
"Minggir kau, jal*ng!" tukas Adnan dengan suara menggema membuat Delima cukup bergetar takut.
"Mas, jangan seperti itu! Lihat mbak Aileena, dia kesakitan!" Delima tetap berusaha menghentikan langkah Adnan yang sudah mulai kalap.
Tetapi ia tak menggubris, yang dalam pikirannya tetaplah secepatnya membawa Aileena sejauh mungkin.
"Minggir kau!"
"Aaargh ..."
"Ima ..." Aileena memekik kaget saat melihat Delima terdorong sangat kuat hingga menggelinding di undakan teras dan terguling di bawah.
Wajah Adnan seketika pias saat melihat Delima meraung kesakitan sambil memegangi perutnya. Darah segar tampak mengalir dari sela kakinya. Cengkraman tangannya di lengan Aileena seketika terlepas membuat Aileena terduduk di teras dengan wajah yang juga sudah pucat pasi.
"Mas ... Mas Adnan, tolong anakku!" lirih Delima lemah. Bahkan suaranya nyaris tak terdengar disapu angin.
Di saat Adnan masih terpaku dengan apa yang dilihatnya, suara deru mobil dan motor masuk ke pekarangan rumah. Bunyi dentuman pintu yang terbanting membuat Adnan terlonjak dari tempatnya.
"Aileena, astagfirullah, ya Allah, Ai ... kamu kenapa?" panik Fatur saat melihat tubuh Aileena yang mulai dingin dengan keringat sebesar biji jagung yang telah bercucuran di pelipisnya. Lalu ia melirik jari telunjuk Aileena yang mengarah ke suatu tempat. Matanya membulat seketika melihat apa yang ada di depannya.
"Astagfirullah, ada apa ini? Ya Allah, dia pendarahan harus segera dibawa ke rumah sakit!" pekik Mbok Ningsih saat melihat Delima yang matanya sudah hampir memejam. Lalu mbok Ningsih juga melihat Aileena yang sudah tampak lemas. "Ya Allah, non! Den, ini non Aileena harus segera di bawa ke rumah sakit. Perempuan itu juga kalau tidak bisa bahaya." ucap Mbok Ningsih panik. Ia bingung harus melakukan apa saat melihat keduanya tampak membutuhkan pertolongan segera.
Adnan yang mulai sadar dari keterpakuannya tampak linglung. Ia melihat Delima yang sudah kian lemas, lalu ia melirik Aileena yang meringis dengan nafasnya juga yang sudah tersengal.
Dengan sigap, Fatur menggendong Aileena dan berteriak pada Jeki untuk segera masuk ke mobil dan mengantarkannya ke rumah sakit. Lalu ia meneriaki Adnan juga untuk membawa Delima ke rumah sakit.
"Hei brengs*k! Cepat kau bawa perempuan itu ke rumah sakit, breng*k, kalau tidak ia bisa mati!" pekik Fatur geram. Matanya berkilat amarah. Ia yakin, semua ini terjadi akibat kesalahan Adnan. Nanti ia akan melihat kronologisnya di kamera CCTV rumah Aileena yang terhubung di ponselnya. Bila semua kecurigaannya benar, maka ia tak segan-segan akan menjebloskan Adnan ke penjara.
__ADS_1
Lalu Fatur segera membawa masuk Aileena yang sudah kian melemah ke dalam mobil dan meminta Jeki melajukan mobilnya secepat mungkin menuju rumah sakit. Ia juga menelpon Radika meminta bantuannya.
"Halo ..." sapa Radika di seberang sana saat panggilan Fatur telah diangkat Radika.
"Radika, kamu ada di rumah sakit sekarang?" tanya Fatur dengan suara bergetar karena panik. Apalagi saat melihat rona di wajah dan bibir Aileena sudah seperti tak dialiri darah.
"Tidak. Aku sedang ada di rumah. Ada apa? Apa terjadi sesuatu dengan Aileena?" tanya Radika yang tak urung ikut khawatir.
"Aku mohon bantuanmu saat ini. Keadaan genting. Aileena ... Aileena ... Astaga, sayang! Aileena ... " Wajah Fatur kian pias saat ia merasakan sesuatu yang hangat mengalir di sela kakinya. Dapat dipastikan itu berasal dari Aileena yang kini sedang dalam pelukannya dengan posisi sedang duduk di dipangkuannya.
"Bang ... Bang Fatur, Aileena Kenapa?" Radika yang mendengar seruan kekhawatiran Fatur makin khawatir. Bahkan ia yang tak pernah sekalipun menyebut nama Fatur, jadi menyebutnya dengan sapaan bang sebab usia Fatur yang 2 tahun di atasnya.
"Itu ... basah ... ada cairan yang keluar. Itu ... itu apa? Apakah berbahaya?" tanya Fatur panik. Ia yang tidak mengerti cairan apa itu jadi bingung ingin menyebutkannya.
