Duri Dalam Pernikahan

Duri Dalam Pernikahan
Ch.93 Memimpin pertempuran


__ADS_3

Hari sudah makin larut, Aileena baru saja selesai menyusui Fareezky yang terbangun karena haus. Si kecil yang tampan itu memang sangat kuat menyusu. Hal itu kadang membuat Fatur iri, menginginkan apa yang tengah bayi itu hisap. Apalagi melihat aset kembar Aileena yang begitu padat berisi karena berisi ASI kadang kala membuat otak Fatur traveling kesana-kemari. Apalagi saat awal-awal menikah tempo hari, ia belum bisa menyentuh Aileena sesukanya sebab ia masih dalam perawatan intensif. Ia hanya bisa menyalurkan kebutuhannya melalui pertautan bibir, tak lebih. Tapi malam ini dengan bantuan Aileena, ia ingin menuntaskan hasratnya yang lama terpendam pada wanita pujaannya yang kini telah berganti status menjadi istrinya.


Untuk mengulur waktu sembari menunggu Aileena yang tengah menyusui Fareezky, Fatur menyalakan tv di ruang tamu. Sedangkan mbok Ningsih dan Nina telah tidur pulas di kamar mereka. Matanya memang mengarah ke tv, tapi otak Fatur justru berkelana membayangkan bagaimana ia bisa melewati malam panas ini. Fatur mendesah berat, andaikan ia sudah bisa bergerak bebas, sebenarnya ia yang ingin mendominasi sebab ia tahu, Aileena pasti masih merasa canggung untuk bercinta dengannya apalagi ia yang harus memimpin pergulatan itu.


Fatur tersenyum-senyum sendiri saat membayangkan ia akan dapat menyentuh tubuh istrinya dengan bebas tanpa takut berdosa karena mereka kini telah sah sebagai suami-istri. Tentu melakukan hubungan suami-istri akan menjadi ladang pahala bagi mereka berdua. Tadi siang juga Aileena telah berkonsultasi masalah kontrasepsi. Sebulan pertama ini ia akan memakai kontrasepsi berupa pil dahulu. Bukan tanpa alasan Aileena memilih itu, sebab untuk alat kontrasepsi yang lain diberi jarak minimal satu hari dari setelah dipakai. Seperti kontrasepsi berupa suntikan, untuk malam pertama mereka akan dilarang berhubungan dan baru boleh keesokan harinya, sedangkan sang suami saja sudah tidak sabar ingin menuntaskan hasrat terpendamnya selama ini. Tentu Aileena harus bijaksana menanggapinya. Ia tak ingin mengecewakan suaminya yang telah begitu sabar menantikan momen ini.


Selesai menyusui, Aileena menuruni tangga satu persatu dengan langkah pelan nyaris tak bersuara. Aileena berjalan dengan menahan gejolak dan debar yang kian membuncah di dadanya. Sesekali ia menggigit bibirnya sendiri karena menahan gugup sambil memperhatikan dirinya sendiri yang tengah memakai gaun tidur bertali spaghetti dengan bagian luar ditutupi outer. Biarpun ditutupi outer, tapi kesan seksi tetap menonjol membuat Aileena yang tengah gugup itu makin terlihat cantik luar biasa.


Entah karena terlalu fokus pada televisi atau terlalu larut dalam lamunan, Fatur bahkan sampai tak sadar kalau Aileena telah berdiri di belakangnya. Fatur baru menyadari keberadaan Aileena setelah panggilan lembut mengudara hingga sampai ke gendang telinganya membuat ia tersentak kikuk.


"Mas ... " panggil Aileena lembut dengan tangan saling meremas dan bibir digigit.


"Eh ... Ai-yang ... kamu udah selesai nyusuin Fareezky?" tanya Fatur kikuk.


Aileena mengangguk seraya menyampirkan rambutnya ke samping telinga.


"Udah, mas. dedek Fareez nya udah bobok lagi." sahut Aileena malu-malu meong.


Fatur menepuk sisi sofa tepat di sampingnya agar Aileena duduk di sana. Aileena pun menurut, tapi belum sempat ia mendaratkan bokongnya di sofa, Fatur sudah lebih dahulu menarik Aileena hingga mendarat di atas pangkuannya.

__ADS_1


"Mas ... " seru Aileena terkejut, tapi Fatur justru tersenyum girang.


"Kayak gini lebih enak." tukas Fatur sambil menurunkan sedikit outer Aileena hingga bahu putih mulusnya terekspos membuat gairah Fatur perlahan naik. Lalu Fatur mendaratkan kecupan-kecupan kecil di atas kulit putih mulus itu membuat des@han lirih keluar dari bibir padat berisi Aileena.


Tangan Fatur tak mau diam, ia mulai masuk ke dalam gaun tidur selutut itu hingga bawahnya sedikit tersingkap ke atas membuat tangan Fatur dapat bergerak lebih leluasa menelusuri setiap inci kulit yang selalu tertutup itu. Kini tangan itu tengah menangkup aset yang selalu membuatnya hampir setiap hari menenggak ludahnya sendiri. Fatur terkejut sebab aset berharga milik istrinya itu ternyata tidak memakai penutup seperti biasanya.


Tahu rasa keheranan suaminya, Aileena pun menjelaskan alasannya.


