Duri Dalam Pernikahan

Duri Dalam Pernikahan
Ch.49 Rasanya ... nano nano


__ADS_3

Sore itu, Rere baru saja keluar dari salah satu ruang perawatan di sebuah rumah sakit. Ia baru saja mengantarkan korban kecelakaan bermotor yang kebetulan ia lihat saat sepulangnya dari kuliah. Karena saat itu ia membawa mobil, jadi ia menawarkan diri mengantarkan orang itu menuju rumah sakit sebab dapat ia lihat korban banyak mengalami pendarahan.


Saat berjalan melintasi koridor rumah sakit menuju basemen rumah sakit, ponselnya yang berada di dalam tas berdering. Baru saja ia hendak membuka tasnya untuk mengambil ponsel itu, tiba-tiba ia merasakan menabrak sesuatu yang keras dan padat hingga ia terhuyung ke belakang dan terduduk di lantai.


"Awww ..." Rere meringis membersihkan telapak tangan yang berciuman dengan lantai.


"Ah, maafkan saya! Kamu nggak papa?" tanya seseorang itu membuat Rere terkejut karena merasa familiar dengan suara yang didengarnya itu.


Lantas Rere pun mendongakkan wajahnya menatap pria yang mengenakan pakaian serba putih itu. Rere sontak saja terkejut, begitu pula pria itu .


"Kak Radika?"


"Rere?"


Seru keduanya bersamaan karena terkejut.


Namun, mata Radika memicing saat melihat pakaian Rere yang terkena noda darah. Lalu Radika membantu Rere berdiri dengan alis bertaut.


"Kamu nggak papa?" tanya Radika panik.


Rere tersenyum manis lalu menggeleng dengan tangan sibuk membersihkan celana bagian belakangnya yang pasti kotor karena bersentuhan dengan lantai.


"Rere nggak papa kok kak." sahutnya malu-malu seraya tersenyum manis.


"Itu baju kamu ..." tunjuk Radika pada kemeja Rere yang terkena noda darah.


"Oh ini, ini tadi terkena darah korban kecelakaan, Kak. Rere bantuin antar ke sini. Karena keluarganya udah datang, Rere pamit deh." ujar Rere masih dengan wajah tersenyum manis. Ia tidak bisa berhenti tersenyum saat melihat Radika. Entah mengapa, jantungnya selalu saja berdegup kencang bila bertatapan mata dengan Radika. Tangannya meraih anak rambutnya yang menjuntai ke samping dan menyisihkannya ke balik telinga seraya tersenyum malu-malu dengan wajah menunduk.

__ADS_1


"Kamu nabrak orang?"


"Nggak kok kak." sahutnya sambil mengibaskan kedua tangannya di depan wajah. "Rere murni nolong. Tadi pas banget Rere lewatin tempat korban itu terkapar. Rere kasian soalnya darahnya banyak banget takutnya telat sedikit aja nyawa orang itu melayang jadi Rere nawarin diri anterin ke rumah sakit deh." ujar Rere menjelaskan membuat Radika bernafas dengan lega. Lalu Rere kembali menundukkan wajahnya karena merasa grogi ditatap Radika.


"Nunduk terus, emang nggak sakit leher! Nyari apaan sih di bawah? Duit receh?" goda Radika sambil terkekeh membuat wajah Rere kian merona. "Mau mampir ke ruangan kakak?" tawar Radika.


"Emm ... boleh?" tanya Rere dan Radika mengangguk seraya tersenyum. Ia mengangkat tangan kanannya mengacak rambut Rere gemas membuat Rere mencebikkan bibirnya.


"Ih kak Radi, berantakan nih rambut Rere." ujarnya sambil merapikan rambutnya dengan jari-jarinya.


Radika hanya terkekeh mendengar omelan Rere lalu ia mengajak Rere ke ruangannya yang tak jauh dari tempatnya bertabrakan tadi.


"Kamu mau ganti baju nggak? Baju kamu kotor itu. Kalau mau, kakak ada sweater. Emang sih agak kebesaran tapi dari pada kamu pakai kemeja itu." ujar Radika menawarkan sweater miliknya pada Rere.


"Nggak papa nih kak?" tanya Rere meyakinkan.


"Ya udah kalau boleh " ujarnya sambil menyengir lebar membuat gigi ginsulnya terlihat jelas dan membuat kadar kecantikan Rere makin terlihat. "Makasih kak. Rere pinjam dulu ya!" imbuhnya lagi saat tangannya menerima sweater yang disodorkan oleh Radika.


Radika pun lantas tersenyum lalu ia menunjukkan kamar mandi untuk Rere berganti pakaian.


Rere pun keluar dari kamar mandi dengan menggunakan sweater berwarna biru muda milik Radika. Radika membulatkan matanya saat melihat Rere yang justru terlihat makin manis saat memakai sweater kebesaran miliknya. Sweater itu terlihat lebih panjang di tubuh mungil Rere sebab tinggi Rere hanya sebatas pundak Radika. Lalu Rere duduk di sofa panjang di ruangan itu.