"Cairan bening?" tanya Radika.
"Iya, apa itu berbahaya?"
"Astaga, padahal sebenarnya ini belum waktunya sebab kehamilannya belum genap 9 bulan. Itu namanya cairan ketuban. Ketubannya sudah pecah jadi harus segera mengambil tindakan." tukas Radika yang saat ini sedang mengambil kunci mobil. Ia harus segera ke rumah sakit.
"Tapi hari ini kata mbok Ningsih ia sudah merasakan seperti kontraksi lagi. Sepertinya memang ia sudah ingin melahirkan."
"Tapi tetap, sebenarnya ini belum waktunya. Mungkin itu pengaruh beban pikiran. Stres atau banyak pikiran juga bisa memicu kontraksi dini." tukas Radika menjelaskan.
"Ma, Dika ke rumah sakit dulu ya! Ada hal darurat." pamit Radika pada Risa yang diangguki Risa yang kini sedang menyuapi Nanda makan. Doni belum tau tentang keberadaan Nanda sebab sudah 3 hari pria itu tidak pulang. Ia hanya pamit ingin mencari keberadaan Nuri.
"Oh ya, bukan hanya Aileena yang butuh tindakan. Perempuan yang menjadi perusak rumah tangga Aileena juga butuh bantuan. Bahkan sepertinya kondisinya lebih parah karena pendarahan jadi siapkan dokter lain juga." tukas Fatur cepat lalu ia menutup telepon tanpa membutuhkan jawaban dari orang di seberangnya. Ia tidak tahu, penuturannya tadi membuat Radika mematung di tempatnya.
__ADS_1
'Perusak rumah tangga Aileena? Apa - apa maksudnya itu adalah Delima?' Radika yang masih mematung di tempatnya lantas menoleh ke arah Nanda. Bibirnya tiba-tiba kelu.
"Kau kenapa, Ka?" tanya Risa heran dengan mata memicing.
Lalu Radika mendekati Risa dan membisikkan sesuatu membuat Risa ikut mematung di tempatnya.
"Lekaslah ke rumah sakit! Lakukan sesuatu sebaik mungkin. Bagaimanapun, dia tetap ibu dari cucuku." tukas Risa pelan seraya menatap wajah Nanda yang masih sembab karena belum lama berhenti dari menangis.
Bila Aileena didampingi Fatur dan Jeki menuju rumah sakit, maka Delima dibantu Adnan dan Mbok Ningsih. Adnan yang merasa bersalah dengan Delima lantas segera meminta bantuan Mbok Ningsih yang saat itu hanya ada dia di sana yang bisa ia mintai pertolongan. Adnan membantu memasukkan Delima ke dalam mobil dan meletakkan kepalanya di pangkuan Mbok Ningsih. Adnan pun melajukan mobilnya secepat mungkin ke rumah sakit. Adnan memukul stir mobilnya saat mendadak jalanan macet. Ia tak henti-hentinya mengumpat apalagi saat melihat Delima yang telah tak sadarkan diri.
'Aku mohon maafkan aku, Ima. Aku benar-benar tidak sengaja tadi. Aku khilaf. Aku mohon bertahanlah. Aku akan memaafkan semua kesalahanmu bila kau sanggup bertahan."
Tak lama kemudian terdengar suara ringisan, "Aku mohon, selamatkan anakku! Tolong ... tolong selamatkan anakku!" lirih Delima dengan mata terpejam.
Saat ia sedang tak sadarkan diri saja ia masih mengingat dan memohon pertolongan untuk anaknya. Itulah naluri seorang ibu, di atas apapun, ia lebih mengutamakan anaknya. Bahkan seorang ibu rela mengorbankan jiwa dan raganya demi keselamatan sang anak.
Tak lama kemudian, Fatur pun tiba di rumah sakit. Yang disusul Adnan di belakangnya. Fatur segera menggendong tubuh Aileena masuk ke dalam rumah sakit. Ia berteriak meminta bantuan segera. Beberapa perawat datang berhamburan ada yang bersiap membantu Fatur, ada juga yang hendak membantu Adnan.
"Saya sudah buat janji dokter Radika, bisa tunjukkan saja dimana kamarnya?" tanya Fatur.
Tampak Naya keluar dengan tergopoh. Ia barusan mendapat telepon dari Radika untuk menyiapkan ruang UGD untuk 2 orang. Lalu ia segera menunjukkan ruangan untuk kedua orang itu.
...***...
Utk yg nanyain kok ceritanya gk nyambung dg kisah Nanda di Ternyata Aku yang Kedua karena di sini Nanda diterima baik oleh neneknya, kok di sana malah masuk panti asuhan? Nanti semuanya terkuak di novel satunya, ya! Di sini nggak diceritakan secara detil.
...Happy reading 🥰🥰🙏...
__ADS_1