Duri Dalam Pernikahan

Duri Dalam Pernikahan
Ch.68 Sesuatu yang mengganjal


__ADS_3

Radika melajukan mobilnya dengan kecepatan normal. Walaupun jalanan tampak lengang, tapi ia tidak mau mencari risiko sebab kini ia sedang mengajak seorang gadis kecil yang cantik. Satu-satunya keturunan mantan kekasihnya yang telah tiada. Walaupun tak ada lagi cinta di hatinya untuk sosok itu, tapi tetap sisi kemanusiaan lebih mendominasi. Belum lagi gadis kecil ini memiliki hubungan darah dengannya sebagai keponakannya, tentu ia menyayanginya.


Sesekali ia melirik Nanda yang tampak menguap. Sama seperti kebiasaan orang dewasa, anak-anak pun kerap mengantuk setelah makan. Kepalanya oleng ke kanan dan ke kiri karena mengantuk. Radika tersenyum geli melihat wajah lucu Nanda yang sedang mengantuk itu. Lalu Radika menepikan mobilnya dan sedikit menurunkan sandaran kursi agar posisi Nanda lebih nyaman. Setelah memastikan Nanda dapat terlelap dengan nyaman, ia kembali melajukan mobilnya.


Memasuki area ramai orang berlalu-lalang, membuat Radika harus menurunkan kecepatan mobilnya. Lalu ia membelokkan mobilnya memasuki area parkir khusus mobil di tempat itu. Setelah mobilnya terparkir rapi, Radika segera turun dari kursi kemudi dan menutup pintunya. Kemudian, ia berjalan memutar ke pintu sebelahnya. Melihat Nanda yang masih terlelap, Radika pun jadi tak tega membangunkannya. Ia langsung menutup kembali pintu mobilnya dan membiarkan kacanya saja yang terbuka. Lalu Radika berjalan menuju kap mobil dan duduk di atasnya dengan mata melihat ke kanan dan ke kiri seperti mencari sesuatu.


Radika meraih ponselnya dari saku celana lalu menekan salah satu nomor yang ada di barisan kontaknya. Namun setelah memanggil beberapa kali, panggilan tak kunjung tersambung. Ia yakin, nomornya telah diblokir oleh sosok itu. Radika memutar-mutar ponsel di tangannya, seiring otaknya yang ikut berputar-putar memikirkan apa yang terjadi dengan sosok itu. Mengapa ia menghindarinya sampai memblokir nomornya? Sebenarnya apa salahnya pada gadis itu? Ya, gadis itu, lebih tepatnya Rere. Sampai sekarang, Radika belum juga menyadari kesalahannya.


Radika memukul-mukul kepalanya sendiri berharap otaknya menyadari apa kesalahannya pada Rere, tapi bukannya sadar ia justru merasakan kesakitan saja.


'Nggak mungkin kan dia marah karena masalah ciuman itu? Soalnya besoknya kan gue masih ketemu dia.' Gumam Radika dalam hati lalu ia mencoba mengingat-ingat kapan pertama kali Rere menjauhinya.


Tapi belum sempat Radika mengingatnya, terdengar suara rengekan anak kecil dari dalam mobilnya. Ternyata itu adalah Nanda yang baru saja terbangun. Radika pun segera beranjak dari tempat duduknya dan segera menghampiri Nanda. Digendongnya tubuh mungil itu yang masih tampak menguap beberapa kali membuat kekehan kecil keluar dari bibir Radika.


Hingga Radika menangkap siluet tubuh Rere yang sedang berjalan melintasi area parkir bersama beberapa temannya dan tak lupa juga ada ... Rasyid. Tiba-tiba Radika menggeram dalam hati dengan tangan kanan yang mengepal sebab tangan kirinya sibuk menggendong Nanda.


"Re ... " panggil Radika membuat Rere yang tengah asik mengobrol berhenti melangkah dan menolehkan wajahnya ke arah Radika. Radika mengerjapkan matanya hingga beberapa kali. Fokusnya kini bukan hanya pada Radika, tapi gadis kecil yang digendongnya ... Nanda. Gadis kecil itu tampak nyaman berada di gendongan Radika dengan kepala bersandar di bahunya.


Rere berdeham lalu ia meminta izin pada Rasyid untuk menghampiri Radika sebentar.


"Hai ... " sapa Radika dengan senyum manisnya. Tapi Rere hanya menjawab dengan senyum datar membuat Radika sedikit mencelos.


"Dia bukannya ... "

__ADS_1


"Ya, dia anak Delima." sahut Radika yang tau kemana arah pembicaraan Radika.


'Bukan hanya mbak Ai, sepertinya Delima pun masih bertahta di hatinya.' Gumamnya dalam hati. Terbukti, Radika sampai mencari anak Delima yang sudah diambil ayahnya.


"Boleh kita bicara sebentar!" Radika meminta izin Rere, menanyakan kesediaannya.


