Duri Dalam Pernikahan

Duri Dalam Pernikahan
Ch.38 Akhirnya, aku menemukanmu.


__ADS_3

Cahaya mentari tampak masuk ke dalam kamar Aileena melalui celah-celah gorden yang belum tersingkap sempurna. Membuat Aileena yang masih berjibaku dalam selimut hangatnya, mengerjapkan mata. Sebenarnya ia telah terbangun sejak subuh tadi. Namun, mungkin karena efek kehamilannya, setelah melaksanakan kewajibannya di subuh tadi, Aileena kembali bergelung manja di balik selimut tebalnya. Menghalau dingin, merangkap hangat, membuat tidur Aileena kian lelap dan nyaman.


Tok tok tok ...


Aileena yang baru saja mengerjapkan mata itu, mengerutkan keningnya saat mendengar sayup-sayup pintu kamarnya diketuk. Selama tinggal di villa, tidak pernah ada yang mengetuk pintu kamarnya di waktu sepagi ini. Yah, walaupun sebenarnya sudah cukup siang bila ia masih mengajar sebab jarum jam sudah menunjukkan pukul 7.05.


Aileena pun segera beranjak dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu sambil merapikan surainya menggunakan jemarinya.


"Mas Fatur ..." seru Aileena dengan mata membulat.


Aileena terkejut bukan main sebab sudah 1 Minggu Fatur tidak berkunjung ke villa. Tapi biarpun begitu, ia tetap selalu menghubungi Aileena di setiap waktu senggangnya. Apalagi jarum jam masih menunjukkan pukul 7 lewat sedikit. Yang menjadi pertanyaan dalam benaknya, jam berapa Fatur datang ke villa?


"Hai, maaf mengganggu tidurmu." ujar Fatur seraya mengusap tengkuknya karena merasa tak enak hati mengganggu tidur Aileena.


Selain itu, ia sebenarnya sedang terpesona melihat wajah bantal Aileena yang baru bangun tidur. Kulit wajahnya putih bersih tanpa polesan apapun dengan hidung bangir dan bibir merah muda, bulu matanya tidak terlalu panjang dan lentik tapi tetap membuat bola mata itu terlihat sangat cantik. Rambut hitam panjang tergerai yang agak berantakan justru menambah kadar kecantikan wanita hamil berpiyama navy di hadapannya itu.


Aileena tersenyum lebar, sambil mengibaskan telapak tangannya di depan wajahnya, "Ah, nggak ganggu kok! Ai hanya terkejut aja liat mas tau-tau ada di sini." ujarnya menjelaskan.


Lalu Fatur mengajak Aileena duduk amben bambu yang ada di depan rumah. Aileena pun mengangguk dan melangkahkan kakinya menuju amben yang dimaksud Fatur. Aileena membelalakkan matanya seketika saat melihat apa yang telah terhidang di atas amben.


"Lho, ini ..." ucap Aileena bingung. Bagaimana tak bingung, di amben itu sudah terhidang berbagai macam makanan yang terlihat lezat membuat perut Aileena seketika bergolak minta segera diisi.


Fatur tersenyum lebar seraya mempersilahkan Aileena duduk.


"Ini Mas beli tadi sebelum tiba di sini. Mas lihat ada banyak penjual makanan yang udah mulai membuka lapaknya di pinggir jalan subuh tadi, jadi mas beli deh. Semoga kamu suka ya!" ujar Fatur dengan senyum manis tak lepas dari bibirnya.

__ADS_1


Aileena tersenyum sumringah, tentu ia suka. Entah bagaimana, apapun yang Fatur beli selalu saja ia suka dan berhasil menggugah seleranya. Aileena sendiri kadang heran, Fatur seakan bisa membaca pikirannya.


Di atas amben bambu itu telah terhidang mie celor khas Palembang, lupis ketan, risoles, kue pukis, dan kue cucur. Aileena bahkan sampai meneguk ludahnya sendiri melihat aneka makanan itu.


