
Assalamu'alaikum wr.wb.
Hai, Tante Ika? Apa kabar Tante? Semoga Tante baik-baik aja ya. Begitu juga om Fatahillah dan Mas Fatur, semoga pun baik-baik aja.
Oh ya Tan, kalau Ai nggak salah, Tante sahabat ibu Ai kan? Maaf, Ai baru menyadarinya pagi tadi pas liat foto-foto ibu zaman putih abu-abu. Pantesan aja Tante kayak nggak suka gitu sama Ai, ternyata karena Tante tau siapa orang tua, Ai. Oh ya Tan, sebelum meninggal, ibu ada titip surat buat tante, semoga dengan surat itu tante bisa tau kebenaran di masa lalu. Ibu dan ayah nggak salah kok, Tan. Sayangnya, mereka tak kuasa tuk melakukan pembelaan.
Tan, maaf ya kalau selama ini Ai udah buat tante merasa nggak nyaman. Ai tau, Tante terpaksa menerima Ai sebagai calon istri mas Fatur karena rasa sayang tante yang luar biasa sama mas Fatur. Untuk itu, demi kenyamanan bersama, Ai undur diri. Semoga dengan begini, Tante bisa tenang dan terlepas dari segala beban yang mendera.
Terima kasih atas segalanya.
Wassalamu'alaikum wr.wb.
^^^hormat saya,^^^
^^^Aileena Nurliah^^^
Assalamu'alaikum wr.wb.
Hai Ka, apa kabarmu? Semoga baik-baik aja ya. Mungkin, saat kau membaca surat ini, aku telah tiada lagi di dunia ini. Namun, walaupun aku telah tiada, aku tetap ingin menyelesaikan masalah di antara kita. Semoga dengan begitu, aku dan mas Irfan bisa tenang di alam sana.
Ka, sumpah, baik aku maupun mas Irfan tiada pernah berniat mengkhianati apalagi sampai menyakitimu, tapi kami terpaksa. Ka, kau tau, mas Irfan merupakan orang biasa dan hanya bekerja sebagai seorang guru. Sedangkan ayahnya, hanya seorang staf di kantor ayahmu.
__ADS_1
Kau ingat bukan, awalnya orang tuamu menentang keras hubunganmu dengan Mas Irfan, hingga kau marah dan tak mau makan hingga berhari-hari sehingga orang tuamu terpaksa menerimanya. Kau pikir, orang tuamu tulus menerima, ternyata itu salah. Diam-diam, orang tuamu mengancam hingga memfitnah ayah mas Irfan hingga masuk penjara. Mereka baru akan melepaskannya bila mas Irfan menikah dengan orang lain. Mas Irfan sudah berusaha untuk melepaskan ayah, tapi tetap tak bisa sebab uang yang memegang kendali. Apalah daya mas Irfan yang hanya orang biasa. Hingga akhirnya, dengan terpaksa mas Irfan menyetujui syarat yang diajukan tuan Dhana dan nyonya Sonya. Tapi saat itu, mas Irfan bingung, harus menikah dengan siapa.
Di saat yang bersamaan, ibuku masuk rumah sakit karena gagal ginjal. Kebetulan ginjal ayah cocok , kami tinggal melakukan operasi, tapi kami tidak memiliki dananya. Ayah pun mencoba meminjam dengan tuan Dhana. Tuan Dhana bersedia memberikan uang itu secara cuma-cuma, tapi dengan syarat, aku harus menikah dengan mas Irfan. Tentu aku menolak sebab aku sangat tau kalian saling mencintai. Tapi aku tidak punya pilihan lain, begitu pula mas Irfan. Akhirnya kami pun terpaksa menikah. Bukan hanya itu, kami terpaksa menjadi seorang pengkhianat di matamu.
Tidak mudah bagi kami melalui masa-masa itu. Kau tau, selama 2 tahun pernikahan kami, mas Irfan tidak pernah melupakanmu. Bahkan ia selalu memandangi fotomu di setiap waktu luangnya. Ia pun tidak pernah menyentuhku selama kurun waktu 2 tahun itu. Sebab rasa bersalah yang menderanya terlalu besar. Ia begitu mencintaimu, Ka. Namun, aku berusaha bersabar sebab aku tau, pernikahanku bukanlah pernikahan yang diinginkan. Dan aku ... aku bukanlah istri yang diinginkannya.