"Kan bajunya udah ada cup br@nya, masa' pake double." jelas Aileena membuat Fatur menganggukkan kepalanya.


"Mas, ke kamar aja ya! Di sini Ai khawatir tiba-tiba mbok Ningsih atau Nina bangun terus liat apa yang kita lakuin." ujar Aileena meminta pengertian. Fatur pun mengiyakan dan bermaksud menggendong Aileena sebelum ucapan Aileena menghentikannya.


"Mas, kaki kamu sama bahu kamu belum pulih 100% jadi belum boleh angkat yang berat-berat."


"Iya, kalau kaki dan tangan mas sehat-sehat aja sih nggak masalah. Tapi kan saat ini ... " Aileena mendesah berat sambil menundukkan wajahnya. Fatur pun mengangkat dagu Aileena agar wajahnya sehingga mata mereka saling bersirobok.


"Mas nggak papa. Mas baik-baik aja, okay. Baiklah kalau kamu tidak mau diangkat. Kita jalan saja. Atau Ai yang mau gendong, mas?" godanya membuat mata Aileena mendelik dan menepuk dadanya pelan yang dibalas kekehan pelan oleh Fatur. "Ayo, kita ke kamar!" ajak Fatur. Aileena pun segera turun dari pangkuan Fatur dan berjalan pelan menuju tangga untuk naik ke lantai atas.


Setibanya di kamar, Fatur bergegas menutup pintu dan menguncinya. Lalu ia segera melepaskan baju kaos yang menutupi tubuhnya membuat tubuh kekar berotot itu terlihat jelas menantang mata Aileena.

__ADS_1


Fatur pun mendekati Aileena yang masih memandangnya tanpa kedip lalu melepaskan outer yang berbahan semi sutra itu hingga jatuh ke lantai. Mata Fatur kini terpaku pada tubuh indah istrinya. Padahal tubuh itu masih tertutup gaun tidur tapi tetap saja tak bisa menutupi tubuh indah dan seksi yang terpampang di depan matanya.


Tangan Fatur terulur membelai pipi Aileena lembut, lalu turun menyusur leher, kemudian turun lagi ke pundak, dan dengan perlahan tangan itu menurunkan tali gaun tidur itu hingga meluncur jatuh ke lantai.


Nafas Fatur seketika memburu. Pandangan matanya kini telah berkabut tertutup gejolak yang kian membuncah. Dipagutnya bibir merah itu dengan lembut namun menuntut. Disusurinya setiap inci kulit itu dengan penuh pemujaan. Hingga sebuah des@han akhirnya lolos dari bibir Aileena saat bibirnya sudah turun ke aset yang selalu membuatnya ingin mencicipinya. Fatur menggeram nikmat saat puncak itu telah ia raup ke dalam mulutnya. Dalam hati, Fatur terkekeh sendiri, ia sudah laksana seorang bayi yang tengah kehausan.


Jangan tanyakan bagaimana perasaannya saat ini, tentu saja ia amat sangat senang dan bahagia. Sebab akhirnya ia akan segera mencicipi surga dunia yang sering orang-orang bicarakan. Dituntunnya Aileena menuju ranjang, lalu ia duduk sambil menyandarkan punggungnya di headboard. Tangannya terulur menuntun Aileena agar naik ke atas pangkuannya.


Dapat Aileena rasakan, kini menara kelelakian suaminya telah mencuat tegak. Bak meriam yang sudah siap diajak bertempur. Lalu dengan sigap Aileena melepaskan penutup terakhir miliknya juga suaminya. Dengan dada yang berdegup kencang, ia memberanikan diri untuk memimpin pertarungan ini. Hingga akhirnya, Aileena pun berhasil memimpin pertarungan panas itu dengan dirinya sebagai kapten.


Fatur tersenyum puas dan bahagia. Akhirnya ia bisa melepaskan keperjakaannya dengan seseorang yang benar-benar ia cintai. Ia benar-benar tak menyangka, bila efek bercinta bisa sedahsyat ini. Padahal Aileena bukanlah seorang gadis, tapi ia begitu nikmat. Apalagi saat mereka melakukan penyatuan, menaranya seperti dicengkeram erat di dalam gua surganya Aileena. Bukannya kesakitan, ia justru menggeram nikmat membuatnya rasanya ingin lagi dan lagi. Apalagi saat Aileena menggerakkan pinggulnya naik turun, itu sungguh terasa begitu nikmat.


Fatur mendesah dalam hati, tak sabar rasanya ingin melakukan penyatuan lagi tetapi ia sebagai pemimpin.


"Terima kasih Ai-yang untuk malam yang indah ini. I love you so much." bisik Fatur setelah sesi bercinta mereka selesai.


Aileena membenamkan wajahnya di dada Fatur. Ia sungguh merasa malu. Bahkan mungkin wajahnya sudah bak kepiting saos Padang. Namun rasa malu itu tertutupi dengan kelegaan dan kepuasan dari sang suami. Ia tak menyangka, akhirnya, untuk pertama kali dalam hidupnya, ia yang jadi pemimpin pertempuran di atas ranjang.


"Love you too." balas Aileena pelan nyaris berbisik sebab suaranya teredam dekapan hangat Fatur.

__ADS_1


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2