Duri Dalam Pernikahan

Duri Dalam Pernikahan
Ch.53 Keputusan Aileena


__ADS_3

"Aku juga tidak setuju, Na." tiba-tiba datang satu pria lagi. "Na, aku mohon berikan aku kesempatan untuk mendapatkan hatimu. Berikan aku kesempatan memperjuangkan cintamu!" tukas orang itu yang ternyata adalah Radika.


Aileena hanya bisa menghela nafas dalam-dalam. Kepalanya tiba-tiba pening. Ia benar-benar bingung dengan situasi ini. Kedatangan 3 pria ini benar-benar membuatnya sakit kepala.


'Ternyata kak Radi pun mencintai mbak Ai. ' Rere tertawa hambar. 'Bodohnya aku tidak menyadarinya.' batin Rere menjerit dalam diam.


"Lebih baik kalian masuk dulu, tidak enak dilihat orang lain." ucap Aileena seraya mempersilahkan kedua orang itu masuk.


Tak lama kemudian, mbok Ningsih dibantu Rere menghidangkan minum untuk orang-orang itu.


Radika yang melihat Rere pun tersenyum tipis, tapi Rere tak menghiraukannya sama sekali membuat Radika mengernyit bingung.


"Silahkan diminum, Om, Tante, Ma, Pa, Mas Fatur, Radika, Mas Adnan." ucap Aileena menyebutkan satu persatu tamunya.


Mereka mengangguk seraya tersenyum. Dimulai dari Fatur yang mengangkat cangkir dan meminum kopi bagiannya, yang kemudian diikuti yang lainnya juga.


"Ai, mas mohon, maafkan mas! Mas ingin kembali padamu, Ai. Sumpah, mas masih sangat mencintaimu." mohon Adnan memelas bahkan kini ia tengah bersimpuh di bawah kaki Aileena. Namun Aileena tak bergeming. Walaupun Aileena dapat melihat ketulusan di mata Adnan yang tampak berkaca-kaca, tapi hatinya kini seakan telah mati hingga tak tersentuh sama sekali. Bila dulu, melihat Adnan kelelahan atau sakit demam saja bisa membuatnya begitu khawatir, namun kini semua rasa itu telah benar-benar hambar.


"Ai, mari kita menikah kembali. Kita besarkan anak kita sama-sama." ucapnya penuh kesungguhan.


"Mas, aku mohon kembalilah ke kursimu. Tidak pantas seorang seperti dirimu bersimpuh di kakiku. Apalah diriku ini. Lagipula, seperti yang pernah ku katakan, aku takkan kembali pada orang yang telah membuangku, menyakitiku, mengkhianati ku, sehingga rasaku padamu telah benar-benar padam. Meskipun ada anak diantara kita, tapi itu tidak bisa kau jadikan alasan untuk kita kembali bersama. Bukankah kau juga akan segera memiliki anak dari Delima." tukas Aileena pelan tapi menusuk.

__ADS_1


Adnan menggeleng kuat, "Ai, kau tau, dia menipuku. Delima menipu kita. Dia bukan hamil anakku, tapi anak orang lain. Ternyata sebelum dia tinggal di rumah kita, dia sudah hamil. Kau tau, bahkan dia dulu diusir suaminya karena telah menipunya. Sama seperti dia menipu, mas. Karena itu, mas sudah mentalak dan mengusirnya." ungkapnya menggebu-gebu.


Tapi Aileena hanya tersenyum tipis, nyaris tak terlihat. Bukan senyum karena bahagia melihat penderitaan Adnan, tapi senyum karena luka. Luka menganga akibat kebodohan mantan suaminya itu.


Radika yang duduk di samping Adnan hanya menyimak. Ia tidak mungkin mengatakan bahwa anak yang dikandung Delima adalah anak kakaknya.


"Tapi tetap saja, kau telah melakukan perbuatan yang tak termaafkan bagiku. Sudah, cukup Mas, tekadku sudah bulat, dan aku sudah tidak mau kembali lagi padamu." pungkasnya tegas tak terbantahkan.


