Duri Dalam Pernikahan

Duri Dalam Pernikahan
Ch.63 UGD 3


__ADS_3

"Ma, jangan sebut dia seperti itu." sergah Adnan. "Saat ini, dia ... dia sedang berjuang untuk hidup. Anak dalam kandungannya telah tiada. Semua salah Adnan. Adnan sekarang telah menjadi pembunuh, ma. Gara-gara Adnan sekarang Aileena harus menjalani operasi. Gara-gara Adnan, Delima kehilangan anaknya dan kini pun harus berjuang untuk hidup." lirih Adnan hingga tanpa sadar meneteskan air mata. "Adnan memang lelaki b*jingan dan brengs*k. Adnan pembunuh. Maafkan Adnan, ma, pa. " lirih Adnan yang kini telah luruh ke lantai. Ia menangis terisak.


Andreas dan Santi yang belum paham kronologisnya lantas bertanya, tapi Adnan tak mampu menyuarakannya. Hingga Fatur pun memperlihatkan rekaman CCTV di rumah Aileena. Santi dan Rere menutup mulutnya saat melihat bagaimana kecelakaan itu terjadi. Mata mereka sudah dibanjiri air mata. Mereka tidak menyangka, putra kebanggaan mereka bisa melakukan perbuatan nekat yang berakibat fatal seperti itu.


Andreas, Santi, dan Rere yang melihat Adnan terpuruk ikut meneteskan air mata. Air mata mereka makin merebak saat tau, Fatur telah melaporkan perbuatan Adnan itu ke kantor polisi. Mereka tidak bisa mencegah sebab semua perbuatannya memang harus dipertanggungjawabkan.


Tak lama kemudian, pintu ruangan Aileena terbuka, dibarengi Radika yang keluar dari sana. Fatur mendekati Radika dengan wajah tegang, diikuti Santi, Andreas, Rere, dan Adnan.


"Bagaimana keadaan Aileena dan anaknya? Mereka tidak apa-apa kan?" cerca Fatur yang sudah tidak sabar mendapatkan informasi tentang Aileena.


"Alhamdulillah, bayinya berhasil dilahirkan dengan selamat. Jenis kelaminnya laki-laki. Tapi kondisi fisiknya masih sangat lemah karena itu kami sarankan untuk tidak ditemui terlebih dahulu. Sedangkan Aileena, saat ini kondisinya juga masih sangat lemah dan belum sadarkan diri." jelas Radika membuat semua orang bernafas lega.


Kini pintu ruangan Delima yang terbuka. Seorang dokter keluar dengan wajah lelahnya. Lalu ia melirik Radika seperti ada yang ingin disampaikan.


"Bagaimana keadaan Delima, dok?" tanya Adnan. Radika yang masih di sana ikut mendengarkan. Begitu juga yang lain.


Dokter itu menghembuskan nafas berat, "Janinnya sudah berhasil kami angkat, tapi karena ia mengalami pendarahan yang hebat, kemungkinan kecil ia bisa bertahan lebih dari 1x24 jam." tukas dokter itu, lalu ia kembali menoleh ke arah Radika. "Apa kau mengenal pasien itu, dokter Radika?" tanya dokter itu.

__ADS_1


Dengan ragu, Radika mengangguk.


"Dia ingin bicara empat mata denganmu. Penuhilah permintaannya! Kemungkinan ia bertahan lama, sangatlah kecil." tukas dokter itu memberikan saran.


Dengan ragu, ia mengangguk. Sebelum masuk, ia melirik Rere yang tampak memalingkan wajah. Ia menghela nafas lelah. Entah mengapa, ia merasa tak nyaman saat tau Rere mendengar permintaan Delima yang disampaikan dokter Hilman tersebut.


Lalu Radika masuk dan duduk di samping Delima yang sedang termenung dengan tatapan mata sayu.


"Ka ... " panggil Delima sendu.


Delima menggeleng pelan, lalu setetes air mata lirih di pipinya.


"Waktuku sepertinya tidak lama lagi, Ka. Aku hanya ingin sedikit bercerita padamu. Semoga kau tidak muak mendengarkannya." tukas Delima sambil tersenyum lemah.