Hingga suatu hari, mas Irfan tak sengaja melihatmu masuk ke sebuah restoran bersama seorang lelaki sambil merangkul mesra dirimu , diikuti seorang baby sitter yang menggendong anak laki-lakimu. Mas Irfan melihatmu tampak sangat bahagia dengan keluarga barumu. Dari situ, mas Irfan mulai berpikir untuk membuka hatinya untukku. Bagaimana pun, pernikahan kami sah di mata hukum dan agama. Mas Irfan tidak pernah berpikir untuk menodai ikatan suci itu. Dan alhamdulillah, setelah 2 tahun menjalani pernikahan dingin, mas Irfan perlahan membuka hatinya. Di tahun ke 3, kami dikaruniai seorang putri cantik yang kami beri nama Aileena Nurliah.
Ka, hanya ini yang bisa aku sampaikan. Ika ... aku tau pasti saat itu kau begitu hancur. Begitu pula kami. Semoga dengan membuka tabir ini, kau dapat mulai berdamai dengan masa lalu. Jangan selalu menilai masa lalu itu buruk. Akan ada hikmah di setiap masa lalu yang kita jalani. Semoga kau selalu bahagia, Ika, sahabatku. Selamanya, selalu, kau tetap sahabat terbaikku.
Wassalamu'alaikum wr.wb
^^^Anne Miranti^^^
Tanpa sadar, Fatur terisak membaca surat dari Aileena dan ibunya untuk Malika. Apalagi saat melihat sebaris kalimat yang dituliskan Aileena yang menyatakan ia undur diri. Hatinya begitu pilu membayangkan wanita pujaan hatinya pergi demi kenyamanan ibunya. Ia tak menyangka Aileena akan mengambil keputusan seperti itu.
Ternyata, di saat ia sedang berpikir keras bagaimana menemukan solusi dari permasalahannya, justru langsung mengambil tindakan untuk pergi. Tidak ... Fatur takkan membiarkan itu. Ke manapun Aileena pergi, walau harus mencari ke seluruh dunia, akan ia lakukan. Ia tak rela dan takkan sanggup kehilangan orang yang dicintainya.
"Fatur ... " panggil Fatahillah membuyarkan lamunan Fatur.
Fatur pun mengangkat wajahnya. Matanya begitu merah. Terlihat jelas binar luka dan kesakitan di netra hitam pekat itu. Hati Fatahillah begitu nyeri melihatnya. Andai ia buka suara terlebih dahulu, pasti semua takkan menjadi serumit ini.
__ADS_1
"Nak, maafkan papa. Seharusnya papa lebih cepat menceritakan semua ini. " ucapnya sungguh-sungguh.
"Apa maksud, papa?" tanya Fatur dengan dahi berkerut. Malika pun mendekat untuk turut mendengarkan penuturan Fatahillah.
"Sebenarnya ... sebenarnya papa sudah tau masalah ini. Papa tau, semua itu merupakan konspirasi dari kakek, nenek, dan opa kamu." ucap Fatahillah dengan wajah tertunduk.
"Maksud mas, mas sudah tau sejak awal? Begitu? Mas ikut menipuku, begitu? Mas ikut bekerja sama dengan mereka untuk mempermainkanku?" tuding Malika dengan mata berkilat emosi.
Fatahillah menggeleng cepat.
"Nggak, sayang. Papa nggak pernah ikut bekerja sama dengan mereka. tapi ... tapi setelah beberapa hari setelah hari pernikahan kita, papa nggak sengaja mendengar obrolan itu. Papa berniat memberitahukan kamu, tapi papa diancam. Papa diancam akan dipisahkan dari kamu dan papa nggak akan sanggup berpisah dari kamu. Papa mohon maaf. Seharusnya papa berkata jujur lebih awal. Maaf ..."
"Aku kecewa sama kamu, mas. Andai kamu cerita lebih awal, semua pasti takkan menjadi seperti ini. Masalahnya pasti takkan makin rumit seperti ini. Pantas saja kau hanya bisa bilang sabar-sabar. "
Tak mau menanggapi ayahnya, Fatur justru berusaha turun sendiri. Kepala yang masih sakit, ditambah kaki yang berbalut gips, membuat Fatur yang baru saja hendak turun justru oleng dan hampir luruh ke lantai.
"Fatur ... " seru Malika dan Fatahillah bersamaan. dengan wajah panik
...***...
...Happy reading 🥰🙏💪...
__ADS_1