Duri Dalam Pernikahan

Duri Dalam Pernikahan
Ch.81 Semoga


__ADS_3

Setelah mendapatkan informasi keberadaan Aileena, Fatur pun segera meminta Rama membelikan ia tiket penerbangan tercepat menuju kota Palembang. Tapi sayang, karena cuaca hari itu buruk, semua penerbangan mengalami delay. Fatur pun mengerang frustasi. Mengapa ia seperti dipersulit untuk menemukan pujaan hatinya itu. Sayangnya ia belum mengembangkan usaha di kota itu jadi ia belum memiliki orang kepercayaan di kota itu untuk ditugaskan mencari keberadaan Aileena.


"Nak, kita lakukan CT scan dulu aja ya! Penerbangan kamu juga kan ditunda hingga besok pagi, jadi hari ini kamu ada waktu untuk melakukan pemeriksaan." ujar Malika mencoba membujuk Fatur.


Tapi Fatur tetap pada pendiriannya. Sebenarnya ia pun khawatir pada kesehatannya. Tapi, ia tak mau merusak konsentrasinya pada pencarian Aileena. Katakanlah ia kali keras kepala tapi ia tak peduli sebab ia takut salah langkah lagi atau benar-benar terlambat.


"Maaf ma, Fatur nggak bisa. Doakan saja Fatur baik-baik saja. Dan doakan saja Fatur segera menemukan Aileena dan Aileena mau memaafkan kita, terutama Fatur. Fatur yakin, saat ini Ai benar-benar kecewa karena sikap Fatur yang sempat tidak mengabarinya hingga berhari-hari." tegas Fatur yang telah memantapkan langkahnya.


Malika menghela nafas lelah. Beginilah Fatur, susah untuk mengubah pendiriannya. Bila ia sudah berkata A, maka akan tetap berkata A, takkan bisa dipengaruhi sama sekali.


"Aamiin ... Semoga ya, nak!" Malika hanya bisa menerima keputusan sepihak Fatur. Walaupun sebenarnya ia khawatir. Bukan bermaksud berpikir buruk, tapi bagaimana bila mereka tak kunjung menemukan Aileena, apakah selamanya Fatur takkan melanjutkan pengobatannya?


'Ya Allah, pertemukanlah kami dengan Aileena. Dimana dirimu, nak? Anne, mas Irfan, maafkan Ika yang sudah membuat putrimu bersedih. Sumpah, Ika tidak pernah membencinya. Bahkan dengan kalian pun Ika tidak bisa membenci. Namun kekecewaan itu sulit ku tutupi. Dan kini aku benar-benar menyesali semuanya. Kekecewaanku kini justru jadi bumerang bagi hubungan anak kita. Aku mohon maafkan aku Anne, mas Irfan. Ya Allah, semoga di sisa waktu ku ini, aku masih diberikan kesempatan untuk menebus kesalahanku pada Aileena. Aileena, kembalilah, nak, maafin tante.' lirih Malika dalam hati.


...***...


"Tur, kamu jadi ikut penerbangan ke Palembang besok pagi?" tanya Fatahillah.


"Iya, pa. Tapi sebenarnya Fatur bingung harus mulai dari mana. Fatur kan belum pernah sama sekali ke kota itu." ujar Fatur sambil mendongakkan wajahnya menatap langit-langit kamar rawatnya.


Lalu Fatahillah tampak ikut menerawang, memikirkan adakah seseorang yang dikenalnya yang tinggal di Palembang. Tiba-tiba ia ingat teman kuliahnya dahulu yang pindah ke kota kelahiran istrinya. Fatahillah lantas menjentikkan jarinya senang. Ia segera membuka grup pertemanan seangkatannya di kampus dan mencari kontak temannya itu. Setelah ketemu, ia langsung menekan ikon panggilan. Fatahillah menyunggingkan senyumnya saat terdengar panggilannya tersambung.


"Assalamu'alaikum, Den." ucap Fatahillah.


