
Satu bulan kemudian,
Sesuai perkataan Fatur tempo hari, sepulangnya Rama dan Khanza pulang dari bulan madu mereka, maka ia akan meminta bantuan Rama untuk mempersiapkan resepsi pernikahan untuk dirinya dan Aileena. Ya, sesuai saran Aileena tempo hari, Fatur memberikan paket bulan madu untuk Rama dan Khanza sebagai ungkapan terima kasih atas bantuannya selama ini khususnya saat ia tengah kalut dalam pencarian Aileena dan juga saat ia sakit. Saat itu semua pekerjaan Fatur, ia serahkan pada Rama.
"Bagaimana, Ram?" Tanya Fatur merujuk pada proses persiapan resepsi pernikahan Aileena dan Fatur.
"Selama ada Rama, semua pasti beres." seru Rama jumawa sambil menepuk dadanya. Lalu ia terkekeh sendiri dengan tingkahnya itu. "Tinggal menghubungi pihak catering dan kalian fitting gaun pengantin aja. Aku udah buat janji dengan pihak bridal besok. Alamatnya nanti langsung saya kirim lewat pesan aja." imbuh Rama seraya menghempaskan bokongnya di sofa ruang kerja Fatur.
"Good job. Kau memang selalu bisa diandalkan. Tenang saja, setelah semua selesai, bonusmu akan segera datang." ujar Fatur lalu ia menyesap kopinya dengan tersenyum. Sudah tidak sabar rasanya ia ingin menunjukkan pada semua kalau Aileena adalah istrinya.
"Wow, kau memang bos yang terbaik! " seru Rama senang seraya mengacungkan dua ibu jarinya.
...***...
Hari ini Fatur akan mengajak Aileena fitting gaun pengantin sepulang Aileena mengajar tentunya. Tapi sebelum itu, Fatur harus mengerjakan segala pekerjaannya terlebih dahulu, hingga tiba-tiba terdengar suara bedebum pintu yang dibuka dengan paksa dari luar membuat Fatur mengerutkan keningnya. Saat melihat sosok yang masuk ke ruangannya tanpa sopan santun itu, Fatur mendengus lalu kembali mengerjakan pekerjaannya.
"Fatur, loe serius mau nikah sama janda itu? Apa nggak ada perempuan yang lebih baik lagi dari dia? Dia itu janda , Tur, yang bener aja." cecar Fiora dengan kedua tangan bertumpu pada meja kerja Fatur. Dari matanya tersirat ketidaksukaan pada rencana Fatur itu.
Fatur menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi dengan kedua tangan bersedekap di depan dada. Mata Fatur mendelik tajam dengan satu sudut bibir terangkat.
"Kalau iya kenapa? Apa urusan loe?" Fatur mencibir seraya berdecak kesal mendengar cercaan dari Fiora.
"Fatur, sebenarnya apa sih kurangnya gue sampai loe nggak mau sekali aja mempertimbangkan gue sebagai calon istri loe? Gue single. Masih perawan juga, gue yakin gue jauh lebih baik dari dia. Pendidikan gue bagus. Pekerjaan gue apalagi, wajah dan body gue yakin masih bagusan gue, tapi kenapa loe malah milih janda sih? Dia itu janda , Tur. Pasti dia ditinggal itu karena nggak baik. Mana mungkin seorang perempuan jadi janda kalau dia nggak ada kekurangan. Bisa saja ia mendekatimu karena hartamu bukan karena cinta." ujar Fiora menggebu. Ia benar-benar tak habis pikir, bagaimana seorang usahawan sukses yang tampan dan mapan seperti Fatur justru menjatuhkan pilihannya pada seorang janda. Bahkan dirinya yang jelas-jelas single dan masih perawan tidak dianggap sama sekali. Bertahun menaruh hati, tapi dinding penghalang itu seakan begitu kokoh tak bisa ditembus. Tapi kenapa dengan seorang janda bisa? Apa ia memakai pelet?
Fatur menghela nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia tak habis pikir dengan teman semasa putih abu-abunya ini. Mengapa ia bisa menilai orang semaunya padahal bertemu saja belum pernah.
"Setiap manusia itu punya kelebihan dan kekurangannya masing-masing, Fi. Dan rasa cinta itu tumbuh tak bisa memilih kemana ia akan berlabuh. Begitu pula gue, gue nggak bisa menentukan hati gue akan berlabuh kepada siapa. Yang pasti, hanya dia yang bisa buat gue jatuh hati. Seumur hidup gue, gue nggak pernah merasa perasaan ini, Fi dan hanya dengan dia gue merasakan sesuatu di sini, di dalam sini." ujar Fatur seraya menunjuk dadanya sendiri. "Segala perasaan campur aduk menjadi satu. Tapi yang pasti aku merasakan kebahagiaan setiap bersama dengannya dan aku merasa hancur saat ia pergi jauh dariku. Dan satu yang harus ku perjelas, bukan ia yang mencoba mendekatiku, tetapi sebaliknya akulah yang selalu berusaha mendekatinya." imbuh Fatur dengan sorot mata penuh kesungguhan.
