Duri Dalam Pernikahan

Duri Dalam Pernikahan
Ch.79 Terpesona


__ADS_3

Langit masih terlihat gelap, namun semarak kokok ayam jantan telah ramai terdengar. Mungkin karena daerah tempat tinggal bibi Aileena terletak di pinggir kota jadi masih banyak warga yang memelihara hewan ternak seperti ayam kampung di daerah itu.


Mendengar riuh Kokok ayam yang kian bersahut-sahutan, membuat Aileena mulai mengerjapkan matanya. Ditengoknya jam di dinding ternyata telah menunjukkan pukul 4.30, tak lama kemudian adzan pun berkumandang. Aileena mengucek matanya untuk mengusir kantuk yang sebenarnya masih mendera. Dilihatnya, Fareezky ternyata masih terlelap setelah terakhir terbangun karena haus jam 3 dini hari tadi. Aileena pun bergegas berdiri. Ia hendak mencuci muka dan mengambil wudhu untuk melaksanakan kewajibannya. Dilihatnya, ternyata Ussy pun mulai membuka matanya. Lalu mereka pun secara bergantian mengambil wudhu dan menjalankan tugasnya dengan baik.


Tepat pukul 5, Fareezky pun bangun. Setelah menyusui Fareezky, Aileena menggendongnya mengajak keluar. Ternyata di jam itu, ibu Ussy telah sibuk di dapur berkutat dengan berbagai peralatan memasaknya.


"Lagi buat apa, ni?" tanya Aileena.


"Ini, bibi lagi buat pempek." jawab ibu Ussy seraya membentuk adonan pempek menjadi bentuk bulat lalu ia bolongi tengahnya dan diisi kocokan telur. Lalu bagian tepinya ia satukan lagi hingga tertutup rapat dan dimasukkan ke dalam air mendidih.


"Banyak banget, bi. Untuk jual ya?"


"Ini tuh pesanan bos nya Ussy. Ada acara hajatan katanya di rumah bosnya jadi pesan pempeknya sama bibi. Bibi kan sekarang usaha pempek made by order gitu. Lumayan bisa buat tambahan kebutuhan dapur." ujar ibu Ussy seraya terkekeh. "Ai kalo mau cicip ambil aja. Pasti udah lama kan nggak makan pempek buatan asli Palembang." tawarnya seraya tersenyum lebar.


"Beneran nih, bi? Entar pesanannya berkurang , gimana?" Aileena ingin memakan makanan khas Palembang itu tapi ia takut jumlahnya tidak mencukupi.


"Ish, jangan khawatir. Bibi selalu buat lebih kok. Jadi nggak mungkin bakal kurang. Makan aja, nggak perlu takut-takut gitu."


"Iya mbak Ai, makan aja. Ibu selalu buat lebih kok."


"Ya udah deh, Ai makan ya bi." ibu Ussy mengangguk seraya mengangkat pempek yang telah terapung.


Lalu Aileena pun mulai makan dengan lahap.


...***...


"Mbak, temenin Ussy anterin pempek dong!" ajak Ussy


"Emang nggak diambil sendiri ya?"


"Ih, nggak enak dong mbak, dia kan atasan Ussy. Masa' disuruh ambil sendiri."


"Terus Fareezky, gimana?"


"Bisa bibi jagain kok. Bisa kan Ai bantuin Ussy? Sekalian cuci mata mata, Ai. Siapa tau kamu bisa dapet gebetan di sana." ujar Ibu Ussy seraya tersenyum menggoda.


"Ia bibi, aneh-aneh aja."


"Kata ibu bener kok mbak. Apalagi karyawan kantor tuh rata-rata diundang. Banyak cowok-cowok cakep juga, siapa tau ada yang kecantol sama mbak." goda Ussy sambil nyengir lebar.


Aileena geleng-geleng kepala melihat kelakuan ibu dan anak itu yang sepertinya senang sekali menggodanya.


"Dari pada ngomongin mbak, kenapa kamu nggak cari buat kamu sendiri, Sy? Jomblo, kan!" ledek Aileena sambil memainkan alisnya.


"Hei, siapa yang bilang Ussy jomblo? Calon Ussy itu sedang kesasar aja jadi belum sampai, bukannya nggak ada." kilah Ussy dengan wajah bersungut-sungut membuat Aileena tergelak.


"Kesasar atau salah alamat?" goda Aileena lagi.


"Dua-duanya, puas." balas Ussy seraya mencebik membuat Aileena dan ibu Ussy terbahak.

__ADS_1


...***...


"Eh, Sy, sini pempeknya gue bantuin angkat ke dalam." ujar salah seorang teman Ussy bernama Kemal.


"Eh, nggak usah. Nanggung. Bantuin mbak saya aja di belakang. Masih di mobil dia ngeluarin box pempek yang lain." sahut Ussy.


"Aye aye kapten." sahut Kemal yang langsung bertolak ke luar rumah membuat Ussy terkekeh.


"Wah, mbak! Butuh dibantuin nggak ini!" tawar teman Ussy yang lain.


"Emmm ... boleh, kalau nggak ngerepotin."


"Nggak kok. Untuk mbak yang cantik, apa yang nggak sih!"


"Cih, gombal banget sih loe!" saat Kemal melihat Yoyon menggombali Aileena. "Sini mbak, biar aku aja yang angkat. Tadi Ussy udah minta Kemal bantu mbak."


"Iri bilang bos!" Yoyon berdecak kesal saat Kemal meledeknya.


"Cie, mbak Ai, dikelilingi berondong nie yeee!" ledek Ussy.


