
Saat sedang asyik menyantap ayam goreng Kentucky, di arah pintu masuk nampak seorang lelaki yang masuk sambil merangkul seorang perempuan. Nanda yang posisinya tepat menghadap ke arah pintu masuk, tentu mengenali siapa lelaki itu walaupun hanya sekedar tau sebab ia sering diajak ke kampus oleh Radika.
"Ate ... ate ... " panggil Nanda sambil menarik-narik tangan Nanda.
"Ada apa sayang?" tanya Radika dan Rere kompak membuat mereka saling pandang selama beberapa detik sebelum Rere memutuskan kontak mata mereka dengan wajah bersemu merah.
"Ate ... ate tu ..." Nanda menunjuk ke arah pintu masuk.
"Apa sih, sayang?" tanya Rere lantas ia memutar lehernya ke arah belakang. Seketika Rere membelalakkan matanya. Ia tersenyum masam melihat siapa yang baru masuk ke restoran ayam nomor 1 di Indonesia itu.
"Re, ... kamu nggak papa?" tanya Radika sambil menyentuh punggung tangan Rere.
Rere hanya bisa tersenyum kecut sambil melanjutkan memakan ayam goreng miliknya.
"Kamu nggak mau mampirin mereka? Bisa aja mereka itu saudara atau sahabat gitu?" tanya Radika yang iba melihat apa yang terjadi pada Rere. Radika akui, ia sebenarnya sudah lama jatuh hati pada sosok polos Rere. Tapi sayang, ia menyadari di waktu yang salah sebab saat itu ternyata Rere telah menerima Rasyid sebagai kekasihnya. Sebenarnya Rere belum memiliki perasaan pada Rasyid, tapi berkat kegigihan dan kebaikan Rasyid, ia pun mencoba membuka hati dengan memberikan kesempatan kepada Rasyid untuk menjadi kekasihnya.
Rere melirik pemuda tadi diam-diam. Di saat yang bersamaan sang perempuan tengah mengecup pipi pemuda itu sambil bergelayut manja di lengannya membuat wajah Rere kian masam.
"Kamu tenang aja. Aku nggak papa kok kak." sahutnya tenang. "Kita selesaikan makannya dulu. Kalau langsung mampirin, aku yakin makannya nggak bakal selesai. Menghadapi mereka itu butuh tenaga ekstra kak. Jadi perut kita mesti kenyang dulu." ucapnya sambil terkekeh membuat Radika pun ikut terkekeh. "Lagian nih ya kak, mana ada saudara atau teman yang cium-cium sambil manja-manjaan gitu. Udah pasti mereka punya hubungan spesial." lanjut Rere.
"Yah, kamu benar. Ternyata kamu bukan hanya gadis yang cantik, tapi juga pintar." puji Radika sambil membantu Nanda minum.
"Yuk, kita cuci tangan dulu, Nda! Sudah ini Tante ada kerjaan sebentar. Entar Nanda sama om tungguin tante, ya! Tante nggak akan lama." ujar Rere yang membuat Radika tersenyum penuh arti.
Dan benar saja, setelah cuci tangan, Rere langsung melangkahkan kakinya dengan penuh percaya diri menuju meja pemuda yang dilihatnya tadi.
"Hai, sayang." sapa Rere sambil menghempaskan bokongnya di kursi tepat di seberang Rasyid dan Antika.
Sontak saja, Rasyid dan Antika terlonjak kaget dengan wajah memucat. Bahkan mereka sampai menelan ludahnya sendiri karena terlalu terkejut.
"Rere ... " seru mereka berdua bersamaan.
"Iya, ini aku. Kenapa? Terkejut? Sepertinya aku udah ketinggalan informasi nih!" ujar Rere santai sambil mencomot kentang goreng milik kedua orang itu.
__ADS_1
"Sayang, ini tidak seperti yang kau pikirkan." kilah Rasyid gelagapan. Tapi Rere tak semudah itu ditipu. Matanya belum katarak sehingga tidak bisa melihat dengan jelas apa yang dilakukan kedua orang itu.
"Benarkah? Jadi menurut kalian apa yang benar?" tanya Rere santai dengan menyandarkan punggungnya. "Dan loe Antika, gue nggak nyangka lho kamu nikung gue kayak gini padahal satu kelas juga udah tau siapa Rasyid." Rere berdecak melihat teman satu kelasnya itu.
Wajah Antika makin pias, apalagi saat ada pelanggan yang belum lama masuk dan merekam mereka. Dan yang lebih parah orang itu merupakan mahasiswa yang satu angkatan dengan mereka. Antika menunduk malu. Ia tidak mau tiba-tiba viral karena jadi tukang tikung sekelas pelakor.
"Ckckck ... gue nggak nyangka, si Antika sama Rasyid tega banget kayak gitu." omel mahasiswa itu.
"Kami hanya teman kok, yang. Kami nggak ada hubungan spesial seperti yang kamu pikirkan." kilah Rasyid lagi. ia bahkan sampai pindah tempat duduk ke samping Rere untuk membujuknya.
