Duri Dalam Pernikahan

Duri Dalam Pernikahan
Ch.70 Masa Lalu


__ADS_3

Tepat pukul 9 malam, mobil yang dikendarai Rama akhirnya masuk ke dalam pekarangan rumah keluarganya, bertepatan dengan Fiora yang juga ingin pulang. Fiora langsung tersenyum lebar dan segera beranjak ingin menyambut Fatur.


"Fatur, kamu baru pulang?" sambut Fiora dengan senyum lebarnya. Bahkan ia setengah berlari mendekati Fatur dan langsung melingkarkan tangannya di lengan Fatur membuat Fatur jengah, begitu pula Rama yang langsung memutar bola matanya.


"Nggak usah pegang-pegang kenapa sih!" sergah Fatur sambil berusaha melepaskan tangannya dari tangan Fiora. Namun Fiora justru makin mengeratkan rangkulannya membuat Fatur terpaksa membentaknya. "Mau lepasin baik-baik atau aku paksa!" bentaknya. Malika yang ada di teras hanya bisa geleng-geleng kepala tanpa berkata apa-apa untuk melerainya.


Fiora tersentak seketika dengan jantung berdegup kencang. Bukan karena merasa jatuh cinta, tapi terkejut bercampur takut.


"I-iya, nih dilepasin! Nggak perlu bentak juga sih, Tur! Cuma rangkul doang aja nggak boleh kayak gue barang najis aja." rutuk Fiora tak terima dibentak apalagi tadi masih ada Malika yang memperhatikan mereka.


"Sikap loe tu yang najis. Kayak nggak punya harga diri aja. Main gandeng tanpa izin. Diminta lepas baik-baik malah ngelunjak." ucap Fatur seraya melangkahkan kakinya menuju ke rumah.


"Tapi nggak gitu juga. Loe makin kasar aja. Jangan-jangan itu pengaruh gebetan loe yang jendes itu! Namanya juga janda, pasti sifatnya Fiora mendelik kesal. Wajahnya merah padam karena merasa terhina oleh kata-kata Fatur.


Fatur menggeram kesal saat nama Aileena disebut-sebut. Apalagi Fiora dengan seenaknya menghina Aileena secara tidak langsung. Ia pun lantas menoleh dan menatap tajam Fiora. Fiora menelan ludahnya kasar saat melihat tatapan tajam itu. Ia mengutuk dirinya sendiri mengapa susah sekali mengontrol lidahnya agar tidak sembarangan berucap yang akhirnya akan merugikan dirinya sendiri.


"Ma-maaf, Tur, aku - aku ... "


"Tutup mulut sampah loe itu, Fi!" potong Fatur dengan suara datar dan dinginnya. Tapi itu cukup menggambarkan betapa ia emosi saat ini. "Gue nggak nyangka, setelah sekian tahun kita berpisah, mulut dan otak loe makin kotor seperti sampah. Asal loe tau, wanita gue bukanlah seperti diri loe. Bahkan ia tidak pernah berkata kasar dan membicarakan orang semaunya. Dan kau ... tidak ada apa-apanya dibandingkan dia." imbuh Fatur sambil mengapitkan kedua jari telunjuk dan jempolnya di depan wajah Fiora. "Oh ya, seharusnya loe ngaca, siapa yang berubah sekarang? Gue bersyukur banget nggak pernah punya hati sama perempuan kayak loe. Jangan pernah temui gue lagi kalau sikap loe masih menyebalkan seperti ini!" tegas Fatur lalu ia segera membalik badannya hendak masuk ke dalam rumah yang bersamaan dengan Rama keluar dari meletakkan tas bawaan Fatur ke dalam kamarnya.


"Gue balik dulu, bos." pamit Rama.


"Hati-hati, Ram. Besok nggak usah jemput. Gue berangkat sendiri." ucap Fatur saat berpapasan dengan Rama.

