
Setelah meninggalkan kampus, Radika mengajak Rere ke suatu tempat untuk menenangkan gadis yang kini sudah mulai merajai hatinya tersebut. Rere pun penasaran, sebenarnya Radika hendak mengajaknya kemana sebab sudah hampir satu jam perjalanan tapi tempat yang dituju belum juga nampak.
"Kak, kakak mau ngajakin Rere kemana sih? Nggak ke tempat yang aneh-aneh kan?" cecar Rere yang mulai sedikit khawatir.
Melihat ekspresi khawatir Rere, Radika justru terkekeh lu mengacak rambutnya gemas.
"Ke tempat aneh-aneh kayak gimana maksudnya?" tanya Radika penuh selidik.
"Ya, yang aneh-aneh gitu kayak ... kayak ... ya yang aneh-aneh pokoknya." tukas Rere cepat , malu sendiri dengan pikirannya yang justru berpikir ke hal yang tidak-tidak.
"Astaga, makin hari kamu itu makin gemesin aja sih! Rasanya pingin kakak gigit." kelakar Radika dengan mulut pura-pura seperti harimau yang hendak memangsa mangsanya.
"Ck ... emangnya Rere kelinci mau diterkam."
"Tapi kamu emang kayak kelinci, lucu dan menggemaskan."
"Kak, tadi kakak kok bilang Rere calon pacar kakak ke Rasyid?" tanya Rere penasaran.
"Nah, sampai ... " seru Radika saat telah tiba di tempat tujuan mengabaikan pertanyaan dari Rere.
"Wah, pantai! Asik ... Kak Radi tau aja Rere suka main di pantai." serunya bahagia. "Yuk kak, buruan turun!" ajak Rere yang ditanggapi Radika dengan sebuah senyuman.
Lalu Radika dan Rere pun turun.
"Kita makan dulu yuk! Kakak laper, belum makan dari pagi." ujar Radika dengan wajah memelas.
"Kakak serius belum makan?" Radika pun mengangguk lepas dengan wajah yang lucu. Sungguh Rere ingin tergelak melihatnya.
"Wah, harimaunya kok mendadak jadi meong ya?" canda Rere seraya memeletkan lidahnya.
Lalu mereka mencari restoran yang tidak jauh dari pantai agar mereka tetap bisa menikmati indahnya pasir pantai sambil menikmati makan siang.
"Kak ... "
"Hmmm ... " sahut Radika dengan mulut masih penuh makanan.
"Makasih ya yang tadi." ujar Rere tulus.
"Makasih tidak diterima." ujar Radukq setelah m3n3lan makanannya.
"Lho kok gitu? Kak Radi mau pamrih gitu?" Rere mendelik kesal.
Radika terkekeh geli, "Kalau iya kenapa?"
"Ish, nggak ikhlas banget. Kalau gitu tadi mending nggak usah nolongin.* Rere mulai cemberut, namun gerakan menyuap makanan tetap berlangsung.
"Emang kamu mau gitu, ikhlas, dipeluk lelaki brengs*k kayak gitu?" cibir Radika membuat Rere mengerucutkan bibirnya.
__ADS_1
"Ih, siapa juga yang mau. Ogah." sambarnya cepat.
Selepas makan, mereka bermain pasir di pantai. Layaknya anak kecil, mereka berlari kesana-kemari sambil menyiramkan air. Mereka juga bermain membuat istana pasir.
"Hah, capek!" ujar Rere kelelahan karena baru selesai saling kejar-kejaran.
"Mau es kelapa muda?" tawar Radika.
"Mau ... mau ... mau ... " ujar Rere sambil cekikikan.
Radika tersenyum lalu melangkahkan kakinya menuju penjual es kelaparan muda. Tak butuh waktu lama, Radika kini telah kembali dengan membawa dua cangkir besar es kelapa muda yang dicampur gula aren dan susu. Rasanya enak sekali.
"Hmmm ... segarnya. Enak juga."
"Ke mobil yuk!" ajak $adika saat es mereka berdua sudah tandas
Lalu mereka melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam mobil.
"Re ... " panggil Radika. Saat ini mobil merea masih terparkir di tempatnya.
"Ada apa kak?" tanya Rere yang kini sudah menghadap Radika.
"Kamu tadi ada tanya kenapa kakak bilang ke cowok brengs*k itu kalau kakak adalah calon pacar kamu."
"Oh iya, aku hampir lupa. Emang kenapa kak?"
"Karena ... karena kakak kini udah sadar kalau kakak suka dan sayang sama kamu. Sepertinya kakak sudah lama tertarik sama kamu, tapi ya gitu, kakak telat sadarnya. Jadi, kamu mau nggak jadi pacar kakak?" tanya Radika dengan wajah teduhnya.
"Kakak serius? Kakak nggak lagi prank'in aku kan?"
"Ya ampun, kamu ini, kakak serius, sayang. Mau ya?" tanya Radika lagi sambil tersenyum manis.
