Duri Dalam Pernikahan

Duri Dalam Pernikahan
Ch.54 Sesuatu yang tidak bisa dikatakan


__ADS_3

Aileena dan Fatur baru saja melakukan tukaran cincin. Fatur sengaja melakukan itu untuk mengikat Aileena melalui ikatan pertunangan. Setelah melakukan itu, Fatur izin ingin bicara empat mata dengan Aileena di taman belakang. Sedangkan para orang tua bercengkrama di ruang tamu. Lalu dimana Radika dan Adnan?


Setelah melihat Aileena dan Fatur saling menyematkan cincin, mereka berdua pamit pulang dengan wajah yang tidak bisa dikatakan baik-baik saja, khususnya Adnan. Santi dan Andreas sebenarnya tidak tega, namun mereka tidak bisa begitu saja memaafkan kesalahannya. Mereka hanya bisa mendoakan putranya itu baik-baik saja hingga tiba di rumah.


"Ai-yang, Mas bahagia banget hari ini. Terima kasih, ya!" ucap Fatur mulai membuka suara. Aileena menoleh ke arah Fatur, dapat ia lihat pancaran kebahagiaan di netra coklatnya. Aileena hanya tersenyum tipis.


"Untuk?" tanya Aileena dengan kedua alis terangkat.


"Untuk segalanya, khususnya kesempatan ini." ungkapnya dengan tersenyum lebar.


"Hmm ... tapi mas ... " Aileena menarik nafas dalam dan menghembuskannya. "Memang aku sudah mulai membuka hati padamu dan aku akui aku mulai merasakan getaran di hati ini. Tapi, terlalu dini bila aku mengatakan ini cinta. Maksud ku, mohon maaf bila hingga sekarang aku belum bisa benar-benar memberikan rasa cintaku. Aku harap mas dapat mengerti. Namun, aku akan mencoba dan berusaha untuk membuka hatiku untuk mas seperti diri mas yang sudah berusaha mencintaiku yang serba kekurangan ini." ujar Aileena seraya menundukkan wajahnya.


Sungguh bukan maksud Aileena memberikan harapan palsu, tapi siapapun yang pernah merasakan patah hati apalagi hati itu dipatahkan oleh seseorang yang kamu benar-benar cintai dan percayai dengan segenap jiwa dan raga, terlebih lagi ia memiliki gelar sebagai suami, tentu hal tersebut meninggalkan rasa sakit yang mendalam dan takkan mudah mengobatinya. Namun, bukan berarti hati itu akan terus-menerus beku. Butuh usaha dan kerja keras untuk kembali meluluhkannya. Dan Fatur tampaknya mampu melakukan itu. Walaupun belum sepenuhnya mencinta, tapi Aileena yakin, perlahan tapi pasti, Fatur bisa membuatnya kembali jatuh hati.


Fatur tersenyum lembut ke arah Aileena, "Mas paham bagaimana perasaanmu, Ai. Karena itu, mas akan berusaha membuatmu jatuh cinta sama mas." ucapnya seraya tersenyum manis. "Seperti penggalan lagu Risalah hati dari Dewa 19, Aku bisa membuatmu jatuh cinta kepadaku


Meski kau tak cinta kepadaku


Beri sedikit waktu


Biar cinta datang kar'na telah terbiasa.' imbuh Fatur seraya menyanyikannya. Dalam hati, Aileena memuji suara Fatur yang merdu saat bernyanyi. Ingin memuji secara langsung tetapi malu. Jadilah ia hanya bisa memuji dalam hati.


Wajah Aileena seketika merona. Ia tak dapat menyembunyikan binar wajahnya yang tersipu. Hal tersebut sontak saja membuat Fatur gemas sendiri dan reflek mencium pipi Aileena.


Aileena melotot seketika sehingga membuat Fatur tergelak.


"Mas ... ih, nggak boleh gitu! Belum halal tau." wajah Aileena cemberut untuk menutupi jantungnya yang berdegup kencang.

__ADS_1


"Kamu lucu banget sih, Ai-yang. Ya Allah, Mas udah nggak sabar halalin kamu, Ai." ungkap Fatur sambil menatap lekat wajah cantik Aileena yang tersipu.


"Tapi , mas ... " Aileena ingin mengatakan sesuatu tapi ragu.


"Tapi apa?" tanya Fatur penasaran.


"Beneran kan Tante Malika udah kasi restu?" tanya Aileena penasaran. Ia takut sekali bila ternyata Malika tidak memberikan mereka restu. Atau terpaksa merestui sebab itulah yang Aileena tangkap dari raut wajah Malika.


"Kenapa kamu mikir kayak gitu?" tanya Fatur. Sebenarnya Fatur pun merasakan perubahan pada ibunya. Padahal di rumah tadi, Malika tampak begitu semangat untuk menemui Aileena, alih-alih calon menantunya. Tapi, saat mereka bertemu, sikap Malika tiba-tiba berubah dan jadi murung. Namun, Fatur belum bisa menanyakannya. Mungkin nanti saat mereka telah pulang ke rumah, Fatur baru bisa menanyakannya.


"Soalnya ..."