"Ceritakan saja, aku akan mendengarkan." sahut Radika. Hatinya ikut sedih melihat betapa lemah perempuan yang pernah ia cintai itu.


"Ka, kau tau, saat kau memutuskan hubungan kita dulu, aku benar-benar terpuruk. Hingga akhirnya aku melihat seorang laki-laki yang begitu mirip denganmu sedang berbincang dengan seseorang di klub malam tempatku bekerja. Dalam kondisi mabuk, aku mendekatinya dan merayunya hingga kami berakhir di kamar hotel. Untuk melampiaskan kekecewaanku, aku sampai terlibat dengannya hingga beberapa kali. Akibatnya aku hamil dan anak itu kini telah berusia 2 tahun, namanya Nanda. Lalu kami bertemu lagi setelah cukup lama berpisah, kemudian kami kembali terlibat malam panas hingga aku kembali hamil anak ini. Anak yang tak sempat melihat dunia. Tapi aku tidak sedih sebab aku akan lebih sedih saat harus meninggalkannya di usia yang sangat dini. Kau tau, aku sangat menyayangi Nanda. Meskipun dia bukan anakmu, tapi setiap melihatnya selalu mengingatkan ku padamu. Pagi tadi, aku telah mengantarkan Nanda ke rumah ayahnya. Aku berharap, keluarga ayahnya dapat menerima Nanda dan menyayanginya." Radika mendengarkan cerita Delima tanpa menyela. Dalam hati ia menyesal, akibat perbuatannya yang tak mau memperjuangkan Delima-lah hingga hidupnya berakhir menyedihkan seperti ini. "Ka, bila kau bertemu anakku, tolong titipkan salam, katakan padanya kalau aku sangat menyayanginya. Maaf karena tidak bisa terus berada di sisinya." ucapnya dengan berlinangan air mata.

__ADS_1


"Kau tenang saja, aku pasti akan menyampaikannya." ucap Radika dengan mata memerah. Apalagi dapat ia lihat, nafas Delima sudah semakin sesak. Suaranya makin lemah dan pelan.


"Ka, aku ... mencintaimu. Sangat ... mencintaimu. Aku ... ti-dak per-nah bi-sa me-lupa-kanmu. Se-la-mat ting-gal cin-ta per-ta-ma-ku .... "


Suara monitor berbunyi nyaring. Di layar tampak garis lurus. Radika menelungkupkan wajahnya di telapak tangannya. Ia tak bisa mencegah tangisnya yang pecah. Ia tak menyangka, Delima begitu mencintainya hingga di sisa nafasnya pun masih mencintainya. Sedangkan dia, dia malah begitu mudah melepaskan dan melupakannya.


"Ima, kau tau, ayah dari anakmu itu adalah kakakku sendiri karena itu kami mirip. Maaf aku tidak mengatakannya. Nanda adalah keponakanku sendiri, tentu aku akan menyayanginya. Ima, maafkan aku, maafkan aku yang dulu tidak memperjuangkanmu hingga kau berakhir seperti ini. Seandainya dulu aku memperjuangkanmu, pasti semua ini takkan terjadi. Tapi nasi telah menjadi bubur. Aku mohon maafkan aku, Ima. Maafkan aku." lirih Radika seraya terisak.


Rere yang mengintip dari balik pintu tampak menyeka air matanya. Ia tak menyangka kalau Radika adalah mantan kekasih dari mantan istri kakaknya itu. Ia tak menyangka kisah mereka serumit itu.


Lalu Rere menutup kembali pintu itu dan menyampaikan kalau Delima telah tiada. Semua ikut bersedih. Bagaimana pun, Delima berakhir seperti itu karena mencoba menyelamatkan Aileena. Adnan yang mengetahui Delima telah tiada begitu menyesali perbuatannya.


"Maafkan aku, Ima. Maafkan aku. Aku mohon maafkan aku. Maafkan, aku." lirih Adnan. Ia sungguh-sungguh menyesal telah mendorong tubuh Delima hingga terjatuh. Saat itu ia sungguh seperti kehilangan akal sehat. "Aku seorang pembunuh. Maafkan aku."


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...

__ADS_1


__ADS_2