Jantung Rere sontak saja berdebar kencang saat mendengar Radika memanggilnya sayang. Perasaannya membuncah. Seakan ada ribuan kupu-kupu yang menari di dalam perutnya. Begitu menyenangkan dan membahagiakan.
Bahkan matanya kini sudah berkaca-kaca karena tak menyangka akhirnya cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
"Terus gimana perasaan kakak sama orang-orang yang ada di masa lalu kakak. Rere nggak mau jalin hubungan dengan orang yang hatinya masih terpaut pada perempuan lain." tukas Rere . Sebab ia takut malah dijadikan pelarian dan pelampiasan cinta yang tak kesampaian Radika.
"Kamu tenang aja sayang, sebab mulai sekarang hanya ada kamu satu-satunya di dalam hati kakak. Jadi ... gimana? Kamu mau kan jadi kekasih kakak?" tanya Radika lagi .
Rere tersenyum lebar dan menganggukkan kepalanya cepat, membuat senyum Radika makin lebar. Dan tangannya refleks menarik cepat bahu Rere dan memeluknya erat.
"Makasih ya, Re. Makasih sayang. Kakak janji akan selalu setia sama kamu." ucapnya sambil memeluk Rere.
Lalu Radika merenggangkan pelukan itu dan menatap lekat wajah Rere.
"I love you, Re. I love you so much." lirihnya di depan wajah Rere membuat jantung Rere kian berdebar.
__ADS_1
"Re-re juga cinta sama kakak. I love you." balasnya dengan wajah bersemu merah.
"Re ... " panggil Radika lirih membuat mereka saling berpandangan.
"Kamu tau nggak, sampai sekarang kakak nggak bisa lupain apa yang kita lakukan di rumah sakit."
"Apa? Yang mana?" tanya Rere mencoba mengingat.
"Yang itu ... saat kamu cium kakak." ucap Radika lagi membuat wajah Rere kian memerah bahkan sampai ke telinga. "Mau coba lagi? Kalau waktu itu kan kakak belum sadar kalau kakak suka sama kamu." imbuhnya lagi sambil tersenyum menggoda dan memainkan alisnya.
"Re ... Rere ... hmmppph ... "
Belum selesai Rere bicara, Radika telah lebih dahulu membungkam bibir merah itu dengan lembut. Tidak ada napsu di dalamnya. Hanya sebuah ungkapan cinta, sayang, dan bahagia melalui pertautan bibir.
"Kak Radi ish main sosor-sosor aja udah kayak bebek." cetus Rere dengan bibir mengerucut membuat Radika terkekeh.
"Salah siapa yang bikin candu." ujar Radika santai.
"Yak, kok nyalahin Rere sih dia yang main sosor-sosor duluan."
"Tapi dulu siapa yang mulai? Jadi salahin sediri kalau kakak jadi candu. Bahkan mungkin nanti kita bakal sering melakukannya. Tapi tenang aja, kakak masih tau batasan kok jadi kamu nggak usah khawatir, sayang." ucapnya lagi seraya menyalakan mobil untuk pergi dari sana.
Rere hanya mengulas senyum tipis, dalam hati ia pun mengakui ikut menikmati ciuman itu. Tapi tentu ia tidak mau mengatakannya, gengsi cuy.
...***...
Sementara itu, di sebuah rumah sakit, Fatur tersenyum bahagia sebab perbannya sudah boleh dibuka.
"Jadi kepala suami saya sudah boleh dibasahi saat mandi, dok?" tanya Aileena pada dokter yang sedang memeriksa bekas jahitan di kepala Fatur. Dalam hati Aileena terkekeh geli melihat kepala Fatur bagian belakang yang terpaksa digunduli.
"Oh, tentu saja. Tapi harus segera dikeringkan lagi ya sampai bekasnya kering dengan sempurna." tukas dokter itu seraya tersenyum.
Fatur menoleh ke arah Aileena sambil mengedipkan sebelah mata sambil menyeringai, bibirnya bergerak seolah bergumam 'Ingat janjimu!'
Aileena geleng-geleng kepala melihat tingkahnya. Sepertinya suaminya itu sudah tak sabar lagi melepaskan keperjakaannya. Tapi yang membuat Aileena pusing adalah malam pertamanya kali ini harus ia yang aktif karena Fatur belum bisa melakukannya. Aileena mendesah pelan, mentang-mentang dia punya pengalaman sebelumnya, tapi bukan berarti ia ahli dalam hal seperti itu. Dulu, setiap melakukannya, Aileena selalu bersikap pasif. Dan kali ini ia dituntut aktif, apakah ia bisa, pikirnya.
...***...
...Hai kak, makasih udah mampir di ceritaku kali ini ya! ...
...Ditunggu like dan komennya. ...
...Eitz, udah hari Senin nih, smg ada yg berkenan bagi vote nya yah! Lemparan hadiahnya jg oke. ...
...Makasih semuanya....
... 🥰🥰🥰...
__ADS_1
...Happy reading ...
...🥰🥰🥰...