
Pagi-pagi sekali Adnan telah berangkat menuju kantornya. Ia sangat sibuk hari ini. Ia ingin membereskan semua pekerjaannya sesegera mungkin sebab siang nanti ia ada janji temu dengan seseorang untuk membahas tentang sesuatu hal yang sangat penting.
Sementara itu, di kantor developer milik Fatur, ia tengah bersiul ria. Semenjak Aileena memberikan lampu hijau kepadanya, harinya jadi kian berwarna. Bahkan senyum pun seperti tak mau lepas dari bibir merahnya yang tak pernah tersentuh lintingan tembakau.
"Astaga, belum juga 24 nggak ketemu My Ai-yang, udah kangen aja. Apa ini ya yang dikatakan orang bucin itu? Pinginnya ketemu terus kalau bisa pingin kekepin terus tapi sayang, belum boleh, belum halal." omel Fatur pada dirinya sendiri sembari mengecek laporan hasil survey lokasi untuk pembangunan perumahan sederhana yang diperuntukkan kalangan menengah ke bawah.
"Tuh kan, nggak bisa fokus. Mungkin perlu minta vitamin dulu sama My Ai-yang." ujarnya seraya tersenyum lebar dan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Lalu Fatur mengambil ponselnya yang terselip di balik saku jasnya dan menekan nama kontak 'My Ai-yang' .
"Assalamu'alaikum." ucap seseorang di seberang telepon dengan suara merdu. Baru mendengar suaranya saja sudah membuat hati Fatur berbunga-bunga. (Jangankan Fatur, othor yg ngetik aja senyum-senyum sendiri. 🤭)
"Wa'alaikum Ai-yang'nya Mas Fatur." jawab Fatur tak kalah lembut. 'Astaga, semoga nggak dibilang lebay oleh my Ai-yang.'
Aileena yang dipanggil itu sontak bersemu merah. Beruntung Fatur tidak ada di sana, pikirnya. Bila ada, bisa-bisa ia makin malu. Sekarang saja, dadanya tengah berdegup kencang, perutnya terasa geli, seperti ada jutaan kupu-kupu yang menari di dalamnya. Mungkin si dedek bayinya pun ikut menari bersama jutaan kupu-kupu itu.
"Emmm ... a-ada apa ya, Mas pagi-pagi udah telepon." tanya Aileena gugup.
"Mmm ... itu ... anu ... mas ... mas kangen sama ... Ai-yang'nya, Mas. " ujarnya tak kalah gugup. 'Yaelah, udah kayak ABG yang baru jatuh cinta aja kamu, Tur. Padahal umur udah 28 tahun.' gerutu Fatur dalam hati.
"Idih, gombal." ejek Aileena dengan bibir mengulum senyum.
__ADS_1
"Mas nggak bohong, Ai. Sumpah ...! Mas tadi lagi periksa laporan hasil survey lokasi, tapi yang tampil di layar komputernya malah wajah kamu mulu. Gimana mas mau tenang, coba? Ibarat sakit, penyakit mas ini udah akut. Akut rindunya." ujar Fatur dengan mimik wajah serius. Saat sadar apa yang sudah ia katakan pada Aileena, Fatur memukul kepalanya sendiri , merasa bodoh sudah membuka kartunya sendiri.
krikkk krikkk krikkk krikkk ...
Tak ada jawaban dari seberang sana membuat Fatur menggaruk pelipisnya dengan ujung jari telunjuk.
"Ai-yang, kamu masih disitu kan!" panggil Fatur karena tak kunjung mendengar suara sahutan dari Aileena.
"Eh ... i-iya, mas. Ai, masih disini kok." sahutnya malu-malu gugup membuat Fatur tersenyum simpul.
"Kirain Mas, kamu ngilang atau ketiduran lagi." ujarnya seraya terkekeh.
"Ibu hamil nggak boleh tidur pagi-pagi, nggak sehat baik buat calon ibunya maupun calon baby nya." ujar Aileena seperti seorang bidan menjelaskan pada pasiennya.
"Mas Fatur ih, godain mulu. Entar Ai tutup nih." ancam Aileena seraya mencebikkan bibirnya. Padahal dalam hati sebenarnya Aileena bersorak girang diperlakukan begitu manis oleh Fatur. Tapi ia merasa malu. Untuk menutupinya, ia pura-pura kesal.
"Mas kan godain calon istri mas, emang nggak boleh?"
"Bu-bukan gitu, Mas. Ai cuma ... cuma ... malu, mas. Ai merasa kayak jadi ABG lagi." ucapnya gagap.
"Bagus dong kalau jadi ABG lagi, balik muda lagi." sahut Fatur sekenanya seraya terkekeh. "Oh ya, Ai-yang'nya Mas sama baby udah sarapan belum?" tanya Fatur lagi .
__ADS_1
"Alhamdulillah, udah. Kalau mas gimana? Udah juga kan?" tanya Aileena balik.
"Belum. Mas tadi terburu-buru ke kantor, jadi nggak sempat sarapan." ungkapnya jujur.
"Ck ... Mas, mas itu kan kerja, butuh nutrisi bukan hanya untuk tubuh tapi juga otak, apalagi mas itu kerja dominan pakai otak jadi Mas nggak boleh nggak sarapan. Dan harus yang bergizi juga." omel Aileena mengingatkan Fatur tentang pentingnya sarapan. Fatur yang diomelin hanya tersenyum-senyum bahagia. Baginya omelan Aileena merupakan tanda perhatian dan cinta. Serasa diomelin bini, pikirnya.
"Wah, senengnya diperhatiin calon bini!" sahut Fatur yang lagi-lagi terkekeh.
"Udah ah, mas Fatur godain melulu. Jangan lupa sarapan! Wassalamu'alaikum." pungkas Aileena yang sedang mode merajuk.
"Wa'alaikum salam, Ai-yang." sahut Fatur dengan senyum lebarnya seraya membayangkan ekspresi wajah Aileena yang sedang cemberut setelah itu panggilan pun ditutup sepihak menyisakan Fatur yang masih saja tersenyum lebar.
"Ya Allah, semoga semua usahaku dilancarkan hingga saatnya Aileena menjadi istriku." batin Fatur menggumamkan doa dan harapan.
...***...
Akak-akak, mampir ya ke karyaku selanjutnya. Rencananya ini mau othor ikutin lomba. Mohon tap ❤️, like, dan komen ya! Lemparan hadiahnya juga ditunggu. 🤭
#Maafkanothoryangmaruk
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...