
Kehamilan Aileena merupakan berkah luar biasa bagi pasangan itu. Bagaimana tidak Fatur amat sangat bersyukur, sebab mengingat masa lalu Aileena yang sukar hamil membuatnya berpikir mungkin kali ini pun begitu. Tapi Fatur tak pernah memaksa. Bila diberi cepat Alhamdulillah, lambat ataupun tidak sama sekali pun ia tidak mempermasalahkannya. Sebab anak itu adalah anugerah. Kehadirannya tidak dapat dipaksa ataupun memaksa. Manusia hanya bisa berusaha dan berdoa, lalu Allah lah yang menentukan segalanya.
Fatur bahkan tidak kepikiran akan memiliki anak dalam waktu dekat. Ia justru terlalu fokus memberikan kasih sayang untuk Aileena juga putra mereka. Ya putra mereka sebab Fatur sudah benar-benar menganggap Fareezky seperti anak kandungnya sendiri. Namun, hari ini Aileena justru memberikan kabar luar biasa bahagia untuknya. Kejutan tak terduga. Aileena tengah hamil anaknya, sungguh kejutan luar biasa indah.
Sebagai ungkapan rasa syukur dan kebahagiaannya, Fatur mengadakan makan bersama keluarga besarnya. Fatur bahkan menghadiahkan sebuah rumah mewah untuk Aileena sebagai ungkapan terima kasih sekaligus rasa cintanya yang luar biasa untuk Aileena.
"Mas ... ini rumah siapa?" tanya Aileena saat mobil mereka masuk ke sebuah pekarangan rumah yang begitu megah dan mewah. Pilar-pilar tinggi dan kokoh terpancang gagah. Rumah yang terdiri atas 3 lantai itu di dominasi oleh cat berwarna putih. Saat Aileena turun dan lebih memfokuskan tatapannya, Aileena terperangah kagum melihat taman yang cantik dengan ditumbuhi aneka macam bunga warna-warni. Ada pohon mangga yang rindang namun buahnya sudah lebat.
Lalu mata Aileena menangkap beberapa mobil sudah berjajar rapi di carport rumah itu. Ia tampak mengenali beberapa mobil itu. Mungkinkah ini rumah baru salah satu keluarganya, pikirnya.
"Ada aja. Nanti kamu juga akan tau, Ai." ujar Fatur sumringah. Lalu pandangan mata Fatur beralih ke Fareezky yang ada dalam gendongannya. "Rumahnya bagus nggak, bang?" Fatur dan Aileena sudah membiasakan Fareezky dipanggil Abang supaya saat anak mereka lahir nanti, Fareezky sudah terbiasa dengan panggilan itu.
"Adus Yayah. Ayes cuka. Ada ayun-ayun uga. Wah, ada pelocotan uga. Ayes mau lumah ayak ini Yayah." seru Fareezky begitu antusias saat melihat ke arah taman bermain mini yang memang disediakan Fatur khusus kesayangannya itu.
Aileena tersenyum lebar mendengarkan celotehan Fareezky yang terdengar cadel dan kurang jelas tapi tetap mereka pahami.
Saat Aileena dan Fatir telah berada di depan pintu berwarna coklat yang super besar itu, tiba-tiba pintu terbuka dan terdengar seruan yang luar biasa dari dalam sana membuat Aileena menutup mulutnya dengan kedua telapak tangannya karena terkejut.
"Kejutaaan ... "
"Surprise ... "
Mata Aileena membola sempurna saat melihat siapa saja yang ada di dalam sana. Ada Santi, Andreas, Malika, Fatahillah, Radika, Rere, Nanda, Rama, Khanza, dan juga si baby Aisah. Bahkan mbok Ningsih, mbok Asih , dan juga Nina pun sudah ada di sana.
"Ini ... " lirih Aileena dengan wajah penuh keterkejutannya.
"Selamat datang di rumah baru kita, Ai-yang. Ini rumah baru kita. Rumah baru untuk keluarga kita yang tidak lagi kecil karena akan ada calon penghuni baru di sini." ucap Fatur seraya menangkup wajah Aileena yang tampak berkaca-kaca.
"Mas ... ini ... ini serius?"
"Emangnya kapan mas bohong sama kamu, hm? Kamu nggak suka, Ai?"
Aileena menggeleng cepat membuat Fatur mengerutkan keningnya.
"Bukan ... bukan nggak suka. Malah ... suka banget. Makasih mas ya hadiahnya. Ai bener-bener nggak nyangka akan dapat kejutan kayak gini."
"Udah dong, sibuk sama kakandanya melulu. Kami mau ucapin selamat ini." celetuk Khanza membuat semua terkekeh.
__ADS_1
"Oops ... hampir lupa! Sorry ."
"Ck ... giliran udah sama suami aja lupa sama yang di sini. Emangnya kami manekin, mbak." celetuk Rere membuat semua makin tergelak.
"Ish, pengantin baru mah bawel banget." balas Aileena pada Rere yang memang baru 2 Minggu yang lalu menikah dengan Radika.
"Gimana bulan madunya? Sukses dong!"
"Sukses lah mbak. Udah lama menahan sabar nggak mungkin lah ditunda-tunda lagi." tukas Rere sambil mengerlingkan sebelah matanya pada Radika membuat Radika melotot tak percaya pada istrinya yang terlalu blak-blakan.
