
Hari-hari Aileena dan Fatur makin indah dan bahagia sejak kelahiran putri mereka yang diberi nama Varisha Aurelia. Begitu pula si kecil, Fareezky pun turut bahagia sebab sekarang ia telah memiliki adik sesuai keinginannya. Aileena telah pulang ke rumah mereka sejak 5 hari yang lalu. Hari ini usia Varisha tepat 7hari. Menurut para ulama, hari terbaik untuk melaksanakan aqiqah adalah pada hari ke 7 setelah kelahiran karena itu pada hari ini keluarga besar Fatur telah mempersiapkan acara aqiqah untuk putrinya.
Fatur dan Aileena mengundang cukup banyak tamu, dari sanak keluarga, rekan kerja dan para sahabat, para tetangga, serta anak-anak panti asuhan yang ada di sekitar tempat tinggal mereka.
Acara aqiqah itu dilaksanakan dengan lancar tanpa kendala. Semua keluarga tampak menyambut dengan bahagia kelahiran baby Varisha.
"Selamat ya Ai, mama senang akhirnya kamu bisa menjemput kebahagiaanmu. Selamat juga atas kelahiran putrimu yang cantik. Mama turut berbahagia atasmu. Semoga putrimu jadi anak yang sholehah dan berbakti pada orang tua." ujar Santi yang juga datang di acara aqiqah Varisha.
"Aamiin ... Terima kasih, ma. Terima kasih sudah selalu berada di sisi Aileena dan selalu menyayangi Aileena seperti putri kandung sendiri. Padahal Aileena bukan menantu mama dan papa lagi, tapi kalian tidak berubah. Tetap memperlakukan Aileena dengan baik. Kalian memang orang tua yang luar biasa. Ai merasa sangat beruntung mengenal kalian." tukas Aileena dengan mata berkaca-kaca. Di saat ia telah ditinggalkan sendirian oleh kedua orang tuanya juga putranya, Adnan, tapi kasih sayang Santi dan Andreas tak pernah berubah. Tetap menyayanginya seperti anak kandung mereka sendiri.
"Kamu tidak perlu berterima kasih, sayang. Sebab kamu memang pantas untuk dicintai." pungkas Santi seraya mengusap lelehan air mata di pipi Aileena.
...***...
Oek ... oek ... oek ...
Terdengar suara tangis Varisha dari dalam kamar. Fatur yang tengah memeriksa beberapa pekerjaannya di ruang tamu lantas menghentikan pekerjaannya untuk memeriksa apa yang terjadi pada putri kecilnya itu. Saat masuk ke dalam kamar, Fatur tidak menemukan Aileena di dalam sana. Hanya terdengar suara gemericik air di kamar mandi, mungkin istrinya sedang mandi pikir Fatur.
Fatur pun segera mendekati box bayi Varisha dan memeriksanya, ternyata popok Varisha basah. Jadi Fatur segera merentangkan alas ompol lalu baringkan Varisha di atasnya dan mulai membuka dan mengganti popoknya. Setelah beberapa kali melihat Aileena menggantikan popok, Fatur mulai mempelajarinya karena itu ia telah paham cara menggantikan popok bayi kecilnya itu. Apalagi Varisha tidak memakai diapers, tentu mereka harus lebih sering memeriksa popoknya agar tidak terjadi ruam karena terlalu lama basah.
"Varisha kenapa, mas? Maaf lama, tadi Ai sakit perut , mana gerah juga jadi mandi lagi deh." ujar Aileena seraya tersenyum lembut.
"Oh, nggak papa kok, sayang. Varisha cuma pipis aja. Tapi udah mas gantiin kok. Kamu tenang aja." tukas Fatur seraya menggendong Varisha. "Wah, kayaknya princessnya ayah udah haus lagi ya!" ujar Fatur sambil mendusel-dusel pipi Varisha dengan ujung hidungnya.
