Duri Dalam Pernikahan

Duri Dalam Pernikahan
Ch.87 Jawaban


__ADS_3

"Ayo, mbak , terima ih! Jangan tunda-tunda! Kalau mbak nggak mau, Ussy bersedia kok gantiin." seru Ussy sambil nyengir usil.


"Ada apaan sih, kok ribut bener?" tiba-tiba Ibu Ussy muncul di ambang pintu. Sedangkan Aileena masih terpaku dengan sambungan video yang masih terhubung. Sama seperti Ussy, Fatur pun dengan setia menunggu jawaban dari Aileena.


Lalu Ussy pun membisikkan sesuatu pada ibunya. Ibu Ussy pun lantas tersenyum lebar. Ia pun turut bahagia mendengar kabar yang Ussy berikan tersebut.


Bingung harus menjawab apa, Aileena pun meminta waktu sebentar pada Fatur untuk bicara dengan paman dan bibinya.. Walaupun dan bagaimana pun, orang tua Ussy juga merupakan keluarganya. Walaupun keluarga jauh, sebab yang bersaudara adalah neneknya dan nenek Ussy, tapi hanya mereka lah keluarga Aileena yang ada saat ini. Tentu ia harus menghormati mereka untuk meminta pendapat terlebih dahulu. Walaupun ia yakin, paman dan bibinya pasti menyerahkan keputusan sepenuhnya pada dirinya tetap saja ia harus membicarakannya pada keduanya.


"Mm ... bisa minta waktu sebentar, mas? Ai mau bicara dulu sama om dan bibi, Ai. Nanti setelah dapat jawabannya, Ai pasti langsung hubungin mas kok. Boleh kan?" tanya Aileena hati-hati. Ia pun tak ingin mengecewakan Fatur. Bukan hanya Fatur yang membutuhkan dirinya, pun dirinya dan Fareezky juga membutuhkan Fatur.


Fatur tersenyum lembut. Ia tak mungkin memaksakan kehendak. Ia pun menyetujui permintaan Aileena. Ia memahami perasaan Aileena yang begitu terkejut akan ajakannya ini.


"Iya, Ai-yang, nggak papa kok. Mas bakalan nunggu. Pikirkan baik-baik, ya! Kalau memang belum siap, jangan paksakan. Tapi besar harapan mas, Ai mau terima mas secepatnya." tukas Fatur dengan senyum tak pudar dari bibirnya. "Oh ya, mana Fareezky? Mas kangen banget sama anak mas yang tampan itu." tanyanya Sebab seharian ini ia belum melihat Fareezky sama sekali.


Lalu Aileena mengarahkan kameranya ke arah Fareezky yang baru saja mengerjapkan matanya. Bibirnya yang meliuk sudah dapat dipastikan sebentar lagi akan menangis. Dan benar saja, dalam hitungan detik, tangis Fareezky pecah. Tapi biarpun begitu, ia tetap terlihat begitu menggemaskan membuat siapa saja yang melihatnya langsung jatuh hati.


"Duh, cup cup cup ... anak ayah kok nangis? Jangan nangis dong! Fareez kangen ayah, ya? Makanya, Fareez bujukin bunda ya biar mau cepetan nikah sama ayah jadi kita bisa ketemu terus." ujar Fatur saat melihat baby Fareezky. membuat Aileena melotot saat mendengarnya


Seolah mengerti ucapan calon ayah sambungnya, Fareezky pun tidak jadi menangis. Ia justru tertawa-tawa saat melihat wajah Fatur di layar ponsel Aileena membuat Aileena yang melihatnya makin terkesima seakan Fatur memang ayah kandung dari Fareezky.


"Uluh ... uluh ... cakepnya anak ayah!" puji Fatur saat melihat Fareezky tertawa.

__ADS_1


"Tuh mbak kode ... kode tuh! Fareez udah setuju, tinggal mbak aja yang kasih persetujuan." goda Ussy yang kini telah duduk di samping baby Fareezky. "Bener nggak, bang?" pekik Ussy.


Fatur yang mendengar perkataan Ussy pun terkekeh, sedangkan Aileena malah mendengkus sebal.


"Bener banget, dek! Tolong bujukin mbaknya ya, biar nggak lama-lama jawabnya!" tukas Fatur yang masih terkekeh.


"Siap, bos! Asal ada pajak jalannya."


"Itu mah gampang. Mau apa aja, tinggal tunjuk aja."


"Yeay, asikkk!"


