Duri Dalam Pernikahan

Duri Dalam Pernikahan
Ch.69 Penolakan Malika


__ADS_3

Sudah 1 Minggu Fatur berangkat ke Bali dan rencananya sore ini setelah semua pekerjaannya selesai, ia akan langsung pulang ke Jakarta. Rindu yang menggebu, baik kepala Aileena dan calon anak sambungnya membuatnya tak sanggup menunda-nunda lagi kepulangannya ke Jakarta.


Beruntung Rama berhasil mendapatkan tiket penerbangan tercepat hari itu hingga tepat pukul 5 sore pesawat yang ditemukannya telah mendarat di bandara. Tak butuh menunggu lama, hanya berselang 15 menit sejak ia pesawatnya mendarat, mobilnya yang dikemudikan Rama pun tiba untuk menjemputnya.


"Halo, bos! Kita mau kemana dulu ini?" tanya Rama setelah melihat Fatur telah duduk santai di jok belakang mobil. Setelah basa-basi menyapa tentunya.


Fatur langsung tersenyum berbinar, "Rumah calon istri dong." sahutnya lugas.


"Cie ... Yang udah punya calon." ejek Rama seraya terkekeh. "By the way, kapan nih bos dihalalin? Biar statusnya berubah, bukan calon melulu." goda Rama dengan tersenyum jahil.


Wajah berbinar Fatur mendadak mendung. Sekelebat pembicaraannya sebelum ia berangkat kembali teringat. Fatur menghela nafas dan menghembuskannya kasar. Dalam benak ia meyakinkan harus menyelesaikan masalah ini segera.


Rama yang menyadari hembusan nafas kasar Fatur, lantas melirik pria itu dari near vision mirror. Rama mengerutkan keningnya tanda tanya, ada apa gerangan dengan sang bos yang biasanya berwajah penuh semangat apalagi saat akan menuju rumah pujaan hatinya.


"Bos, ada masalah?" tanya Rama akhirnya. Ia malas terus menerka-nerka masalah apa yang sedang dipikirkan Fatur.


"Sedikit, tapi ... cukup mengganggu dan bisa berakibat fatal bila tidak segera dicari penyelesaiannya." tukas Fatur ambigu membuat Rama berdecak kesal karena tak tahu ke arah mana pembicaraan atasannya itu.


"Ck ... gue bukan cenayang bos yang bisa langsung nebak apa permasalahan loe!" ketus Rama kesal yang membuat sebelah bibir Fatur terangkat.


"Sorry, lupa. Loe kan otaknya sekilo kurang segaris." sahut Fatur seraya mengejek Rama membuat Rama mengumpat kesal.


Fatur terkekeh sebentar lalu beberapa detik kemudian raut wajahnya berubah serius.


"Mama ... entah mengapa kayaknya kurang suka dengan Aileena. Padahal dari awal dia setuju aja waktu gue cerita tentang Aileena, tapi entah semenjak pertemuan tempo hari, penilaiannya kayak berubah gitu. Akibatnya, Aileena menolak ajakanku menikah setelah masa nifasnya selesai. Dia bilang, minta perjelas dulu masalahnya. Dia nggak mau menikah kalau masih ada yang mengganjal. Dia juga ingin mendapatkan restu sepenuhnya, bukan karena keterpaksaan. " tukas Fatur menjelaskan. Rama diam mendengarkan seraya fokus mengendalikan kemudi.


"Apa Tante Malika ada bilang sesuatu?" tanya Rama.


Fatur menggeleng dengan sorot mata fokus ke jalanan yang mereka lintasi.


"Mungkin kalian hanya kurang komunikasi saja, bos. Sebaiknya memang segera perjelas, kalau ada yang mengganggu atau mengganjal, lebih baik segera selesaikan secepatnya. Aku doakan yang terbaik untukmu, bos." tutur Rama mencoba mengeluarkan unek-uneknya.


...***...


Mobil Fatur telah memasuki pekarangan rumah Aileena. Ia tiba di sana selepas Maghrib. Mereka tadi terlebih dahulu mampir di masjid yang tak jauh dari sana untuk menuntaskan kewajiban mereka. Setelahnya, barulah mereka menuju rumah Aileena.


"Assalamu'alaikum." ucap Fatur setelah memencet bel rumah.

__ADS_1


"Wa'alaikum salam." sahut Aileena dari dalam. "Eh, mas Fatur! Udah balik?" tanya Aileena penasaran. Padahal orangnya jelas-jelas ada di hadapannya tetapi masih saja ditanya udah balik?


"Belum. Mas belum balik." sahut Fatur seraya tersenyum geli.


"Ck ... kalau belum, yang berdiri di depan Ai ini siapa?" Aileena mendelik sebal kemudian terkekeh saat melihat wajah melongo Fatur. "Kita duduk di luar aja ya, mas. Nggak enak sama tetangga. Ram, silahkan duduk." ujarnya seraya mempersilahkan Fatur dan Rama duduk.


"Terima kasih, Ai." Rama menyahut sedangkan Fatur langsung duduk di kursi dekat pintu.


Lalu Aileena izin ke dapur untuk meminta mbok Ningsih membuatkan minuman. Tak lama kemudian, Aileena kembali lagi dan duduk di salah satu kursi.


"Katanya besok baliknya, kok tiba-tiba udah di sini aja?" tanya Aileena heran. Sebab semalam saat mereka teleponan , Fatur mengatakan dia akan pulang esok lusa.


"Kan surprise." ujar Fatur seraya terkekeh.


"Surprise apa kangen?" celetuk Rama membuat Fatur melotot tajam.


