
...💖💖💖...
Mohon maaf bagi yg protes kok malah nyeritain Rere dan Radika terus beberapa bab ini, sebab memang alurnya gitu. Semua ada porsinya masing-masing jadi nggak tiba-tiba melompat aja ceritanya karena fokus ke satu pasangan aja. Ntar kakak-kakak pasti paham alasannya setelah membaca kisah selanjutnya.
...💖💖💖...
Lalu Rere mengalihkan perhatiannya kepada seorang lelaki yang tengah terbaring diatas brankar dengan dahi, tangan, dan kaki dibalut perban.
"Hai ...!" sapa laki-laki itu pada Rere.
Rere pun tersenyum dan membalas sapaan itu mengabaikan Radika yang tengah berdiri sambil bersandar di samping pintu dengan kedua tangan bersedekap di depan dada.
"Hai juga." balasnya "Bagaimana keadaanmu?" sapa Rere pada laki-laki itu.
"Ya, beginilah! Seperti yang kau lihat. Dibilang baik-baik saja, iya, dibilang nggak baik-baik saja ya iya juga." sahutnya seraya tersenyum. "Oh ya, kita belum berkenalan. Kenalin, aku Rasyid." ujarnya seraya mengulurkan tangan.
"Aku ..."
"Rere kan? Anak fakultas ekonomi." potong Rasyid.
"Eh, kok tau?"
"Kan kita satu kampus. Siapa sih yang nggak kenal sama Ratu kecantikan sekaligus idola kampus bernama Revalina alias Rere." ujar Rasyid yang sukses membuat Rere tersipu.
"Ish, mereka itu berlebihan. Ratu apaan." sanggah Rere dengan wajah tersipu.
"Oh ya, makasih ya, Re, loe udah tolongin aku kemarin. Kalau nggak ada loe, entah apa jadinya gue."
"Udah ah, nggak usah terlalu dipikirin, sebagai manusia bukankah kita sudah sewajibnya saling tolong menolong." tukas Rere, "Lagian ya, aku ini hanya perantara doang. Loe itu harusnya bersyukur sama Allah yang udah kasih kesempatan loe untuk hidup." imbuhnya lagi membuat Rasyid tersenyum manis. Wajah Rasyid walaupun dalam keadaan luka-luka, tetap tidak menutupi ketampanan wajahnya. Apalagi Rasyid memiliki lesung pipi sama seperti Rere, membuatnya makin terlihat tampan dan manis saat tersenyum.
"Wah, kalian kayaknya cocok dan kompak banget deh! Udah kuliah di kampus yang sama, sama-sama punya lesung pipi juga, bikin senyum kalian makin manis aja." tukas ibu Rasyid yang sedang mengupas apel membuat Rasyid dan Rere sama-sama tersenyum simpul.
Semua interaksi itu tentu dalam pengawasan Radika. Entah apa maksudnya mengekori kemanapun Rere beranjak. Untung Radika tidak mengekor saat Rere ke kamar kecil. Ia menatap kedua manusia yang berlainan jenis kelamin itu dengan tatapan datar, namun menghujam. Radika sudah seperti bodyguard Rere membuat Rere jengah tapi geli sendiri.
__ADS_1
"Kak Radi ngapain sih ngekorin, Rere? Aneh banget tau." protes Rere. Kini mereka telah berada di ruangan Radika.
"Nggak ngapa-ngapain. Cuma ngikutin aja." sahutnya santai.
"Ck ... udah ah, Rere mau pulang." tukasnya seraya mencangklong bag pack nya. "Oh ya kak, besok kak Fatur mau lamar mbak Ai, lho! Mama dan papa yang bakal bertindak sebagai pengganti orang tua mbak Ai." ujar Rere dengan wajah sumringah.
Berbeda dengan Radika, wajahnya justru memucat. Ia terkejut luar biasa. Mengapa ia selalu kalah langkah, pikirnya. Bahkan sepulangnya ke rumah pun, Radika masih terpikir tentang Aileena.
Di malam yang telah kian larut, Radika justru tak mampu memejamkan mata barang sejenak. Hati dan pikirannya saat ini justru sedang berperang antara berjuang atau melepaskan. Tapi haruskah ia kembali mengalah pada keadaan? Apakah ia sudah kehilangan kesempatan?, pikirnya.
...***...
Keesokan harinya, wajah Radika tampak kacau. Ia terus-terusan kepikiran tentang Fatur yang hendak melamar Aileena. Rasanya ia belum berjuang maksimal tapi Aileena sudah hendak diklaim orang lain. tapi Radika bertekad, selama janur kuning belum melengkung, artinya masih ada harapan untuknya mengejar cinta Aileena.
Sementara itu, Adnan pikirkan bagaimana cara meluluhkan Aileena. Merasa bosan karena kesepian di rumah sepeninggal Delima, Adnan mengemudikan mobilnya menuju rumah orang tuanya. Ia juga hendak membujuk kedua orangtuanya agar mau membantu nya meluluhkan hati Aileena lagi.
Setibanya di rumah, Adnan mengerutkan keningnya saat melihat rumah orang tuanya yang sangat sepi.
"Bik, mama dan papa kemana?" tanya Adnan pada pembantu rumah tangganya.
"Kemana?" tanya Adnan dengan nada tegas menuntut penjelasan.