__ADS_1


Fiora yang kesal setengah mati karena diancam seperti itu langsung masuk ke dalam mobil dan membanting pintunya keras.


Sebelum masuk ke dalam mobilnya, Rama menghampiri Fiora dan mengetuk kaca mobilnya.


"Apa?" bentak Fiora saat kacanya telah ia turunkan.


"Fi, gue ingetin loe ya, loe dulu yang bersikap baik aja, Fatur nggak suka. Tapi ya ... Fatur masih anggap loe temen dan sekarang sifat loe kayak gini, loe pikir Fatur bakal jatuh hati sama loe? Loe yang sikapnya baik aja dia ogah jadiin loe pacarnya, apalagi sifat loe kayak gini. Yang ada dia malah benci." ucap Rama mengingatkan Fiora. Setelah mengucapkan itu, ia pun bergegas pergi meninggalkan rumah Fatur.


Keesokan harinya,


"Kamu nggak kerja, Tur?" tanya Malika saat melihat Fatur turun dari tangga saat jam sudah menunjukkan hampir pukul 10.


"Bentar lagi, ma. Ada yang mau Fatur bahas sama mama." ucapnya saat telah duduk di salah satu sofa single.


"Mengenai sikap mama akhir-akhir ini yang menurut Fatur agak aneh terutama saat melihat Aileena." ucap Fatur. Ia memperhatikan ekspresi Malika yang memang langsung berubah saat ia menyebut nama Aileena.


"Aneh gimana? Mama biasa aja kok. Emang sikap mama ke Aileena gimana sih? Dia bilang apa sampai kamu mikir kayak gitu." kilah Malika yang belum mau mengungkapkan rahasianya.


"Ai nggak ngomong apa-apa kok. Tapi memang, dia menunda menerima ajakan Fatur menikah sampai Fatur benar-benar mengantongi restu mama dan papa 100%."


"Mama dan papa kan udah merestui, jadi apalagi masalahnya?" Malika mendelik kesal mendengar penuturan Fatur seolah-olah ia tidak merestui pernikahan anaknya itu.


"Iya, mama dan papa memang merestui, tapi Fatur merasa mama belum benar-benar menerima 100%. Seperti ada sesuatu yang mengganjal dari sikap mama ke Aileena. Fatur nggak bodoh ma, Fatur bisa merasakan kalau mama seakan enggan bahkan hanya menatap wajah Aileena. Mama nggak suka sama Aileena?" terka Fatur.

__ADS_1


"Jangan berasumsi sembarangan, Tur! Itu perasaan kamu aja." kilah Malika.


"Ma, kalau ada yang mengganggu pikiran mama, tolong ceritain! Ma, yang suka menjadi duri dalam pernikahan itu bukan hanya hadirnya orang ketiga, tapi sikap orang tua. Dan aku nggak mau, di kemudian hari, terjadi keretakan di rumah tanggaku karena sesuatu yang disembunyikan orang tuaku. Fatur ingin menikah sekali seumur hidup, ma. Fatur nggak mau apa yang mengganjal di hati mama jadi bumerang bagi keluarga kecil Fatur di kemudian hari." ucap Fatur sungguh-sungguh membuat jantung Malika seolah hantam palu seketika.


Perasaan Malika gamang. Ia bimbang harus menceritakan masa lalu menyakitkannya itu pada Fatur atau tidak. Tapi seperti kata Fatur, bisa saja masalah yang dipendamnya ini menjadi duri dalam pernikahan anaknya kelak. Ia tidak mau rahasia menyakitkannya jadi bumerang bagi pernikahan Fatur.


Setelah menimbang beberapa saat, Malika pun menguatkan tekad untuk menceritakan alasan ia bersikap seperti belum bisa menerima Aileena sepenuhnya. Malika menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. Ditatapnya lekat mata putra tunggalnya itu.


