Duri Dalam Pernikahan

Duri Dalam Pernikahan
Ch.76 Skenario


__ADS_3

Setelah menunggu cukup lama, akhirnya seorang dokter keluar dari dalam ruangan serba putih itu. Malika, Fatahillah, dan Rama pun bergegas mendekati sang dokter untuk meminta penjelasan mengenai keadaan Fatur saat ini.


"Dok, bagaimana keadaan anak saya?" tanya Malika to the point saat melihat sang dokter keluar dari ruangan.


"Sebelumnya kalau boleh tau, apakah pasien sudah menjalani CT scan di bagian kepalanya setelah pasca kecelakaan?" tanya dokternya itu dengan mimik wajah serius.


"Kami tidak tau, dok sebab kami juga baru mengetahui kalau anak kami beberapa hari lalu mengalami kecelakaan." tukas Fatahillah mengatakan yang sejujurnya.


"Sebaiknya kita menunggu pasien sadarkan diri agar bisa menanyakannya. Menurut dugaan sementara, pasien mengalami cedera otak. Semoga saja hanya cedera otak ringan." ungkap dokter yang menangani Fatur.


Setelah sedikit berbincang dengan dokter, Malika, Fatahillah, dan Rama masuk ke ruangan Fatur. Malika terisak saat melihat putra satu-satunya itu terbaring dengan perban di kepala juga kaki berbalut gips.


"Ram, apa Fatur sudah mencoba menghubungi Aileena?" tanya Fatahillah yang kini sedang duduk berdua Rama di sofa ruangan itu.


"Kalau bos sih belum sempat, om. Hp nya juga hilang. Tapi tadi saya sudah coba hubungi, nomornya nggak aktif. Saya tanya istri saya yang juga sahabatnya juga nggak tau dia kemana." tukas Rama jujur.


"Itu ... mantan mertuanya, bukankah mereka masih dekat, apa kamu sudah mencoba menghubungi mereka? Sama lelaki yang rival Fatur itu ?" tanya Fatahillah lagi.


"Tadi saya sudah minta tolong istri saya menghubungi mereka om dan barusan istri saya mengabari kalau mereka juga tidak tau." ujar Rama seraya menunjukkan pesan dari Khanza yang mengatakan mereka juga tidak tau keberadaan Aileena.


Fatahillah mengusap wajahnya frustasi, hingga suara Malika membuat kedua orang itu menoleh.


"Pa, panggil dokter! Sepertinya Fatur sudah mau sadar." ucap Malika cepat saat melihat mata Fatur mulai mengerjap. Dan benar saja, tak lama kemudian, Fatur membuka matanya. Fatur ingin mengangkat kepalanya, tetapi seakan dihantam palu godam, kepalanya begitu berdenyut nyeri hingga ia tak sanggup mengangkat kepalanya. Sesuai perintah sang istri, Fatahillah pun segera menekan tombol pemanggil hingga tak lama kemudian dokter dan beberapa perawat pun datang ke ruangan itu.


"Nak, tetaplah berbaring!" titah Malika saat melihat Fatur hendak mengangkat kepalanya.

__ADS_1


Lalu sang dokter pun melakukan pemeriksaan.


"Apa kepalanya masih sakit?" tanya dokter itu.


"Iya dok, sangat nyeri." ujar Fatur jujur.


"Apakah saat pemeriksaan sebelumnya Anda sudah menjalani CT scan?" tanyanya lagi.


"Hmm ... tapi hasil scannya ketinggalan di hotel Bali."


"Berarti Anda harus menjalani CT scan lagi."


"Nanti saja. Ada yang harus saya lakukan sekarang." tukas Fatur lirih. "Berikan saja dulu obat penghilang rasa sakit." ujar Fatur seakan tak peduli pada penyakitnya saat ini.


Baru saja dokter hendak melanjutkan bicara, tangan Fatur mencegahnya.


"Nak, jangan seperti ini. Memangnya kau mau kemana?" Malika angkat bicara saat melihat Fatur tetap berusaha untuk mendudukkan tubuhnya.


"Aileena ma, Aileena, dia ... " nafas Fatur tercekat. Ia tak mampu bicara. "Ram, kau sudah mencoba menghubungi Aileena?" tanya Fatur.


Rama mengangguk, "Nomornya tidak aktif. Gue juga udah minta tolong Khanza tanya sama yang lain tapi nggak ada yang tau." ucap Rama merasa iba melihat atasan sekaligus sahabatnya kini.


"Nak, maafin mama, ini semua salah mama. Aileena pergi pasti karena mama. Seharusnya mama sudah menghapus masa lalu itu dalam-dalam dan tidak mengingatnya apalagi mengungkitnya kembali." ujar Malika seraya terisak.


