Duri Dalam Pernikahan

Duri Dalam Pernikahan
Ch.107 Calon mami papi


__ADS_3

Langit tampak begitu cerah hari itu, Aileena yang tidak ada kegiatan mengajar pun berencana ingin me time dengan Rere dan Khanza. Mereka pun janjian ketemuan di sebuah cafe yang berada di dalam Angkasa Mall. Karena ini acaranya me time, Aileena pun menitipkan Fareezky dengan Fatur. Tentu saja Fatur tidak masalah apalagi di kantor memang sudah ia sediakan. Pun Khanzaa sudah mengantarkan Aisah kepada Rama. Khusus hari ini, para suami yang bertugas menjadi baby sitter anak-anak mereka. Di kantor, Fareezky yang menyukai anak kecil pun begitu senang bisa bermain dengan Aisah.


"Hai, Re, hai Za, sorry telat! Taulah, riweh sama si bocil." ujar Aileena setibanya di cafe tempat mereka janjian.


"Sama aja. Malah tadi Aisah nggak mau dititipin sama palanya. Tapi pas aku bilangin entar ada Fareezky juga di kantor papanya, eh dia langsung semangat." 5ukas Khanza sambil terkekeh.


"Bukan cuma Aisah, tadi Fareez seneng banget ketemu Aisah. Dia langsung ngajakin main. Bocah dia itu akrabnya udah kayak kita."


"Wah, dari kecil aja akrab banget , kenapa nggak dijodohin aja mbak?" ujar Rere seraya terkekeh.


"Wah, boleh juga tuh!" shut Khanza tersenyum lebar.


"Boleh sih, tapi kita nggak bisa memaksakan sesuatu, Za, Re. Masih kecil emang mereka akrab, tapi kita nggak tau ke depannya. Pun masalah jodoh, gimana kalau salah satu dari mereka atau dua-duanya suka sama orang lain terus kita paksain jodohin, entar bukan hanya persahabatan mereka yang hancur, tapi perasaan mereka. Bukannya mereka bahagia, justru buat mereka bersedih. Jodoh nggak bisa dipaksain, Re, Za. Tapi kalau emang mereka berjodoh, aku sih Alhamdulillah." tukas Aileena mengeluarkan uneg-unegnya.


Memang tak selamanya perjodohan itu berakhir buruk, tapi kebanyakan memang hasil dari perjodohan itu membuat pernikahan yang seharusnya berakhir indah malah jadi malapetaka.


"Iya juga ya mbak, emang lebih baik biarkan mereka memilih sendiri, tapi tetap kita sebagai orang tua harus selektif agar anak-anak kita tidak salah pilih jodoh." tukas Rere membenarkan perkataan Aileena.


"Wah, kayaknya kamu udah siap jadi orang tua nih, Re! By the way, udah ada kabar baik belum nih?" tanya Khanza sambil memainkan alisnya naik turun.


"Iya nih Re, udah beberapa bulan ini lho! Kamu udah ada periksa belum? Jangan-jangan taunya udah berisi soalnya mbak liat dari cara makan kamu yang makin lahap terus tuh, pipi dan body kamu udah makin bohay aja!" ujar Aileena sambil meneliti penampilan Rere juga porsi makannya yang memang lebih banyak dari biasanya.


"Iya kah mbak? Rere soalnya nggak ngerasain apa-apa tapi emang sih napsu makan Rere sedang meningkat drastis." tukas Rere dengan pikiran menerawang.

__ADS_1


"Emang si Radika nggak curiga gitu liat napsu makan kamu yang meningkat drastis gitu terus bobot kamu yang kelihatan lebih bohay dari biasa? Dia kan obgyn." tanya Khanza dengan mata memicing. Rere menggeleng.


"Mungkin karena setiap hari bersama jadi nggak nyadar mbak. Apalagi aku nggak ada keluhan apapun yang menunjukkan gejala kehamilan." ujar Rere .


"Gini aja, gimana kalau kita periksa ke klinik? Jangan ke rumah sakit, entar ketahuan Dika. Gimana, setuju nggak?" ujar Aileena memberikan saran dengan tangan kanan berada di atas perut yang sudah tampak membuncit membuat gerakan mengusap.


Mata Rere dan Khanza bersinar menyetujui ide Aileena.


"Boleh mbak, sekarang aja gimana? Aku udah nggak sabar mau periksa, siapa tau beneran hamil." tukas Rere setuju .


"Ya udah, kita cap cus sekarang aja. Kita juga udah selesai makan semuanya." sahut Khanza yang tak kalah bersemangat.


