Duri Dalam Pernikahan

Duri Dalam Pernikahan
Ch.65


__ADS_3

Fatur masih tampak setia menunggui Aileena terbangun dari tidurnya. Mungkin karena kadar obat bius yang terlalu tinggi atau karena efek kelelahan membuat Aileena cukup lama bangun dari tidurnya. Sedangkan Santi, Andreas, dan Rere pulang ke rumah untuk mengurus proses pemakaman Delima sebagai bentuk penghargaan terakhir dari mereka.


Fatur tampak menggenggam tangan Aileena dengan erat. Sesekali ia mencium punggung tangannya untuk menyalurkan rasa sayang yang ia miliki pada wanita pujaannya tersebut.


Tak lama kemudian, kelopak mata Aileena tampak bergerak-gerak. Fatur yang melihatnya pun sontak bersemangat. Tak lama kemudian, mata Aileena mulai mengerjap menyesuaikan pendarnya dengan pencahayaan di ruangan serba putih itu.


"Mas Fatur ... " lirih Aileena saat menyadari sosok tinggi gagah itu tersenyum ke arahnya.


"Kamu jangan bicara dulu, ya, Ai. Mas panggil dokter dulu." ucapnya pada Aileena yang disambut dengan senyuman mengiyakan.


Fatur pun segera menekan tombol yang ada di atas headboard brankar Aileena, tak butuh waktu lama seorang dokter perempuan masuk yang didampingi seorang perawat.


Lalu dokter itu melakukan beberapa pemeriksaan, setelah dirasa semuanya baik-baik saja, Aileena pun dipindahkan ke kamar rawat.


"Mas, anakku ... bagaimana keadaannya?" lirih Aileena dengan tatapan sendu. Wajahnya masih pucat dan terlihat begitu rapuh membuat Fatur makin kuat ingin menjadi pelindungnya.


Fatur tersenyum lebar sembari membenarkan rambut Aileena yang tampak berantakan membuat rona merah muncul di pipi Aileena.


"Anak kita laki-laki." ucap Fatur santai membuat Aileena membeliakkan matanya saat mendengar Fatur mengakui anaknya sebagai anaknya juga. "Tadi saat baru lahir kondisinya memang terlihat sangat lemah. Tapi sekarang kondisinya sudah lebih baik, jadi kau tenang saja. Mas juga sudah mengadzaninya." ujar Fatur membuat hati Aileena lega. Ia berucap syukur saat tau kondisi bayinya baik-baik saja. Sesaat sebelum kesadarannya hilang, ia sempat khawatir mengenai kondisi anaknya, tapi sekarang ia dapat bernafas lega. Namun tiba-tiba Aileena mengingat kondisi Delima saat terakhir kali ia melihatnya. Tak dapat ia tutupi, rasa khawatir itu ada. Apalagi Delima jatuh karena berusaha menghalangi langkah Adnan yang ingin membawanya pergi.


"Mas, bagaimana keadaan Delima? Dia baik-baik saja kan? Anaknya juga baik-baik saja kan?" cecar Aileena khawatir.


Adnan menarik nafas berat dan menghembuskannya. Berat sebenarnya mengatakan yang sebenarnya, tetapi ia tidak mungkin menutupi hal tersebut.


"Dia ... " Fatur masih tampak ragu berucap, tapi Aileena tampak setia menunggu penuturan Fatur. "Dia dan anak dalam kandungannya telah meninggal beberapa saat yang lalu." ucap Fatur jujur.


Gemuruh di dada Aileena tiba-tiba membuncah. Rasa bersalah pun menggerogoti dada Aileena. Kabar yang ia dapatkan ini sungguh mengguncang jiwanya. Sebesar apapun kesalahan Delima padanya, ia pernah mengharapkan kejadian seburuk ini menimpanya. Apalagi kejadian buruk ini juga berakibat pada janin yang tidak berdosa.


Air mata Aileena pun tumpah membasahi pipinya. Aileena seketika mengingat sosok Nanda. Balita menggemaskan yang sebenarnya sudah dianggapnya seperti anaknya sendiri. Aileena tidak bisa membayangkan betapa pahitnya nasib Nanda ditinggal ibunya di usia yang masih begitu kecil.

__ADS_1


"Innalilahi wa innailaihi raji'un. Mas, dia ... dia tadi jatuh karena mau menolong, Ai sehingga mas Adnan tidak sengaja mendorong tubuhnya hingga terjatuh. Ai yakin, mas Adnan tidak sengaja melakukannya." ucap Aileena sesegukan. "Kasihan bayi yang tidak berdosa itu, mas. Ai nggak nyangka hal ini bisa terjadi padanya. Kasihan Nanda, mas. Balita itu masih sangat kecil, dia belum mengerti apa-apa tapi sudah harus kehilangan sosok ibunya. Ai nggak bisa membayangkan gimana perasaan Nanda saat tau ibunya sudah tiada. Lalu dia akan tinggal dengan siapa kelak? Bagaimana nasibnya?" lirih Aileena dengan isakan yang makin keras.


