Duri Dalam Pernikahan

Duri Dalam Pernikahan
Ch.89 Menara yang nelangsa


__ADS_3

Seminggu telah berlalu dan kini Fatur dan Aileena beserta seluruh keluarga telah kembali ke Jakarta. Meskipun belum pulih sepenuhnya, tapi Fatur sudah bisa pulang ke rumah dan melanjutkan perawatannya di rumah. Untuk sementara, Aileena dan Fatur tinggal di rumah Aileena. Fatur juga paham, pasti istrinya tersebut belum benar-benar nyaman di rumah orangtuanya apalagi ia juga harus merawat dirinya yang belum pulih sepenuhnya.


"Mas, mas beneran mau mandi? Tapi nanti perbannya basah gimana? Ai seka kayak biasa aja ya?" tawar Aileena saat mendengar suaminya ingin merasakan cucuran air secara langsung.


"Mas pingin mandi secara langsung, Ai. Mas kangen di guyur air, rasanya pasti menyegarkan." ujar Fatur seraya melepaskan satu persatu kancing bajunya.


Aileena meneguk ludahnya sendiri dengan wajah memerah saat melihat tangan Fatur membuka satu persatu kancing bajunya dengan gerakan pelan seperti adegan slow motion. Seminggu ini memang ia membersihkan badan Fatur dengan tangannya sendiri, tapi ia enggan menatap langsung. Bagaimanapun ia wanita yang pernah menikah tentu godaan tersebut mampu membangkitkan gairahnya. Apalagi ia sudah hampir satu tahun ini tidak menikmati indahnya berbagi peluh.


Aileena pun segera memalingkan wajah. Ia tidak mau tiba-tiba menerjang suaminya untuk menagih nafkah batin sebab ia tau saat ini suaminya masih dalam masa pemulihan. Aileena takut, kepalanya kembali terguncang seiring dilakukannya hentakkan demi hentakkan bila mereka melakukan malam pertama yang tertunda itu.


Kini baju Fatur telah terbuka sempurna. Menyisakan bawahan saja yang berupa celana bokser. Dengan tertatih, Fatur berjalan mendekati Aileena yang sedang berdiri mematung membelakanginya kemudian memeluknya dari belakang.


Aileena tersentak saat kedua tangan suaminya telah melingkari perutnya. Jantungnya sontak berdegup dengan kencang. Saat tubuh topless Fatur memeluk erat tubuhnya. Hangat ... itu yang ia rasakan. Nyaman ... sudah pasti. Perlahan Aileena mulai relaks. Dinikmatinya kehangatan itu dengan perasaan membuncah.


Fatur menyeringai senang saat melihat reaksi tubuh Aileena. Ditempelkannya bibirnya di leher putih itu hingga meninggalkan jejak-jejak basah. Terdengar suara lenguhan kecil dari bibir Aileena membuat Fatur kian bersemangat membuat jejak-jejak kecil. Tangan Fatur sepertinya tak mau tinggal diam. Ia pun masuk ke dalam piyama Aileena dan mulai bergerak menjelajahi perut rata Aileena. Dirabanya perut itu, dapat ia rasakan ada sebuah goresan yang lebih tepatnya bekas jahitan melintang. Ia ingat, ini adalah bekas jahitan saat melahirkan baby Fareezky. Ia pun membalik tubuh Aileena dan berjongkok di depannya membuat Aileena mengerutkan dahinya. Lalu Fatur menyingkap baju Aileena dan meraba setiap inci bekas jahitan itu. Kemudian Fatur mendekatkan wajahnya ke perut Aileena dan mengecupinya dari ujung ke ujung membuat wajah Aileena bersemu merah.


"Mas ... " lirih Aileena saat rasa geli menggelitik perutnya karena Fatur yang sibuk mengecupinya.


"Hmmm ... " sahut Fatur setelah selesai mengecupi bekas jahitan itu.


"Mas ngapain sih? Malu tau." cicit Aileena sambil menggigit bibirnya.

__ADS_1


"Mas sedang memandangi bekas operasi Caesar kamu."


"Ya buat apa sih? Mas suka aneh-aneh deh."


"Mas cuma mau liat aja, Ai-yang. Kan dulu mas nggak bisa liatnya. Belum mahram walaupun suka penasaran." tukas Fatur sambil tersenyum. "Masih sakit nggak, Ai-yang lukanya?" tanya Fatur yang kini sudah berdiri menghadap Aileena .


"Mmm ... nggak sih, mas. Udah nggak sakit lagi kok." sahut Aileena.


"Syukurlah." ungkap Fatur lega.


"Kira-kira, bekas jahitan itu bakal hilang nggak, yang?" tanya Fatur sambil menyampirkan rambut Aileena yang berjatuhan di sisi wajahnya ke belakang telinga.


"Kata siapa? Ih, negatif thinking aja kerjaannya." ujar Fatur sambil menoel hidung Aileena. "Mas nggak masalah kok. Bisa hilang, Alhamdulillah. Nggak bisa juga nggak papa. Malah bekas luka itu bisa jadi pengingat betapa besar perjuangan Ai untuk melahirkan Fareez. Ai tau, waktu itu, mas khawatir banget liat kondisi Ai sampai pingsan gitu. Mas khawatir ... mas khawatir Ai pergi ninggalin, mas. Mungkin kalau Ai pergi ninggalin mas, mas nggak bakal mau nikah seumur hidup sebab hati mas pasti ikutan mati bila Ai sampai pergi ninggalin, mas. Mas bersyukur banget saat tau Fareezky lahir dengan selamat dan kondisi kamu baik-baik aja. Dan mas lebih bersyukur lagi akhirnya wanita yang mas cintai bisa jadi milik mas walaupun untuk saat ini belum bisa seutuhnya." ucapnya sambil menangkupkan kedua tangannya di pipi Aileena lalu Fatur mengecup lama dahinya kemudian berpindah ke bibirnya. Betapa besar rasa cinta dan sayang Fatur pada wanitanya itu. Pun anaknya, ia sudah menganggap Fareezky seperti anak kandungnya sendiri.


