
"Alhamdulillah ... makasih, Ai-yang, masakanmu emang selalu memanjakan lidah, mas. Mas serasa jadi suami paling beruntung di dunia bisa memilikimu sebagai istri, Ai." ujarnya setelah selesai menyantap makan siang di kantor hari itu.
"Sama-sama, mas. Sudah sewajarnya seorang istri memanjakan suaminya termasuk dengan menyediakan makanan yang lezat. Yah, walaupun memang itu tidak wajib, tapi Ai senang bisa buat mas makan dengan puas kayak gitu." sahut Aileena seraya membereskan bekas makan mereka.
"Tapi mas jadi harus lebih sering olahraga nih, mas khawatir perut mas yang sixpack malah jadi kayak bantal sofa. Entar istri mas yang cantik malah illfeel." ujarnya seraya terkekeh.
"Iya dong, harus seimbang, jangan cuma makan aja yang dibanyakin tapi oleh raga juga. Bukan cuma buat mencegah perutnya membuncit tapi juga supaya mas tetap sehat." balas Aileena yang baru saja selesai mencuci tangannya.
Tak lama kemudian, terdengar suara tangis Fareezky, bersamaan itu juga terdengar dering ponsel Aileena. Fatur pun menginstruksikan Aileena mengangkat panggilan itu yang ternyata dari Santi, sedangkan Fareezky biar Fatur yang menggendongnya.
"Kenapa, Ai? Apa telah terjadi sesuatu?" tanya Fatur saat melihat wajah Aileena yang tampak ingin bicara dengannya tapi ragu-ragu.
Aileena mendekati Fatur dan memandang lekat wajah Fareezky yang tampak tenang dalam buaian Fatur.
"Mama Santi tadi telepon terus bilang ... mas Adnan pingin banget ketemu Fareezky. Dia bahkan sampai jatuh sakit karena merindukan Fareezky." ujar Aileena memberitahukan Fatur apa yang disampaikan Santi tadi.
Fatur mengerutkan keningnya. Ia tampak berpikir sejenak untuk menimbang baik buruknya.
"Sebaiknya memang kita pertemukan mereka. Bagaimana pun, Fareezky putranya. Anak yang selama ini dinantikan kehadirannya. Terlepas dari kesalahannya di masa lalu denganmu, tetap kita tidak berhak melarang seorang ayah ingin bertemu anaknya. Apalagi saat ia ditahan, ia hanya sempat melihat Fareezky tanpa bisa menggendongnya, tentu hal itu makin membuatnya tersiksa. Tapi semua keputusan ada di tangan Ai. Mas akan menuruti apapun yang Ai katakan." ujarnya seraya merangkul bahu Aileena dengan tangan kanannya, sebab tangan kirinya digunakan untuk menggendong Fareezky.
Aileena tersenyum lebar. Ia pikir Fatur akan melarangnya. Ia tadi justru khawatir Fatur menolak karena itu ingin membicarakannya dengan hati-hati. Ia pun sepemikiran, bagaimana pun Adnan adalah ayah Fareezky. Ia berhak melihat dan bertemu putranya apalagi Fareezky memang anak yang selama ini dinantikan kehadirannya oleh Adnan. Meskipun Adnan telah menorehkan luka yang sangat dalam pada dirinya, tapi ia tidak bisa egois, bukan hanya perihal Adnan saja yang memiliki hak untuk bertemu putranya, tapi Fareezky pun memiliki hak untuk bertemu dengan ayahnya serta mendapatkan kasih sayang dan perhatian dari ayahnya walaupun ayahnya dan ibunya telah berpisah.
"Terima kasih, mas karena sudah selalu ada dan mendukung setiap langkah yang Ai ambil." ujar Aileena seraya tersenyum lebar. Lalu Aileena mengecup bibir Fatur sekilas membuat Fatur mendelikkan matanya.
"Hmm ... udah berani kecup-kecup mas, ya!" desisnya sambil menyeringai. "Ai, kurang, lagi dong!" Fatur malah meminta lagi sambil memonyongkan bibirnya.
Tapi Aileena malah tersenyum mengejek ke arah Fatur.
...***...
Sesuai permintaan Santi, Fatur pun pulang lebih cepat dari kantor untuk mengantar Aileena ke lapas tempat Adnan ditahan. Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, akhirnya mobil Fatur pun masuk ke area lapas. Tak lama kemudian, tampak sebuah mobil Pajero sport ikut parkir di samping mobil Fatur. Awalnya mereka tidak mempedulikan siapa pemilik mobil itu, tapi saat mendengar seruan seseorang yang sangat familiar di telinganya, Aileena pun lantas menoleh ke arah sumber suara. Aileena memicingkan matanya saat melihat dua orang turun dari mobil itu dengan tangan saling bertautan.
"Mbak Aileena." seru Rere saat turun dari mobil Pajero sport hitam milik Radika. Ya, yang turun dari mobil itu adalah Radika dan Rere.
"Rere .... Radika ... " seru Aileena terkejut melihat keberadaan kedua orang itu, lalu matanya tiba-tiba memicing saat melihat tangan kedua orang itu saling bertautan.