"Makasih ya, mas. Mas tau aja makanan enak. Jadi nggak sabar mau makan semuanya." ujar Aileena sambil terkekeh. Ia bahkan sampai mengusap perutnya karena sudah tak sabar lagi untuk mencicipi semuanya. "Emang mas berangkat jam berapa sih?"


"Syukurlah kalau kamu suka." ujar Fatur. "Mas, berangkat jam 3 tadi. Dari semalam nggak bisa tidur. Mungkin karena mas udah terlalu kangen sama kamu, Ai. Jadi mas kesini aja mumpung hari ini nggak ada pekerjaan yang mendesak." tutur Fatur sambil melirik Aileena.


Wajah Aileena tersipu, bahkan jantungnya berdebar. Tapi ia pura-pura tak acuh. Ia tak berani berharap ataupun memberikan harapan.


"Mas, kapan kamu balik ke kota?" tanya Aileena sambil mengunyah risoles isi suwiran ayam pedas. Ia mencoba mengalihkan perhatian Fatur agar tidak membahas hal tadi lebih lanjut.


"Kalau nggak besok sih, lusa. Emang kenapa? Nggak mau mas cepat pulang ya! Takut kangen?" goda Fatur sambil memainkan alisnya.


"Is, pede amat pak!" ejeknya sambil terkekeh. "Ai cuma mau ikut pulang, mas. Udah kangen rumah." ujarnya. "Kasihan juga si mbok Ningsih ditinggal sendirian." tambahnya lagi.


"Makasih ya, Mas karena kamu selalu ada untukku." ucap Aileena tulus.


"Ai, kamu nggak perlu terus-menerus berterima kasih padaku sebab apa yang aku lakukan ini tulus karena aku mencintai dan menyayangimu.


"Aku justru akan jadi manusia yang tak tahu diri mas kalau nggak bilang makasih sama kamu apalagi aku belum bisa membalas perasaan kamu." lirih Aileena seraya menundukkan wajahnya.


Fatur pun menggenggam tangan Aileena. Ia paham perasaan Aileena.


"Udah ih, nggak perlu cemberut gitu. Entar babynya ikutan cemberut." ujar Fatur seraya terkekeh mencoba menghibur Aileena.

__ADS_1


"Emang bisa?" tanya Aileena polos.


"Emang kamu nggak pernah dengar mood baby itu tergantung mood ibunya?"


"Wah, kayaknya mas lebih paham masalah baby ya?"


"Iyalah, kan bentar lagi mas akan jadi calon ayah anak kamu jadi mas harus belajar tentang baby mulai sekarang." ujar Fatur percaya diri.


Aileena terkekeh sambil menggelengkan kepalanya.


"Percaya diri sekali Anda." ejek Aileena dengan tawa berderai di bibir merah miliknya.


"Oh, tentu. Itu harus. Kalau tidak, bisa-bisa calon ibu dan anakku disambar orang duluan." selorohnya dengan tergelak saat melihat bibir Aileena yang mencebik.


...***...


...***...


Mobil yang dikendarai Fatur telah memasuki kawasan perumahan tempat Aileena tinggal. Sesuai permintaan Aileena, keesokan harinya, Fatur mengantarkan Aileena pulang ke rumahnya. Mbok Ningsih menangis tersedu saat melihat wajah cantik majikannya telah berada di depan pintu. Selama hampir satu bulan ini, mbok Ningsih selalu kepikiran majikan cantiknya itu. Walaupun Aileena sering menghubunginya, tapi rasa khawatir terus saja menggelayuti benaknya.


Tanpa mereka sadari, ada sebuah mobil hitam yang terparkir tak jauh dari rumah Aileena tengah mengawasi rumah itu. Entah apa tujuannya. Mata seseorang yang berada di dalam mobil itu berbinar seketika saat melihat keberadaan Aileena. Ia pun segera mengambil gambar Aileena mulai dari saat turun dari mobil hingga saat ia mulai masuk ke dalam rumah. Setelah mengambil beberapa gambar, ia pun segera mengirimkan foto-foto tersebut kepada seseorang.


Seseorang yang menerima foto-foto Aileena pun tersenyum.


"Akhirnya, aku menemukanmu."

__ADS_1


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2