"Iya kah? Wah, kayaknya iya deh yah, liat tuh mulutnya lagi cari-cari mik cucu. Uh, princess ayah bunda sini yuk, mik cucu dulu." ujar Aileena seraya menyambut Varisha ke dalam gendongannya. Lalu ia baringkan Varisha di ranjang mereka lalu Aileena pun turut membaringkan diri dan mulai meng'Asihi Varisha.
Fatur yang melihat itu lantas berbaring di balik punggung Aileena sambil menopang kepalanya agar dapat melihat dengan jelas apa yang tengah dilakukan bayi kecilnya itu.
"Ai-yang, kan kalo untuk itu mas harus puasa selama 40 hari dulu, tapi kalo untuk mik cucu kayak Varisha boleh kan?" bisik Fatur di telinga Aileena membuat ibu dua anak itu mendelik tajam.
"Ck ... me-sum." desis Aileena tanpa suara disertai lirikan maut sang istri.
"Yah, jangan pelit-pelit dong sayang! Mas ikutan haus nih! Apalagi disuguhin pemandangan indah seperti ini setiap hari, bikin mas adudududuh ... sakit Ai-yang." pekik Fatur dengan suara tertahan takut membangunkan Varisha yang baru saja hendak memejamkan mata kembali.
"Mas sih, aneh-aneh aja. Emang tega, ini kan jatah Varisha, masa' mau mas gasak juga." Aileena bersungut-sungut geram.
"Ya mau gimana lagi, Ai-yang, kepala mas pusing kalau harus menunggu puasa 40 hari. Minimal kan mas bisa rasain susu cap bunda sebagai gantinya. Masa' mas harus haluin mik cucu sama Ai-yang, sedangkan yang original ada di depan mata." ucap Fatur dengan wajah memelas membuat Aileena tergelak karenanya.
__ADS_1
"Astaga, mungkin ini efek kelamaan membujang dulu kali ya! Jadi sekalinya punya istri, kalau bisa mau digasak setiap hari. Untung aja nggak jadi bujang lapuk kalau nggak beneran lapuk dan karatan tuh menara." ejek Aileena membuat Fatur malu sendiri sembari menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal.
...***...
"Ate Rere ... om Dika ..." pekik Nanda senang saat melihat kedatangan Rere dan Radika. Nanda yang sedang bermain sepeda lantas segera berhenti dan menghampiri Rere dan Radika yang baru datang.
"Halo sayang, apa kabar, hm?" sapa Rere sambil mencium pipi Nanda.
"Nanda baik, Ate. Ate sama dedeknya apa kabar?" tanya Nanda balik sambil melirik perut Rere yang sedikit menyembul.
"Ate sama dedek sehat kok."
"Wah, mentang ada Tante kesayangannya, om jadi dikacangin." Radika pura-pura kesal pada Nanda.
"Idih, om ambekan deh! Udah kayak balita aja pake ngambek." ledek Nanda yang kini sudah semakin pintar bicara.
"Balita? Wah, enak aja om dikatain balita! Nih rasain ... " Radika menggelitik Nanda hingga Nanda tertawa kegelian.
"Om ampun om, ampun. Iya iya, om bukan balita tapi calon papi balita." ujar Nanda dengan nafas terengah-engah.
"Awas ya, kalau ngatain om lagi! Entar om kelitikin lagi." ancam Radika yang langsung mendapat lirikan tajam dari Rere.
"Oma dan Opa tadi lagi ngeteh teh di dekat kolam ikan Ate."
"Kalau begitu, lanjutin mainnya ya, om dan Tante masuk dulu." ujar Radika sambil mengusap kepala Nanda yang diangguki oleh Nanda.
Setelah Radika dan Rere masuk ke dalam rumah, Nanda kembali main sepeda. Tak lama kemudian, masuk sebuah mobil ke pekarangan rumah tepat saat Nanda membelokkan sepedanya membuat sepeda Nanda menabrak sisi samping mobil itu hingga ia terjatuh dari sepeda.
Brakkk ...
"Aduh ... " desis Nanda saat ia terjatuh di bebatuan.
Brak ...