__ADS_1
"Kalian ???"
"Siapa Ai?" saat Fatur telah berdiri di samping Aileena.
Lalu mata Fatur beralih ke arah pandangan Aileena. matanya pun ikut memicing dengan satu sudut bibir terangkat ke atas.
"Wah ... wah ... wah ... mbak kayaknya ketinggalan cerita nih!" goda Aileena pada Rere dan Radika sambil memainkan alisnya.
Rere tersenyum kikuk, sedangkan Radika hanya tersenyum tipis sambil menyapa Fatur.
"Kita besuk kak Adnan dulu deh mbak, nanti bicaranya sekalian di dalam aja." tukas Rere dengan tangan yang masih bertautan dengan Radika.
"Oke. Jangan lupa traktirnya! Yang jadian harus traktir, ya nggak mas." ujar Aileena seraya meminta pendapat sang suami.
"Mas nurut aja gimana baiknya." sahut Fatur acuh tak acuh. Sebab ia tidak peduli tentang traktir-traktoran, ia sendiri bisa mentraktir istrinya kapan aja dimana aja.
"Tenang aja masalah itu, tapi traktirnya sekalian Minggu malam entar mbak, di rumah mama. Datang ya! Jangan nggak. Kalau nggak datang, Rere bakal ngambek." ujar Rere sambil tersenyum lebar.
Aileena lantas membalik badannya menghadap Rere, "Kok nraktirnya di rumah? Emang ada acara apa?"
"Wah, kamu ya Re, nggak bilang-bilang lagi punya kabar baik. Tapi selamat ya, Re! Kamu juga Kan, selamat ya! tolong jaga Rere, dia udah aku anggap kayak adikku sendiri."
"Pasti, tak perlu khawatirkan itu. " sahut Radika lagi.
Ya, sepertinya Radika takut kecolongan lagi, jadi setelah mendapatkan lampu hijau alias jadian dengan Rere, ia langsung menyatakan keinginannya pada kedua orang tuanya untuk mengikat Rere melalui pertunangan. Kedua orang tua Radika setuju, pun Rere. Padahal mereka baru saja jadian, tapi ternyata kedua orang tuanya tidak ada yang menghalangi.
...***...
"Aileena." lirih Adnan dengan mata berkaca-kaca saat ia melihat wajah Aileena yang sedang menggendong Fareezky tengah duduk di kursi tunggu. Namun, ia segera mengontrol emosinya agar tidak terlalu terlihat kalau ia begitu merindukan mantan istrinya itu.
"Hai ... " sapa Adnan canggung saat ia telah duduk di kursi yang berhadapan dengan Aileena dan Fatur. Tampak juga Rere dan Radika yang berdiri tak jauh dari posisinya
"Hai, mas. Apa kabarmu?" sapa Aileena yang tak kalah canggung sambil melirik Fatur yang duduk di sampingnya dengan tangan bersedekap di dada.
"Aku ... baik." dusta Adnan dengan sorot mata terpaku pada jari manis Aileena yang dihiasi cincin permata biru safir.
__ADS_1
Padahal dari wajahnya terlihat jelas gurat tidak baik-baik saja. Bibir Adnan terlihat pucat, matanya sayu dengan kantung mata hitam, dan rahangnya tampak dipenuhi bulu. Aileena tidak menyangka, lelaki yang pernah mengisi hidup dan hatinya bisa jadi seperti ini.
Adnan mengalihkan pandangannya dari jari Aileena pada Fareezky, tiba-tiba matanya berkaca-kaca.
"Boleh aku menggendongnya?" pinta Adnan dengan wajah memelas.
Aileena pun mengangguk dan menyodorkan Fareezky yang tampak mengerjapkan matanya kepada Adnan.
Tangis Adnan pecah saat berhasil menggendong Fareezky. Dikecupnya seluruh bagian wajah Fareezky tanpa ada satupun yang tertinggal. Ditumpahkannya segala kerinduannya pada anaknya yang telah lama ia nantikan kehadirannya.
Seandainya ia lebih bersabar.
Seandainya ia tidak tergoda tawaran Delima.
Sudah pasti saat ini ia akan selalu berada diantara putranya dan Aileena.
Sudah pasti ia akan berbahagia dengan kedua orang yang paling dicintainya itu.
Seandainya ia bisa memutar waktu, ingin ia kembali ke masa-masa bahagia antara dirinya dan Aileena.
Sayangnya ia tidak memiliki kuasa itu.
Bolehkah ia berharap suatu hari nanti ia memiliki harapan itu?
Namun, ia tidak bisa egois.
Tidak mungkin ia mengharapkan Aileena kembali terpuruk dalam kesedihan.
Adnan hanya bisa berdoa dalam hati, semoga dua orang tercintanya bisa selalu berbahagia walaupun bukan dengan dirinya.
"Anakku ... ini ayah ... ini ayah sayang. Ini ayah Fareez. Ayah sayang, Fareez. Sangat. " lirih Adnan. "Sayang bunda juga. Sangat. Amat sangat sayang." lanjutnya dalam hati.
...***...
...Happy reading 🥰 🥰🥰...
__ADS_1