Semua orang makin tergelak kencang akibat ulahnya. Lalu satu persatu dari mereka mengucapkan selamat atas kehamilan Aileena. Lalu Fatur mengajak semua berkumpul di di taman samping yang sudah siap dengan berbagai hidangan. Karena hari masih sore jadi mereka menyantap sejenis camilan saja sambil berbincang bersama. Menjelang malam, mereka barulah makan malam dengan menu berat. Untuk hari istimewa itu Fatur bahkan mengundang chef kenalannya beserta beberapa pelayan agar dapat memasakkan sesuatu yang nikmat untuk para tamunya. Ia tidak ingin keluarganya masih harus capek menyiapkan makan malam dan beres-beres. Bahkan Mbok Ningsih, mbok Asih, dan Nina pun diperlakukan selayaknya tamu. Tidak ada yang boleh bekerja hari itu. Semuanya tinggal beres.
...***...
Hari menjelang malam, semua yang hadir pun mulai pulang satu persatu ke kediaman masing-masing. Kecuali Fatir, Aileena, Fareezky, mbok Ningsih, dan Nina. Fatur meminta mereka tidur di sana saja sebab semua keperluan pun sudah disediakan. Termasuk pakaian ganti untuk Fatur, Aileena, dan Fareezky. Kalau mbok Ningsih dan Nina karena telah terlebih dahulu tau, jadi mereka telah membawa pakaian ganti sejak awal.
"Mas ... " panggil Aileena saat Fatur sudah mendudukkan bokongnya di pinggiran kasur. Lalu Fatur menyandarkan punggungnya pada headboard dan ia merentangkan tangan agar Aileena masuk ke dalam dekapannya.
"Apa, hm? Kok belum tidur? Ini udah malam lho, Ai. Nggak bagus wanita hamil tidur malam-malam." tukas Fatur pelan seraya mengusap puncak kepala Aileena.
"Nggak bisa tidur kalau nggak dipeluk." ucap Aileena manja.
"Hmm ... kayaknya dua-duanya deh!" ujar Aileena sambil tersenyum lebar.
"Oh, bunda dan dedeknya kangen dipeluk ayah? Oke , sini ayah peluk erat-erat."
"Mas ... "
"Apalagi? Kurang erat peluknya?"
"Bukan."
"Jadi ... "
"Laper." ujar Aileena sambil mengerjapkan matanya.
"Laper? Bunda dan dedek mau makan apa?"
__ADS_1
"Mau mie instan rasa mie celor." ucap Aileena dengan mata berbinar.
"Emang ada varian rasa itu?" Fatur masih merasa asing dengan varian rasa itu. Jadi ia tidak tahu sama sekali.
"Ada. Itu mie khas Palembang."
"Oh ya? Kita punya stok nggak?"
Aileena menggeleng, "Beli dulu dong." ujar Aileena sambil terkekeh. "Tapi ... di minimarket sini emang jarang ada."
"Lah, jadi mas mesti bagaimana?"
"Racik sendiri dong."
"Hah? Tapi ... tapi mas nggak tau cara buatnya."
"Gampang, tinggal liat aja caranya di Ucup." sahut Aileena santai. "Bahan-bahannya ada kok di kulkas. Tinggal mas oleh bumbunya aja. Mie nya pakai mie instan apa aja nggak masalah, mas. Mas buat gih, please! Si dedek maunya mie celor buatan ayahnya katanya." ujar Aileena dengan mata berbinar membuat Fatur pasrah dan mencoba membuatkannya.
Dengan bermodalkan resep yang dishare di channel Ucup, Fatur mulai mengeluarkan bumbu-bumbu dan menghaluskannya. Beruntung kini ia mulai memahami aneka bumbu sebab semenjak menikah dengan Aileena, ia kerap mengganggu wanitanya itu saat hendak memasak. Akibatnya, Aileena sering memintanya membantu alih-alih mengganggu membuat Fatur cukup paham bagaimana cara memasak termasuk cara mengolah bumbu. Tentu hal itu tak sia-sia. Seperti saat ini, di saat istrinya untuk pertama kali mengidam sesuatu yang harus ia sendiri yang memasaknya, ia sudah bisa membuatkannya.
"Bagaimana rasanya, Ai?" tanya Fatur was-was. Ia sudah seperti kontestan kontes memasak yang menunggu komentar dari sang komentator.
Aileena menatap piring berisi mie berkuah itu dengan seksama. Aileena bahkan sampai menelan salivanya sendiri karena tergoda oleh penampakan dan aroma mie khas daerah Palembang tersebut.
"Untuk plating, cukup bagus, aroma ... sepertinya mantap. Kalau rasa .... tunggu dulu, Ai cicip dulu. Ini aman kan?" tanya Aileena hendak mengerjai Fatur.
"Ai ... buruan ih, atau mas makan nih!"
"Iya iya, nggak sabaran banget." omelnya. Lalu Aileena pun mulai menyendok mie ke dalam mulut. Lalu masuk lagi sesendok beserta telurnya. Masuk lagi sesendok dengan udangnya, hingga tanpa terasa isi piring itu pun tandas tak bersisa.
"Alhamdulillah. Sepertinya dedeknya suka, mas. Katanya enak. Ayah punya bakat masak nih!." canda Aileena sambil terkekeh.
"Mas kan emang ayah yang hebat dan serba bisa." ucap Fatur penuh percaya diri membuat Aileena terkekeh.
...***...
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...