"Berisik! Tutup mulut loe! Entar gue kirim ke cabang Kalimantan, baru tau rasa. Atau mau ke Papua?" desis Fatur dengan nada mengancam.


"Ck ... Ancaman loe, bos! Iya iya, gue diem! Nih, tutup mulut!" sahut Rama seraya menggerakkan jari seolah memutar kunci di depan mulutnya.


"Jangan kejam-kejam sama bawahan! Ingat, nggak akan ada yang namanya atasan kalau nggak ada bawahan." ucap Aileena mengingatkan.


"Iya iya, nyonya bos. Pak bos minta maaf." ucapnya dengan seringai menggoda membuat semburat merah terbit di pipi Aileena.


"Mas belum jawab pertanyaan Ai tadi." tukasnya mengingatkan.


"Kan tadi udah, kata mas biar surprise. Yang Rama tadi bilang juga sebenarnya benar lho, mas ... mas kangen. " ucapnya malu-malu membuat Rama yang dari tadi menahan geli melihat ekspresi Fatur lantas menyemburkan tawanya.


"Tuh kan bener, udah dibilangin tadi masih berkilah. Mana pake ngancem-ngancem segala." tukas Rama meledek.


"Ram, kayaknya gue jadi deh ngembangin bisnis kita di Timor Leste. Entar jatah loe pegang area sana, oke?" ujar Fatur seraya menyeringai.


"Ya, nggak bisa gitu dong bos! Terus ayahnya gue gimana? Mana belum kawin lagi eh ... nikah maksudnya. Kan bentar lagi gue mau married masa' mau loe pisahin sih!" Rama mendumel protes.


"Itu hadiah pernikahan dari gue, mau ya! Oke ... Deal!" ucap Fatur lagi dengan wajah tegasnya membuat Rama menelan ludahnya sendiri.


"Hadiah sih hadiah, ... ya udah deh! Gue nggak ganggu lagi. Mending gue di mobil aja teleponan sama ayang gue asal gue nggak ditugasin ke Timor Leste." ucapnya pasrah.

__ADS_1


Rama pun berlalu dari hadapan Fatur dan Aileena. Aileena yang gemas dengan sikap Fatur pun mencubitnya.


"Jahil banget jadi atasan." omel Aileena yang justru membuat Fatur tergelak.


"Itu biasa, Ai-yang. Biar suasana hidup, nggak selalu dibuat serius yang ada entar jadi mumet. " ujarnya menjelaskan kalau mereka memang biasa bercanda seperti itu. Lalu mata Fatur beralih menatap lekat mata Aileena. Tangannya terulur menarik tangan Aileena dan menggenggamnya erat. "Mas serius dengan apa yang mas sampaikan tadi, mas kangen sama kamu, Ai. Bukan cuma kamu, tapi baby Fareez juga. Mas udah nggak sabar membangun keluarga kecil bersama kalian." ungkap Fatur dengan pandangan teduhnya. "Kamu nggak kangen sama mas, Ai?" tanyanya.


Aileena menunduk malu dengan tangan yang masih digenggam Fatur.


"Ai ... Ai ju-ga kangen sama, mas Fatur." jawab Aileena gugup.


Fatur tersenyum lebar lalu mengecup punggung tangan Aileena membuat Aileena makin tersipu malu.


"Mas ... nanti ada yang liat. Nggak enak tau." protes Aileena di mulut. Tapi dalam hati berbunga-bunga.


"Biarin tinggal jawab aja iri bilang bos." ujarnya sambil terkekeh.


...***...


Semenjak tau kalau Malika adalah orang tua dari Fatur, Fiora pun makin sering main ke rumah itu dengan berbagai alasan. Tentu Malika tau apa tujuan gadis itu. Kadang ia datang dengan alasan membawakan kue buatan mamanya. Lalu besoknya ia membawakan makanan yang katanya buatan dirinya dan mamanya. Begitu pula malam ini, dengan antusias Fiora membantu Malika menyiapkan makan malam. Sebenarnya Malika telah menolak, tapi Fiora tetap gigih ingin membantu. Tak enak hati terus-menerus menolak, akhirnya ia membiarkan saja Fiora membantunya.


"Tan, Fio mau jujur sama tahte, sebenarnya Fio dulu pacarnya Fatur." ungkap Fiora seraya menyusun piring di atas meja. Malika yang tadi sedang menuangkan sayur ke dalam mangkok lantas menghentikan gerakannya. Ia pun menoleh ke arah Fiora dengan menaikkan alisnya.


"Oh ya?"


"Iya, Tan. Tapi kami putus karena Fio ikut papa pindah ke luar kota karena itu Fio senang banget bisa ketemu Fatur lagi. Soalnya jujur, Fio masih sayang sama Fatur, Tan." ucap gadis itu dengan dibumbui dusta.


"Tapi Fatur udah suka sama perempuan lain, Fi. Kalau kamu berharap bantuan Tante, maaf ... Tante nggak bisa." ucap Malika sedikit merasa bersalah.


Bukan tanpa alasan ia menolak, walaupun ia sebenarnya kurang setuju dengan Aileena, tapi tetap kebahagiaan anaknya nomor 1. Ia rela menekan perasaannya demi kebahagiaan Fatur, putra satu-satunya. Bukannya ia tidak menyukai sosok Aileena, tapi alasan yang berhubungan dengan masa lalu lah yang membuat hatinya rasa enggan untuk menyayangi pujaan hati putranya itu.


"Fio nggak papa kok, Tan, Tante tenang aja. Fio kan cuma mau jujur aja." ucapnya lembut membuat Malika makin tak enak hati.


'Sial! Gue pikir Tante Malika bakalan bantu, nyatanya zonk!' rutuk Fiora dalam hati.


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2