Duri Dalam Pernikahan

Duri Dalam Pernikahan
Ch.95


__ADS_3

"Ya, saat di rumah sakit, aku melihatmu masuk ke ruangan dokter bersama seorang wanita dan dokter itu menyebutmu suaminya. Aku tak menyangka mas, ternyata diam-diam kau menikah lagi. Kamu benar-benar jahat, mas." ujar Mirna sambil terisak. "Apa kurangnya aku sama kamu, mas? Mengapa kamu begitu tega mengkhianatiku?" imbuhnya lagi.


"Rumah sakit? Wanita?" ucapnya lagi seraya mengingat-ingat.


"Astagfirullah, jadi karena itu kami menuduhku berselingkuh? Seperti itu, ma? Tanpa bertanya?" tanya Sanusi sambil memandang istrinya dengan sorot mata tak terbaca. Lalu ia mengalihkan pandangannya ke arah Rasyid, "Dan kamu Syid, kamu mendekati Antika hanya untuk membalas dendam yang tak pernah benar ini, hah? Bahkan kau sampai menghamilinya? Gila ... Kalian gila. Astagfirullah, kini dosaku semakin banyak pada keluarga itu. Ya Allah, ampuni aku." ujar Sanusi dengan memucat lalu ia terduduk di lantai sambil mencengkram rambutnya sendiri.


Mirna yang mendengar kata menghamili sontak membulatkan matanya.


"Menghamili? Apa mas katamu tadi? Rasyid menghamili siapa?" tanyanya pada Sanusi yang sedang mencengkram rambutnya frustasi. "Syid, jelaskan pada mama? Apa yang telah kamu lakukan, hah? Jangan kau bilang kau ingin membalas mereka dengan menghamili anak gadisnya?" tanya Mirna dengan sorot mata tajamnya.


"Ma, itu ... itu ... "


"Katakan dengan jelas!" bentak Mirna.


"Iya, ma. Aku ingin membuat mereka hancur supaya mereka pun merasakan bagaimana hancurnya hati kita saat tau mereka merebut papa dari kita." tukasnya cepat dengan nafas memburu.


"Sudah aku katakan, aku masih memiliki moral untuk melakukan hal terkutuk itu." bentak Sanusi dengan mata melotot tajam. "Kau tau, saat kau mengalami kecelakaan, papa pun mengalami kecelakaan. Papa memang tidak apa-apa, tapi ... tapi papa telah membuat ayah dari Antika meninggal di tempat dan putranya koma. Papa membawa putranya ke rumah sakit di sini agar ia bisa menjalani perawatan intensif sebagai bentuk pertanggungjawaban papa. Apalagi ia dengan begitu baik hati tidak ingin melaporkan papa ke polisi. Dokter mengira papa adalah suami wanita itu, tapi papa menjelaskan kalau papa hanya saudaranya saja untuk mencegahnya bertanya lebih lanjut. Bukannya papa menikah lagi. Papa ... papa ingin menceritakannya pada kalian, tapi papa takut. Papa tidak berani apalagi mama punya penyakit jantung, papa tidak ingin menambah beban mama. Papa benar-benar merasa bersalah pada keluarga itu. Apalagi suaminya adalah tulang punggung keluarga. Karena itu, sesekali papa menemui mereka untuk menanyakan kabar dan memberikan bantuan serta perhatian pada kedua anaknya. Tidak mungkin papa lepas tanggung jawab begitu saja." ujarnya dengan tersedu membuat Rasyid dan Mirna memucat hingga merosot ke lantai. "Lalu kau ... tanpa mencari tahu, malah menghancurkan masa depan gadis itu. Papa harus bagaimana sekarang? Kehidupan mereka sudah rumit karena papa. Anak keduanya masih koma dan kini anak gadisnya kau hancurkan seperti itu. Antika memang tidak cerita siapa pria yang menghamilinya tapi ibunya curiga pada foto kalian di ponselnya jadi Metha meminta tolong papa mencari tahu tentang lelaki tersebut yang ternyata anak papa sendiri. Bagaimana lagi papa harus mengatasinya sekarang? Papa menyesal, mengapa bukan papa saja yang mati setidaknya kehidupan kalian masih bisa tetap berlanjut dan berkecukupan, tidak seperti mereka." Raung Sanusi lalu ia menghempaskan kepalanya sekuat tenaga ke meja kaca yang ada di hadapannya membuat Rasyid dan Mirna memekik kaget.


