
Nanda tampak sedang makan siang bersama anak-anak panti asuhan milik bunda Rieke. Bunda Rieke adalah orang yang menolong Nanda saat kehujanan tempo hari. Bunda Rieke adalah seorang janda tanpa anak. Kecintaannya pada anak-anak membuatnya suka menarik dan mengasuh anak-anak terlantar hingga lama-lama rumah tempatnya menampung anak-anak terlantar menjadi sebuah panti asuhan.
Panti asuhan ini terletak jauh dari pusat kota. Lebih tepatnya ada di luar daerah. Panti asuhan bunda Rieke tidak besar karena donaturnya merupakan kalangan biasa dan lebih banyak para tetangga. Oleh sebab itu, keberadaan Nanda belum tidak kunjung ditemukan.
"Nda, enak makanannya?" tanya bunda Rieke sembari memperhatikan Nanda yang tampak lahap makan.
"Enak, bunda. Nanda juga mau pinter masak kayak bunda nanti. Bunda mau kan ajarin Nanda?" tanya Nanda antusias.
"Pasti dong! Bunda malah senang kalo anak-anak bunda mau belajar." ujar bunda Rieke seraya tersenyum. "Oh ya sayang, kamu betah disini?"
Nanda mengangguk antusias, "Betah banget bunda. Di sini Nanda banyak temen. Nggak kesepian." ujarnya seraya tersenyum lebar menunjukkan ada satu buah giginya yang ompong karena baru tanggal membuatnya terlihat lucu.
"Emang mama Nanda kemana?" tanya bunda Rieke. Ya, selama beberapa hari ini, bunda Rieke belum menanyai tentang identitas Nanda. Beberapa hari ini Nanda tampak murung dan belum mau bicara. Baru hari ini ia terlihat lebih cerah dan bersemangat.
"Mama udah nggak ada, Bun. Mama pergi ajak adek dan nggak bisa kembali lagi." ujarnya dengan mata berembun. Setiap mengingat ibunya yang telah tiada, Nanda sontak saja murung dan meneteskan air mata. Ia pun sama seperti anak-anak yang lain, ingin dicintai, ingin disayangi, baik oleh ibunya, maupun ayahnya. Ibunya telah tiada, ayahnya tak menginginkannya, ia sudah seperti yatim piatu saja. Bukankah lebih baik ia sekalian saja tinggal di panti asuhan sebagai anak yatim piatu. Mungkin ini yang terbaik bagi semua orang, pikirnya. Bukan hanya bagi ayahnya, tapi juga pamannya. Mungkin dengan ia pergi, ayah dan pamannya takkan kembali bertengkar.
Pikiran seorang anak kecil memang sepolos itu. Ia tak tahu, justru kepergiannya membuat kakak dan adik yang sudah renggang itu kian merenggang bahkan meretak.
Bunda Rieke menghela nafas panjang.
"Kalau ayah?" Nanda menggeleng membuat tatapan Bunda Rieke kian sendu. Ia pikir, ayah Nanda juga sudah tiada.
"Keluarga yang lain?" tanya bunda Rieke lagi.
"Nggak ada, Bun." dustanya terpaksa. "Kakek dan nenek belum lama ini meninggal." lagi-lagi mata Nanda berembun saat mengingat kedua orang yang begitu perhatian dan menyayanginya justru pergi karena ingin memenuhi keinginannya.
"Ya Allah, malang sekali nasib mu, nak." Bunda Rieke sontak saja menarik tubuh mungil Nanda dan memeluknya erat. Bagaimana seorang anak yang masih sekecil itu harus menghadapi pahitnya hidup seorang diri tanpa ada yang mendampingi di sisinya. Beruntung ia yang menemukan Nanda, bila orang lain atau orang yang berniat jahat, bunda Rieke tidak dapat membayangkan bagaimana nasibnya setelah itu.
"Kamu sabar ya, sayang. Semua pasti ada hikmahnya. Bunda yakin, kelak kamu akan mempunyai keluarga sendiri yang bisa mencintai dan menyayangimu dengan tulus. Bunda akan selalu mendoakanmu." lirih bunda Rieke sambil memeluk tubuh mungil Nanda yang bergetar karena larut dalam tangis.
...***...
"Bunda, kak Nanda kok udah lama nggak main ke sini sih?" tanya Fareezky yang diangguki juga oleh Varisha.
__ADS_1
"Iya bunda, Lisha kangen main sama kak Nanda. Kita ke rumah kak Nanda yuk, Bun!" bujuk Varisha.
"Iya bunda, kita ke sana yuk! Kan bunda lagi buat donat kentang, Kak Nanda kan suka donat kentang. Kita kesana sambil bawain donat kentang yuk, Bun!" timpal Fareezky lagi
Aileena yang baru saja selesai memberikan toping pada donat-donat yang telah dingin tersenyum. Aileena memberi toping glaze aneka rasa dengan dihiasi sedemikian rupa agar tampak makin menarik. Ada toping glaze rasa vanila, coklat, dan juga strawberry.
"Nanti bunda telepon om Dika dulu ya sibuk nggak kak Nanda nya. Kalau nggak baru kita kesana." ujar Aileena dengan tersenyum sumringah. Aileena senang, anak-anaknya tumbuh menjadi anak yang baik hati juga penyayang. Bahkan terhadap Nanda yang bukan siapa-siapa mereka saja, mereka menyayanginya.
"Bunda lagi bikin apa nih?" tiba-tiba saja Fatur bergabung seraya memeluk Aileena dari belakang.
"Hmmm ... donat. Kayaknya enak nih." ujar Fatur seraya mencomot satu buah donat bertoping coklat.