"Gue nggak buta, Syid. Mana ada teman pake rangkulan mesra terus cium-cium gitu. Beruntung gue nggak pernah lakuin itu sama loe. Kalau udah, iiih ... " Rere bergidik ngeri dengan memasang ekspresi jijik.
"Aku serius , Re. Kami just friend. Nggak lebih."
"Yeay, just friend ... with benefit, right?" Rere tersenyum sinis.
"Udah, gue nggak mau dengar penjelasan apapun dari loe. Dan mulai hari ini, Loe-gue, end alias putus." ucap Rere santai tapi penuh penekanan.
"Re, gue nggak mau putus dari loe. " teriak Rasyid saat melihat Rere hendak pergi.
Radika yang melihat aksi Rere dari balik pintu kaca lantas tersenyum penuh arti. Lalu ia segera menuju mobilnya dan memasukkan Nanda yang sudah tertidur di gendongannya ke dalam mobil. Tak lama kemudian, disusul Rere yang tampak tersenyum tipis. Sepanjang perjalanan menuju rumah Rere, kedua orang itu hanya terdiam. Tak ada sepatah katapun keluar dari bibir mereka. Radika yang tau, Rere butuh waktu untuk menenangkan diri hanya diam sambil sesekali melirik, sedangkan Rere memang sedang larut dalam lamunannya Beruntung ia belum jatuh cinta, bila sudah , pasti ia akan mengalami patah hati berjilid-jilid.
...***...
"Sy, temen-temen kamu asyik juga ya! Emang kalian kerja dimana sih?"
"Kami kerja di toko elektronik, mbak. Belum gede banget sih soalnya masih tergolong baru, tapi lumayan besar lah. Gajinya juga udah setara UMR belum lagi ditambah bonus kalau target penjualan tercapai tiap bulannya." ucap Ussy sambil mencomot keripik singkongnya.
"Kamu kerja di bagian apa?"
"Aku di bagian admin toko online, mbak. Kan kami juga membuka toko secara online di platform hijau sama oranye." tukasnya santai.
"Mbak, dari temen-temen aku tadi, ada yang menarik nggak di mata mbak?"
__ADS_1
"Maksudnya gimana?" tanya Aileena bingung.
"Ya, kalo aja mbak dapat target buat dijadiin bapak sambung Fareezky." ujar Ussy seraya terkekeh.
Aileena pun ikut terkekeh, "Sy, mbak ini udah pernah nikah, soal kayak gitu bisa dipikirin nanti soalnya mbak sedang fokus ke Fareezky aja dulu. Lha kamu, udah 24 tahun, emang belum kepikiran mau cari pendamping gitu? Kasian tuh si bibik, udah pingin nimang cucu kayaknya. Kesepian di rumah kalau om sama kamu kerja." tukas Aileena yang juga sedang memakan keripik singkongnya.
"Ussy udah kepikiran sih, tapi ... "
"Tapi apa?"
"Jodoh Ussy kayaknya masih kesasar deh mbak, gimana mau married kalau dia salah alamat mulu." sahutnya sambil tergelak.
"Dasar aneh! Kan temen-temen kamu banyak, baik-baik juga, kenapa nggak coba deketin salah satu dari mereka?"
"Ih, malu dong mbak. Apalagi Ussy kan masih polos, belum pernah pacaran, gimana kalau cuma dimainin atau diterima karena kasihan, bukannya bahagia, malah mewek terus entar jadinya. Ussy percayain sama Allah aja deh mbak. Ussy juga lebih milih dicintai, dari pada mencintai ujung-ujungnya sakit hati."
"Jadi kalau ada yang deketin kamu terus bilang cinta kamu gitu, kamu langsung mau terima gitu?"
"Ya harus dipertimbangkan dulu dong mbak, nggak asal terima gitu aja. Ussy pingin sih, langsung menikah, nggak main pacar-pacaran lagi biar lebih afdol."
Aileena terkekeh mendengar penuturan Ussy. Ia tidak menyangka, di balik sifat kekanakan Ussy, terdapat sifat bijak dan dewasa.
"Mbak doain deh, semoga jodohmu segera datang."
"Ussy juga doain mbak deh semoga bisa segera dapetin calon ayah sambung yang mencintai mbak dan Fareezky sepenuh hati."
"Aamiin ya rabbal alamin." sahut mereka berdua setelah saling mendoakan.
...***...
Fatur dan Fatahillah baru saja pulang dari kediaman pak Bachtiar, teman Fatahillah yang bekerja di kementerian perhubungan dan beliau berjanji akan membantu mencari informasi keberadaan Aileena.
Dan benar saja, sesuai janjinya, dalam waktu tak sampai 24 jam, Bachtiar telah menemukan informasi keberadaan Aileena. Tentu saja Fatur merasa sangat bahagia. Ternyata Aileena menaiki penerbangan menuju kota Palembang pada pukul 2.45 siang. Berarti mereka bisa mempersempit area pencarian, yaitu kota Palembang. Tapi, Fatur tetap saja bingung sebab ia belum pernah satu kali pun menginjakkan kaki di kota yang terkenal dengan sungai Musi-nya itu.
__ADS_1
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...