
Seminggu telah berlalu semenjak hari kedatangan kedua orang tua Fatur. Entah mengapa, semenjak hari itu Aileena sering memimpikan kedua orang tuanya. Seperti malam ini, Aileena bangun dengan terengah-engah dan sekujur tubuh yang dibanjiri keringat. Aileena bingung, pertanda apakah itu. Di dalam mimpi itu, tampak kedua orang tuanya memandang sendu dirinya. Seperti ada sesuatu yang hendak disampaikan. Tapi Aileena tak tahu apa itu. Lalu Aileena ingat, seminggu setelah ibunya meninggal, Aileena menemukan dua pucuk surat yang ditinggalkan ibunya dan belum sempat ia baca.
Aileena pun bergegas mencari surat yang hampir ia lupakan itu. Ia pikir, mimpinya itu pasti ada hubungannya dengan isi surat yang ibunya tinggalkan itu.
Beruntung Aileena meletakkan surat itu di tempat berkas-berkas penting miliknya jadi ia tidak terlalu kesusahan mencarinya. Diperhatikannya kedua surat itu, yang satu tertulis nama untuk putriku tersayang, Aileena. Sedangkan yang satunya tertulis untuk sahabatku tersayang, Ika.
Dengan tangan bergetar, Aileena menyobek amplop surat yang ditujukan untuknya itu. Entah mengapa, tiba-tiba saja jantungnya berdegup kencang. Padahal ia belum membuka lipatan surat itu sama sekali. Namun perlahan, ia pun membuka lipatan surat itu dan mulai membacanya.
Assalamu'alaikum wr.wb
Teruntuk putriku yang tersayang,
Sayang, mungkin dengan dibacanya surat ini olehmu pertanda kalau ibu sudah tidak ada lagi di dunia ini. Harus kamu tau sayang, ibu dan bapak sangat menyayangi kamu. Kamu adalah buah cinta ibu dan bapak. Dalam setiap sujud kami, tak lepas doa kami panjatkan agar kamu bisa berbahagia kelak bersama keluarga kecilmu. Ibu dan bapak berharap, suamimu mampu menjadi imam yang baik yang bisa membimbingmu ke jalan yang lebih baik, jalan yang diridhai Tuhan. Ibu dan bapak selalu mengharapkan yang terbaik untukmu.
Oh ya sayang, ibu menyertakan satu surat lagi. Di sana tertulis nama sahabat ibu, Ika. Itu adalah nama panggilan sahabat ibu. Ibu banyak berhutang penjelasan padanya. Ibu tidak mengharapkan kamu mencarinya, tapi entah kenapa ibu yakin suatu hari nanti kamu akan bertemu dengannya. Bila saat itu tiba, ibu mohon berikan surat itu.
Sayang, melalui surat ini juga mama ingin menceritakan sedikit cerita mengenai perjalanan cinta ibu dan bapak yang rumit dan sedikit berliku yang mengakibatkan kesalahpahaman antara ibu, bapak, dan teman ibu, Ika. Dengan itu, ibu harap, bila suatu hari kamu bertemu dengannya, kamu bisa meluruskan segala permasalahan yang ada.
Sayang, sebenarnya dulu ibu adalah anak sopir keluarga Ika, sedangkan bapak adalah .....
.
.
.
.
.
__ADS_1
.
Begitulah kisah kami, sayang. Ibu yakin, Ika pasti sangat membenci kami. Tapi sungguh, itu bukan kehendak ibu dan bapak. Kami terpaksa melakukannya. Syukur-syukur, dalam perjalanan kami, akhirnya ibu dan bapak bisa saling mencintai walaupun butuh proses yang cukup panjang.
Sekian surat dari ibu ya sayang. Semoga kamu bisa jadi jembatan penghubung persahabatan ibu dan sahabat ibu yang sempat terputus. Tapi jangan jadikan ini sebagai beban bagimu, sayang. Selamat tinggal, sayang. Ibu menyayangimu.
Wassalamu'alaikum wb.wb.
Setelah membaca surat itu, air mata Aileena jatuh tak terkira. Perasaan sedih menggerogoti jiwanya. Ia tak menyangka bahwa kisah cinta ibu dan ayahnya begitu rumit dan berliku. Ia kira kisah cinta orang tuanya pastilah sangat indah. Terlihat dari bagaimana interaksi mereka berdua. Kasih sayang, perhatian, kepedulian, saling memahami, saling jujur dan setia menjadi pedoman mereka dalam membina rumah tangga. Tapi ternyata kisah mereka tak lebih menyedihkan dari kisahnya. Hanya saja bila kisah cintanya yang awalnya saling mencinta dan berakhir dengan pengkhianatan lalu berpisah, maka kisah orang tuanya justru berakhir saling mencinta hingga maut memisahkan.