Mata Aileena memicing tajam, "Kayaknya? Kayak bunda baru kali ini aja buat donat. Jadi selama ini nggak enak gitu?" ketus Aileena berkacak pinggang.
Fatur yang mulutnya penuh dengan donat hanya bisa menyengir lebar.
"Duh, bumil ayah galak bener! Ingat lho, nggak boleh marah-marah. Entar dedeknya ikutan pemarah, bener nggak sayang?" tanya Fatur pada Fareezky dan Varisha meminta dukungan.
Belum sampai tangan itu menyentuh donat, sebuah spatula sudah memukul punggung tangan Fareezky ringan membuat tangan itu berhenti di udara.
"Cuci tangan dulu, sana! Kotor it, kan baru selesai main."
Fareezky menyengir lebar, "Hehehe ... maaf, Bun. Lupa." sahut Fareezky yang segera turun dari kursi dan mencuci tangannya di wastafel.
"Tangan Lisha bersih, Bun. Kan cuma main sama Ana dan Bella." ujar Varisha sambil mengangkat kedua tangannya dan menunjukkan telapak tangannya yang bersih.
"Kelihatan bersih tapi belum tentu bersih apalagi bebas kuman, Lisha sayang. Apalagi Anabella-nya sering Lisha mainin kesana-kemari, diletakin di lantai, di kasur, di sofa, pasti ada kotoran, debu, dan kuman yang nempel jadi Lisha tetap harus cucu tangan. Cuci tangan ya, sayang." tukas Aileena lembut pada Varisha yang sudah berusia 4 tahun.
Bibir Varisha mengerucut. Bukan karena titah cuci tangan dari Aileena, tetapi karena Aileena yang suka menggabungkan nama kedua boneka princessnya.
"Bunda, jangan panggil boneka Lisha Anabella, entar dia berubah jadi boneka Annabelle beneran gimana? Kan takut, Bun. Boneka Lisha kan lucu-lucu, nggak serem." tukas Varisha dengan bibir mengerucutnya.
__ADS_1
"Emang Lisha tau boneka Annabelle itu kayak apa?" tanya Fatur sambil mencubit pipi Varisha yang baru selesai cuci tangan.
"Tau, serem banget yah. Abang Fareez waktu itu tunjukkin filmnya. Iii ... Lisha nggak mau punya boneka serem kayak gitu. Entar dia gigit, kan sakit " tukas Varisha bergidik ngeri membuat Fatur terkekeh melihat ekspresinya.
"Lisha, awas, entar Anabelle nya marah dikatain serem terus dia datang dari bawah ranjang, tau rasa lho!" Fareezky mengusili Varisha.
"Abang, jangan nakutin Lisha! Ayah, liat Abang tuh! Masa' bilang di bawah ranjang Lisha ada Anabelle. Lisha malam ini pokoknya mau tidur sama bunda dan ayah. Pokoknya harus!" tekan Varisha memaksa.
"Bang, nggak boleh usil gitu dong!" nasihat Fatur. "Anak gadis ayah kok jadi penakut gini, kan nggak lama lagi mau punya adek, jadi harus berani dong!" nasihat Fatur. Bisa kacau kalau Varisha tidur di kamar mereka malam ini, bisa gagal dong kegiatan hahahihi mereka malam ini.
"Iya yah, maaf. Abang cuma bercanda dek. Anabelle itu nggak ada kan cuma film. Atau Lisha Abang aja yang temenin?"
"Abang mau temenin? Yeay, mau bang, mau." sahut Varisha semangat.
"Mas, tadi Fareez sama Lisha bilang pingin ketemu Nanda, gimana kalau sore ini kita mampir ke rumahnya?" tanya Aileena yang kini telah duduk di samping Fatur.
"Astagfirullah, mas lupa, Ai-yang, kemarin mas ketemu Dika, dia bilang Nanda hilang." ujar Fatur dengan muka serius.
"Apa?" serunya terkejut. "Hilang gimana maksud mas?" imbuhnya lagi.
"Iya, menghilang nggak tau kemana. Mereka udah coba cari, minta bantuan polisi juga tapi kehilangan jejak semenjak pulang sekolah, dia nggak balik-balik ke rumah."
"Ya Allah, kemana ya Nanda. Kasihan anak itu. Udah kehilangan ibu, diabaikan ayah biologisnya, kehilangan kakek neneknya. Ai takut terjadi sesuatu yang tidak diinginkan sama Nanda, mas." lirih Aileena dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
"Kita doain saja ya, Ai, semoga dimana aja Nanda sekarang, ia dalam keadaan baik-baik aja. Doni juga katanya udah mulai menyesali perbuatannya."
"Giliran udah nggak ada baru nyesel. Kemarin-kemarin kemana aja? Mungkin ini teguran buat dia, mas supaya bisa lebih menghargai titipan Allah. Bagaimana pun, anak adalah titipan, sudah seharusnya kita menjaga anak-anak kita dengan baik terlepas dari bagaimana cara ia hadir di dunia ini." kesal Aileena. Ia memang kesal sekali saat tau Doni mengabaikan dan sering berlaku kasar pada Nanda. Ia sudah lama ingin mengadopsinya, tapi ia justru tidak mengizinkan. Entah apa alasannya.
"Kamu benar, Ai-yang. Setiap anak dilahirkan dalam keadaan suci, tiada cela. Jadi kita tidak boleh melimpahkan kemarahan dan kekecewaan kita pada anak seperti yang Doni lakukan itu. Semoga saja Nanda segera ditemukan."
"Aamiin ... "
'Nanda, kamu dimana, nak? Semoga kamu baik-baik aja dan sehat-sehat aja ya, sayang. Semoga Allah selalu melindungimu.' batin Aileena mendoakan.
__ADS_1
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...