"Wa'alaikum salam. Ini ... Fatahillah, benar?" sahut teman Fatahillah yang bernama Dendy.


"Ya, bener banget. Apa kabar kamu? Sudah berapa kali reuni kayaknya kamu lewat terus?"tanya Fatahillah basa-basi.


"Hmm ... aku sedang lumayan sibuk sekarang. Pas reuni terakhir, aku udah packing mau ke sana eh malah istriku jatuh sakit, jadi cancel deh. " ujar Dendy di seberang sana.


"Den, emm ... kira-kira aku bisa minta tolong nggak?" tanya Fatahillah.


"Minta tolong apa nih oak direktur? Tumben-tumbenan, apalagi minta tolong sama orang yang tinggalnya beda kota."


"Gini, besok pagi anakku mau Palembang. Tapi ia masih buta tentang kota itu, maklum baru pertama kali. Mana lagi sakit juga, kira-kira bisa minta tolong bantuannya nggak?"


"Oh, anak kamu mau kemari? Datang aja, kasi nomor teleponnya biar besok aku atau anakku jemput dia di bandara. Tapi kalau boleh tau, tujuan kedatangannya untuk apa ya? Siapa tau bisa nolong?"


Lalu Fatahillah pun mulai menceritakan sedikit tentang pencarian sang calon menantu yang pergi ke kota itu tanpa pamit.


"Oh begitu. Baiklah, tenang saja. Aku bisa meminta anakku menemani putramu mencari calon istrinya. Semoga dia bisa menemukannya secepatnya."

__ADS_1


"Aamiin ... terima kasih ya, Den sudah mau bantuin aku."


"Tak perlu sungkan. Itulah gunanya teman." ucap Dendy sebelum mereka saling mengucapkan salam dan menutup panggilan.


Keesokan harinya,


"Mbak ... mbak ... tau nggak, tadi kami kedatangan tamu dari Jakarta yang super cakep lho." ujar Ussy dengan mata berbinar.


"Oh ya? Jangan-jangan itu calon jodohmu yang nyasar, Sy." ujar Aileena sambil terkekeh.


"Ah, seandainya iya. Tapi sayang, kata si bos dia.udah ada calon istri." tiba-tiba Ussy mencebikkan bibirnya membuat Aileena tergelak.


"Kan baru calon, Sy. Artinya janur kuning belum melengkung, masih ada kesempatan dong."


"Iya ya mbak? Tapi nggak mungkin deh mbak. Mbak tau nggak, dia datang ke kota ini aja karena cari calon istrinya yang minggat. Kasian dia lho mbak. Tadi pas baru tiba di bandara, tiba-tiba kepalanya sakit, rupanya dia belum lama ini mengalami kecelakaan. Kepalanya aja masih perbanan, kakinya juga pake gips, kayaknya patah gitu."


"Kamu serius? Kasian banget ya! Kamu bener, pasti dia cinta banget sama calon istrinya itu sampai-sampai lagi sakit pun ia bela-belain terbang Jakarta-Palembang buat nyarinya." ujar Aileena sambil menyusui Fareezky d kamar Ussy. "Jadi sekarang dia dimana?"


"Dia dibawa ke rumah sakit Charitas dulu, mbak. Tadi tuh si bos, Kemal, sama aku yang jemput di bandara soalnya sekalian mampir ke suatu tempat. Kami shock banget pas dia baru berdiri dari kursi tunggu, dia langsung oleng gitu aja hampir jatuh. Untung si bos sigap nangkep orang itu. Mana sendirian lagi. " ujar Ussy sambil bersungut-sungut. "Ussy jadi penasaran nih mbak, kok calon istrinya bisa kabur gitu ya? Aku sih liat orangnya, yakin 100% dia orangnya baik, tapi kenapa ditinggalin?"


