jadi sosok yang lebih mendekatkan diri pada Allah. Setiap hari, tiada lelah ia memohon ampun dan meminta kesempatan untuk dipertemukan dengan anak dan istrinya. Ia juga tetap tinggal di kediaman mendiang orang tuanya, berharap suatu hari nanti putrinya kembali mencarinya di rumah itu.
...***...
"Silahkan diminum, mas." ujar Aileena seraya meletakkan secangkir kopi di hadapan Adnan yang sore itu baru kembali dari mengajak Fareezky jalan-jalan.
"Iya, Nan, silahkan diminum. Tak perlu sungkan." ujar Fatur beramah-tamah. Wajahnya terlihat tenang, setenang air di danau. Tapi berbanding terbalik dengan hati, hati Fatur justru rumit. Ia memang mempercayai Aileena yang pasti akan selalu setia, tapi tetap saja rasa cemburu itu ada terlebih Adnan adalah mantan suami Aileena. Orang pertama yang membersamai Aileena. Namun, ia segera menepis rasa itu sebab ia yakin, kini Adnan telah benar-benar ikhlas melepaskan Aileena.
"Iya, Ai, Fatur. Terima kasih." ucapnya lalu ia mengangkat cangkir kopi miliknya dan menyesapnya dengan perlahan. Rasanya tetap nikmat. Tidak pernah berubah. Kopi buatan Aileena memang selalu pas di lidahnya. Dalam hati, ia memuji Fatur yang beruntung memiliki Aileena yang dapat memanjakannya dalam segala hal.
"Gimana mas, jalan-jalannya, Fareez nggak ngerepotin kamu kan?" tanya Aileena seraya mendudukkan dirinya di kursi tepat di samping Fatur .
"Ah, nggak kok. Fareez anak yang baik dan patuh. Aku malah benar-benar bisa menikmati quality time kami berdua. Terima kasih ya, Ai. Udah memberikan kami kesempatan lebih dekat. Udah izinin kami jalan-jalan juga." ujar Adnan tulus.
"Tidak masalah, mas. Itu juga adalah hakmu. Bagaimana pun, kamu tetap ayah kandungnya." sahut Aileena dengan senyuman teduhnya.
"Bagaimana usahamu, Nan? Katanya kamu membuka cabang lagi di luar kota?" tanya Fatur ikut membuka suara.
"Alhamdulillah. Baru survey lokasi aja. Kebetulan memang lokasinya bagus untuk membuka cabang yang baru. Tapi saat di lokasi, ada orang yang mengklaim kepemilikan tanah itu juga. Ternyata setelah saya cari tau, tanah itu masih dalam sengketa. Jadi rencananya bakal dipending dulu sementara waktu. Setelah semua aman baru dilanjutkan." tukas Adnan sambil merebahkan punggungnya di sandaran kursi teras.
"Semoga semuanya berjalan lancar. Kalau kau butuh bantuan, jangan sungkan untuk menghubungi saya. Insya Allah, saya akan bantu sebisanya." balas Fatur sumringah.
Lalu mereka pun melanjutkan perbincangan mereka. Adnan pun pulang ke rumah orang tuanya. Setelah keluar dari penjara, memang ia kembali ke rumah orang tuanya. Orang tuanya pun telah memaafkan semua kesalahan putranya dan memintanya kembali ke rumah mereka.
__ADS_1
"Nan, apa kamu nggak pingin cari pendamping baru?" tanya Santi saat berkumpul di ruang keluarga.
Adnan menggeleng cepat, "Nggak ma, Adnan mau sendiri aja." jawabnya santai.
"Tapi kamu nggak bisa kayak gini terus, Nan. Kamu nggak mungkin sendiri terus. Kamu butuh pendamping untuk menemani dan merawat kamu ke depannya." nasihat Santi yang iba melihat hidup Adnan yang tanpa pendamping. Ia takut Adnan kesepian di sepanjang hidupnya.
"Nggak, ma. Adnan lebih tenang hidup begini. Adnan cukup bahagia dengan kehidupan Adnan sekarang. Adnan takut kalau Adnan menikah lagi, istri baru Adnan justru tidak suka melihat kedekatan Adnan dengan Fareez. Apalagi saat tau Adnan sering ke rumah Aileena. Hal itu pasti akan memicu permasalahan baru. Mending Adnan kayak gini, masih bisa liat Aileena, masih bisa bertemu Fareezky. Mungkin ini yang dikatakan cinta tak harus memiliki. " ujarnya seraya tersenyum tipis. Ia sudah ikhlas. Ini adalah konsekuensi dari perbuatannya terdahulu. Ia sudah mendapatkan maaf dari Aileena dan bisa bertemu dengan putranya, baginya sudah cukup. Ia tidak akan menuntut banyak. Seperti yang dikatakannya, cinta tak harus memiliki. Bisa melihat orang yang dicintai bahagia saja, sudah cukup baginya.
