Duri Dalam Pernikahan

Duri Dalam Pernikahan
Ch.39


__ADS_3

"Tuan, maaf, aku tidak bisa melakukan tugas yang tuan berikan." ujar seorang pria yang mengenakan sweater hitam.


Doni yang ditemui seseorang itu lantas mengerutkan keningnya, merasa bingung mengapa pria itu tiba-tiba menolak melakukan perintahnya. Padahal awalnya pria itu setuju.


"Ini , uang yang tuan berikan, saya kembalikan. Maaf ... Tuan bisa cari orang lain saja. Tapi saran saya, lebih baik tuan tidak melakukan hal itu, bukan hanya karena berbahaya bagi tuan , tapi kasihan pada perempuan itu. Apa salahnya sehingga tuan ingin menyakitinya? Apalagi dia sedang hamil. Asal tuan tau, perempuan itu wanita baik-baik, bahkan sangat baik." ujar seseorang itu dengan kepala tertunduk.


"Apa kau mengenalnya?" tanya Doni pada pria itu.


"Aku tidak mengenal secara langsung, tapi anakku iya." ujarnya.


"Maksudmu?"


"Dia guru di SD Mercubuana dan anak saya adalah salah satu siswanya. Anak saya masuk ke sana melalui jalur beasiswa siswa berprestasi. Ibu guru itu sangat baik terhadap anak saya. Dia sering membantu anak saya memberikan pelajaran tambahan, membawakannya makanan, bahkan beliau membelikan anak saya buku-buku, dari buku pelajaran hingga buku tulis. Saat anak saya ulang tahun 2 bulan lalu juga, ia memberi anak saya hadiah tas sekolah, karena tas sekolah anak saya memang sudah nampak usang. Karena itu, alangkah tidak tahu dirinya saya bila menyakiti wanita berhati malaikat seperti beliau. Saya mohon tuan mempertimbangkan hal ini. Saya tau tuan sudah beristri, bagaimana bila hal tersebut menimpa istri tuan, pasti menyakitkan bukan? Kalau memang tuan ada masalah dengan beliau, ada baiknya diselesaikan secara baik-baik, bukan dengan cara menyakitinya." ujar pria itu tapi tetap dengan nada bicara yang sopan dan kepala tertunduk. Bagaimana pun, ia hanyalah orang suruhan, tak sepantasnya ia menceramahi tuannya, tapi sebagai seorang manusia, bukankah sepantasnya kita saling mengingatkan di saat kita sedang salah jalan.


"Kau benar. Terima kasih sudah mengingatkanku


Sebenarnya dia tidak ada salah denganku, tetapi ada seseorang yang mengancamku akan membocorkan rahasiaku pada istriku sehingga aku terpaksa melakukan hal bodoh ini." desah Doni frustasi. Ia menghela nafas panjang saat mengatakan alasannya ingin mencelakai Aileena.


"Tuan, ingatlah, sedalam-dalamnya kita mengubur bangkai, baunya pasti akan tercium juga. Begitu pun rahasia tuan, serapat-rapat tuan menyembunyikannya, pasti suatu saat akan terbongkar juga. Tinggal tunggu waktunya saja. Bukankah sebelum orang lain yang membongkarnya, lebih Anda sendiri yang mengatakannya. Mungkin, efeknya justru bisa diminimalisir daripada istri Anda tau rahasia Anda dari orang lain." ujar pria itu memperingatkan.


Doni mengurut keningnya yang terasa sakit. Apa yang pria itu katakan memang benar, suatu hari nanti, cepat atau lambat, semua rahasianya pasti akan terkuak, jadi sebelum Nuri tau dari orang lain, bukankah lebih baik ia yang lebih dahulu membuka mulut. Tak peduli apapun risikonya, kejujuran adalah salah satu hal yang utama dalam sebuah pernikahan


"Terima kasih atas saranmu. Maaf karena hampir membuatmu terlibat dalam masalah ku. Untuk uang itu, ambillah. Sejak aku menyerahkannya padamu, uang itu sudah jadi hakmu. Pergunakanlah sebaik mungkin. Semoga bermanfaat untukmu dan keluargamu." ujar Doni dengan senyum tulusnya.

