Duri Dalam Pernikahan

Duri Dalam Pernikahan
Ch.46 Talak tiga


__ADS_3

Selesai mengorek informasi tentang Delima dari mantan suaminya, Aditya, Adnan pun segera masuk ke dalam mobil. Ia memukul stir hingga berkali-kali untuk meluapkan emosinya yang sedang benar-benar membludak. Bagaimana tidak, ia baru sadar kalau selama ini ia telah masuk ke dalam perangkap iblis betina yang bernama Delima. Namanya boleh cantik dan indah, begitu pula parasnya walaupun masih kalah dari Aileena, tapi hatinya ternyata hitam dan kelam. Lebih kelam dari langit malam yang tiada pencahayaan. Hatinya begitu busuk. Lidahnya beracun, ia benar-benar tak menyangka bisa dibodohi sedemikian rupa oleh wajah polos tapi munafik itu.


Adnan cukup lama mengurung diri di dalam mobil itu. Ia begitu menyesali semua perbuatannya. Apakah ini hukuman karena telah menduakan dan mencurangi Aileena? Apakah seperti ini rasa sakit yang dirasakan Aileena karena perbuatannya dulu? Ah, mungkin lebih parah lagi, pikirnya.


Adnan terisak. Matanya telah memerah menahan tangis yang hendak menyeruak. Namun sekuat apapun ia menahan, air mata itu tetap kekeuh hendak menembus pertahanan Adnan hingga akhirnya bulir-bulir itu pun mulai jatuh membasahi pipi.


Adnan meraung. Ia menumpahkan semua rasa sakitnya seorang diri. Padahal ia masih di pelataran parkir tapi ia masih betah berada di sana.


Adnan memukul dadanya berkali-kali.


"Mengapa rasanya sesakit ini, ya Tuhan? Apakah sesakit ini juga perasaan Aileena saat aku khianati? Rasanya begitu sesak. Maafkan, aku Si! Maafkan aku yang bodoh ini. Karena kebodohanku kau dan calon anak kita jadi menderita. Maafkan aku Ai, maafkan aku." racaunya sambil memukulkan kepalanya ke kemudi mobil. "Seandainya aku bisa sabar. Seandainya, aku tidak terobsesi ingin segera memiliki seorang anak. Seandainya aku tidak tergoda untuk berbuat maksiat, pasti semua takkan jadi seperti ini. Mengapa penyesalan harus datang terakhir? Mengapa otakku bodoh sekali bisa ditipu wanita ular itu? Seharusnya aku sadar, tidak ada perempuan baik-baik yang dengan senang hati menawarkan diri dan merusak rumah tangga wanita lainnya. Harusnya aku menyadarinya sejak awal. Tapi semua terlambat. Apa mungkin Aileena mau kembali padaku yang hina dan bodoh ini? Apa aku masih ada kesempatan untuk memperbaiki semuanya? Apakah aku masih ada kesempatan untuk bersama dirinya lagi?" lirih Adnan dengan air mata yang tak terbendung.


Satu jam telah berlalu, akhirnya Adnan sudah dapat mengendalikan diri. Ia menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Adnan memijit pelipisnya yang mulai pening karena emosinya yang belum benar-benar stabil. Rasa marah, benci, dendam, kecewa, dan sakit hati berkecamuk menjadi satu. Tapi ia tidak bisa terus begini. Ia harus segera memberi perhitungan pada wanita ular penyebab kehancuran rumah tangganya.


Adnan pun segera mengemudikan mobilnya menuju ke rumah. Tak butuh waktu lama, hanya dalam 35 menit mobilnya telah terparkir di halaman rumahnya. Tak sabar ingin membuat perhitungan modal untuk membuat langsung melompat dari dalam mobil dan menutup pintunya dengan kasar sehingga menghasilkan bunyi yang keras.


Delima yang terkejut mendengar bunyi itu pun segera berlari keluar rumah dan terkejut ternyata itu ulah suaminya,


"Mas, tumben Kamu udah pulang?" tanya Delima dengan raut wajah biasa saja sebab ia belum tahu perihal Adnan yang telah mengetahui semua rahasianya.