"Papa!!!" teriak mereka terkejut melihat perbuatan Sanusi.


Lalu Rasyid dan Mirna mencoba menahan tubuh Sanusi yang hendak menghempaskan kepalanya kembali ke atas meja. Bahkan meja itu sudah terlihat retak dengan bercak darah di sekitarnya. Dari kepala Sanusi, terlihat jelas lelehan darah yang mengalir dari lukanya.


"Syid, bukankah mama sudah bilang jangan berbuat yang aneh-aneh! Mama bilang cukup kita tahu saja tapi mengapa kau menghamili gadis malang itu. Mama jadi merasa bersalah. Seandainya mama tidak langsung menduga-duga, semua pasti takkan jadi seperti ini." tangis Mirna menyesali perbuatannya yang begitu mudahnya berprasangka tanpa mencari tahu apalagi bertanya. Ia juga semakin menguatkan dugaannya saat melihat Sanusi bertemu wanita bernama Metha itu dan putrinya di sebuah restoran saat akan makan berdua dengan Rasyid. Kini, hanya penyesalan yang ada. Ini kesalahannya. Murni kesalahannya. Putranya sampai bertindak sejauh ini pun pasti karena ingin membalas kecewanya saat itu.


"Ma, maafkan Rasyid. Pa ... maaf, maafkan kebodohan Rasyid." ucapnya dengan mata memerah.


"Maaf, kau pikir masalah ini akan selesai hanya dengan satu kata maaf? Antika hamil, dia hamil anakmu, darah dagingmu. Dia frustasi dan mengurung diri berhari-hari, bagaimana caramu mempertanggungjawabkannya? Papa sudah membunuh ayahnya, membuat adiknya koma, dan kini kau menghamili gadis malang itu. Apa kata maafmu dapat mengembalikan keadaan seperti semula? Apa kau mau menikahinya?" pekik Sanusi dengan mata merah menyala.

__ADS_1


"Aku ... "


Baru Rasyid ingin membuka suara tiba-tiba ponsel Sanusi berdering. Setelah melihat nama penelpon, Sanusi pun segera mengangkat panggilan itu.


"Halo ... "


"... "


Brak ...


Ponsel yang digenggam Sanusi jatuh ke lantai. Wajah Sanusi makin pias setelah menerima panggilan itu.


"Pa ... katakan ada apa? Apa yang terjadi?" tanya Mirna panik saat melihat wajah pucat Sanusi.


"Antika ... Antika melakukan percobaan bunuh diri dan sekarang sedang berada di rumah sakit." tukasnya lemas membuat Mirna dan Rasyid pun ikut memucat.


Mirna memegang dadanya yang tiba-tiba berdenyut sakit.


"Mama ... mama tidak apa-apa. Cepat kita ke rumah sakit. Semoga gadis malang itu tidak apa-apa!" ucap Mirna terbata penuh harap.


...***...


Karena Fatur masih meliburkan diri dari pekerjaannya, ia pun berniat mengajak Aileena dan putranya mengunjungi rumah orang tuanya. Aileena pun setuju sebab selama mengenal hingga sesudah menikah, Aileena belum pernah menginjakkan kakinya sekali pun di rumah mertuanya itu.


Tak butuh waktu lama, hanya dalam 40 menit, mobil yang membawa Fatur, Aileena, dan Fareezky pun telah tiba di rumah mewah milik keluarga Elhaq itu. Saat baru saja keluar dari dalam mobil, ketiga orang itu langsung disambut dengan senyum manis Malika yang begitu sumringah.


"Lho, kok nggak bilang sih mau kesini? Kalau tau kalian mau kesini kan mama bisa minta mbok Asih masakin makanan enak-enak buqt kalian." tukas Malika sembari mengulurkan tangannya pada Fatur dan Aileena yang ingin mencium punggung tangannya. Lalu tangan Malika terulur ingin menggendong Fareezky.

__ADS_1


Seakan sudah saling mengenal lama, Fareezky pun mengulurkan tangannya seraya tertawa membuat ketiga orang dewasa itu gemas melihatnya.


"Kejutan, dong ma. " sahut Fatur cepat sambil tersenyum.


