Duri Dalam Pernikahan

Duri Dalam Pernikahan
Ch.105 Happy family


__ADS_3

Tak terasa kehamilan Aileena telah memasuki usia keempat bulan. Perut datar Aileena pun kini sudah terlihat lebih menonjol. Seiring bertambahnya hari, makin bertambah pula perhatian Fatur pada Aileena. Fatur seakan tak ingin meninggalkan satu moment pun tanpa kehadiran dirinya di sisi Aileena. Berharap dengan itu, setiap kenangan indah itu dapat terekam jelas di memori Aileena hingga takkan terlupakan sampai kapanpun.


Mentari sudah mulai bersinar. Cahayanya bahkan telah mulai masuk melalui celah-celah gorden, seakan sedang mengintip sepasang sejoli yang masih asik menenggelamkan diri mereka di alam mimpi.


Tak lama kemudian, Fatur mulai mengerjapkan mata, diliriknya sang istri tercinta yang masih asik terlelap dengan seulas senyum penuh cinta. Dipandanginya lamat-lamat wajah cantik Aileena, berharap ia takkan pernah kehilangan momen ini. Berharap hanya dirinya seorang lah yang bisa menikmati setiap momen ini. Sesaat kemudian, Aileena pun menyusul membuka matanya. Ia lantas tersenyum saat melihat Fatur telah bangun terlebih dahulu dan memandanginya.


"Pagi, mas." ucap Aileena dengan suara serak khas bangun tidur.


"Pagi, Ai-yang." sahut Fatur. "Pagi ini, bunda dan baby mau sarapan apa?" tawar Fatur.


Aileena nampak berfikir apa yang ia ingin makan pagi itu, tiba-tiba ia menginginkan bubur ayam Bandung. Mata Aileena seketika berbinar membayangkan bubur ayam Bandung ekstra telur yang ia bayangkan pasti sangat nikmat.


"Bubur ayam Bandung kayaknya enak, mas." ujar Aileena sambil nyengir lebar.


Fatur tampak berpikir, "Oke! Kita mandi dulu yuk terus ke CFD, di sana pasti banyak yang jualan bubur ayam Bandung." ujar Fatur .


Aileena tersenyum senang, "Kalau gitu mas mandi dulu gih! Ai mau bangunin Fareezky dulu."


"No, kamu mandi duluan aja Ai! Biar urusan Fareezky, mas yang urus. Mandi gih atau mau mandi bareng? Biar lebih hemat waktu." goda Fatur.


"Kalau mandi bareng, bukannya cepat, malah makin lama. Taulah apa yang bakal terjadi di dalam. Pengalaman membuktikan kalau mas ... " ledek Aileena sambil terkekeh.


"Shut ... jangan dibuka kartu As, mas." balasnya yang juga terkekeh karena Aileena bisa membaca pikirannya. "Ya udah, mas bangunin Fareezky dulu, ya Ai-yang." imbuh Fatur lagi lalu ia mengecup kening Aileena singkat sebelum meninggalkannya menuju kamar Fareezky.


Jarum jam sudah menunjukkan pukul 7.05, kini Fatur, Aileena, dan Fareezky sudah bersiap dengan out fit olahraga mereka. Tampak Fatur sedang memanaskan mobil terlebih dahulu sebelum melakukannya menuju CFD.


Tak sampai satu jam kemudian, mobil Fatur telah tiba di area CFD kota Jakarta. Fatur memarkirkan mobilnya di tempat yang strategis agar mudah dijangkau. Area CFD terlihat sangat ramai hari itu. Banyak orang datang dari berbagai penjuru untuk sekedar jalan-jalan, kongkow, olahraga, bahkan ada yang datang sengaja untuk berburu kuliner karena saat CFD biasanya akan ramai penjual yang menjual aneka kuliner. Sama seperti mereka hari ini yang sengaja datang ke CFD untuk berburu bubur ayam Bandung. Tak butuh waktu lama, kini Fatur dan Aileena telah berdiri di depan sebuah stand penjualan bubur ayam Bandung. Tapi karena terlalu ramai, Fatur terpaksa ikut antre, sedangkan Aileena dan Fareezky ia pinta menunggu di tempat yang tak jauh dari sana.


"Ame anget, Unda. Ayes oleh kecana ndak?" tunjuk Fareezky ke tempat anak-anak bermain.

__ADS_1


"Bukan nggak boleh sayang, tapi di sana rame banget. Nanti aja yah bareng Ayah." ujar Aileena dan Fareezky pun mengangguk paham.


"Ini, Ai ... " ujar Fatur seraya menyerahkan semangkok bubur ayam Bandung pada Aileena yang diterima Aileena dengan senyum merekah.


"Ayes mau Yayah. Ayes mau bubul ayam uga." ujar Fareezky saat melihat Fatur menyerahkan semangkok bubur ayam pada Aileena tadi.