Dengan sorot mata tajam dan mulut terkatup rapat, Adnan segera masuk ke dalam kamar dan mengeluarkan semua pakaian Delima dengan membuangnya ke lantai. Delima melotot kaget melihat Apa yang dilakukan oleh Adnan.


"Mas, apa-apaan sih kamu? Kamu mau usir aku? Oh, aku tau, jangan-jangan ini permintaan mantan istri kamu itu sebagai syarat kalau Mas ingin dia kembali lagi padamu, benarkan kataku Mas?" Delima mendelik marah sambil berkacak pinggang.


Adnan menyeringai lalu berjalan mendekat ke arah Delima dengan sorot mata penuh dendam dan kebencian membuat Delima sedikit ketakutan dan mundur ke belakang hingga punggungnya menabrak tembok.


"M-mas, ka-kau mau apa?" tanya Delima dengan nafas tercekat.


"Aaargh ..." Delima menjerit saat rahangnya dicengkeram sangat kuat oleh Adnan. Sungguh, itu sangatlah sakit sebab Adnan mencengkramnya sangat kuat sekali. Entah apa penyebabnya sehingga Adnan begitu marah hingga tega berlaku demikian.

__ADS_1


"Cepat, beritahu aku, anak siapa yang kau kandung?" desis Adnan dingin. Bahkan Delima dapat mendengar suara giginya yang bergemeletuk karena emosi yang tertahan.


"Me-mengapa ka-kau tanyakan itu, mas? Sudah tentu ini anakmu." dustanya. Tentu Delima tidak mau mengatakan hal yang sejujurnya. Ia tetap ingin mencari aman.


Adnan tertawa renyah, namun tawa itu justru terdengar menakutkan di telinga Delima.


"Mas ... apa yang terjadi dengan mu? Kau kenapa? Tolong lepaskan aku, sakit." Delima memelas karena cengkraman di rahangnya yang belum dilepaskan Adnan.


"Berhenti berbohong padaku pelacur!" bentak Adnan dengan suara menggelegar. Bahkan Nanda yang berada di ruang tamu sedang bermain sendiri sampai menangis ketakutan.


Delima yang mendengar bentakan kata-kata itu lantas membulatkan matanya, 'Apa mas Adnan sudah tau anak yang aku kandung bukan anaknya? Tidak ... itu tidak boleh terjadi.'


"A-ku ti-dak berbohong, Mas. I-ini anakmu. A-nak kita. Buah hati ki-ta." sahutnya terbata dengan tubuh bergetar ketakutan.


Adnan lantas menghempaskan tangan Delima hingga ia terduduk di lantai. Lalu Adnan menarik rambut panjang Delima hingga kepalanya tertarik ke belakang.


"Aaargh ... Mas ... aku mohon lepaskan! Sakit ..." lirih Delima dengan berurai air mata karena kesakitan.


"Ma ... ma ... ma ... huaaaa ... Mama ... huaaa ... " melihat kedua orang tuanya bertengkar dan menangis membuat Nanda ikut menangis kencang.


"Diam, brengs*k! Dasar, anak haram!" bentaknya pada Nanda yang menangis kencang.


Mendengar Nanda dibentak dan dicemooh sebagai anak haram, membuat Delima meradang. Bagaimana pun, ia seorang ibu. Terlepas caranya salah, tapi ia tetap tidak rela anaknya dicemooh dan dibentak seperti itu.


"Kamu yang diam, mas! Nanda itu masih kecil. Dia tidak salah apa-apa. Dia tidak tau apa-apa." desis Delima dengan mata yang sembabnya yang melotot tajam.


"Kenapa? Kau tidak terima anakmu aku sebut anak haram, hah? Aku sudah tau semua, Ima. Aku sudah tau dari mantan suamimu langsung. Kau gila, Ima. Kau tega. Aku tidak menyangka aku menikahi seorang jal*ng. Betapa bodohnya aku melepaskan berlian demi jal*ng tak tau diri seperti dirimu."