Rere mengangguk tapi terlebih dahulu ia bicara pada Rasyid agar tidak menunggunya. Entahlah, Rere merasa aneh dengan dirinya sendiri. Padahal seharusnya ia menghindari Radika. Ia bahkan telah memblokir nomor lelaki itu, tapi saat ia menghampirinya di kampus dan mengajaknya pergi, ia justru mengangguk tanpa berpikir panjang.


Rere yang saat itu tidak membawa mobil pun masuk ke dalam mobil Radika. Ia duduk di bangku penumpang di sisi kemudi sambil memangku Nanda yang tampak sedang menggumamkan kata mama membuat hati Rere serasa teriris pilu. Tak dapat ia bayangkan betapa pedihnya harus ditinggalkan seorang ibu di usia sekecil ini.


Radika membawa Rere dan Nanda ke sebuah restoran fast food yang di dalamnya tersedia arena bermain. Radika sengaja memilih restoran itu agar ia tetap bisa mengobrol sambil mengajak Nanda bermain.


"Re, aku boleh tanya sesuatu?" tanya Radika dengan sorot mata fokus ke arah Nanda.


"Re, kenapa kamu akhir-akhir ini kayak hindarin aku? Apa aku udah berbuat salah sama kamu?" tanya Radika to the point. Ia tak punya cara lain selain bertanya langsung daripada terus menduga-duga.


"Aku nggak hindarin kak Radi kok. Itu perasaan kak Radi aja." jawab Rere asal. Malu dong berkata jujur karena ia cemburu sekaligus patah hati. Begitulah sifat perempuan, berharap laki-laki peka, tapi bila laki-laki itu nggak kunjung paham, malah marah-marah dan merajuk nggak jelas. (Termasuk othor juga. hahaha ... )


"Tapi buktinya kamu sampai blokir nomor kakak. Re, kalau kakak ada salah , kakak mohon maaf. Kalau kakak nggak peka, ya jelasin. Kakak nggak sepeka itu bisa memahami perempuan." tukas Radika menjelaskan.


"Rere hanya sedang menenangkan hati aja kok kak. Takut kembali terhempas setelah merasa dilambungkan setinggi langit." jawab Rere santai.


Tapi tidak bagi Radika, ia justru merasa ini sebuah teka-teki yang harus ia pecahkan. Bahkan sampai ia telah pulang ke rumah pun ia masih memikirkan arti kalimat yang Rere lontarkan.

__ADS_1


...***...


Beberapa hari telah berlalu semenjak Fatur berangkat ke Bali. Tapi lelaki itu tidak pernah lupa untuk menghubungi Aileena. Aileena yang sedang menyusui Fareez tiba-tiba teringat pembicaraannya dengan Fatur sesaat sebelum Fatur berangkat ke Bali.


"Ai, sesudah 40 habis masa nifas kamu, kita nikah yuk!" ajak Fatur dengan wajah penuh harap.


Mendengar ajakan itu, bukannya girang, Aileena justru murung.


"Kenapa kamu murung, Ai-yang? Kamu nggak mau nikah sama, mas?" tanya Fatur pelan dengan sedikit was-was.


Aileena menghela nafas berat lalu menatap tepat di manik mata Fatur.


"Bukannya Ai nggak mau, tapi ... entah mengapa Tante Malika seperti belum menerima Ai sepenuhnya, mas. Mas nggak maksa Tante Malika terima Ai, kan?" tanya Aileena mengharapkan penjelasan dan jawaban dari segala kegelisahannya.


Fatur menggeleng, "Mas nggak pernah maksa kok. Malah dari awal pas Mas cerita tentang kamu, Mama setuju aja. Mama nggak mempermasalahkan status kamu, juga anak yang kamu kandung saat itu." jawab Fatur jujur.


"Tapi Ai merasa ada sesuatu yang membebani Tante Malika, mas. Sebaiknya kita perjelas dulu. Kalau ada suatu yang mengganjal, Ai harap bisa diselesaikan terlebih dahulu biar enak ke depannya. Ai nggak mau setelah kita nikah, masalah itu justru membuat rumah tangga kita jadi kacau. Ai ingin restu itu murni dari keikhlasan hati tanpa membebani. Ai harap, kita bisa menyelesaikan masalah ini terlebih dahulu sebelum melangkah lebih jauh, mas. Karena itu, untuk sementara, Ai belum bisa menjawab ajakan mas untuk menikah. Ai nggak mau rumah tangga Ai kembali hancur untuk kedua kalinya. Ai ingin, pernikahan kedua Ai berlangsung seumur hidup. Mas paham kan maksud Ai kayak gimana?" ujar Aileena menjelaskan duduk perkaranya.


Fatur yang paham kegelisahan Aileena pun hanya bisa mengangguk pasrah. Ia pun sebenarnya merasakan ada yang mamanya sembunyikan dari dirinya. Tapi ia tidak mengetahui apa itu. Sama seperti Aileena, ia pun ingin segera menyelesaikannya agar semuanya jelas dan tak menimbulkan masalah di kemudian hari.


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2