Duri Dalam Pernikahan

Duri Dalam Pernikahan
Ch.75 Fareezky kangen ayah


__ADS_3

Melihat tubuh Fatur oleng hingga limbung dan tak sadarkan diri membuat Rama dan mbok Ningsih panik. Rama pun segera memapah tubuh Fatur masuk ke dalam mobil hendak membawanya ke rumah sakit. Apalagi menurut informasi dari karyawan perusahaannya yang sempat ia telepon sebelum Fatur pulang mengatakan sebenarnya Fatur belum boleh pulang tapi ia tetap kekeh ingin pulang. Bahkan berjalan saja ia membutuhkan tongkat.


Fatur memang tidak menginformasikan apa-apa padanya termasuk dengan kecelakaan yang menimpanya. Bahkan ia tau Fatur pulang hari ini pun sebab ia mencoba menghubungi Fatur berkali-kali namun nomor tidak kunjung tersambung. Lalu ia mencoba menghubungi nomor salah satu karyawannya yang masih tersimpan di kontak ponselnya. Rama terkejut bukan main saat mendapatkan informasi bahwa sebenarnya Fatur tengah menjalani perawatan di rumah sakit karena mengalami kecelakaan di lokasi proyek. Fatur meminta karyawannya tidak ada yang memberitahu ke pusat mengenai kecelakaan yang menimpa dirinya sebab ia tidak ingin membuat orang-orang khawatir dengan keadaannya.


Karena hari sudah cukup larut, jalanan tampak lengang sehingga Rama bisa melajukan mobilnya dengan kecepatan cukup tinggi menuju rumah sakit. Tidak butuh waktu lama, akhirnya mobil yang dikendarai Rama tiba di rumah sakit. Ia pun memapah tubuh Rama yang masih tak sadarkan diri. Hingga beberapa perawat datang sambil mendorong brankar dan membawa tubuh Fatur yang tengah tak sadarkan diri itu. Tak lupa Rama mencoba menghubungi Aileena kembali, namun hasilnya nihil karena nomornya tak aktif. Ia juga menelpon Khanza, berharap istrinya tersebut tau keberadaan Aileena, namun lagi-lagi hasilnya nihil. Khanza pun tidak tau dimana Aileena berada. Sebelum menutup panggilannya, Rama juga berpesan agar menanyakan pada orang-orang yang mengenal Aileena seperti mantan mertuanya dan Radika. Terakhir, baru ia menghubungi orang tua Fatur. Mereka sungguh terkejut mendengar berita tentang keberadaan putranya yang masuk rumah sakit. Tak sempat menjelaskan kronologisnya, Rama hanya meminta Malika dan Fatahillah datang ke rumah sakit.


Sementara itu, di kediaman Ussy, tampak Aileena sedang gelisah karena baby Fareezky terus menangis. Entah karena kelelahan atau ada yang sakit, hingga membuatnya terus menangis. Aileena yang sebenarnya sudah sangat kelelahan pun hanya bisa pasrah sambil terus menimang Baby Fareezky hingga mulutnya menguap berkali-kali.


"Cup ... cup ... cup ... Fareez kenapa? Haus ya?" Aileena mencoba menyusuinya tapi baby Fareezky tetap saja menangis. Lalu ia kembali menggendongnya, baru saja matanya terpejam, tiba-tiba ia kembali menangis membuat Aileena gelisah.


"Dedeknya kenapa, mbak?" tanya Ussy sekarang juga mengkhawatirkan kondisi baby Fareezky.


"Nggak tau nih, Sy. Tumben nangis mulu, biasanya nggak." ucap Aileena yang juga tengah khawatir.


Lalu ibu Ussy mengetuk pintu dan masuk ke kamar Ussy setelah Ussy membukakan pintu.


"Anakmu kenapa, Ai?" tanya Ibu Ussy.


"Nggak tau, Tan. Tumben nangis mulu. Biasanya nggak kayak gini. Mungkin kecapekan kali ya, Tan." ucap Aileena yang kini tengah menimang baby Fareezky sambil mengusap kepalanya.


"Iya kali, Ai. Mungkin juga ... ada yang dia kangenin." ucap Ibu Ussy membuat Aileena sontak menoleh ke arah ibu Ussy.

__ADS_1


Memang semenjak hendak ke Palembang, ia memutus semua jalur komunikasinya termasuk membuat ponselnya dalam mode pesawat. Jadi ia tidak tau siapa saja yang menghubunginya.


Tadi juga, Aileena telah menceritakan tentang orang tuanya yang telah tiada. Aileena juga menceritakan bahwa ia telah bercerai dengan mantan suaminya beserta alasan perceraiannya. Tapi Aileena tidak menceritakan mengenai masa lalu orang tuanya termasuk hubungannya dengan Fatur. Termasuk alasannya datang ke Palembang karena ingin menenangkan diri. Cukuplah dirinya saja yang tau masalahnya saat ini. Sejenak saja, Aileena ingin melupakan kepenatan dan kerumitan dalam hidupnya sebelum menghadapi masalah yang mungkin saja lebih pelik ke depannya.


"Udah tidur?" tanya Ibu Ussy lagi saat tidak mendengar rengekan Fareezky.


"Udah kayaknya tan, coba Aileena tidurin di kasur dulu. Takutnya kayak tadi, ditidurin di kasur malah bangun lagi, nangis lagi." ujar Aileena pelan seakan berbisik agar Fareezky tidak terbangun lagi. Tapi seakan tau tidak lagi digendong, Baby Fareezky kembali menangis membuat Aileena makin bingung.


"Tubuhnya nggak demam kan, Ai?" tanya Ibu Ussy.