__ADS_1
"Pergi?" Fiora tak bisa menahan rasa penasarannya saat Fatur mengucapkan kata itu.
"Iya, dia pernah pergi dariku karena tak ingin membuat mama merasa tak nyaman akan kehadirannya. Saat itu, aku menggila. Aku tak sanggup hidup tanpanya, Fi. Aku sungguh-sungguh mencintainya. Beruntung, Tuhan masih mempertemukan aku padanya bahkan aku telah berhasil mempersuntingnya dan menjadikannya sebagai istriku."
"Ja-jadi kalian ... ?" Fiora terkesiap saat mendengar penuturan Fatur kalau ia telah menikahi perempuan itu.
"Iya, kami sudah menikah." sahutnya lantang.
tok tok tok ...
"Assalamu'alaikum, mas." ucap Aileena seraya mendorong pintu hingga terbuka.
Mata Aileena mengerjap saat melihat di ruangan suaminya ada seorang gadis cantik berpenampilan modis dan cukup seksi.
Fatur segera menegakkan tubuhnya saat melihat kedatangan Aileena. Bibirnya menyunggingkan senyum seraya menjawab salam yang diucapkan istrinya itu.
"Wa'alaikum salam, Ai-yang." sahut Fatur seraya berdiri untuk menyambut kedatangan Aileena. Lalu ia berjalan sambil merentangkan tangannya untuk menangkap Aileena ke dalam pelukannya. Dengan wajah tersipu, Aileena masuk ke dalam pelukan suaminya.
Fiora membeliakkan matanya saat melihat adegan itu.
"Di-dia istrimu?" seru Fiora tak percaya saat melihat perempuan yang ia kira masih gadis masuk ke dalam pelukan Fatur. Sungguh tidak terlihat kalau ia telah memiliki seorang anak.
Fatur membalik badannya menghadap Fiora dengan Aileena masih berada di dalam pelukannya. Aileena ingin melepas pelukan itu, tapi pinggangnya ditahan Fatur sehingga Aileena hanya bisa pasrah.
"Hmm ... perkenalkan, Aileena, istriku." ujar Fatur memperkenalkan Aileena pada Fiora.
Lalu Aileena mengulurkan tangannya pada Fiora.
__ADS_1
"Aileena." ucapnya seraya tersenyum manis membuat Fiora yang tadinya merasa sangat percaya diri akan kecantikannya juga status single dan masih perawannya justru menjadi insecure.
"Fiora." cicit Fiora .
'Serius dia janda beranak satu? Tapi kok kayak masih gadis. Cantik banget juga. Wajar aja Fatur sampai jatuh hati ke dia, orangnya aja secantik ini.' gumam Fiora yang tanpa sadar memujinya dalam hati .
"Eh, iya Tur, selamat ya untuk pernikahannya. Kalau gitu gue pulang dulu, ya!" pamit Fiora. Nyalinya yang tadi saat baru datang sebesar gunung, kini tiba-tiba menciut seperti siput.
"Lho, kok pulang? Bukannya tadi kamu penasaran sama istri gue?" Cibir Fatur dengan satu sudut bibir terangkat ke atas.
"Ah, sekarang nggak lagi. Aku akui, wajar kalau kamu bisa jatuh cinta sama dia. Dia memang ... sangat cantik. Sekali lagi selamat ya!" ucap Fiora seraya tersenyum lalu ia segera pergi dari sana.
Selepas kepergian Fiora, Aileena berdiri sambil bersedekap di dada. Matanya memicing seolah meminta penjelasan.
Fatur mendekati Aileena lalu memeluknya dari belakang.
"Oh, itu, dia itu teman lama, mas dan dia ... suka sama mas. Dia nggak terima kalau mas nikah sama seorang janda. Tapi kehadiran kamu siang ini sepertinya memukulnya telak. " ujar Fatur menceritakan intinya saja.
"Oh ... terus ?" Aileena ber'oh ria sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Ya nggak ada terus-terus. Kan mas maunya cuma sama kamu. Biarkan rumput liar bergoyang, yang penting di hidup dan hati mas cuma ada Aileena Nurliah seorang." bisiknya di telinga Aileena seraya mengecupi telinga hingga ke leher.
"Mas ... nggak usah me-sum deh! Ini kantor. Ingat itu!" Aileena mendelik kesal saat Fatur mulai beraksi.
Fatur terkekeh pelan seraya melepaskan pelukannya, "Iya iya, Bu guru. Yuk kita ke butik!" Ajak Fatur. Ia mengambil kunci mobilnya terlebih dahulu lalu merangkul mesra pundak Aileena menuju basemen untuk mengambil mobilnya. Lalu mereka pun berangkat menuju butik untuk fitting gaun pengantin mereka.
...***...
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...