Duri Dalam Pernikahan

Duri Dalam Pernikahan
Ch.40 Kasmaran?


__ADS_3

Aileena tampak gelisah dalam tidurnya. Ia bahkan sampai guling ke kanan dan ke kiri karena rasa resah yang tak kunjung terobati. Sebenarnya masalahnya hanya satu, itu akibat rasa lapar yang tiba-tiba saja menderanya. Tapi yang menyulitkannya adalah ia ingin makan ayam goreng crispy yang namanya sudah mendunia langsung di tempatnya.


Aileena memandangi pergerakan jarum jam seraya meringis. Ia terus mengusap perut buncitnya seraya menggumamkan kata maaf pada buah hatinya karena merasa bersalah tidak bisa mewujudkan entah itu sebenarnya inginnya atau buah hatinya. Ia sendiri merasa bingung.


Jarum jam sudah menunjukkan pukul 1 dini hari, tidak mungkin bukan ia keluar selarut ini hanya untuk makan ayam goreng crispy di luar sana. Perut Aileena makin perih , jadi ia mencoba memakan apa saja yang tersedia di dapurnya. Ia membuka kulkas dan melihat ada beberapa potong buah melon dan kue mooncake. Lalu ia mengambil dan memakannya. Namun, baru beberapa gigitan ia memakannya, Aileena kembali meletakkan kedua makanan itu ke dalam piring. Aileena merebahkan dahinya di atas meja makan.


"Astaga dek, nggak bisa makanan lain aja apa? Masa' bunda harus keluar tengah malam gini sih, nak!" desah Aileena frustasi.


Seandainya ia memiliki suami, mungkin saat-saat seperti ini akan terasa begitu istimewa. Aileena membayangkan ia kelaparan saat tengah malam. Lalu ia meminta suaminya mencarikan makanan sesuai keinginannya, kemudian suaminya itu melakukannya dengan senang hati. Baru membayangkannya saja hati Aileena menghangat. Tapi semuanya hanyalah sebatas angan. Hal tersebut tidak mungkin ia lakukan. Ia harus sadar, dirinya hanyalah seorang janda. Ia tidak memiliki suami. Tiba-tiba saja rasa iri muncul di benaknya. Ia membayangkan bagaimana Delima pasti begitu diistimewakan oleh Adnan. Segala keinginannya pasti akan diwujudkan oleh mantan suaminya itu. Seandainya ia memiliki tempat bergantung, mungkin ia takkan merasa terpuruk sendiri.


Sungguh, menjalani masa-masa kehamilan dalam kesendirian itu tidak mudah. Ia harus menekan rasa ingin karena takut merepotkan orang lain. Bahkan kadang ia menahan rasa sakit sendirian karena tak ada tempat mengadu. Walaupun ia dikelilingi orang-orang baik, Aileena bukanlah tipe wanita yang mudah merepotkan orang lain. Selagi ia masih bisa berusaha sendiri, maka ia akan melakukannya sendiri.


Aileena menghela nafas berat, andai ini di siang hari, mungkin ia akan pergi sendiri mengendarai mobilnya menuju ke kedai ayam goreng crispy itu. Tapi ingat, sekarang sudah dini hari, tidak mungkin bukan ia mengendarai mobil seorang diri kesana. Apalagi jarak kesana cukup jauh.


Aileena membuka aplikasi perpesanannya sekedar untuk menghibur diri sekaligus mengulur waktu agar malam cepat berganti pagi.


Saat sibuk melihat-lihat update status, di layar ponselnya muncul sebuah panggilan dari nomor yang memang selalu memperhatikannya. Aileena pun segera mengangkat panggilan itu.


"Assalamualaikum." sapa Aileena.


"Wa'alaikum salam, Ai. Kok kamu belum tidur? Ini kan sudah larut. Ingat, kamu itu sedang hamil Ai, jadi nggak boleh kurang istirahat apalagi sampai tidur larut." cecar Fatur. Dapat Aileena dengar di seberang sana Fatur menghela nafas panjang, menunjukkan sisi kekhawatirannya.