Lalu Adnan bersimpuh di kaki Santi dan Andreas, ia pun memelas dan memohon pada mereka berdua agar membantunya dapat kembali rujuk dengan Aileena, tapi sama seperti Aileena, orangtuanya pun menolak membantu. Mereka menasihatinya agar merelakan Aileena hidup bahagia dengan orang yang benar-benar mencintai.


Adnan hanya bisa tertunduk lesu, seakan dunianya mau runtuh saat orang tuanya pun tak mendukung dirinya kembali rujuk pada Aileena.


Bukan hanya Aileena yang saat ini pusing, Fatur dan kedua orang tuanya, begitu pula orang tua Adnan hanya bisa geleng-geleng melihat para lelaki yang mencoba memperebutkan hati Aileena.


"Maaf Ka, aku bukannya tidak mau memberikan kesempatan tapi aku tidak mau memberikan harapan palsu sama kamu. Jujur, aku selama ini hanya menganggapmu sebagai teman dan tak lebih. Maafin aku ya, Ka." lirih Aileena tak enak hati. "Kau pria yang baik, Ka. Kau juga seorang dokter yang sukses, aku yakin kau akan mendapatkan seseorang yang lebih baik dariku. Sekali lagi maafkan aku." imbuhnya lagi. Lalu Aileena mengalihkan pandangannya ke arah Fatur yang terlihat agak tegang. Mungkin hatinya sedang ketar-ketir takut pujaan hatinya kembali pada mantan suaminya apalagi ada calon anak mereka yang sedang Aileena kandung. Atau bisa saja Aileena memilih Radika, sang dokter tampak, mapan, dan juga dari segi usia ternyata mereka seumuran.


Sama seperti Adnan, kini Radika pun tertunduk lesu. Lagi-lagi ia kehilangan harapan. Ibarat bunga, kini ia layu sebelum berkembang. Namun bisa apalagi dia, selain menerima keputusan Aileena dengan lapang dada dan mendoakan agar wanita yang sempat mengisi hatinya itu dapat meraih kebahagiaannya.


"Baiklah, Na, bila itu memang keputusanmu. Aku akan menerimanya dengan ikhlas dan lapang dada. Aku juga mendoakan, semoga kau dapat meraih cinta dan kebahagiaan mu." ujar Radika dengan tatapan sendunya.


"Non, non, non Aileena hebat ya! Bisa digilai cowok-cowok ganteng kayak mereka." bisik mbok Ningsih pada Rere yang mengintip ke ruang tamu melalui balik dinding.

__ADS_1


"Iya mbok, cuma kakak Rere aja yang bodohnya kebangetan udah lepasin berlian kayak mbak Aileena. Rere juga nggak nyangka banget lho ternyata kak Adnan ditipu mentah-mentah sama wanita gila itu. Ish ... amit-amit punya ipar kayak gitu." omel Rere sambil bisik-bisik.


Namun saat ia sedang menoleh kembali ke arah ruang tamu, tanpa sengaja matanya bersirobok dengan mata Radika, tapi Rere segera mengalihkan pandangannya ke arah lain dan pura-pura mengobrol dengan Mbok Ningsih.


...***...


"Jadi bagaimana nak keputusanmu?" tanya Santi seraya menggenggam tangan Aileena. Aileena yang tadi sedang sibuk beradu pandang dengan Fatur, tersentak dan segera mengalihkan pandangannya kepada Santi yang duduk di sampingnya.


"Ah, iya ma. Sesuai perkataan Aileena sama mas Fatur, kalau om dan Tante merestui hubungan kami, maka Aileena mau menerima mas Fatur sebagai calon imam Aileena." ucap Aileena malu-malu dengan wajah tertunduk.


Fatur tersenyum lebar seraya mengucapkan hamdalah. Akhirnya, perjuangannya berbuah manis.


"Alhamdulillah." seru Fatur, Santi, Andreas, dan Fatahillah bersamaan.


Lalu mereka saling melempar senyum kelegaan. Mereka merasa sangat bahagia, berbeda dengan Adnan dan Radika yang terlihat patah hati.


'Aku akan tetap memperjuangkan dirimu dan anak kita, Ai. ' batin Adnan yang belum bisa menerima keputusan Aileena.


...***...


...Happy reading 🥰🙏🥰...

__ADS_1


__ADS_2