"Fatur, setelah mama cerita rahasia masa lalu mama ini, mama harap kamu menentukan sikap sebaik mungkin. Mama tidak akan memaksamu harus melakukan apa. Bila kau ingin tetap melanjutkan pernikahanmu, mama terima. Kalau tidak , ya mau bagaimana lagi. Yang penting, kau sampaikan dengan baik-baik agar tidak menyakitinya. Bagaimana pun, itu bukan salahnya. Tapi ... setiap mama melihat wajahnya, rasa sakit itu kembali muncul. Karena itu mama seperti enggan melihat wajahnya." ucap Malika mengawali cerita.


Fatur mengerutkan keningnya , merasa makin penasaran dengan apa yang akan disampaikan ibunya itu.


"Nak, dulu, sebelum menikah dengan papa sebenarnya mama sudah menjalin hubungan dengan seseorang yang sangat cintai, namanya Irfan Saputra. Dia berasal dari keluarga biasa. Ayahnya bekerja di kantor kakek. Mama pikir, dia benar-benar mencintai mama sampai akhirnya kami memutuskan menikah. Karena terlalu mencintai Irfan, bahkan mama sampai menolak perasaan papamu hingga berkali-kali. Tapi ternyata cintanya itu palsu. Tepat di hari pernikahan, Irfan tidak datang. Hingga akhirnya kakek meminta papa menikahi mama. Kebetulan papa adalah anak dari rekan bisnis papa. Akhirnya hari yang seharusnya mama menikah dengan Irfan, malah jadi pernikahan mama dengan papa." Malika menarik nafas kembali untuk mengurai sesak di dadanya.


Bertahun-tahun sudah Malika berusaha melupakan kenangan pahit itu, nyatanya saat melihat wajah Aileena, kenangan pahit itu bangkit kembali. Tidak mudah untuk mengontrol perasaan saat berhadapan dengan orang yang wajahnya justru mengingatkan dengan kenangan pahit. Tapi Malika mencoba menelan pahit itu sendiri. Berhubung Fatur telah menyadari sikapnya yang aneh pada Aileena, lebih baik ia ungkapkan saja dari pada seperti kata putranya tadi, bisa saja masa lalunya ini menjadi duri dalam pernikahannya di kemudian hari.


"Saat itu, mama masih berpikir positif pada Irfan. Mama pikir mungkin telah terjadi sesuatu pada dirinya atau orang tuanya. Tapi fakta mengejutkan membuat mama benar-benar terluka. Saat mama sedang sibuk memikirkan apa gerangan yang terjadi sehingga Irfan dan keluarganya tidak datang satupun ke acara pernikahan kami, tiba-tiba kakek dan nenek masuk ke kamar. Lalu mereka menunjukkan foto-foto pernikahan antara Irfan dengan Anne. Anak sopir yang sudah mama anggap sebagai sahabat mama sendiri. Ternyata mereka berdua diam-diam mengkhianati mama. Mama kecewa dan sakit hati. Mulai hari itu, mama membenci mereka berdua. Mama tidak menyangka, mereka bisa sejahat itu pada mama padahal mama begitu menyayangi dan mempercayai mereka. Beruntung saat itu ada papa yang begitu mencintai mama. Papa selalu berusaha menghibur mama. Mama pikir, mama takkan mungkin lagi jatuh cinta. Tapi perlahan-lahan, akhirnya papa berhasil membuat mama jatuh cinta lagi. Papa berusaha mengisi kekosongan di hati mama dengan cinta dan perhatiannya. Mungkin bila tidak ada papa, entah apa jadinya." Air mata Malika jatuh bercucuran membasahi pipi.


Fatur yang tak pernah melihat mamanya menangis pun merasa bersalah karena membuat Malika kembali mengingat kenangan pahitnya. Dipeluknya erat Malika yang masih tergugu dalam tangisnya. Tanpa sadar, Fatur pun ikut menitikan air mata melihat betapa rapuhnya ibunya saat ini.


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2