
Malam makin larut, jarum jam bahkan telah menunjukkan pukul 11 malam, tapi mata Malika tak kunjung terpejam. Ia hanya sibuk membalik badan ke kanan dan ke kiri, lalu kembali telentang. Fatahillah yang sudah tertidur, tiba-tiba terjaga saat menangkap kegelisahan sang istri.
"Kamu kenapa, sayang? Kok gelisah gitu?" tanya Fatahillah sambil mengusap puncak kepala Malika yang kini menatapnya sendu.
"Aku nggak papa kok, mas." kilah Malika seraya memaksakan tersenyum. Saat sedang berdua, mereka lebih suka menggunakan kata panggilan sayang dan mas.
"Sayang, aku mengenal kamu itu, dihitung dari sebelum menikah, bukan sebentar. Jadi aku sudah sangat mengenalmu luar dalam. Jadi ceritakan, apa yang membuatmu gelisah? Apa ini ada hubungannya dengan calon menantu kita?" cecar Fatahillah yang kini sudah duduk bersandar di kepala ranjang.
Malika menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
"Apa kau juga menyadarinya, mas siapa perempuan itu?" tanya Malika lirih.
Fatahillah tersenyum lembut seraya menatap Malika yang tertunduk lesu.
"Sama seperti dirimu. Tapi, kejadian itu sudah bertahun-tahun berlalu, tidak bisa kah kau melupakannya? Apalagi kata Fatur, kedua orang tuanya sudah meninggal. Maafkanlah mereka. Ikhlaskan semua kesalahan mereka. Lagipula, selama ini kita tidak pernah tau alasannya melakukan itu. Kita sangat tau, terutama dirimu, mereka orang-orang baik karena itu aku yakin mereka pasti memiliki alasan hingga membuatmu tersakiti." ujar Fatahillah menasihati Malika dengan lembut dan bijak.
"Tapi aku nggak yakin, mas. Apa yang mereka lakukan sungguh menyakitkan bagiku. Alasan? Apa alasannya? Apakah ada yang mengancam mereka? Siapa dan untuk apa?" Malika mendengkus mengingat dua orang yang pernah menorehkan luka padanya.
"Huft ... Kita nggak pernah tau, Ma. Apakah kamu selama ini belum bisa mengikhlaskannya? Apakah artinya, kau pun belum benar-benar menerimaku? Sebab aku hadir akibat perbuatan mereka?" lirih Fatahillah dengan sorot mata tajam, menuntut penjelasan. Bahkan ia sudah menggunakan panggilan yang biasa digunakan di depan anaknya.
Malika menggeleng cepat, ia memang belum mengikhlaskan perbuatan mereka, tetapi bukan berarti ia belum bisa menerima Fatahillah sebab berkat kehadiran Fatahillah, ia dapat bangkit lagi dari keterpurukan. Padahal Fatahillah kerap mendapat penolakannya dulu, tapi di satu moment, membuatnya jatuh tak berdaya pada pesona dan kebaikan Fatahillah. Fatahillah lah yang selalu menemani dirinya hingga mampu mengobati setiap rasa sakit yang pernah ditorehkan dua orang yang dipercayanya itu.
"Bukan begitu maksud mama, pa. Mama memang belum mengikhlaskan semua perbuatan yang telah mereka lakukan pada mama, tapi bukan berarti mama belum menerima papa. Justru berkat papa lah, mama sanggup bertahan hingga sekarang. Mama sangat mencintai, papa. Mama mohon jangan ragukan cinta mama pada papa!" ucap Malika sendu dengan wajah bercucuran air mata.
"Kalau memang mama mencintai papa, cobalah ikhlaskan semua. Bukan hanya demi ketenangan mama, tapi juga papa, dan juga anak kita. Apalagi mama bisa lihat sendiri kan, ia begitu mencintai perempuan bernama Aileena itu. Mama tau, bukan maksud papa menginginkan sesuatu yang buruk terjadi pada mama, tapi dibalik apa yang telah mereka lakukan, justru papa bersyukur, sebab berkat mereka lah papa memiliki kesempatan membahagiakan mama. Mama masih ingat kan bagaimana papa dulu mengejar-ngejar mama tapi selalu mama tolak karena dia, tapi setelahnya, papa memiliki kesempatan dan hak penuh untuk memiliki mama. Jadi , belajarlah menerima keadaan, sayang. Mungkin inilah takdir yang harus kita jalani. Bukankah rejeki, maut, jodoh, semua ada di tangan Allah?" tukas Fatahillah bijak seraya menggenggam tangan Malika.
Malika pun tersenyum, ia mengangguk, "Akan aku usahakan, mas. Aku juga nggak mau sampai Fatur bersedih. Karena itu, walaupun aku tau siapa dia, mama tetap berusaha menerima."
__ADS_1
"Tapi , apa mama sudah memastikan apakah dia benar anak dari ..."