Radika mengambil 2 kaleng minuman bersoda dari dalam kulkas mini miliknya dan menyodorkannya pada Rere. Rere menerimanya lalu meminumnya perlahan untuk menetralisir rasa gugupnya karena berada satu ruangan bersama Radika.


Sungguh, saat ini Rere merasakan tubuhnya panas dingin secara bersamaan. Rere berusaha untuk biasa saja, namun saat menatap betapa tampannya wajah Radika, wajahnya seketika memanas. Ditatapnya Radika sedang mengecek beberapa laporan hasil visit yang baru saja diserahkan seorang perawat. Rere menatap kagum Radika yang sedang memasang wajah serius. Namun sesekali ia memijit pelipisnya dengan dahi berkerut. Rere dapat menebak, sepertinya Radika sedang ada masalah. Ingin sekali Rere menjadi teman curhat Radika. Walaupun tidak bisa memberikan saran, setidaknya ia bisa mengurangi beban pikiran pria yang sudah mampu mengisi hatinya sejak pertama kali bertemu. Mungkin itu yang disebut orang-orang Love at the first sight.


Tiba-tiba saja Radika meletakkan map laporan itu di atas meja kerja dan menyusunnya. Mungkin Radika telah selesai memeriksanya. Lalu Radika berdiri dan berjalan mendekati sofa.

__ADS_1


Namun tindakan Radika selanjutnya ternyata mampu membuat Rere menjengit kaget.


"Kak ..." pekik Rere saat tiba-tiba saja Radika membaringkan tubuhnya di sofa yang sama dengan dirinya dan merebahkan kepalanya di pangkuan Rere. Bagaimana Rere tidak terkejut coba bila pria yang selalu diperhatikannya diam-diam, tiba-tiba merebahkan kepalanya di pangkuannya?


"Biarin sebentar, Re, please! Kepala kakak pusing banget." ujar Radika lirih.


Entah dapat dorongan dari mana , tangan Rere spontan bergerak ke atas kepala Radika dan memijatnya pelan. Tampaknya Radika merasa nyaman dengan pijatan dari tangan Rere itu.


"Dokter kok sakit! Kenapa nggak minum obat aja sih? Pasti kak Radi tau kan obat yang ampuh dan aman untuk diminum." omel Rere dengan tangan tetap bergerak memijat dari pelipis, dahi, hingga puncak kepala.


"Nggak setiap sakit kepala harus diminumkan obat, Re. Lagipula sakit kepala kakak itu bukan tanpa alasan."


"Rere tau, kak Radi lagi ada masalah kan!" sambung Rere.


"Pinter... Anak siapa sih?" puji Radika sambil terkekeh tapi matanya terpejam.


"Anak mama dan papa dong! Masa anak kucing." cetus Rere yang sudah ikut terkekeh.


Rere terus memijit kepala Radika. Namun, karena Radika tidak lagi melakukan pergerakan maupun mengeluarkan suara, Rere pikir Radika telah tertidur sehingga Rere sedikit menundukkan wajahnya menatap Radika. Dipandanginya dengan lekat wajah tampan itu.


"Kalau kakak ada masalah, bisa kok cerita ke Rere. Walaupun nggak bisa bantu minimal bisa mengurangi beban pikiran kak Radi." ucapnya pelan nyaris berbisik. "Ikh, ganteng banget sih kak! Ngomong-ngomong, mama kakak ngidam apa sih sampai bisa punya anak seganteng kak Radi. " gumamnya lagi seraya tersenyum-senyum sendiri.


Wajah Rere memerah sendiri saat memandangi wajah tampan itu. Lalu pandangan matanya terfokus pada bibir Radika yang ia yakini tak pernah mencicipi rokok sekalipun. Rere bahkan sampai meneguk salivanya sendiri. Karena terbawa suasana, Rere tanpa sadar menempelkan bibirnya di atas bibir Radika. Ya, hanya menempel. Baru saja Rere hendak mengangkat kepalanya, tiba-tiba saja sebuah tangan menahan tengkuknya dari belakang lalu bibir di bawahnya bergerak membuat Rere sontak terkejut setengah mati. Lalu mata Radika terbuka membuat wajah Rere merah seketika karena ketahuan telah berani berbuat mesum pada Radika. Namun mata itu hanya terbuka sebentar, hingga akhirnya kembali terpejam, lalu bibir yang tadi gerakannya hanya berupa kecupan-kecupan ringan berubah menjadi luma tan yang menuntut. Rere yang baru pertama kali mengalami hal demikian sontak membulatkan matanya. Tapi lama-lama, matanya ikut terpejam. Ia terbuai dan mulai menikmati apa yang dilakukan Radika di atas bibirnya.


'Astaga, apa ini yang namanya ciuman? Rasanya ....nano nano.'


...***...

__ADS_1


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2