Duri Dalam Pernikahan

Duri Dalam Pernikahan
Ch.72 Akhirnya ...


__ADS_3

Entah mengapa hari ini Aileena merasa begitu bosan. Bila biasanya ada Fatur yang menghibur hari-harinya, makan beberapa hari ini tidak ada sama sekali. Dulu biasanya ia akan mengunjungi atau dikunjungi Khanza saat sedang suntuk, tapi kali ini tidak bisa sebab beberapa hari yang lalu Khanza baru saja melangsungkan pernikahannya dengan Rama. Ia tak menyangka, sahabatnya itu akhirnya telah resmi sebagai seorang istri karena itu sebagai pengantin baru ia belum bisa bepergian semaunya. Apalagi sanak saudaranya masih asik berkumpul bersama. Hanya saja Rama yang masih sibuk sebab ia harus menghandle perusahaan selagi Fatur sedang menyelesaikan masalah di Bali.


Ya, Aileena sudah tau kalau Fatur sedang berada di Bali sebab proyek disana sedang bermasalah membuatnya harus turun tangan sendiri. Apalagi menurut Rama masalah kali ini bahkan sampai menyebabkan korban jiwa, mungkin hal itulah yang membuat Fatur makin sulit dihubungi. Tapi bukankah kejadian ini baru terjadi beberapa hari yang lalu. Lalu seminggu yang lalu kemana? Ini yang membuat pikirannya makin berkecamuk.


Karena bingung tak ada yang bisa dikerjakan, Aileena pun menuju lemari penyimpanan barang di kamarnya. Lemari itu dikhususkan untuk menyimpan barang-barang berharga Aileena, mulai dari berkas-berkas atau dokumen penting seperti ijazah, kartu keluarga, akta kelahiran, dan lain-lain. Tapi kali ini ia membuka lemari itu bukan untuk mengambil berkas-berkas penting, melainkan album foto-foto lama milik orang tuanya.


Pertama-tama ia buka album foto masa kecilnya. Aileena tersenyum lebar saat melihat foto-foto dirinya saat masih bayi dan balita. Lalu ia membuka album masa-masa ia bersekolah di taman kanak-kanak. Saat itu, ia tampak bahagia sekali. Ada juga foto dirinya saat ulang tahun. Mereka tidak pernah benar-benar merayakan ulang tahunnya. Tapi orang tuanya selalu mengusahakan merayakannya bertiga walaupun hanya sekedar makan kue buatan ibunya bersama-sama.


Lalu mata Aileena menangkap album foto berwarna coklat tua yang terlihat sangat usang. Ia dulu tak pernah tertarik melihat foto-foto masa muda orang tuanya. Namun kali ini berbeda, rasa rindu yang membuncah kepada orang tuanya membuat Aileena begitu penasaran membuka lembar demi lembar album foto itu.


Dilihatnya, foto ibunya yang masih sangat kecil. Dapat Aileena perkirakan saat itu ibunya berusia sekitar 3 tahunan. Aileena membalik lagi album itu, ada foto ibunya lagi yang sedang mengenakan pakaian kebaya. Tertulis di sana peringatan hari Kartini SMP Negeri 20. Ternyata saat itu, ibunya sedang mengikuti lomba berdandan ala Kartini.


Lalu pada lembaran selanjutnya, Aileena dapat melihat ibunya sudah mengenakan seragam putih abu-abu. Pada zaman itu hampir semua perempuan berambut bergelombang dan mengembang. Lucu memang tapi tetap terlihat cantik. Di sebelahnya, ada foto ibunya berdua dengan seorang gadis yang juga berpakaian putih abu-abu. Tapi entah mengapa, Aileena seakan begitu familiar dengan wajah itu. Lalu Aileena membuka foto lainnya, begitu banyak foto ibunya dengan gadis itu yang dapat ia pastikan bahwa gadis itu adalah sahabat ibunya.


Deg ...


"Sahabat ... Apa jangan-jangan dia adalah ... "


Lalu Aileena kembali membuka-buka album foto itu. Dapat ia lihat ada foto berdua ibunya dengan temannya itu di sebuah wahana permainan, lalu ada foto bertiga ibunya, temannya dan seorang lelaki. Wajah lelaki itupun sangat familiar. Tangan si laki-laki itu tampak menggenggam erat tangan teman perempuan ibunya. Lalu ada foto ulang tahun ke 17 teman ibunya. Si lelaki tampak merangkul mesra pundak teman ibunya. Teman ibunya terlihat begitu bahagia. Terlihat dari senyum manis yang ia sunggingkan.. Lalu di foto terakhir ada foto berdua ibunya dengan sahabatnya itu sambil memegang kue ulang tahun. Di bawahnya tertulis "Happy Birthday My Bestie. I hope we will be best friend forever."


Mata Aileena memanas seketika. Dadanya bergemuruh. Tak ada sepatah katapun yang sanggup keluar dari bibirnya. Bibirnya begitu Kelu. Bulir-bulir bening itu pun mengalir deras membasahi pipi.