Tak butuh waktu lama, Khanza, Rere, dan Aileena telah berada di sebuah klinik ibu dan anak yang tak jauh dari Angkasa Mall. Setibanya mereka di sana, Rere langsung mendaftarkan diri untuk melakukan pemeriksaan. Tamoak di sana ada beberapa ibu hamil yang sedang menunggu giliran periksa ditemani suami mereka masing-masing. Mata Rere berbinar cerah, tak sabar rasanya ia ingin mengetahui apakah benar di rahimnya telah bersemayam janin hasil buah cintanya dan Radika. Apalagi saat di perjalanan ia mencoba mengingat-ingat kapan terakhir kali ia mendapatkan tamu bulanannya. Terakhir kali ia mendapatkan tamu bulanan adalah satu Minggu setelah menikah. Hatinya makin bersemangat dengan penuh keyakinan ia meyakini kalau ia sekarang tengah mengandung buah hatinya dan Radika.


Tak lama kemudian, nama Rere pun dipanggil untuk masuk ke dalam ruangan. Lalu Rere pun masuk ke dalam ruang dokter ditemani Aileena dan Khanza. Dokter itu pun mulai menanyakan beberapa hal termasuk adakah keluhan, Rere pun menceritakan kalau ia sebenarnya tidak memiliki keluhan apapun selain bobot tubuhnya yang kelihatan bertambah dan diikuti napsu makannya yang baik dua kali lipat.


"Selamat ya, Bu. Sesuai dugaan Anda, sekarang Anda sedang mengandung. Untuk lebih jelasnya, mari ibu berbaring di sana." ujar sang dokter sambil menunjuk ke sebuah ranjang.


Mata Rere membulat sempurna dengan bibir melengkung ke atas. Begitu juga Aileena dan Khanza yang mendengar penuturan itu, lantas segera tersenyum lebar.


"Nah, bisa ibu lihat, kantung bundar kecil itu sebesar kacang tanah itu merupakan janin calon buah hati ibu. Usianya sudah memasuki Minggu ke-8. Di usia ini, tampilan wajah mulai terbentuk, dengan hidung dan kelopak mata yang mulai nampak." jelas dokter itu membuat mata Rere kian berbinar. Ia yakin, saat Radika mengetahui kehamilannya, pasti ia akan sangat senang. Begitu juga orang tuanya dan juga mertuanya. Mereka pasti akan sangat bahagia mendengar kabar bahagia ini. Ia sudah sangat tak sabar memberikan kejutan indah ini pada sang suami tercinta.


...***...

__ADS_1


Malam kian larut, tapi Radika belum tiba di rumah. Tadi Radika memang mengabari kalau ia memiliki operasi dadakan. Alhasil, ia harus tetap stand by di rumah sakit sampai pekerjaannya selesai.


Tepat pukul 11 malam terdengar suara deru mobil masuk ke pekarangan rumah mereka. Rere dengan sigap membukakan pintu sebab ia sudah sangat hafal dengan pemilik mobil itu. Rere pun segera menyambut Radika dengan senyum lebarnya membuat lelah Radika seakan menguap saat melihat sambutan hangat itu.


"Kak Radi udah makan malam belum?" tanya Rere dan Radika menggeleng.


"Belum sempat. Kakak nggak mau makanan dari luar. Maunya masakan istri tercinta kakak aja." tukasnya membuat rona merah terbit di pipi Rere.


"Ya udah, kakak mandi dulu gih! Rere panasin lauknya dulu. Rere juga kayaknya udah laper lagi." ujar Rere santai membuat Radika yang sedang berjalan di samping Rere seketika berhenti dan memperhatikan Rere dari atas ke bawah. Ia tampaknya sedang berpikir, namun belum ia utarakan apa yang ada di pikirannya. Nanti saja pikirnya, setelah selesai makan malam yang kemalaman.


Sementara Rere sedang menyiapkan makan malam, Radika pun bergegas masuk ke kamar mandi. Namun baru saja ia masuk ke kamar mandi, seketika matanya berbinar cerah saat melihat tulisan yang dibuat Rere di cermin kamar mandi. Berikut sebuah alat test kehamilan bergaris 2 yang ia tempelkan dengan isolasi di cermin.


...Selamat menjadi calon papi. 😘...


Perasaan Radika sungguh membuncah. Sebenarnya ia telah menduga hal ini semenjak seminggu yang lalu, tetapi ia belum sempat meminta istrinya itu memeriksakan diri. Setiap kali hendak membawa testpack, selalu saja tertinggal.


"Sayang ... " seru Radika dengan wajah penuh kebahagiaan.


Tak sabar ingin menghampiri istrinya, Radika pun berlarian menuju ke dapur. Lalu ia segera memeluk dan mengecup seluruh wajah Rere dengan penuh cinta membuat Rere kegelian dibuatnya.


"Kak, udah ih, basah nih?" omel Rere saat Radika menciumi seluruh wajahnya membuat wajahnya lembab terkena kecupan basah Radika.


"Kakak bahagia banget,. selamat ya sayang, akhirnya sebentar lagi kita bakal jadi orang tua. Selamat jadi calon mami." ucap Radika yang langsung menarik Rere ke dalam pelukannya.

__ADS_1


...***...


...Happy reading 🥰🙏🥰...


__ADS_2