"Kamu percaya sama aku kan, Ai?" tanya Fatur dan Aileena mengangguk. "Mungkin mama tiba-tiba nggak enak badan aja, Ai. Kalau mama nggak ngerestuin, nggak mungkin mama siapin semuanya sampai segitunya. Itu semua makanan mama yang siapin. Yang kasi saran mengikat kamu dalam ikatan pertunangan juga mama sebab kita belum bisa menikah. Jadi mana mungkin mama nggak ngerestuin kita, Ai-yang." tukas Fatur pelan membuat Aileena menghela nafas lega.


'Semoga itu hanya perasaanku saja.' batin Aileena yang merasa ada sesuatu yang mengganjal.


...***...


"Mama baik-baik saja, kok." sahut Malika seraya tersenyum. "Sayang, apa kamu benar-benar yakin ingin menikahi perempuan itu?" tiba-tiba Malika mengajukan pertanyaan yang membuat Fatur mengerutkan keningnya.


"Kenapa mama tanya begitu? Apa mama belum yakin sama pilihan, Fatur?" Fatur bertanya balik.


"Eh, buk-bukan begitu maksud mama."


"Tapi sikap mama hari ini terlihat aneh. Seolah-olah mama nggak merestui kami." tukas Fatur sendu.


"Apakah nggak ada pilihan lain, nak? Kamu itu masih muda, mapan, tampan juga, tentu tak sulit bagimu mencari orang yang lebih baik. Bukannya mama nggak setuju, cuma kamu lihat, sepertinya ia agak sulit lepas dari masa lalunya. Mantan suaminya saja masih mengejar-ngejarnya. Belum lagi rivalmu yang tampaknya seumuran perempuan itu. Mama takut, akan muncul banyak masalah ke depannya."

__ADS_1


"Aileena ... namanya Aileena, ma, bukan perempuan itu." tukasnya pelan. "Ma, ini masalah hati. Bila hati Fatur hanya bisa berlabuh pada Aileena, bagaimana? Apa mama tega membiarkan Fatur melewati masa tua sendirian?" tukas Fatur dengan wajah sendunya.


"Nak ..." Malika menggeleng pelan lalu memeluk tubuh kekar Fatur seraya terisak. 'Mama nggak bermaksud begitu, nak. Maaf ... maafkan mama. Bukannya mama nggak merestui kamu. Tapi ada sesuatu yang tak bisa mama katakan. Mama bisa melihat Aileena perempuan yang baik dan pantas untuk kamu jadikan pendamping walaupun ia sudah pernah menikah. Tapi nak, ada sesuatu yang benar-benar tidak bisa mama ceritakan. Mama selalu mengharapkan kebahagiaanmu, nak. Apapun akan mama lakukan demi kebahagiaanmu.' monolog Malika dalam hati.


...***...


Radika melangkahkan kakinya di sepanjang koridor rumah sakit dengan gontai. Hatinya masih berkecamuk pada peristiwa yang baru saja terjadi siang tadi. Bagaimana kini ia harus kalah lagi dan mengalah lagi. Beruntung hari ini tidak begitu banyak pasien jadi ia dapat sedikit santai. Apalagi pikirannya tidak sedang baik-baik saja.


"Cie, pak dokter! Lagi galau ni ye!" ledek Naya saat tak sengaja berpapasan dengan Radika.


"Apaan sih kamu, Nay!" ketus Radika kesal.


"Hmm ... mana nih dokter Radika yang selalu ramah dan baik hati? Kok hari ini jutek amat. Mukanya juga asem persis mangga muda." ledek Naya sambil cekikikan.


"Nay, please deh jangan usil mulu! Gue lagi pusing." desahnya frustasi.


"Kenapa sih? Lagi patah hati? Atau lagi putus cinta?" terka Naya. Saat ini mereka telah berada di ruangan Radika.


Radika merebahkan punggungnya di sandaran kursi, "Yah, seperti itulah!" gumamnya seraya memejamkan mata.


"Wah ... wah ... wah ... siapa nih yang bikin dokter kesayangan rumah sakit Cahaya Medika patah hati? ABG yang tempo hari kamu kintilin ya?"


"Ck ... sembarangan." Radika berdecak kesal saat Naya sembarangan menebak. "Oh ya, bagaimana kabar anak itu ya? Kenapa tadi dia buang muka kayak gitu ya? Apa aku buat salah?" gumamnya seraya menatap langit-langit ruangannya.


"Bukan, ya? Tapi kenapa kamu sekarang malah mikirin dia? Ck ck ck ... dasar cowok labil. Bilang bukan tapi hitungan detik kepikiran." ledek Naya seraya terkekeh. Radika hanya mendelik sebal menatap Naya. "Btw, kayaknya gadis itu lagi dekat sama pasien tabrakan itu ya? Soalnya tadi pas temenin Ira visit, dia lagi video call sama gadis itu. Wah, hati-hati kena tikung, bro! Jangan cuma karena fokus sama jodoh orang bikin kamu kehilangan jodoh kamu sebenarnya!" tukas Naya sok bijak yang ditanggapi Radika dengan wajah tercengang.


Setelah mengatakan hal tersebut, Naya pun segera keluar dari ruangan Radika sambil terkekeh geli. 'Luwes banget nih bibir. Dasar sok bijak. Hahaha ... Ah, jadi kangen aak Madon nih! Teleponan dulu ah mumpung masih jam istirahat.'

__ADS_1


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2