"Jangan nilai orang dari cover. Yang terlihat baik belum tentu baik, yang terlihat tidak baik, juga belum tentu tidak baik." ujar Aileena. Belajar dari pengalaman, Adnan terlihat baik, tapi siapa sangka ternyata ia menduakannya di rumahnya sendiri.


"Iya juga sih mbak. Tapi entah kenapa, feeling aku sih, mereka cuma salah paham. Semoga saja dia segera menemukan calon istrinya." tukas Ussy tulus mendoakan.


"Ogah ah, mbak. Ngeri sama karma. Lagian mbak ya, dari sikapnya aja udah nunjukin betapa dia cinta banget sama calon istrinya. Ussy nggak mau jalin hubungan sama orang yang hatinya masih terpaut kuat sama orang lain. Dari pada makan hati, mending makan ampela." ujar Ussy sambil mengedikkan bahunya membuat Aileena tergelak. "Oh ya mbak, ada salam dari pak bos tuh."


"Pak bos?"


"Iya, si Ariel Ariel itu tuh sebenernya bos Ussy." ujar terkekeh.


"Oh ya! Sampein aja wa'alaikum salam." jawab Aileena acuh.


"Ck ... mbak cuek banget sih, emang nggak naksir apa? Cakep itu lho mbak?"


"Kalau cakep, kenapa nggak kamu aja?"


"Lha wongnyo be dak galak samo aku cak mano?"


"Please deh, Sy, mbak belum benar-benar paham bahasa sini. Ora ngarti mbak."


Ussy terkekeh mendengar protesan Aileena.

__ADS_1


"Maksudnya tuh, lha orangnya aja nggak suka sama aku, gimana?"


"Naaaaah, ketahuan! Oo kamu ketahuan ... "


Ussy tiba-tiba gelagapan, "Ke-ketahuan apa sih mbak? Mbak mikir aneh-aneh nih pasti."


"Udah, ngaku aja, kamu suka sama bosmu sendiri kan? Hayooo, ngakuu!" goda Aileena


" Eh, siapa? Mbak ngarang ih!" Kilah Ussy.


"Udah, nggak usah berkilah deh! Mbak nggak sebodoh itu tau. Dari pancaran mata kamu waktu liat si Ariel aja kayak gimana. Emang kamu nggak cemburu pas Ariel titip salam buat mbak?"


"I ... eh tidak ... nggak kok." Ussy kekeh tidak mau mengakuinya.


"Oke, kalau kamu beneran nggak suka, mbak deketin, boleh?"


"Si-silahkan aja! Nggak papa, kok."


"Cie ... dari kata-katanya aja udah kedengaran nggak ikhlas." Aileena terbahak .


Oek ... oek ...


"Tuh, rasain Lo mbak! Makanya jangan ngetawain Ussy mulu, kebangun kan Fareez jadinya." balas Ussy sambil menjulurkan lidahnya.


Lalu Aileena kembali memutar rekaman shalawat Fatur. Seperti biasa, ia selalu membalik ponselnya agar video itu tidak dilihat orang lain.


"By the way, itu rekaman ya mbak? Suaranya siapa itu mbak? Merdu banget. Tiap Fareezky nangis kalau dengar rekaman itu pasti jadi diem. Itu. suara ayahnya ya? Eh, tapi kan kata mbak, pas mbak habis lahiran, ayahnya langsung digiring polisi, jadi suara siapa itu? Atau jangan-jangan ... "


"Apa?" potong Aileena.


"Itu ... suara siapa? Jujur ih mbak sama Ussy."


"Belum saatnya." ujar Aileena sambil tersenyum tipis.


"Aaahhh, mbak nyebelin deh!"


"Biarin." sahut Aileena seraya terkekeh.


'Awas lo, besok pagi aku harus liat rekaman siapa itu!' gumam Ussy saat melihat Aileena sudah memejamkan matanya. Sedangkan Aileena, dalam mata terpejam, ia langsung teringat wajah Fatur.


'Semoga kamu baik-baik aja, mas.'

__ADS_1


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2