"Apaan sih, Sy!" Aileena tersenyum sambil geleng-geleng kepala melihat tingkah Ussy dan teman-temannya.


"Ada apa nih rame-rame?" tiba-tiba terdengar suara bariton dari dalam rumah membuat Yoyon dan kemal menggaruk kepalanya karena salah tingkah.


"Ini nih bos, si Yoyon sama Kemal, nggak bisa liat cewek cantik langsung rebutan aja." ujar Ussy seraya terkekeh.


"Oh, ya?" Bos Ussy pun melihat seorang perempuan yang hendak mengeluarkan box berisi pempek dari dalam mobil.


"Kemal aja, mbak. Liat nih, otot Kemal lebih gede pasti lebih kuat."


"Tuh, liat kan bos, nggak bisa liat cewek cantik." Ussy terus terkekeh sampai memegang perutnya karena geli.


Wajah Aileena yang membelakangi Ussy dan bosnya pun membuat bos Ussy penasaran. Lalu saat Aileena membalik tubuhnya, seketika bos Ussy pun ikut terpesona seperti teman Ussy yang lainnya.


"Ha-hai ... " sapa bos Ussy pada Aileena membuat Ussy dan kedua orang temannya melongo saat melihat sang bos gugup saat menyapa Aileena.


"eh, hai juga. Teman Ussy juga ya?" tanya Aileena ramah.


"Bu- ... "


"Eh, iya. Saya Ariel. Tapi bukan Ariel Peterpan ya!" potongnya seraya terkekeh.


Sontak saja Ussy, Kemal, dan Yoyon menahan tawa mereka. Ternyata bos mereka bisa gokil juga.


"Ya iyalah, kalau Ariel itu mah saya tau." sahut Aileena seraya tersenyum manis membuat ketiga lelaki itu makin kesengsem.


"Emang mbak kenal ya sama Ariel Peterpan?" tanya Yoyon membuat Aileena makin tergelak sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.. Angin yang bertiup cukup kencang menerbangkan rambut Aileena yang panjang membuat ketiga orang itu makin terpesona.


'Bidadari surgaku.' gumam ketiga lelaki itu.

__ADS_1


"Iya kenal, tapi dia nya nggak." sahut Aileena asal membuat semua yang ada di sana tergelak mendengarnya.


...***...


Sementara itu, di kota lain, tampak Fatur, Rama, Fatahillah mengerahkan orang-orang untuk mencari keberadaan Aileena. Tapi sudah beberapa jam berlalu, mereka tak kunjung mendapatkan kabar sedikit pun mengenai keberadaan Aileena.


Pun Malika, ia mencoba menemui Santi dan Andreas. Ia berharap kedua orang itu tau. Tapi sayangnya, mereka berdua pun sama saja membuat Malika makin frustasi.


"Sepertinya papa memang harus menemui teman papa yang bekerja di kementerian perhubungan. Kita tidak tau, kemana Aileena pergi. Menurut papa sih pasti keluar kota dan entah naik pesawat, kapal, atau kereta kita nggak tau. Siapa tau, dia bisa memberikan informasi tentang Aileena." ujar Fatahillah saat mereka tengah makan malam bersama di ruang rawat Fatur. Fatur mungkin satu-satunya pasien yang aneh sebab saat siang ia pergi dan saat malam ia kembali.


"Kapan papa mau menemuinya? Fatur akan ikut."


"Nanti papa kabari. Papa harus membuat janji dulu sama dia."


...***...


Sementara itu, di sebuah restoran ayam cepat saji, tampak seorang pemuda dan anak kecil sedang duduk menunggu seseorang.


"Nah, Nda, itu Tante Rere nya udah dateng." ucap Radika dengan wajah berbinar sambil menunjuk ke arah pintu masuk.


"Ate Yeye ..." panggil Nanda dengan mulut belepotan es krim.


"Halo Nanda cantik, lagi makan es krim ya?" sapa Rere pada Nanda yang sedang makan es krim.


"Ate au?" tawar Nanda.


"Ukh, baiknya anak manis!" ucap Rere sambil menoel hidung Nanda. "Buat Nanda aja deh, entar Nanda kurang lagi."


"Tan ica inta eyi agi ama omka." sahut Nanda dengan bahasa bayinya membuat Radika dan Rere terkekeh. Setiap mendengar celotehan Nanda, mereka harus berpikir keras mengartikan kata-kata Nanda.


"Iya ya, om Radika kan banyak duitnya jadi Nanda bisa minta beli lagi. Kalau gitu, Tante mau minta beliin juga deh."


"Omka, ate au eskim uga." ujar Nanda sambil menoleh ke arah Radika.


"Boleh, mau sepabrik-pabriknya juga boleh." sahut Radika sambil memainkan alisnya naik turun.


"Cih, sok kaya lu!" ejek Rere seraya terkekeh.


"Emang kaya kan, kaya duit, kaya hati, kaya ... kaya apalagi ya?" Radika mengerutkan keningnya berpikir keras.


"Ada satu lagi."


"Apa?"


"Kaya monyet." ejek Rere tergelak membuat Radika mencebikkan bibirnya.


Ya, kini Radika dan Rere sudah dekat kembali. Namun, hanya sebatas teman. Rere yang merasa kasihan dengan Nanda yang kehilangan ibunya dan tidak diakui ayahnya, jadi merasa iba. Dengan kegigihan Radika yang sering mengajak Nanda ke kampus pun membuat mereka kembali dekat dengan perantara Nanda. Walau tak bisa sedekat dulu, tapi Radika tak mengapa. Baginya, bisa melihat senyum dan tawa lepas Rere setiap hari pun sudah cukup membuatnya bahagia.


...***...

__ADS_1


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2