Fatur yang menyadari betapa besar kesedihan Aileena pun segera menarik tubuh rapuh itu ke dalam pelukannya. Diusapnya punggung Aileena yang berguncang hebat untuk menenangkannya. Aileena wanita berhati lembut. Sejahat apapun perbuatan yang sudah dilakukan Delima padanya, tapi ia sungguh tidak pernah mendoakan sesuatu yang buruk terjadi padanya. Walaupun bibirnya belum mengatakan memaafkan karena Delima bahkan pergi sebelum sempat berucap maaf, tapi dalam hati Aileena tetaplah memaafkan.


Aileena memiliki hati seluas samudera. Sesakit apapun tapi ia akan tetap memaafkan. Ia menerima semua yang terjadi pada hidupnya sebagai takdir yang harus ia jalani sebab apa yang baik menurut kita belum tentu baik menurut Allah dan begitu pula sebaliknya. Boleh saat ini kita begitu marah atas apa yang terjadi pada diri kita, tapi yakinlah akan ada hikmah di balik segala sesuatu yang menimpa diri kita.


"Sudah Ai, jangan menangis lagi. Sebaiknya sekarang kita mendoakan Delima agar dilapangkan kuburnya dan diampuni segala dosa-dosanya." ujar Fatur memberi nasihat. "Untuk anak Delima bernama Nanda itu, tak perlu kau khawatirkan sebab kini ia sudah bersama ayah kandungnya. Untungnya ia telah diantarkan kepada ayah kandungnya sebelum peristiwa ini terjadi. Kita doakan saja, semoga ia bisa mendapatkan kasih sayang di keluarga barunya itu " imbuhnya lagi saat pelukannya sudah ia lepas .


Akhirnya Aileena dapat bernafas dengan lega. Hidupnya pasti takkan pernah tenang bila Nanda ditinggalkan seorang diri saja. Ia pun sempat bertekad, bila tidak ada yang mengurusi Nanda, maka ia akan dengan ikhlas mengadopsinya. Tapi karena kini Nanda telah berada di tangan ayah kandungnya, Aileena pun dapat bernafas dengan lega.


"Semoga ya, mas. Semoga keluarga ayahnya dapat menerimanya dengan tangan terbuka dan menyayanginya sepenuh hati." doa Aileena tulus yang diaamiinkan oleh Fatur.


...***...


Fatur yang belum berganti pakaian sama sekali, pulang ke rumahnya saat menjelang makan malam. Ia sengaja pulang ke rumah orangtuanya untuk sekalian mengabarkan tentang Aileena yang sudah melahirkan.


Baru saja ia menginjakkan kakinya di depan pintu, ia mendengar sayup-sayup suara orang mengobrol. Ia pun tetap melangkahkan kakinya masuk ke dalam. Sepertinya orang tuanya itu sedang kedatangan tamu.


"Wa'alaikum salam." sahut ketiga orang yang ada di ruang tamu itu.


"Anakmu, jeng?" tanya seorang wanita paruh baya. Matanya menatap Fatur dengan bangga sebab sudah jarang melihat sosok anak yang begitu santun terhadap orang tua hingga mencium tangan saat baru pulang.


"Iya, jeng. Namanya ... "


"Fatur ... " ucap seorang wanita saat melihat Fatur menegakkan punggungnya. Sedangkan Fatur memicingkan matanya saat mendengar seseorang menyebut namanya.


"Kamu mengenal anak Tante, Fio?" tanya Malika pada Fiora, anak dari teman masa putih abu-abunya.


"Ah, i-iya, Tante. Saya ... "

__ADS_1


"Eh, Fiora. Iya, ma, kami saling kenal. Dia teman SMA Fatur dulu." potong Fatur cepat membuat Fiora terdiam.


"Wah, sama kayak mama dan Tante Cempaka dong, teman masa putih abu-abu." sahut Malika seraya terkekeh.


Tak ingin ikut berbasa-basi dengan mamanya, Fatur pun segera undur diri dari sana untuk membersihkan diri. 30 menit kemudian, Fatur sudah kembali turun dengan berpakaian santai tapi tetap rapi membuat Malika mengerutkan keningnya.


"Nggak ikut makan malam dulu, nak? Emang kamu mau kemana lagi sih? Baru juga pulang." omel Malika saat melihat putranya udah ndak pergi lagi.


"Fatur mau temenin Aileena di rumah sakit, Ma. Dia udah melahirkan tadi siang." ucap Fatur santai tapi tidak dengan Malika. Ia justru menunjukkan wajah masam.


Cempaka dan Fiora mengerutkan keningnya merasa penasaran dengan nama yang diucapkan Fatur. Apalagi Fatur mengucapkan kata melahirkan dengan santai.


Fatur pun segera melenggang pergi setelah mengucapkan salam.


"Ka, anakmu udah nikah?" tanya Cempaka penasaran.


"Belum kok."


"Terus siapa yang katanya baru melahirkan tadi?" tanyanya lagi.


Malika menghela nafas panjang lalu memijit pelipisnya yang sebenarnya tidaklah sakit.


"Itu ... itu perempuan yang Fatur sukai." sahutnya pelan namun tetap terdengar jelas oleh telinga kedua orang di hadapannya.


"Apa perempuan itu ... "


"Tidak seperti yang kau pikirkan. Itu bukan anaknya tapi anak perempuan itu dengan mantan suaminya." potong Malika membuat Cempaka dan Fiora membeliakkan matanya. Mereka tidak menyangka pria tampan, gagah, single, dan mapan seperti Fatur justru menyukai seorang janda.


...***...

__ADS_1


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2