"Ke rumah non Aileena, den" ucapnya gelagapan.
Adnan mengerutkan keningnya, "Mau ngapain mereka ?"
"Itu, anu, non ... non Aileena mau ... dilamar orang, den. Jadi ... jadi tuan dan nyonya mewakil orang tua non Aileena." tukasnya gelagapan.
Adnan tiba-tiba meradang. Kepala terasa panas seakan ingin meledak. Jantung pun berdegup dengan kencang membayangkan Aileena duduk bersanding dengan pria lain. Lalu anaknya memanggil pria lain dengan panggilan papa, ternyata mampu mengobarkan amarah dalam hatinya. Bagaimana orang tuanya begitu tega justru membantu Aileena bersanding dengan pria lain. Bagaimana orang tuanya begitu tega menjadikan anaknya sebagai anak orang lain. Tidak ... tidak ... ia tidak bisa terima itu. Adnan pun bergegas masuk ke dalam mobilnya dan memacunya dengan kecepatan tinggi. Ia akan kembali memperjuangkan Aileena.
Begitu pula Radika, kini ia sedang mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju ke satu tempat, yaitu rumah Aileena.
...***...
__ADS_1
"Assalamualaikum." ucap Malika, Fatahillah, dan Fatur bersamaan setelah tiba di depan rumah Aileena.
Aileena yang sedang berada di dalam kamar pun keluar, untuk menyambut tamunya ditemani Santi dan Andreas. Sedangkan Rere tengah membantu mbok Ningsih menyusun makanan di meja makan.
"Wa'alaikum salam." sahut Santi dan Andreas. Lalu disusul Aileena. Melihat kedua orang tua Fatur, ia segera menyalami mereka satu persatu dengan takdzim. Fatur tersenyum sumringah saat melihat wajah cantik wanita pujaannya yang tersenyum manis.
Lalu Aileena, Santi, dan Andreas pun mempersilahkan mereka masuk sembari saling memperkenalkan diri masing-masing. Saat mereka semua telah duduk, Malika tampak menatap Aileena dengan tatapan yang sulit dimengerti membuat Aileena seketika canggung dan takut. Fatur yang sadar pun langsung menyentuh tangan ibunya. Malika pun langsung tersadar dan menarik bibirnya tersenyum.
"Jadi om, Tante, mungkin Aileena sudah menyampaikan niat baik saya. Tapi saya tetap akan menyampaikan secara langsung tujuan kedatangan saya dan keluarga. Saya memiliki hajat baik ingin mempersunting Aileena menjadi istri saya. Aileena memberi saya syarat, bahwa ia akan menerima bila orang tua saya memberikan restu. Dan Alhamdulillah, kedua orang tua saya mengizinkan saya untuk mempersunting Aileena, benar kan ma, pa?" ujar Fatur seraya menatap kedua orang tuanya.
Andreas tampak mengangguk mantap, batinnya berkata, mantan mertuanya saja sangat menyayanginya, artinya wanita ini merupakan wanita baik-baik dan hebat karena itu walaupun status Aileena telah bercerai dari anaknya, namun mereka masih menganggap Aileena seperti putrinya sendiri.
"Kalau kami, setuju saja pada pilihan anak kami. Sebab kami yakin, pilihannya adalah yang terbaik." tukas Ilham penuh keyakinan.
Sedangkan Malika tampak mengangguk dengan lesu, entah apa yang ada di batinnya saat ini.
"Bagaimana om, Tante, kata Aileena, kalian merupakan orang tua kedua baginya, jadi saya meminta pendapat kalian, apakah kalian menyetujuinya?" sambung Fatur.
Andreas tersenyum lembut, "Aileena sudah kami anggap seperti putri kami sendiri. Kami begitu menyayanginya. Dan kami menyerahkan semua keputusan pada Aileena." tukas Andreas pada Fatur dan keluarga. "Bagaimana, nak? Semua keputusan ada di tanganmu." imbuh Andreas lagi. Santi yang duduk di samping Aileena menggenggam tangan kurus itu dengan sayang, mencoba menyalurkan kehangatan dan keyakinan.
"Ai ..."
"Adnan nggak setuju." tiba-tiba Adnan datang menyela ucapan Aileena yang belum sempat terlontar membuat semua orang yang ada di ruangan itu terkejut. Bahkan mbok Ningsih dan Rere yang berada di dapur langsung berlari mengintip ke depan. "Karena aku akan mengajak Aileena rujuk kembali." imbuhnya mantap dan penuh keyakinan.
"Adnan, kau apa-apaan, hah! Datang-datang menyela pembicaraan orang." kesal Andreas saat melihat kedatangan putranya.
"Aku juga tidak setuju, Na." tiba-tiba datang satu pria lagi. "Na, aku mohon berikan aku kesempatan untuk mendapatkan hatimu. Berikan aku kesempatan memperjuangkan cintamu!" tukas orang itu yang ternyata adalah Radika.
Aileena hanya bisa menghela nafas dalam-dalam. Kepalanya tiba-tiba pening. Ia benar-benar bingung dengan situasi ini. Kedatangan 3 pria ini benar-benar membuatnya sakit kepala.
'Ternyata kak Radi pun mencintai mbak Ai. ' Rere tertawa hambar. 'Bodohnya aku tidak menyadarinya.' batin Rere menjerit dalam diam.
...***...
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...