Aileena mengulas senyum. Ia merasa senang diperhatikan seperti ini. Bahkan ia sampai meneteskan air matanya.


'Apakah mas Fatur beneran mencintaiku? Tapi apakah aku pantas menjadi pendampingnya? Entah mengapa, aku merasa insecure dengan keadaanku.'


"Maaf." hanya satu kata itu yang dapat Aileena ucapkan. Fatur yang mendengar permintaan maaf itu justru merutuki kebodohannya karena telah mencecar Aileena tanpa bertanya alasannya mengapa belum tidur padahal hari sudah begitu larut.


"Kenapa minta maaf, hm? Ai-yang nggak salah apa-apa kok dengan Mas . Justru seharusnya Mas yang meminta maaf karena sudah terlalu berlebihan. Maafin mas, ya!" ujar Fatur lembut.


Aileena justru menggelengkan kepalanya, padahal Fatur tidak mungkin melihatnya.


"Mas nggak perlu minta maaf kok. Emang Ai yang salah." sahut Aileena. "Sebenarnya Ai tadi udah tidur kok Mas, tapi tiba-tiba perut Ai lapar. Tapi Ai pinginnya makan ayam goreng crispy langsung di tempatnya, Ai kan bingung harus gimana? Nggak mungkin kan Ai nyetir malam-malam gini . Mau minta temenin mbok Ningsih juga kasihan ngerepotinnya malam-malam gini. Ai coba makan yang lain tapi nggak napsu." cicit Aileena seraya menghela nafas panjang.


Tak disangka, Fatur yang mendengar keluh kesah Aileena lantas terkekeh. Ia tau, itu pasti efek kehamilan Aileena yang membuatnya mudah terserang rasa lapar. Tak peduli pagi, siang, sore, bahkan malam, bila rasa lapar mendera, diiringi keinginan menyantap makanan tertentu membuatnya harus segera diwujudkan.

__ADS_1


"Oalah, ternyata Ai-yang, calon istri mas yang cantik, baik hati, rajin menabung, dan tidak sombong ini sedang pingin makan ayam goreng si jagonya ayam itu toh? Kenapa nggak telepon Mas aja? Mas akan dengan senang hati temenin kamu kesana." ujar Fatur dengan nada jahil.


Aileena mencebikkan bibirnya, "Kan nggak mau ngerepotin, Mas Fatur."


"Tapi Mas malah seneng lho direpotin sama Ai-yang'nya Mas ini. Mas justru merasa bahagia sebab merasa dibutuhkan kamu. Kalau begitu, Mas kesana ya jemput kamu!" tawar Fatur membuat Aileena membulatkan matanya.


"Duh, Mas, nggak usah! Udah larut gini, kamu kan mau istirahat, Mas. Nanti kamu kurang tidur terus sakit gimana?"


"Mas nggak apa-apa kok Ai-yangku ..." ujar Fatur seraya menekan kata Ai-yangku membuat jantung Aileena tiba-tiba berdebar. "Kalau begitu, mas berangkat ke sana ya! Mungkin butuh sekitar 20 menit jadi kamu siap-siap aja ya Ai-yang'nya Mas." ujar Fatur sebelum menutup sambungan teleponnya.


...***...


Pagi ini Aileena tampak tersenyum sendiri sambil duduk di ayunan taman belakang. Kadar perhatian Fatur yang kian intense ternyata mampu membuat kinerja jantungnya tidak stabil. Ia bagai anak ABG yang sedang dilanda kasmaran. Padahal Fatur bukan tipe pria pandai menggombal, bahkan gombalannya terkesan receh, tapi ternyata itu mampu membuat Aileena tersipu sekaligus terhibur. Perempuan mana sih yang nggak suka dilimpahi perhatian? Belum lagi masa kehamilan bukankah sering membuat seorang wanita jadi haus kasih sayang dan perhatian.