"Nggak Tan, suhunya normal. Tadi udah Ai cek pake termometer." ucap Aileena jujur. "Maaf ya Tan, jadi ganggu waktu tidurnya." ucap Aileena lirih merasa bersalah. Karena Fareezky yang terus menangis, keluarga neneknya itu jadi tidak bisa tidur. Apalagi rumah ini tidak terlalu besar jadi saat Fareezky menangis, suaranya akan terdengar ke mana-mana.


"Udah, jangan pikirin itu. Tante malah khawatir anak kamu sakit karena itu nangis terus." ucapnya tak merasa terganggu. "Coba gendong di ruang tamu saja. Siapa tau ntar diem sendiri." saran ibu Ussy.


"Dedek kenapa, hm? Ada yang sakit? Atau ada yang kangen? Kalau kangen, dedek Fareez kangen sama siapa? Kasi tau bunda dong. Bunda beneran nggak tau." Aileena mencoba mengajak bicara baby Fareez. Lalu benay Fareezky mengerjap-ngerjapkan matanya menatap Aileena.


Entah mengapa, wajah Fatur tiba-tiba melintas di wajahnya. Lalu Aileena ingat, ia pernah merekam saat Fatur menggendong Fareezky sambil bersalawat. Lalu Aileena pun memutar rekaman itu dan benar saja, pelan-pelan Fareezky tertidur. Bahkan saat Aileena baringkan di kasur pun, Fareezky tetap tertidur nyenyak membuat Aileena tanpa sadar menitikkan air mata.


"Kamu kangen ayah ya, nak?" gumam Aileena saat memandangi wajah Fareezky. Fatur sering membahasakan dirinya sebagai ayah di depan Fareezky membuat Aileena pun terbiasa menyebutnya ayah di depan putranya itu. "Maaf ya sayang, sementara kita menjauh dulu sampai Bunda siap menghadapi semuanya. Entah bagaimana ke depannya, kita serahkan saja pada yang maha kuasa sebab Ialah yang maha menentukan." imbuhnya lagi sebelum ikut berbaring dan memejamkan matanya menyusul si kecil yang sudah terlelap ditemani salawat dari Fatur.


...***...

__ADS_1


Setibanya di rumah sakit, Malika dan Fatahillah berlarian menuju ke ruang perawatan Fatur. Mereka sungguh terkejut mendengar kabar mengenai putranya yang masuk rumah sakit sebab sudah beberapa hari ia sulit dihubungi. Hari ini adalah hari yang begitu berat bagi Malika dan Fatahillah. Fakta mengejutkan telah membuka mata Malika hingga membuatnya begitu menyesal dan terpukul.


Dengan mata sembabnya, Malika pun segera menghampiri Rama yang tengah duduk dengan kepala tertunduk di depan ruang perawatan. Dokter belum juga keluar dari 20 menit yang lalu membuat Rama cukup khawatir.


"Ram, bagaimana keadaan Fatur? Sebenarnya apa yang terjadi?" lirih Malika dengan mata bengkak membuat Rama terkejut. Sepertinya Malika sudah cukup lama menangis, tapi karena apa sebab berita tentang Fatur saja baru beberapa menit yang lalu tiba di telinga Malika.


"Rama belum tau, Tan. Fatur masih dalam pemeriksaan." ucapnya pelan.


"Dia pingsan dimana? Mengapa bisa pingsan? Ini nggak pernah lho terjadi." ucap Malika jujur. Memang Fatur sosok yang kuat dan tak pernah sakit sampai jatuh pingsan selama hidupnya karena itu Malika dan Fatahillah sungguh terkejut sekaligus khawatir saat tau putranya pingsan hingga masuk rumah sakit.


Rama meneguk ludahnya kasar lalu menarik nafas panjang.


"Fatur pingsan di rumah Aileena, Tan." ucapnya membuat Malika dan Fatahillah terkejut. "Saat di sana mbok Ningsih bilang, Aileena udah pergi nggak tau kemana. Terus tiba-tiba, Fatur pingsan. Mungkin itu pengaruh luka-lukanya juga yang belum sembuh sebab beberapa hari yang lalu ia mengalami kecelakaan di proyek menyebabkan kepalanya dijahit dan luka-luka di tubuhnya. Juga ... patah kaki." ucap Rama pelan tapi masih terdengar jelas di telinga Malika dan Fatahillah.


Tubuh Malika melemas. Lalu ia menangkup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Air matanya mengalir deras menyesali semua yang terjadi berawal dari dirinya. Andai ia berusaha berdamai dengan masa lalu. Andai ia coba lupakan rasa sakit itu. Andai ia tidak kembali mengungkit rahasia masa kelamnya. Andai ia mengikhlaskan segala yang menimpa dirinya sebagai jalan untuk mempertemukannya dengan jodoh sebenarnya, mungkin anaknya takkan menderita seperti ini.


"Ini salahku, ini semua salahku. Karena kebodohanku, Fatur jadi seperti ini. Maafkan mama, nak! Maafkan kebodohan mama. Mama salah. Mama menyesal. Mengapa mama bodoh sekali. Karena mama kamu menderita. karena mama, wanita yang kau cintai pergi menjauh. Maafkan mama, nak. Mama pasti akan membantumu menemukan Aileena dan putranya." lirih Malika sambil terisak.


Fatahillah pun ikut menitikan air mata. Sebab bagaimanapun, apa yang terjadi pada Malika ada andil dirinya juga.


Rama hanya bisa menatap iba pada kedua orang tua itu. Ia pikir, mereka menangis karena putranya yang sakit padahal ada hal yang lebih menyesakkan lagi hingga membuat mereka begitu menyesali segala yang terjadi.

__ADS_1


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2