"Apa maksud mama? Apa mama menemuinya dan menceritakan semuanya?" tanya Fatur dengan mata memicing.

__ADS_1


Malika menggeleng cepat, "Nggak ... Sebab ternyata Aileena sudah tau masalah ini. Bahkan kebenaran yang sesungguhnya. Mama salah, nak. Mama salah paham. Ternyata orang tuanya tidak salah. Mama dan kakek nenek kamu lah yang bersalah. Maafin mama, semua terjadi akibat kebodohan mama. Seharusnya mama mencari tau dulu kebenarannya, bukannya langsung marah dan membenci mereka." tukas Malika dengan nafas tercekat. Fatahillah maju dan merangkul tubuh Malika yang bergetar hebat. Fatur masih diam. Ia bingung dan masih menunggu penjelasan selanjutnya.


Flashback on


"Nya, tadi ada Ningsih kemari. Terus dia nitip ini untuk nyonya katanya titipan non Aileena." ujar mbok Asih seraya menyerahkan sebuah paper bag kepada Malika.


Malika mengerutkan keningnya penasaran, ia pun menerima paper bag itu. Lalu tanpa membukanya terlebih dahulu, ia meletakkan paper bag itu di atas meja rias karena ia hendak mandi terlebih dahulu. Barulah di malam hari, saat Malika hendak memakai skincare di wajah, Malika teringat paper bag itu kembali. Ia pun mengambil paper bag itu dan membukanya. Dilihatnya ada dua buah surat yang pertama dari Aileena dan yang kedua dari Anne untuknya. Aileena juga memasukkan buku catatan Irfan, ayahnya dengan memberikan penanda agar Malika menyadari bagian mana yang harus dibuka.


Malika makin bingung, lalu ia pun membuka surat itu dan membacanya. Seketika, tangis Malika tumpah. Ia sampai menutup mulutnya tak percaya dengan kebenaran yang baru saja ia dapatkan. Tangisan itu begitu lirih dan memilukan membuat Fatahillah yang sedang memeriksa beberapa pekerjaannya via laptop bergegas menghampiri Malika untuk menanyakan apa yang terjadi. Tanpa banyak kata, Malika hanya bisa menyerahkan kedua surat itu dan catatan milik Irfan pada Fatahillah. Ia takkan sanggup untuk bercerita. Ia hanya bisa menumpahkan segala kesedihan dan penyesalannya melalui tangisan.


Belum sempat mereka membahas lebih lanjut akan fakta sebenarnya tentang pernikahan Anne dan Irfan di masa lalu, ponsel Malika berdering. Awalnya Malika enggan mengangkat panggilan itu tapi karena nama Rama yang tertera di panggilan itu membuatnya terpaksa menekan tombol hijau. Tidak biasanya Rama menghubungi mereka. Pasti ada sesuatu yang penting pikir Malika. Belum kering air mata di pipi Malika, kini air mata itu justru turun makin deras. Berita tentang Fatur masuk rumah sakit membuat Malika panik bukan kepalang. Ia pun segera menyampaikan kabar buruk itu pada Fatahillah yang matanya pun sudah memerah. Setelah itu, dengan tergesa mereka segera menuju ke rumah sakit untuk melihat keadaan Fatur.


Flashback on


"Surat ? Surat apa yang disampaikan Aileena?"


"Yang pertama surat dari Aileena yang menjelaskan kalau ia sudah tau penyebab mama seperti tidak menyukainya. Dan kedua, surat peninggalan ibu Aileena, Anne, sahabat mama yang ia tinggalkan sebelum ... sebelum ibunya meninggal dunia. Ia berpesan bila suatu hari Aileena bertemu sahabat ibunya agar menyerahkan surat itu. Dan Aileena baru tau ternyata mamalah sahabatnya itu karena itu Aileena menitipkan surat itu melalui Ningsih. Mungkin saat Ningsih pergi mengantarkan surat itulah, Aileena pergi. Maafin mama, nak. Maafin mama. Ini semua karena mama." ujar Malika dengan mata bengkak dan berlinangan air mata.


"Mana suratnya?" pinta Fatur.


Dengan tangan bergetar, Malika pun menyerahkan surat itu termasuk buku catatan milik Irfan. Tangan Fatur bergetar. Matanya pun ikut memanas. Bagaimana tidak, ternyata kakek dan neneknya begitu kejam, membuat konspirasi dan memfitnah kedua orang tua Aileena demi tujuan mereka tercapai. Mereka tak memikirkan bagaimana dampaknya di masa depan. Hanya karena ayah Aileena laki-laki dari keluarga biasa saja, kakek dan neneknya sampai tega membuat skenario dan menjadikan kedua orang yang tak bersalah menjadi tersangka.


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2