
Mendung tampak menggelayuti akhir pekan itu. Awan hitam berarak seakan mengerti kesedihan orang-orang di kala itu. Akhir pekan yang biasanya diisi canda tawa saat keluarga tercinta bisa berkumpul bersama, justru menjadi hari duka cita karena ada kepergian orang yang tak disangka-sangka.
Nanda nampak menangis histeris di pusara dua orang yang dijadikan satu. Dua orang yang menjadi pusat hidupnya beberapa tahun ini Dua orang yang selalu setia menemani, memberi dukungan, memberikan perhatian dan kasih sayang, mencintainya dengan tulus walaupun awalnya sedikit tak suka mengingat cara hadirnya ia di dunia ini, tapi keduanya tetap menerima dirinya dengan tangan terbuka sebab mereka sadar, bukan keinginannya hadir di dunia ini dengan cara yang tak semestinya. Justru kehadirannya telah berhasil mengukir senyum bahagia di bibir kedua orang yang begitu merindu akan kehadiran seorang cucu. Kepergian kakek dan neneknya yang tak terduga membuat gadis cilik itu bagai kehilangan pijakannya di bumi.
Nanda meraung, menumpahkan segala kesedihan dan kepedihan di atas pusara kedua orang yang merupakan orang tua ayahnya itu. Seandainya ia tau kalau keinginannya agar kakek dan neneknya itu datang menyaksikan pementasan drama yang dimana ia yang menjadi pemeran utamanya justru membuat keduanya celaka hingga meregang nyawa, tentu ia takkan pernah meminta hal tersebut. Ia sungguh menyesal. Amat sangat menyesal.
"Nenek, kakek, jangan tinggalin Nanda. hiks ... hiks ... hiks ... " Raung Nanda sambil memeluk gundukan tanah merah yang masih basah dan bertabur bunga. "Nenek, kakek, mengapa nenek dan kakek ikut ninggalin Nanda. Kenapa kakek dan nenek nggak ngajakin Nanda?" raungan sesegukan.
Radika yang juga sangat terpukul atas kepergian kedua orang tuanya, makin terperosok saat melihat dan mendengar raungan kesedihan sang keponakan.
"Sudah sayang, kamu nggak boleh kayak gini. Nanti nenek dan kakek malah makin sedih liat kamu kayak gini." ujar Radika mencoba menenangkan. Ditariknya tubuh kecil Nanda ke dalam pelukannya. Dieratkannya pelukan itu seraya mengusap punggung ringkih Nanda yang bergetar berusaha menenangkan.
"Ini semua salah Nanda, om. Kalau Nanda nggak minta kakek sama nenek datang ke sekolah untuk nonton Nanda di pementasan drama, pasti kakek dan nenek nggak akan kecelakaan dan pergi kayak gini." ucap gadis kecil yang sudah berusaha 10 tahun itu.
"Ssst ... ini semua bukan salah Nanda, sayang. Ini semua sudah takdir. Sepertinya memang waktu kakek dan nenek di dunia udah berakhir jadi sudah saatnya kakek dan nenek menghadap Allah SWT. Mungkin ini memang jalannya, kita sebagai manusia tidak boleh berlarut-larut dalam kesedihan. Nandang sayang kan sama kakek dan nenek?" tanya Radika pada gadis kecil itu dan Nanda mengangguk. "Kalau Nanda memang sayang dengan kakek dan nenek, maka Nanda tidak boleh bersedih lagi. Sebaliknya, banyak-banyak berdoa semoga Allah menempatkan kakek dan nenek Nanda di surga-Nya Allah." tukas Radika berusaha menguatkan gadis kecil kesayangannya itu.
Saat sedang berusaha menenangkan Nanda, tiba-tiba terdengar suara keributan membuat mereka semua mengalihkan pandangannya ke satu arah.
"Dasar anak pembawa sial! Kamu lihat kan gara-gara kehadiranmu semuanya hancur. Orang tua saya jadi meninggal." pekik Doni setibanya di area pemakaman.
Doni beberapa hari ini melanjutkan pencariannya terhadap istrinya, Nuri yang menghilang bagai ditelan bumi. Namun, isi pesan pagi tadi yang baru sempat ia baca siang ini sungguh membuatnya shock. Orang tuanya meninggal dalam kecelakaan lakalantas saat menuju ke sekolah tempat Nanda menimba ilmu. Dadanya seketika saja bergemuruh. Rasa benci makin menjadi-jadi setiap mengingat wajah gadis kecil yang amat dibencinya itu.
"Kakak, kamu tidak sepantasnya bicara seperti itu. Ini bukan salah Nanda, tapi memang sudah takdir." tukas Radika sedikit meninggi tak suka saat melihat Doni sibuk menyalahkan Nanda sebagai penyebab terjadinya kecelakaan itu.
__ADS_1
"Tapi itu kenyataannya kan! Dia ini memang pembaca sial. Apa kau lupa, berapa keluarga yang hancur karena kehadirannya." ujar Doni sinis seraya mengingat keluarga-keluarga mana saja yang jadi hancur akibat kehadirannya.