"Ini punya Fareez, tapi makannya nanti ya! Ayah mau ambil punya ayah dulu di sana. Ayes makan sama ayah aja. Biar bunda makan duluan. Kasian bunda dan dedeknya kalau harus nungguin kita juga." ujar Fatur sambil mengusap kepala Fareezky dengan sayang. Memang tak dapat diragukan lagi, kasih sayang Fatur pada Fareezky terlihat sangat tulus dan besar. Hal itulah yang membuat Aileena makin mencintainya. Saat Fatur pertama kali menyatakan perasaannya pada Aileena dulu memang Aileena sudah memiliki ketertarikan pada Fatur. Tapi seiring berjalannya waktu, ketertarikan itu makin membesar saat melihat Fatur begitu memperhatikannya dirinya juga bayi yang ada di dalam kandungannya. Awalnya Aileena kadang masih merasa takut, perhatian yang dicurahkan Fatur itu hanya cara untuk menarik perhatian dirinya. Tapi setelah menjalani biduk rumah tangga selama 2 tahun lebih ini, ketakutan itu sirna berganti keyakinan mutlak kalau Fatur memang benar-benar mencintai dirinya juga anaknya. Bahkan orang-orang yang melihat kedekatan ayah dan anak itu mengira Fareezky memang putra kandungan Fatur.


Sangat jarang di zaman sekarang orang tua sambung dapat menerima anak sambungnya seperti anak kandungnya sendiri. Tapi Fatur tidak begitu. Ia bahkan sampai lupa siapa ayah kandung Fareezky sebenarnya karena terlalu sayang pada putra sambungnya itu.


"Oke Yayah. Angan lama-lama ya Yayah. Ayes udah lapel." ujar Fareezky dengan wajah imutnya.


"Oke my prince ... " seru Fatur penuh semangat. Ia pun segera berlalu menuju penjual bubur ayam setelah mengusap pipi Aileena terlebih dahulu.


Aileena menatap punggung Fatur yang berlalu menuju penjual bubur ayam dengan tatapan penuh cinta. Dalam hati, Aileena tak berhenti bersyukur karena telah diberikan pasangan hidup sebaik dan setulus Fatur.


...***...


"Ayo dong sayang, mumpung libur jadi kakak bisa senang-senang pagi ini." bujuk Radika sambil memainkan jemarinya di puncak si kembar milik Rere.


"Subuh tadi kan udah. Masa' baru jam 8 pagi udah mau lagi, emang kakak nggak capek."


"Untuk yang satu ini, nggak ada kata capek. Justru capek kakak langsung hilang ikut terbakar gairah kakak yang menggebu saat kita mulai melakukan penyatuan." ucap Radika tanpa mau berhenti dari kegiatannya.


Tiba-tiba saat sedang asyik-asyiknya bermain di atas kulit Rere, dering ponsel Radika berbunyi hingga berkali-kali.


"Ada telepon kak, angkat gih! Siapa tau penting." titah Rere.


"Nanti aja, kita aja belum sampai ke inti." tolak Radika karena masih asik dengan mainannya.

__ADS_1


"Tapi berisik tau kak."


Radika menghela nafas panjang. "Iya ... iya ... siapa sih ganggu aja! Nggak tau apa orang lagi mau nananinu sama istri."


Rere yang mendengar Omelan Radika lantas melemparkan sebuah bantal ke arah Radika hingga mengenai kepalanya.


"Ya mana mereka tau lah kak emang kakak mau buat pengumuman gitu biar semua orang tau? Silahkan aja kalau nggak tau malu." dengus Rere sambil mendelikkan mata.


Radika menyengir lebar lalu menatap nama penelpon itu. Dengan sigap ia menekan tombol hijau. Wajahnya terlihat sangat serius. Lalu ia membalik badan setelah menutup telepon.


"Kakak harus ke rumah sakit, Re. Banyak pasien darurat. Ada kecelakaan dan semua korbannya di bawa ke Medika Raya." tukas Radika dengan wajah serius.


"Ya udah, kakak buruan mandi gih! Entar Rere siapin perlengkapan kakak."


Radika pun bergegas membersihkan diri. Tak butuh waktu lama, kini Radika telah keluar dari kamar mandi dan bersegera mengenakan pakaian yang disiapkan Rere. Kemudian Rere muncul lagi seraya membawa secangkir kopi hangat, bukan panas agar Radika bisa segera meminumnya. Ia juga membawakan beberapa lembar roti lapis isi dan membantu menyuapi Radika untuk menghemat waktu.


"Terima kasih, sayang. Kakak berangkat dulu ya! Kamu hati-hati di rumah. Kalau ada butuh sesuatu atau mau bepergian, jangan lupa kabarin kakak dulu." pesan Radika sebelum berangkat ke rumah sakit.


"Siap suamiku." ujar Rere seraya terkekeh.


Lalu Rere mencium punggung tangan Radika dan Radika mencium dahi dan bibir Rere sekilas sebelum pergi.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikum salam." sahut Rere seraya melambaikan tangan.


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


...***...


__ADS_2