__ADS_1


Aileena tau siapa gadis yang ada di foto itu. Ia kini tau siapa sahabat ibunya itu. Walaupun kulitnya telah termakan usia, tapi raut wajah itu masih begitu familiar di mata Aileena. Dan lelaki itu ... kekasih dari sahabat ibunya itu ... dia adalah ayahnya sendiri. Jadi, sahabat ibunya itu ternyata ibu Fatur. Seketika ia merasa dunia begitu kecil. Bagaimana orang yang Aileena cari ternyata ibu dari orang yang mempersuntingnya?


Apakah sikap dingin ibu Fatur pada dirinya karena permasalahan itu?


Apakah ibu Fatur mengenali wajahnya sehingga langsung bisa menebak siapa kedua orang tuanya?


Apakah ibu Fatur tampak membencinya karena wajahnya mirip ayahnya?


Apakah Fatur tidak menghubunginya karena masalah itu juga?


Apakah Fatur sudah mengetahui permasalahan antara ibunya dan orang tuanya Aileena?


Begitu banyak pertanyaan yang bercokol di benaknya.


Aileena bingung. Ia benar-benar bingung. Ia tak tau harus melakukan apa. Tapi satu yang ia tahu, ia harus menyampaikan amanah dari ibunya. Dengan begitu, ia berharap, perkara kesalahan pahaman antara ibu Fatur dan orang tuanya dapat selesai. Ia tak berharap banyak. Ia pun tak berharap Fatur tetap ingin mempertahankan hubungan mereka. Yang terpenting, ibu Fatur harus tau, ayah dan ibunya tidak pernah berniat menyakitinya. Justru, mereka berdua lah yang awalnya tersiksa. Justru mereka berdua lah yang awalnya menderita. Walaupun akhirnya mereka saling mencintai, tapi tetap, masa lalu itu ada.


Lalu Aileena melihat sebuah buku usang yang biasanya digunakan ayahnya untuk menulis catatan pengingat atau hal-hal penting. Dibukanya lembar demi lembar catatan itu. Di pertengahan buku, ia menemukan sebuah foto yang terlihat sangat usang. Mungkin karena terlalu sering dipegang jadi foto itu terlihat sangat lusuh. Tapi Aileena masih dapat mengenali kedua orang yang ada di dalam foto itu. Ayahnya dan Tante Malika.


Di lembaran buku itu juga tertulis ungkapan isi hati sang ayah yang lama terpendam.


Ika kekasihku tersayang, maafkan aku yang terpaksa mengecewakanmu. Sungguh, hingga kini aku masih mencintaimu. Tapi tidak mungkin aku mengabaikan Anne terus-menerus. Apalagi pernikahan kami telah berlangsung selama 2 tahun. Mungkin ini saatnya aku belajar mencintainya. Bukan maksudku melupakanmu, tapi inilah yang semestinya aku lakukan sejak lama. Apalagi sekarang kau sudah berbahagia dengan lelaki pilihan orang tuamu. Semoga kau selalu bahagia, sayang. Doakan aku dan Anne juga bahagia di sini.

__ADS_1


^^^Your dearest love,^^^


^^^Irfan Saputra^^^


Air mata Aileena bercucuran membaca tulisan ayahnya. Bahkan setelah dua tahun pernikahan ayah dan ibunya saja , ternyata sang ayah masih mencintai sosok Malika. Ia begitu kagum pada kesabaran dan ketabahan ibunya dalam menantikan cinta sang ayah. Perjuangan mereka memang tidak mudah, tapi ibarat pepatah, bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian. Dengan ketabahan ibunya, akhirnya ia berhasil menjadi satu-satunya wanita yang dicintainya ayahnya.


Jodoh itu rahasia Tuhan. Kita hanya bisa berencana, tapi tetap Allah jualah yang menentukan. Mungkin saat itu memang ayahnya dan ibu Fatur saling mencintai bahkan hampir menikah, tapi bila Allah menyatakan mereka tak berjodoh, apa yang bisa manusia biasa seperti kita lakukan selain menerima. Sama seperti halnya dirinya dan Adnan yang ternyata harus berpisah. Sudah bisa dipastikan, mereka tidak berjodoh, bukan.


Aileena menyeka air matanya. Lalu ia mengambil sebuah paper bag dan memasukkan buku itu beserta surat peninggalan ibunya untuk Malika.


Setelah itu, ia mengambil sebuah tas yang cukup besar dan memasukkan beberapa lembar pakaiannya dan juga baby Fareezky.


Lalu ia menghampiri baby Fareezky yang baru terbangun, digendongnya bayi mungil nan tampan itu.


"Fareez ikut bunda ya, nak! Kita pergi ke suatu tempat, Fareez mau kan! Mama mau menenangkan diri dulu. Entah apa yang akan terjadi nanti, kita serahkan saja semuanya sama Allah. Fareez jangan rewel ya, sayang." lirihnya pelan sambil menetap sendu wajah Fareezky.


Terlalu banyak peristiwa yang terjadi beberapa bulan ini. Sudah lama ia ingin menyendiri ke suatu tempat, tapi karena kehamilannya, ia menunda hal tersebut. Dan kini, berhubung si kecil telah lahir, fisik Aileena juga sudah terasa lebih baik, jadi ini kesempatannya untuk menyendiri sebelum masa cutinya habis pikirnya.


...***...


*Nah Lo, Ai mau pergi?

__ADS_1


Pasti mak-mak yang kemarin gedek sama Fatur bakal pada happy nih*! 😄


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2