"Tapi itu bukan salah, Nanda. Bagaimana pun kehadirannya itu ada andilmu. Kalau bukan karena kau, tidak mungkin ia hadir di dunia ini. Kalau boleh meminta, pasti Nanda takkan mau lahir dari benih pria bajing@n seperti kakak yang cuma bisa menyalahkan tanpa introspeksi diri." desis Radika murka.
Lalu ia menggandeng tangan Nanda keluar area pemakaman dan menuntunnya masuk ke dalam mobil. Orang-orang yang hadir di pemakaman satu persatu pergi meninggalkan Doni terpengkur sendiri di tempatnya.
Doni menatap nanar pada gundukan tanah merah tempat peristirahatan terakhir kedua orang tuannya. Tangannya mengepal. Saat ego membutakan mata hati seseorang, maka hanya ada kebencian. Kebenaran hanya dianggap serpihan debu. Seperti itulah kiranya Doni saat ini. Keegoisannya lebih mendominasi, menutup semua akal sehatnya. Tak peduli melihat kesedihan mendalam pada putrinya, ia justru sibuk menyalahkan segala yang terjadi pada gadis kecil yang tak berdosa itu.
...***...
"Kak, aku mau bawa Nanda tinggal sama kami." Radika meminta izin sang kakak untuk memboyong Nanda ikut dengannya. Lagi pula di rumah peninggalan orang tuanya itu, ia tidak memiliki teman bermain. Hanya ada art dan penjaga saja di rumah. Kakaknya jarang ada di rumah. Kalau pun pulang juga percuma karena Doni tidak pernah memperhatikannya.
"Berani kau bawa Nanda keluar satu langkah saja dari rumah ini, maka jangan salahkan kalau aku akan membuat perhitungan pada kalian termasuk pada anak pembawa sial itu." tegas Doni membuat Radika mendengus.
"Tidak usah sok menasihati. Urus saja urusanmu sendiri dan keluargamu. Biarkan urusan anak kecil itu jadi urusanku. Pergi sana! Mengganggu saja." ketus Doni membuat Radika mendengus pasrah.
Semenjak kepergian Risa dan Ilham, Nanda menjadi pribadi yang pendiam dan pemurung. Tidak ada keceriaan di wajahnya. Tidak ada kebahagiaan yang terpancar di matanya, itu cukup mengusik batin Radika. Tapi ia tak bisa berbuat apa-apa sebab kini gadis kecil itu menjadi tanggung jawab kakaknya.
Dari balkon ruang kerjanya, dapat Doni lihat wajah murung gadis kecil yang merupakan anak biologisnya itu. Dia tampak sedang melamun di tepi kolam ikan. Terkadang hatinya ikut perih mengingat nasib malang gadis kecil itu. Tapi entah mengapa, ia justru tidak bisa mengontrol emosinya setiap berpapasan dengannya.
Doni menghela nafas lelah. Ia tepis perasaan bersalah yang terkadang menyusup ke dalam sanubarinya. Lalu ia pun melanjutkan pekerjaannya.
Keesokan harinya,
__ADS_1
Siang itu langit tampak begitu terik, Nanda yang dulu biasa diantar jemput kakek dan neneknya saat pergi maupun pulang sekolah, kini justru harus pulang sendiri sembari menaiki angkutan umum. Kata Doni, ia harus belajar mandiri. Tidak boleh lemah dan cengeng. Jadilah kini ia berdiri di tepi jalan sambil melirik angkutan umum yang lewat. Tetapi hingga matahari sudah tepat di atas kepala, ia tak kunjung menaiki satu pun angkutan umum yang berhenti di depannya.
Ia justru membalik tubuhnya menyusuri jalanan entah kemana. Di punggungnya tergantung tas ransel yang isinya bukan hanya buku, tapi beberapa barang pribadinya. Hati dan pikirannya kosong. Hidupnya begitu hampa. Satu per satu orang-orang yang dikasihinya pergi meninggalkannya. Apakah benar ia anak pembawa sial, pikirnya? Ingatan akan perkataan ayahnya ternyata begitu membekas di benaknya. Ia takut, bila ia terlalu lama bersama ayah dan pamannya, maka nasib sial itu juga akan menimpa mereka. Ketakutan itu nyatanya membuat gadis kecil itu membuat keputusan besar dalam hidupnya. Keputusan tak terduga dari gadis kecil yang usianya baru 10 tahun. Pergi, ya itulah pilihannya.
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...
Silahkan mampir dan tap love ke cerita othor yg baru ya, kak! 🤩
Selamat utk ketiga rangking umum, kalian berhak get pulsa masing-masing 20rb.
Silahkan kirimkan nomor ponsel kalian via grup chat ya entar othor isiin pulsanya!
Nah, khusus utk rangking mingguan, sebenarnya othor awalnya cuma mau kasi yg rangking 1 nya aja, tapi othor berubah pikiran. Utk yg ke 1 tetap get 20rb, nah untuk yg ke-2 dan ke-3 akan get 10rb. Jadi silahkan chat nomor ponselnya ke grup chat ya! Ditunggu minimal 3x24 jam.
...Othor tunggu. 😉...
__ADS_1
...Selamat malam. 🥰🥰🥰...