Santi mendesah pelan mendengar penuturan Adnan.
"Apapun pilihan kamu, asal itu baik, papa akan mendukung. Tapi nasihat papa, kamu jangan menutup hatimu. Masih banyak perempuan baik di luar sana yang mau menerima kamu apa adanya. Papa pun sama seperti mama berharap kamu memiliki seorang pendamping yang dapat membahagiakan kamu dan mendampingi kamu ke depannya. Mungkin saat ini kamu merasa baik-baik saja, tapi ke depannya, papa nggak jamin, Nan. Kesepian itu nggak enak lho, Nan. Mama pergi kelamaan dikit aja, papa udah gelisah, kesepian. Masa' kamu mau sendiri terus." tukas Andreas yang juga menasihati Adnan yang kekeuh memilih untuk terus sendiri.
"Iya ma, pa. Terima kasih masih mempedulikan dan memperhatikan Adnan. Adnan minta doanya saja. Bukankah doa orang tua itu mustajab." lirihnya dengan tersenyum lebar.
"Assalamualaikum." seru beberapa orang yang memasuki rumah secara bersamaan.
"Oma ... opa ... " seru Sakti dan Sania sambil berlarian ingin memeluk Santi dan Andreas. Diikuti Radika dan Rere yang mencium punggung tangan kedua orang tuanya tersebut.
"Wah, cucu Oma dan Opa baru pulang liburan! Asik nggak liburannya?" tanya Santi saat pelukan mereka terlepas.
"Asik banget Oma. Sania sama kak Sakti main ke pantai. Terus buat istana pasir yang gedeee banget." ucap Sania sambil menggerakkan tangannya membentuk sesuatu yang besar.
"Wah, senangnya! "
"Hmmm ... Oma sama Opa dipeluk, paman nggak dipeluk juga nih? Kayaknya nggak ada yang kangen sama paman nih! Paman jadi sedih."
"Sakti kangen paman kok. Paman jangan sedih ya!" tukas Sakti anak pertama Radika dan Rere. Lalu ia mendekati Adnan dan memeluknya erat.
__ADS_1
"Paman juga kangen..Oh ya, ada salam dari kak Fareez. Tadi paman kesana."
"Oh ya? Besok ke rumah kak Fareez lagi nggak om? Sakti ada oleh-oleh buat Kak Fareez." ujar Sakti semangat.
"Boleh. Kenapa tidak.? Besok kita kesana terus ajak kak Fareez jalan-jalan, gimana?"
"Setuju ... " seru Sakti diikuti Sania.
"Ck ... ikut-ikutan aja." cibir Sakti saat Sania ikut-ikutan semangat.
"Ya dong, kan Sania juga mau ikut liat kak Fareez. Sania juga mau main sama kak Lisha." sahutnya tak mau kalah. Adnan tersenyum bahagia. Dalam hati ia berdoa, semoga kebersamaan dan kehangatan ini tak pernah hilang.
Aileena telah bahagia, adiknya telah bahagia, dirinya pun turut bahagia walaupun akhirnya dia harus hidup dalam kesendirian, ia ikhlas. Setiap orang mempunyai cara masing-masing untuk meraih kebahagiaannya. Begitu pula, dirinya, bisa melihat orang-orang terkasih bahagia saja, ia sudah amat sangat bersyukur.
Hidup itu tidak melulu harus memiliki. Ada kalanya melepaskan merupakan cara yang terbaik. Berdamai dengan masa lalu dan melepaskan dengan ikhlas adalah jalan yang Adnan pilih. Awalnya memang terasa berat, tapi seiring berjalannya waktu, kita akan terbiasa dengan sendirinya.
Akhir kata, terima kasih atas respon para pembaca cerita Duri dalam Pernikahan. Maafkan bila othor ada salah dan kekurangan. Semoga para pembaca setia karya othor selalu bahagia. Sampai jumpa di cerita yang lainnya.
Yg masih gantung sama kisah Nanda, lanjut di Ternyata Aku yang Kedua ya kak. Klik aja nama othor, entar nampil di sana semua cerita othor. Kayaknya belum banyak yg tau soalnya. Nanti Doni dan Nuri juga bakal ketemu lagi di sana kok. Bye semua ... 🥰😘
Promo novel baru. Silahkan mampir kak! 🤩🥰
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1