
Rere baru saja pulang kuliah. Sebelum pulang, ia masuk ke kamar mandi terlebih dahulu untuk mencuci muka, lalu ia memakai bedak dan memoleskan sedikit soft lip cream berwarna merah muda untuk membuat wajahnya terlihat lebih cerah. Lalu ia mematut wajahnya di cermin yang sudah cerah kembali. Ia juga merapikan blus berwarna tosca yang dikenakannya
"Cie ... tumben nih poles-poles muka, biasanya cuek-cuek aja." ledek salah satu teman satu kelas Rere saat melihat Rere memakai bedak dan lip cream.
"Cie cie, pasti mau kencan nih! Siapa sih? Kenalin dong?"
"Bener tuh Re, kenalin dong! Anak mana ? Fakultas apa?" goda teman-teman Rere.
"Apaan sih? Siapa yang mau kencan? Gue mau ke rumah sakit kok."
"Wah ... wah ... wah ... ke rumah sakit aja sampai dandan kayak gitu? Takut bener keliatan jelek padahal satu kampus juga tau kamu itu cantik kalau nggak cantik mana mungkin menang ajang ratu kecantikan kampus. Pasti mau jenguk pacarnya yang sakit ya?"
"Atau pacar kamu seorang dokter?" terka teman Rere yang lain.
Tiba-tiba wajah Rere memanas. Rona merah tercetak jelas di pipinya.
"Wah ... wah ... wah ... kayaknya tebakan gue bener deh tuh liat wajah Rere sampai kayak kepiting saos Padang."
"Woaaahhh ... hebat bener kamu, Re! Kenalan dimana? Kenalain kek atau sama temennya gitu? Pingin juga punya pacar dokter."
"Siapa yang pacaran? Nggak kok. Kalian ngadi-ngadi deh. Gue itu mau jenguk orang sakit bukan mau pacaran sama dokter." kilah Rere padahal sebenarnya sekali merengkuh dayung dua-tiga pulau terlampaui alias emang bener mau jenguk orang sakit tapi sekaligus ketemu dokter ganteng idaman hati. Nikmat mana lagi yang kau dustakan, Re.
"Alah, ngomong aja nggak mau kenalin, ya nggak gaes."
__ADS_1
"Iya nih loe Re, pelit bener. Takut ya pak dokternya berpaling ke kita-kita. hahaha ..." ledek mereka sambil tergelak.
"Udah ah, ntar jam besuk habis. Gue pergi dulu ya gaes. Bye ..." pamit Rere yang kemudian langsung kabur menghindari godaan teman-teman yang memiliki sifat kepoisme tingkat tinggi.
...***...
Jarak rumah sakit yang tidak terlalu jauh membuat Rere hanya dalam 30 menit telah sampai di rumah sakit. Sesuai perintah Radika, setibanya di sana, ia harus menghampiri Radika terlebih dahulu. Rere pun bergegas menuju ruangan Radika. Ia terlebih dahulu mengetuk pintu hingga beberapa kali, namun tak ada sahutan sama sekali. Rere pun membuka pintu ruangan itu dan memasukkan kepalanya untuk melihat keadaan di dalam, tetapi ternyata tidak ada seorang pun di dalamnya.
"Hei ..."
"Aargh ..." teriak Rere saat ada yang menepuk bahunya tiba-tiba. Rere pun menoleh ke belakang.
"Kak Radi ih, usil banget sih! Ngagetin Rere aja. Untung Rere jantungnya kuat, coba kalau lemah, gimana coba? Rere nggak mau mati cepat, belum nikah juga. Entar Rere malah jadi hantu perawan, Rere hantuin kak Radi nya biar tau rasa." cerocos Rere sambil melangkah masuk ke ruangan Radika. Bibir mungilnya yang maju mundur komat-kamit membuat Radika gemas lalu Radika menjepit bibir mungil nan ceriwis itu dengan jarinya membuat Rere makin terlihat lucu dan menggemaskan.
"Kak Radi ih, usil banget ." omel Rere lagi setelah Radika melepaskan jepitannya.
Rere mengalihkan pandangannya. Bertatapan mata secara langsung bisa berbahaya bagi kesehatan jantung Rere.