"Cie, kayaknya ada yang lagi kasmaran nih!" goda mbok Ningsih.


"Is, si mbok, apa-apaan sih! Siapa yang lagi kasmaran." kilah Aileena padahal wajahnya sudah bersemu merah.


"Udah deh, non, nggak usah bohong sama mbok, mbok ini lebih pengalaman lho dari non Aileena. Jadi mbok bisa liat kalau non itu sedang kasmaran." tukas Mbok Ningsih sok tau.


"Beneran deh non, mbok ini dulu kembang desa lho." ujar Mbok Ningsih bangga membuat Aileena terkekeh geli.


"Mbok udah kayak cenayang aja."


"Nggak perlu jadi cenayang non buat liat seseorang itu sedang kasmaran atau nggak."


"Emang keliatan banget ya, mbok?" tanya Aileena penasaran.


"Tuh kan, akhirnya ngaku, cie ... mbok seneng deh kalau non mau buka hati kayak gini." ujar mbok Ningsih tulus ikut berbahagia.


"Tapi apa Ai pantas mbok? Mbok kan tau, Ai ini bukan hanya janda, tapi sedang hamil anak mantan suami Ai." lirih Aileena. Awan mendung tampak jelas di wajahnya.


"Non, semua orang itu pantas bahagia dan memiliki pendamping, terlepas dari status orang itu, lha den Fatur nya aja nerimo, kenapa non malah riweh gitu." ujar Mbok Ningsih bersungut-sungut.


Mata Aileena melotot saat mbok Ningsih menyebutkan nama Fatur secara gamblang.

__ADS_1


"Mbok, kan Ai nggak nyebutin nama cowoknya, kok mbok bisa nebak itu Mas Fatur sih?" tanya Aileena yang sudah benar-benar penasaran. "Jangan-jangan mbok ini emang cenayang?" imbuhnya lagi.


"Cenayang dari Hongkong." ujar Mbok Ningsih seraya terkekeh geli. "Lha wong keliatan jelas di wajah non Aileena kok kalau non itu udah ada hati sama den Fatur." ujar Mbok Ningsih sok tau.


"Hah! Iya kah?" seru Aileena tak percaya. "Duh, Aileena jadi malu! Ah si mbok sih, seneng bener godain Ai mulu. Awas ya mbok kalau mbok bilang-bilang ini ke mas Fatur, ntar Aileena ngambek lho." ujar Aileena seraya menangkupkan kedua tangannya di pipi. Wajahnya sudah memerah membuat mbok Ningsih tergelak.


"Jatuh cinta berjuta rasanya


Biar siang, biar malam, terbayang wajahnya


Jatuh cinta berjuta indahnya


Biar hitam, biar putih, manislah nampaknya


Dia jauh, aku cemas tapi hati rindu


Dia dekat, aku senang tapi salah tingkah


Dia aktif, aku pura-pura jual mahal


Dia diam, aku cari perhatian, woo, repotnya"


Melihat wajah tersipu Aileena, membuat mbok Ningsih malah berdendang ria sambil berjoged-joged membuat Aileena tergelak melihatnya.


Saat mbok Ningsih dan Aileena sedang asyik-asyiknya bernyanyi, tiba-tiba terdengar suara bell rumah berbunyi. Mbok Ningsih pun bergegas membuka pintu untuk melihat siapa yang datang.


"Assalamu'alaikum, bisa bertemu Aileena?" ucap seseorang membuat Mbok Ningsih mengerutkan keningnya.


"Anda siapa? Dan ada keperluan apa menemui majikan saya?" tanya mbok Ningsih penasaran.


"Aileena ...." seru seseorang itu saat melihat orang yang dicarinya sedang berjalan ke arahnya.


"Mas Adnan ..." seru Aileena terkejut. "Ba - bagaimana Mas tau aku di sini?" tanya Aileena gugup. Bahkan tubuhnya sudah berkeringat dingin. Ia was-was, Adnan kembali mengamuk seperti tempo hari.


...***...

__ADS_1


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2