"Sudah. Bahkan jauh dari sebelum ini. Mama pertama kali liat di di cafe kita dengan mantan ibu mertuanya. Setelah itu, mama menyelidiki kebenarannya dan ternyata dugaan ku tak salah."
"Ya sudah, papa cuma mohon, bersikaplah sewajarnya pada mereka. Jangan sampai anak kita menaruh curiga apalagi berpikir mama tidak menyukai pilihannya. Mama tau sendiri kan, ini untuk pertama kalinya anak kita memperkenalkan seorang perempuan pada kita. Artinya, perempuan ini memang benar-benar spesial dan papa akan selalu mendukung anak kita selama pilihannya itu baik dan tepat terlepas dari siapa orang tuanya." pesan Fatahillah dan Malika mengangguk seraya memeluk erat tubuh Fatahillah. "Sekarang kita tidur, papa juga udah ngantuk. Selamat tidur, sayang." ucap Fatahillah seraya mengecup puncak kepala Malika.
"Selamat tidur juga, mas. Terima kasih selalu ada buatku selama ini. Aku mencintaimu."
"Aku lebih mencintaimu."
...***...
Mentari pagi baru saja merangkak dari peraduan. Membiaskan cahaya melalui celah-celah jendela kaca kamar Radika. Tidak tidur semalaman karena harus bekerja, ternyata tak mampu membuatnya mengantuk di pagi ini. Entah ada apa gerangan. Ia hanya sibuk membolak-balik ponselnya, menunggu balasan dari pesan-pesan yang ia kirimkan sejak semalam pada seseorang.
"Ck ... kemana sih? Nggak mungkin kan dia belum bangun." omelanya sambil melirik jarum jam yang sudah mendekati pukul 7. "Kalau semalam mungkin benar dia udah tidur." mengingat ia mengirimkan pesan pada pukul 11 malam.
"Dia tadi online! Artinya dia sudah bangun. Tapi kenapa ia tak mempedulikan pesanku sama sekali? Tidak seperti biasanya." gumam Radika berpikir keras mengapa gadis yang akhir-akhir ini menghibur harinya seakan mengabaikannya.
Lalu ia mencoba mengingat pertemuan terakhirnya di rumah sakit, mereka bahkan masih saling bercanda saat itu. Hingga terakhir ia melihatnya di ...
"Apa aku sudah membuat kesalahan padanya sehingga ia marah padaku?" gumam Radika sambil membaringkan tubuh lelahnya di atas kasur dengan berbantalkan kedua tangannya yang terlipat.
Sementara itu, di tempat lain, ada seorang gadis yang tertawa miris melihat sebuah notifikasi yang enggan sekali ia buka apalagi baca.
"Ngapain tuh orang ngechat dari semalam? Nggak ada kerjaan. Dasar tukang PHP." gerutu Rere seraya menghapus notifikasi yang muncul di atas layar ponselnya.
Tak lama kemudian ponselnya berbunyi nyaring, saat ia lihat nama sang penelepon, Rere pun langsung mengangkatnya tanpa berpikir panjang.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum." ucap Rere ramah.
"Wa'alaikum sayang eh wa'alaikum salam." ucap seseorang itu seraya tersenyum lebar.
"Ck ... nggak usah aneh-aneh ya! Entar ada yang salah paham gimana? Aku nggak mau dikira perebut pacar orang ya!"
"Pacar? Siapa? Aku nggak punya pacar."
"Cieee ... mau bo'ong nih ye! Terus yang kemarin nangis-nangis pas jenguk itu siapa? Nggak mungkin kan tuh cewek salah orang." tukas Rere dengan nada juteknya. Ia sedang badmood sejak semalam. Ah, lebih tepatnya beberapa hari belakangan.
"Yang mana? Cewek yang datang pas kita video call? Cie ... cemburu nih ye!" goda Rasyid dengan tawa menyeringai.
"Cemburu? Mimpi." Rere terkekeh seraya memeletkan lidahnya padahal Rasyid tak mungkin melihatnya karena mereka bukan sedang bervideo call.
"Ngaku aja, nggak perlu malu-malu. Akang Rasyid seneng kok kalau Eneng Rere cemburu." godanya lagi.
"Makin ngeyel nih anak. Udah ah, gue mau mandi. Ada kelas pagi hari ini. Mana dosen killer juga." ujar Rere.
"Ya udah deh. Entar hati-hati di jalan ya! Oh ya, siang ini gue udah bisa pulang. Loe bisa nggak ke rumah sakit. Temenin mama jemput gue. Mama nggak ada yang temenin. Soalnya papa masih di luar kota, nggak bisa pulang." tukas Rasyid penuh harapan.
"Oke deh. Bilang aja ke Tante, nggak usah bawa mobil, biar gue yang bawa. Oke!"
"Oke, sayang." sahut Rasyid seraya terkekeh.
"Ck ... sayang-sayang, pala loe peyang." ketus Rere yang sudah tergelak di seberang sana membuat Rasyid pun tertular tawa Rere.
...***...
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...