"Idih, itu mah maunya kakak! Dasar mesum!" Rere mendelik dengan bibir mengerucut membuat Radika terkekeh.
"Maunya kakak atau maunya kamu?" godanya lagi. "Siapa yang mesum, hm? Kakak atau kamu? Kamu nggak ingat, yang coba cium kakak itu siapa, hayo! Mau pura-pura amnesia?" goda Radika dengan mata menyipit membuat Rere salah tingkah dan gelagapan.
"Siapa yang mau cium ? Ck ... kakak aja yang tiba-tiba nyosor. Rere itu mau nunduk ambil sesuatu di lantai, eh nggak sengaja bibir kita bersentuhan, tapi ... tapi kak Radi malah tiba-tiba narik leher Rere terus itu ... itu ... ng ... ya gitu tuh." kilah Rere tak mau mengakui kebodohannya yang sudah mencium bibir Radika diam-diam. Ia tetap mengalihkan pandangannya. Detak jantungnya sudah tidak bisa dikondisikan sekarang. Rere sampai khawatir, bagaimana kalau jantungnya tiba-tiba copot.
__ADS_1
Radika tertawa renyah mendengar sanggahan dari Rere yang tak masuk akal menurutnya. Ia bukanlah manusia bodoh yang semudah itu dikelabui. Ingatkan ini, dimana-mana seorang dokter itu memiliki kecerdasan di atas rata-rata. Kalau seorang dokter itu bodoh, tentu itu dapat membahayakan nyawa pasien.
Lalu Radika mentoyor dahi Rere dengan jari telunjuknya sambil terkekeh.
"Berkilah aja terus. Dah, yuk, dimana kamar pasien yang kamu tolong itu?" ajaknya pada Rere. Tangan kirinya bahkan sudah merangkul bahu Rere.
"Kak Radi apaan sih? Entar orang mikir kita ada hubungan apa-apa lagi." Rere menepis tangan Radika yang merangkul bahunya. Ia melanjutkan langkahnya menuju ruangan orang yang ditolongnya.
"Emang kenapa? Masalah? Atau ada yang marah?" cecar Radika.
"Ya nggak enak aja. Apalagi kan kak Radi kerja di sini pasti mereka entar mikir macam-macam. Gimana kalau ada fans kak Radi yang liat terus bully Rere, coba? Ih, ngeri ah!" Rere bergidik ngeri membayangkan dia di bully seperti drama-drama Korea yang sering ia tonton. Eh, bukan hanya di drakor aja, di dracin, dorama Jepang, bahkan sinetron Indonesia juga sangat sering menayangkan adegan bullying yang sebenarnya berbahaya bagi anak-anak dan remaja labil bahkan orang dewasa yang pikirannya belum matang. Mereka bisa saja meniru tanpa berpikir akibatnya.
Lagi-lagi Radika mentoyor kepala Rere membuat tubuh Rere hampir limbung membuat Rere mencebik kesal.
"Makanya jangan kebanyakan nonton, jadi halu melulu." ejek Radika membuat Rere mendelik kesal. Bagaimana dia tau aku halu karena kebanyakan nonton? batin Rere bertanya-tanya.
Tak lama kemudian, mereka pun telah tiba di ruangan yang dituju. Rere mengetuk pintu terlebih dahulu, setelah dipersilahkan masuk, mereka pun masuk ke ruangan serba putih itu.
"Halo nak, apa kabar?" sapa seorang wanita paruh baya pada Rere.
"Rere baik kok Bu." sahut Rere sopan seraya bersalaman dengan ibu itu dan mencium punggung tangannya. Radika kagum dengan tata Krama dan sopan santun yang dimiliki Rere. Dimana banyak orang seusianya melupakan tatakrama bahkan terkesan masa bodoh terhadap orang yang lebih tua, tetapi Rere tetap menunjukkan tatakramanya di hadapan orang yang lebih tua walaupun orang itu bukan siapa-siapanya.
...***...
__ADS_1
Next ada satu bab lagi ya! Smg sempat update mlm ini.
...happy reading 🥰🥰🥰...