Terdengar suara pintu mobil yang ditutup dengan keras membuat Nanda menjengit kaget.
"Kamu ... apa-apaan, hah? Mau membuat mobil saya lecet! Dasar anak pembawa sial!" bentak Doni membuat Nanda bergetar ketakutan. Lalu ditendangnya sepeda Nanda hingga rusak.
__ADS_1
"Ma-maaf, pa. Nanda nggak sengaja." ucap Nanda seraya meringis kesakitan.
"Papa papa ... aku bukan papa kamu dan aku tidak punya anak seperti kamu." sergahnya dengan wajah berkilat emosi.
"Kak, berhenti!"sergah Radika mencoba menghentikan amarah sang kakak. "Nanda masih kecil kak, jangan kasar. Kasihan dia."
"Kasihan? Untuk apa kasihan pada dia? Gara-gara dia, ibunya mati. Lalu gara-gara dia, Nuri pun pergi. Semua karena kehadiran anak sialan ini, kau tau!"
"Stop, kak! Kakak tak pantas selalu menyalahkannya seperti itu. Bagaimana pun, semua ini ada andil kakak. Mungkin ini karma kakak karena telah menelantarkan anak kakak sendiri jadi kakak harus belajar menerima semuanya dengan ikhlas. Siapa tau, dengan sikap kakak yang melembut padanya, kak Nuri bakal kembali lagi." ujar Radika memberikan nasihat.
"Menerima? Melembut? Cih, jangan harap! Kecuali Nuri kembali lagi ke sisiku, baru aku akan memaafkannya." desis Doni lalu ia segera melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
Radika yang melihat Nanda menangis dalam diam membuatnya ikut terluka. Dilihatnya, kaki dan tangan Nanda tampak lecet. Tanpa banyak kata, Radika segera menggendong Nanda masuk ke dalam kamarnya dan mengobati luka-lukanya.
"Maafin papa, ya sayang!" ujar Radika seraya mengusap kepala Nanda.
Nanda mengangguk dengan kepala tertunduk.
"Jangan simpan dalam hati kata-kata, papa! Papa tuh lagi sedih cariin mama Nuri. Nanti kalau mama Nuri ketemu, papa pasti baik lagi. Papa tu sebenarnya baik lho cuma ya gitu gara-gara mama Nuri pergi, papa jadi suka marah-marah."
"Emang mama Nuri pergi gara-gara Nanda ya, om?" tanya Nanda dengan mata berkaca-kaca.
"Bukan sayang, mama Nuri bukan pergi karena kamu."
"Tapi kata papa ... "
"Ssst ... jangan pikirin omongan, papa. Yang penting sekarang, Nanda doain semoga mama segera ketemu jadi kita bisa kumpul lagi." ujar Radika mencoba menenangkan.
"Om, kenapa mama Nanda ninggalin Nanda sendiri? Kenapa mama cuma ajak adik aja. Nanda pingin ikut sama mama aja biar papa nggak marah-marah lagi. Nanda kasihan liat papa marah-marah terus setiap liat Nanda. Gara-gara Nanda mama meninggal dan gara-gara Nanda mama Nuri pergi. Nanda memang anak pembawa sial." lirih Nanda dengan berlinangan air mata.
Ya, Nanda telah mengetahui kalau Delima telah meninggal dunia bersama adiknya. Membuat hati Radika seakan tercubit mendengarnya. Begitu pula seseorang yang tengah mendengarkan percakapan kedua orang itu.
"Kamu nggak salah, sayang. Kamu nggak salah. Jadi jangan bersedih lagi ya, sayang! Mending Nanda ikut om sama Tante jalan-jalan aja dari pada nangis-nangis gini. Jelek tau!" ledek Radika seraya mengusap air mata Nanda.
"Tapi nanti papa ..."
"Udah, itu urusan om. Sekarang, Nanda ganti baju ya! Kita jalan-jalan terus ke taman bermain." potong Radika lagi seraya membujuk membuat Nanda mengangguk seraya tersenyum.
__ADS_1
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...