"Iya, tinggal tunjuk, cuma tunjuk aja tapinya." ujar Aileena yang ikut terkekeh.


Setelah berbincang sejenak, Aileena pun menutup sambungan video tersebut sebab hari sudah hampir Maghrib.


Malam harinya, tepat setelah Aileena, Ussy, dan kedua orang tuanya selesai makan malam, Aileena pun menyampaikan perihal lamaran dan ajakan menikah dari Fatur. Kedua orang tua Ussy pun menyambut antusias. Mereka tentu senang, bukan tanpa alasan, mereka merasa tak tega bila Aileena harus membesarkan anaknya seorang diri. Bagaimana pun seorang wanita itu butuh pelindung bergelar suami. Pun seorang anak, butuh kehadiran sosok seorang ayah dalam hidupnya.


Bila mereka tinggal di kota yang sama, tentu mereka takkan begitu memusingkannya, tapi Aileena tinggal di kota besar. Tanpa suami, sanak, maupun saudara, tentu hal tersebut membuat kedua orang tua Ussy khawatir. Tidak mudah tinggal di kota besar hanya berdua saja dengan seorang anak yang masih bayi. Aileena membutuhkan seorang pendamping sekaligus pelindung, dan mereka yakin Fatur adalah orang yang tepat.


"Bagaimana om, bi, pendapat kalian?" tanya Aileena meminta pendapat keduanya.

__ADS_1


"Kalau bibi boleh tau, gimana perasaan kamu ke dia?" tanya ibu Ussy sambil menatap lekat wajah Aileena. Mencoba membaca isi hati Aileena dari mimik wajahnya.


Wajah Aileena yang tersipu dengan senyum tipis menghiasi bibirnya sudah menjadi jawaban dari pertanyaannya.


"Ai ... Ai, sayang bi sama mas Fatur." cicit Aileena malu-malu.


"Kamu bersedia menikah dengannya?" kini giliran pamannya lah yang bicara.


Aileena mengangguk samar dengan wajah menunduk malu.


"Kalau dia memang pilihan hatimu, lakukanlah. Menikahlah dengannya. Kami hanyalah wakil orang tuamu di sini. Yang berhak menentukan jalan hidupmu ya dirimu sendiri, nak. Jadi tak perlu ragu ataupun takut. Om juga sudah bertemu dengannya. Dari kenekatannya mencarimu hingga Kemari hingga mengabaikan kondisinya yang seharusnya menjalani perawatan saja sudah membuktikan betapa besar rasa cintanya padamu, nak. Om percaya, dia dapat menerimamu apa adanya dan membahagiakanmu dengan segenap jiwa dan raganya." pungkas paman Aileena dengan penuh keyakinan.


Setelah mendapatkan jawaban itu, Aileena pun segera menghubungi Fatur. Tapi sayang, panggilannya tak kunjung diangkat. Mungkin Fatur sudah tertidur lelap selepas minum obat, pikirnya. Apalagi jarum jam sudah menunjukkan hampir pukul 9 malam. Sangat wajar bila Fatur telah masuk ke alam mimpi.


Berbeda dengan Fatur yang tengah tertidur lelap, Aileena justru tak mampu memejamkan matanya. Pikirannya justru sibuk berkelana, bagaimana bila Fatur memang ingin menikahinya esok hari. Ia harus memakai apa sebab ia tidak membawa satu potong pun pakaian yang pantas untuk dikenakan di hari bersejarah itu. Walaupun pernikahan ini dadakan dan hanya dilakukan di rumah sakit, tentu ia tetap ingin tampil spesial di hari bersejarah keduanya itu. Pernikahan kedua bukan berarti ia harus bersikap biasa saja, bukan. Apalagi ini pernikahan pertama bagi Fatur tentu ia ingin memberikan sesuatu yang spesial agar dapat Fatur kenang selama hidupnya.


Karena tidak dapat berbicara secara langsung dengan Fatur, Aileena pun mengetikkan sebuah pesan. Semoga Fatur senang saat membacanya nanti.


"Assalamu'alaikum, mas. Semoga jawabanku malam ini dapat membuatmu lebih cepat pulih, mas. Ya, aku bersedia. Aku bersedia menikah denganmu secepatnya, mas. Aku bersedia jadi istrimu, kekasih halalmu. Good nite, mas. Sweet dream. Wassalamu'alaikum."


...***...

__ADS_1


...Happy reading 🥰🙏💪...


__ADS_2