"Mas kok ngomong kayak gitu, sih!" protes Aileena sambil mencebikkan bibirnya. "Tapi ... makasih ya mas udah mau mencintai Ai sampai sebesar itu. Terima kasih juga mas udah mau menerima Fareezky walaupun ia bukan anak kandung, mas." ucap Aileena tulus.


"Mencintaimu berarti harus mencintai anakmu juga. Lagi pula mas udah jatuh cinta sama Fareezky sejak di dalam perut kamu jadi kamu nggak perlu berterima kasih." ucap Fatur. "Oh ya sayang, gini ... mas tadi habis baca-baca masalah kehamilan pasca operasi Caesar, katanya sebaiknya kita menunda kehamilan 6-12 bulan sebelum memutuskan mau hamil lagi untuk mengurangi risiko membahayakan bagi ibu dan bayi. Tapi kalau jarak amannya sampai 2 tahun. Gimana menurut kamu, Ai? Menurut mas sih, sebaiknya kita menunda, tapi mas mau tanya pendapat Ai-yang dulu. Mas nggak bisa memutuskan sepihak. " tukas Fatur dengan sorot mata teduhnya.


Bagaimana pun masalah kehamilan itu bukanlah masalah sepele. Memutuskan untuk hamil atau menunda itu harus dibahas secara baik-baik dan melibatkan kedua belah pihak, suami dan istri. Apalagi Fatur sangat tau bagaimana perjuangan Aileena saat hamil kemarin dan riwayat melahirkan Caesar-nya. Tentu ia tidak ingin membahayakan nyawa baik Aileena maupun calon bayinya kelak.


Aileena tersenyum haru. Bahkan matanya sampai berkaca-kaca melihat betapa Fatur sangat memperhatikan dan mempedulikan dirinya, ia makin yakin kalau pria yang telah menyandang status sebagai suaminya itu benar-benar mencintai dirinya tulus apa adanya.

__ADS_1


"Ai kan punya riwayat sulit hamil, mas? Mungkin nggak perlu nunda. Kan belum tentu langsung jadi." ujarnya sambil tersenyum lebar. "Tapi , sebagai seorang istri, Ai akan mematuhi apa saja ucapan mas sebab Ai yakin, apapun anjuran mas pasti itu yang terbaik untuk Ai." ucapnya dengan binar kebanggaan.


"Nggak salah mas jatuh cinta dan jadiin Ai istri, mas, sebab Ai-yang'nya mas ini memang istri terbaik. Istri idaman. My precious wife. I love you." ucap Fatur lalu ia mendekatkan wajahnya pada Aileena. Aileena pun memejamkan matanya. Tak lama kemudian Fatur pun menyatukan bibirnya pada Aileena. Bibirnya bergerak lembut, mengecupi bibir atas dan bawah Aileena secara bergantian. Tangan Aileena terulur melingkari leher Fatur, memupuskan jarak di antara mereka. Sedangkan tangan Fatur terulur ke belakang tengkuk Aileena , menekannya agar pagutan mereka makin dalam dan mesra lalu tangan satunya lagi bergerak menarik pinggang Aileena agar mereka makin merapat hingga tiada meninggalkan celah. Mereka saling memagut, mengecup, hingga *******. Mereka saling menyalurkan rasa yang kian membuncah.


Cukup lama mereka melakukan hal itu, bahkan mereka sampai mengulanginya hingga beberapa kali setiap selesai mereka menarik nafas. Tapi, kegiatan yang mengakibatkan Fatur kecanduan itu terpaksa mereka hentikan sebab menara kelelakiannya itu telah mencuat tegak. Ia khawatir, bila kegiatan itu diteruskan makan akan membuatnya makin menginginkan lebih. Bila ia telah sehat 100% mungkin tak masalah, tapi atas nasihat dokter membuatnya harus menunda kegiatan bercocok tanam yang telah lama ia impikan. Fatur hanya bisa tersenyum miris memandang wajah Aileena yang memerah karena kegiatan bertukar saliva yang barusan mereka lakukan. Padahal wajah itu terlihat begitu menggairahkan di matanya, tapi apalah daya, ia harus sabar menunggu saat yang tepat.


Aileena terkekeh geli melihat wajah nelangsa Fatur yang mencoba meredakan gairahnya.


"Kenapa tertawa, hm? Berani ya kamu nertawain, mas? Kamu tega, Ai, kamu tega. " ujarnya dengan nada bicara seperti Anni pasangan Rhoma.


Aileena makin tergelak kencang mendengarkan Fatur. Ia pun memeletkan lidahnya dengan seringai mengejek sebelum lari dari hadapan Fatur.


"Ai, kok kabur sih? Mas kan mau mandi. Mandiin, Ai. Mas nggak bisa mandi sendiri. Ai-yang, mandiin, mas! Buruan!" pekik Fatur sambil tersenyum lebar.


"Mas nggak takut menaranya makin nelangsa? Kalau nggak takut, hayo!" ujarnya meledek sambil tergelak.


"Astaga, ini bini tega bener, menara lakinya nelangsa dia malah tertawa bahagia." ucap Fatur dengan wajah cemberut. Kini ia merasa benar-benar nelangsa. "Awas ya kamu, Ai, seminggu lagi, mas makan sampai habis kamu!" ancamnya


...***...


...Happy reading 🥰🥰🙏...

__ADS_1


__ADS_2