__ADS_1


Pria itu pun berterima kasih kepada Doni. Setelah itu, ia mengembalikan kunci mobil Doni dan izin pergi dari hadapan Doni.


Dalam perjalanan pulang, Doni tak henti-hentinya berdoa dalam hati agar Nuri dapat memaafkan kesalahannya. Doni sedang berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk meminta maaf atas segala khilaf dan kesalahannya. Ia tau, kesalahannya fatal dan nyaris tak termaafkan. Tapi, bukankah Allah saja maha pengampun, besar harapannya agar Nuri pun mau memaafkan segala kesalahannya itu.


Doni memarkirkan mobilnya sembarangan. Ia sudah tak sabar berjumpa dengan istri tercintanya dan memohon maaf serta ampunan. Tapi, saat ia masuk ke dalam rumah, hanya kesunyian yang menyambutnya. Bahkan rumahnya tampak gelap gulita padahal jarum jam baru menunjukkan pukul 2 siang. Biasanya ada art yang menjaga rumah mereka, tetapi art nya sedang pulang kampung sehingga selama satu Minggu ini, rumah itu hanya dihuni ia dan istrinya.


Doni pun segera menyalakan lampu dan mencari Nuri di kamar. Sama seperti ruang tamu, kegelapan dan kesunyianlah yang menyambutnya. Ia pikir Nuri sedang pergi ke suatu tempat, tetapi saat melihat meja rias Nuri yang nyaris bersih tanpa ada satupun perlengkapan skincare Nuri, membuatnya bertanya-tanya. Lalu pandangannya jatuh pada sebuah amplop putih berlogo nama rumah sakit ternama. Doni pun penasaran, lantas ia membuka amplop putih itu. Seketika langit Doni terasa runtuh, ternyata amplop putih itu berisi surat hasil test DNA antara dirinya dengan seorang anak bernama 'Nanda'.


Doni jatuh terkulai di lantai dengan kedua telapak tangan menangkup wajahnya. Ia meraung seorang diri. Ternyata Nuri telah mencurigai hubungannya dengan seorang anak yang ditemuinya saat itu. Doni hanya bisa meratapi penyesalannya yang mungkin sudah terlambat. Nuri telah pergi tanpa pamit entah kemana. Ia yakin, istrinya pasti sangat terluka mengetahui fakta menyakitkan itu hingga memilih untuk pergi.


"Nuri, aku mohon, maafkan aku. Aku mohon, berikan aku kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahanku." raungnya frustasi. "Sayang, aku mohon maafkan aku. Sayang, aku mohon kembalilah. Sayang, aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku mohon, jangan pergi! Kembalilah sayang, aku mohon."


...***...


Namun saat Adnan tiba di lokasi yang diberitahukan orang suruhannya, rahang Adnan tiba-tiba mengeras, jantungnya bergolak hebat, dengan kedua tangan mengepal. Bagaimana hatinya tak berkecamuk, dapat ia lihat ada dua orang pria yang tengah berebut memberikan perhatian pada mantan istrinya itu. Sungguh Adnan tak menduga, pesona Aileena sungguh luar biasa, sampai-sampai ia diperebutkan dua orang pria. Dan menurut informasi, selain tampan, keduanya juga masih single dan mapan. Tentu hal tersebut makin membuat Adnan ketar-ketir. Bagaimana bila Aileena menolaknya dan lebih memilih satu diantara kedua pria itu. Tapi ia harus percaya diri, bukankah ia tau, Aileena sangat mencintai dirinya. Apalagi ada anaknya yang bisa ia jadikan penghubung antara dirinya dan Aileena.