Deg ...

__ADS_1


"Jangan mengada-ada kamu, Mas. Kamu tidak mengenal mantan suamiku." kilahnya.


"Apa yang tidak bisa di dunia ini, hah! Aditya ... nama mantan suami yang juga kau tipu itu Aditya, bukan!"


Delima terkejut bukan main. Artinya, memang benar, Adnan telah mengetahui semuanya.


"Sekarang katakan, anak siapa Nanda dan anak yang ada di dalam sana!" tunjuk Adnan pada perut Delima.


"Ini anakmu, mas. Bukan anak orang lain." dustanya yang tetap tidak mau mengaku.


"Baiklah, kalau kau tidak mau jujur, jangan salahkan aku menyakiti putri kecilmu itu!" Adnan melepaskan cengkraman tangannya dari rambut Delima dengan kasar lalu berjalan mendekati Nanda.


Takut Adnan melakukan sesuatu yang buruk pada Nanda, Delima berlari dengan tergopoh seraya memegangi perutnya yang buncit.


"Jangan mas, tolong jangan lakukan sesuatu pada Nanda. Baiklah, aku mengaku, ini memang bukan anakmu, Mas.. Nama ayah mereka Doni Syahputra. Ayah keduanya sama. Maafkan aku, mas. Ini karena aku membutuhkan seorang ayah untuk anak-anakku. Aku tidak bisa meminta pria itu menikahi ku sebab ia sudah beristri. Dan kebetulan kau mengharapkan kehadiran seorang anak karena itulah aku memanfaatkanmu. Maaf, maaf, maafkan aku, Mas. Aku mohon maaf." Mohon Delima seraya memeluk kaki Adnan dengan berurai air mata.


Adnan menghentikan langkahnya. Rasa sakitnya menjadi berkali-kali lipat kali ini. Pernyataan Delima secara langsung membuat tubuhnya lemah seketika.


"Delima, mulai saat ini kau bukan lagi istriku. Aku talak 3 kau saat ini juga secara sadar dan tanpa paksaan. Jadi , segera bereskan barang-barangmu dan pergi dari rumah ini sekarang juga. Dan jangan sekali-kali kau mencoba untuk muncul di hadapanku lagi kalau kau tidak mau aku berbuat nekat pada kalian." tegasnya tanpa mau melihat wajah Delima dan Nanda.


Ia melangkahkan kakinya keluar lalu masuk ke dalam mobil. Ia perlu memenangkan diri sekarang. Sedangkan Delima, hanya bisa meraung sambil memeluk tubuh kecil Nanda yang juga sedang menangis.


"Maafkan mama ya, Nda. Mama memang mama yang buruk." raungnya sambil mengecupi kepala Nanda yang tengah menangis ketakutan.


...***...


Malam telah benar-benar larut, sebuah mobil melaju dengan sangat kencang. Ia sedang merasa frustasi saat ini karena wanita yang ia cintai bukan hanya pergi tanpa pamit, tapi juga mengirimkan surat gugatan cerai. Ia sadari kesalahannya begitu fatal, tapi ia tak sanggup kehilangan istrinya itu. Untuk menghilangkan beban pikirannya, ia pun menghabiskan malamnya di klub malam untuk menenggak minuman yang diklaim mampu membuat pikiran tenang bahkan melayang. Karena terlalu mabuk, bartender pun mengambil ponsel pria itu lalu mencoba menghubungi satu persatu nomor panggilan terakhir pria itu hingga terdengar suara seorang wanita. Setelah menjelaskan apa yang terjadi, bartender itu pun menutup panggilannya dan mengembalikan ponsel pria itu ke saku jasnya.


"Sayang, maafkan aku. Aku tau, aku salah, aku mohon maaf. Kembalilah sayang, aku merindukanmu." racaunya dengan mata terpejam tidak sadarkan diri.

__ADS_1


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2