"Wah, cucu Oma pingin minta gendong ya? Sini-sini, ikut Oma, sayang. Uhhh ... lucunya cucu Oma." ucap Malika dengan senyum lebarnya saat melihat Fareezky mengulurkan tangannya. Lalu Malika menggendong Fareezky sambil ditimang-timang.


"Ayo masuk!" ajak Malika.


Di ruang tamu mereka berkumpul. Mbok Asih tampak sibuk menyiapkan minuman dan camilan untuk keluarga itu.


"Makasih, mbok. Nggak perlu repot-repot." ujar Aileena saat melihat Mbok Asih sibuk menghidangkan berbagai jenis makanan dan minuman pada mereka.


"Nggak papa, non. Mbok malah senang. Apalagi non itu istri den Fatur. Mbok senang sekali akhirnya den Fatur nikah apalagi istrinya secantik, non." ujarnya seraya tersenyum. Dipandanginya wajah Aileena, mata mbok Asih tiba-tiba sendu.


"Lho, kok mbok jadi sedih?" tanya Aileena saat melihat mata mbok Asih berkaca-kaca.


"Nggak papa kok non. Senyum non itu mengingatkan mbok sama Anne. Mbok itu sudah anggap Anne kayak anak sendiri. " tukas Mbok Asih bercerita.


"Mbok kenal sama ibu?"


"Iya. Tiap nenek kamu ke pasar, Anne selalu dititipkan sama mbok. Jadi mbok udah sayang banget sama Anne." ujarnya lagi. Ya, mbok Asih sudah tau siapa Aileena dari Malika. Mbok Asih sudah bekerja dengan keluarga Malika sejak Malika kecil. Malika dan Anne tumbuh bersama karena itu ia sangat mengetahui tentang kedua orang itu.


"Iya Ai, dulu mama dan Anne selalu main bersama. Kalau opa dan Oma Fatur pergi, pasti mama dititipin sama mbok Asih dan ibu Maryati, nenek kamu. Oh ya, mama juga banyak menyimpan foto kami." tukasnya sambil berjalan cepat menuju lemari penyimpanan. Setelah mendapatkan apa yang ia cari, Malika pun segera kembali ke tempat duduknya. Ia pun membuka satu demi satu album foto yang menunjukkan kedekatan mereka. "Sebenarnya mama hampir menyingkirkan album ini karena kecewa tapi entah kenapa, mama malah nggak sanggup. Mama justru menyimpannya dengan baik. Mungkin dalam sudut hati terdalam, mama pun sebenarnya tidak yakin kalau Anne tega mengkhianati mama. Tapi sayang, ego mama terlalu besar untuk mengakui itu. Sekali lagi, maafin mama ya, nak sudah berprasangka buruk pada ayah dan ibumu. Maafin mama juga sempat bersikap dingin padamu. Dan ... mewakili orang tua mama, mama mohon maafkan mereka sebab karena perbuatan mereka lah hidup ayah dan ibumu, serta dirimu sendiri jadi sulit. Maafkan kami, nak." ujar Malika dengan wajah penuh penyesalan.


"Ma, semua udah masa lalu. Ai yakin, bapak sama ibu pasti udah memaafkan semuanya. Buktinya, ibu dan bapak tidak pernah menceritakan hal-hal buruk dalam masa lalu mereka. Justru mereka selalu menceritakan hal-hal yang indah sampai Ai dulu iri melihat mereka yang begitu saling menyayangi, memahami dan menghormati. Kalau aja ibu nggak ninggalin surat khusus buat Ai, pasti Ai nggak akan pernah tau cerita masa lalu kalian. Dari kata-kata ibu di surat juga, Ai bisa menyimpulkan betapa ibu sangat menyayangi mama sebagai seorang sahabat." ujar Aileena seraya menggenggam tangan Malika.


Malika tersenyum hangat, "Kau memang putri Anne dan Irfan mereka berdua memiliki sifat yang sangat baik dan kamu mewarisi semua sifat-sifat baik mereka. Mama beruntung bisa memiliki menantu seperti kamu. Mungkin alasan kenapa mama tidak berjodoh sama Irfan, karena anak-anak kami lah yang kemudian akan berjodoh." tukasnya seraya mengusap pipi Aileena penuh sayang.

__ADS_1


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2