"Sial! Mau ngapain sih mereka? Apa di dunia ini sudah kehabisan stok gadis sehingga mereka harus mengejar seorang janda?" omel Adnan kesal. Namun ia tak berani turun secara terang-terangan. Bukannya bisa bertemu, bisa-bisa ia babak belur, pikirnya.


"Ai, ini, bakso yang dijual di dekat sekolah kamu. Makan gih!" Fatur menyodorkan semangkuk bakso dengan kuah bening sesuai kesukaannya. Tanpa kecap dan saos tomat maupun saos sambal. Hanya ada sambal dan jeruk nipis sebagai pelengkap membuat Aileena sampai meneguk ludahnya sendiri.


"Na, ini , sop buahnya sudah jadi, silahkan diminum, dijamin segernya mantul." imbuh Radika sambil menyodorkan segelas besar sop buah. Dapat Aileena lihat, di dalamnya berisi berbagai macam buah yang kelihatan sangat manis , ditambah campuran susu dan sirup serta es batu, membuatnya terlihat sangat menggiurkan.


Aileena menggigit bibirnya saat melihat betapa nikmatnya kedua makanan itu. Lalu tanpa ragu, Aileena mengambil mangkok bakso dan mendekatkan sop buah buatan Radika, kemudian mulai melahapnya dengan lahap.

__ADS_1


"Baksonya mantul, mas. Seperti biasanya. Mas tau banget bakso favorit Ai kayak gimana." puji Aileena. "Es nya juga seger banget, Ka. Bisa dong, kalau udah nggak jadi dokter lagi, buka usaha sop buah." ujar Aileena terkekeh.


Padahal mereka tadi hendak bersaing, mana yang lebih diminati Aileena, tetapi pada akhirnya ternyata kedua makanan itu disantap dengan lahap oleh ibu hamil itu hingga tandas membuat baik Fatur maupun Radika terkekeh geli.


"Kalau kamu mau jadi partner-ku, aku mau saja, Na." sahut Radika.


"Aku bisa menyediakan tempatnya kalau begitu." imbuh Fatur tak mau kalah. Lalu mereka tertawa bersama.


Tiba-tiba, dering ponsel Fatur berbunyi, lalu ia permisi untuk mengangkat panggilan itu. Setelah panggilan ditutup, mata Fatur memicing diam- diam ke arah sebuah mobil berwarna hitam yang terparkir di tepi jalan. Lalu ia memberi kode kepada Radika, membuat Radika ikut menyadarinya. Walaupun mereka kini tengah memperebutkan hati Aileena, tapi ternyata kini mereka cukup dekat apalagi semenjak kepulangan Aileena, ada mobil yang tampak mencurigakan yang mengawasi rumah Aileena. Untuk menjaga keamanan dan keselamatan Aileena, tentu mereka harus bekerja sama. Tak peduli siapa yang kelak akan dipilih Aileena, yang penting keamanan dan keselamatan Aileena yang paling utama.


Fatur sebenarnya ingin mempekerjakan seorang sopir pribadi dan penjaga rumah tetapi sayangnya Aileena menolak. Aileena pikir itu terlalu berlebihan. Mereka juga belum tau siapa orang yang tampak mengawasi rumah Aileena itu. Mereka harap, mereka hanya menduga-duga saja. Namun, ia telah memberikan pesan kepada mbok Ningsih agar tidak pernah meninggalkan Aileena di rumah sendirian. Ia juga diminta selalu memberikan kabar tentang siapa saja yang datang menemui Aileena untuk berjaga-jaga terjadi sesuatu yang tidak diinginkan pada Aileena.


...***...


Halo kakak2 sekalian, othor kan ikutan lomba update tim, jd mohon bantuan votenya yah!


Caranya tinggal klik banner ungu itu trs kasi vote pakai poinnya.


Makasih kak. 🙏🥰



...Happy reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2