"Bu, Aileena janji, bila Aileena berjumpa dengan sahabat ibu, Aileena akan menyerahkan surat ini. Semoga sahabat ibu itu bisa mengerti dan mengikhlaskan semua yang terjadi. Apalagi semua ini terjadi bukan karena kehendak kalian tapi takdirlah yang menginginkan kalian bersama." gumam Aileena seraya menatap surat yang masih tersimpan rapi dalam amplopnya.
...***...
Hari ini Rere ada jadwal kuliah. Makin hari Rere dan Rasyid makin dekat. Tak jarang Rasyid sengaja menemui Rere di kelasnya untuk mengajak makan siang atau menawarkan mengantarkan pulang tapi karena Rere membawa mobil sendiri, Rasyid hanya bisa mengiringi dari belakang seperti seorang bodyguard yang mengawal bosnya.
"Re, loe pacaran ya sama Rasyid?" tanya Safira si ratu kepo. Ia yang duduk di bangku paling belakang, rela menjelajah ke depan hanya untuk mendapatkan informasi yang akurat.
"Ck ... bisa nggak loe jangan panggil gue Safi, entar yang lain dengar pikir mereka panggilan gue itu sapi." Safira kesal hingga merengek terhadap Rere yang sangat suka memanggilnya Safi.
"Ya, anggap aja itu nama panggilan sayang gue ke elo, Sapi." Rere makin meledek Safira sambil terkekeh geli melihat raut wajah Safira yang cemberut.
"Ish, elo ya! Gue sebarin gosip loe pacaran sama Rasyid, tau rasa?" ancam Safira.
"Emang masalah? Nggak tuh. Malah mereka akan bertepuk tangan secara kan Rasyid itu ganteng dan belum ada yang berhasil gebet dia sebagai pacar."
"Nah, loe, jangan-jangan loe emang suka sama si Rasyid ya? Terus si pak dokter incaran loe itu gimana?" timpal Oci yang kini ikut nimbrung.
"Woy, datang-datang bukannya salam malah nyeletuk aje!" cetus Rere untuk menghindari pembahasan mengenai Radika.
__ADS_1
"Yaelah, takut bener pak dokternya dibahas? Atau jangan-jangan layu sebelum berkembang nih!" goda Oci.
"Oci, udah deh! Tuh, dosen Killer Bee udah datang, entar kena semprot tau rasa lho!" sergah Rere saat melihat dosen killer yang paling mereka takuti telah masuk ke ruang kelas. Mereka menjuluki dosen itu Killer Bee sebab tubuhnya besar seperti tokoh anime Naruto.
Jam perkuliahan telah selesai, seperti kebiasaan beberapa waktu ini, Rasyid kembali datang ke ruang kelas Rere untuk mengajaknya pulang bersama.
"Ssst ... ssst ... tuh, cowok loe datang!" ujar Safira menggoda Rere.
"Sapi ... Loe tuh ya pingin diulek sama cabe setan apa, hah! Mulut loe lemes amat." pekik Rere geram.
"Rere, gue bukan sapi." pekik Safira tak kalah geram membuat Oci terkekeh melihat dua sahabat itu.
"Re, loe nggak bawa mobil ya?" tanya Rasyid seraya menatap wajah Rere. Dia bahkan sudah duduk di atas meja Rere.
"Nggak sopan banget sih duduk di atas meja!" protes Rere yang ditanggapi Rasyid dengan ucapan maaf, tapi ia tak mau beranjak dari sana. "Eh, btw kok loe tau gue nggak bawa mobil?" tanya Rere bingung.
"Tadi gue abis ke parkiran terus nggak liat mobil loe di tempat biasa. Jadi hari ini loe mau kan gue anterin pulang."
"Hmm ... pantesan. Mobil gue mau diservis dulu jadi nggak bawa. Tadi sih nebeng sama papa perginya. " ujar Rere memberitahu. "Boleh deh! Asal nggak ngerepotin aja." imbuhnya lagi.
"Whoaa ... buat kamu nggak ada kata ngerepotin. Justru seneng." sahutnya enteng. "Yuk." ajaknya.
Lalu Rere pun berpamitan dengan Oci dan Safira yang belum mau pulang karena masih ada keperluan.
Kini Rere dan Rasyid sedang berjalan menuju ke tempat parkir sambil berbincang. Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang menatap tak suka dengan kedekatan kedua orang itu. Lalu dengan langkah lebarnya ia mendekati Rere dan meraih tangannya membuat langkah Rere terhenti seketika.
"Re ..." panggilnya membuat Rere membelalakkan matanya saat melihat siapa yang menarik tangannya tersebut.
...***...
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...