Duri Dalam Pernikahan

Duri Dalam Pernikahan
Ch.82 Masih tetap mencari


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, saat Aileena sedang memandikan Fareezky, Ussy pun mulai hendak melancarkan rencananya. Dengan mengendap-endap, Ussy mendekati ponsel Aileena yang tengah di charge. Matanya sibuk bergulir, memperhatikan pintu kamar mandi, waspada tiba-tiba Aileena muncul dan memergokinya sedang memeriksa ponselnya.


Tapi sepertinya keberuntungan tidak berpihak padanya, bukan Aileena yang muncul, tapi ponselnya yang terkunci. Ussy menghela nafas panjang dan menghembuskannya kasar.


"Ck ... pake dikunci lagi. Eh, tapi nggak bisa nyalahin juga sih. Emang sekarang hampir semua orang mengunci layar ponselnya, kan! Aku juga gitu." Ussy terkekeh sendiri lalu meletakkan ponsel itu kembali ke tempatnya.


"Ngapain kamu ketawa sendiri? kesambet?" tiba-tiba terdengar suara Aileena mengejutkan Ussy hingga ia terlonjak kaget.


"Aish, si mbak, ngagetin aja! Untung Ussy nggak punya riwayat sakit jantung, kalo iya udah klepek-klepek Ussy di lantai." omelnya sambil beranjak dari tempat ponsel Aileena dicharge.


Aileena melirik ponselnya yang posisinya sedikit berubah. Ia tersenyum tipis, menyadari apa yang hendak dilakukan Ussy.


"Udah liat videonya?" ujar Aileena santai sambil membalurkan minyak telon di tubuh Fareezky.


"Eh ... " lagi-lagi Ussy terlonjak kaget. Ia menggaruk kepalanya malu. "Eh, mbak tau toh!" ujarnya sambil terkekeh. "Gimana mau liat, ponselnya aja terkunci gitu." sahut Ussy malu dan langsung kabur begitu saja menghindari Aileena.


Aileena terkekeh sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah sepupu jauhnya itu.


...***...


Aileena kini tengah berada di taman depan sambil menggendong Fareezky. Mentari pagi yang bersinar cerah, membuat Aileena semangat mengajak Fareezky berjemur. Sinar matahari pagi memang bagus untuk pertumbuhan dan perkembangan Fareezky. Tak lama kemudian terdengar suara deru mobil berhenti telat di depan pagar rumah Ussy, lalu seorang pria dengan memakai kemeja biru langit dan celana bahan berwarna hitam turun dari mobil dan masuk ke pekarangan rumah sambil mengucapkan salam.


"Assalamu'alaikum." ucap seseorang itu sambil tersenyum manis ke arah Aileena.


"Wa'alaikum salam. Eh, kamu, Riel.. Mau cari Ussy ya? Sebentar, saya panggilkan." ucap Aileena hendak beranjak menuju kamar Ussy.


Ariel yang melihat Aileena menggendong seorang bayi, mengerutkan keningnya. Sebenarnya ia ingin mencegah Aileena, sebab tujuannya datang kesana bukan untuk menemui Ussy, melainkan dirinya alih-alih menjemput Ussy. Tapi kepalang basah, biarkan saja Ussy ia jadikan alasan. Tapi hatinya masih bertanya-tanya, bayi siapa yang digendong Aileena itu.

__ADS_1


Tak lama kemudian, Aileena dan Ussy keluar.


"Lho, bos kok ada di sini? Tumben-tumbenan pagi-pagi nongol di mari?" tanya Ussy penasaran.


"Eh, kan kita hari ini mau ke supplier motochabi agar mau menyuplai toko kita? Mendingan bareng aja satu mobil biar nggak ribet. Sekalian kita mampir ke rumah sakit." ujar Ariel mencari-cari alasan.


"Oh, gitu ya bos. Oke deh!" sahut Ussy sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.


"Eh, bayinya lucu banget. Anak siapa nih mbak?" tanya Ariel iseng-iseng tapi dalam hati udah was wes wos.


"Anak saya sendiri. Namanya Fareezky." sahut Aileena seraya tersenyum tipis.


"Hah! Eh oh ... Apa?" Ariel mencerna ucapan Aileena dan terkejut.


"Kenapa bos kayak shock gitu? Nggak nyangka ya ternyata mbak Ai yang cantik jelita taunya udah punya anak. Padahal kelihatan masih gadis ya!" ujar Ussy seraya terkekeh geli melihat ekspresi cengo Ariel.


"Emang mbak Ai single kok." sahut Ussy cepat.


Ariel mengerutkan keningnya, 'Apa dia hamil di luar nikah?' benak Ariel sibuk menerka-nerka.


"Eh, pasti mikir yang macem-macem nih si bos. Mbak Ai ini perempuan baik-baik ya! Itu anak mbak Ai sama mantan suaminya dulu dan sekarang udah divorce." Ussy menjelaskan. Aileena sudah memberi kode tak perlu banyak cerita, tapi Ussy tak melihat.


"Bagus ya! Ghibah di depan orangnya. Gimana kalau di belakang, bisa-bisa makin parah." Aileena mencebik sambil memicingkan matanya kesal melihat Ussy tidak bisa mengontrol mulut.


"Aduh, maaf ... maaf mbak. Khilaf." ujar Ussy sambil menepuk-nepuk mulutnya yang suka ceplas-ceplos sembarangan.


"Duh, maaf ya mbak! Ariel nggak bermaksud kayak gitu." ucap Ariel merasa tak enak hati

__ADS_1


"Hmmm ... " Aileena hanya bergumam karena sibuk menenangkan Fareezky yang hendak merengek.


Sementara itu, di rumah sakit terbesar di kota Palembang, nampak seorang pasien yang kekeuh ingin keluar dari sana untuk melanjutkan pencarian Aileena. Padahal Dendy telah mencegahnya sebab ia khawatir pada kesehatan putra teman kuliahnya itu, tapi Fatur tetap berkeras. Akhirnya Dendy memutuskan meminta identitas Aileena beserta fotonya. Ia akan bertanya pada teman, saudara, keluarga hingga putra dan karyawan putranya, siapa tau salah satu dari mereka mengetahui keberadaan calon istri anak sahabatnya itu. Dengan begitu, ia bisa meminta Fatur agar tetap beristirahat selagi menunggu informasi selanjutnya.


Setelah mendapatkan foto beserta identitas Aileena, Dendy pun segera membagikannya ke semua kontak yang ada di ponselnya berharap salah satu dari orang yang ada di kontak ponselnya mengenal bahkan mengetahui keberadaan Aileena.


...***...


Jarum jam sudah menunjukkan pukul 7 lewat 35 menit. 25 menit lagi kelas Rere akan dimulai membuat Rere yang bangun kesiangan makin kelabakan. Ia pun segera mencangklong tas ranselnya dan berlarian ke luar. Baru saja ia hendak memesan ojek online agar lebih cepat sampai, tiba-tiba sebuah motor ninja berhenti tepat di depannya. Rere pun mendongakkan wajahnya. Rere terkejut hingga mengedipkan kelopak matanya berkali-kali. Benarkah yang dilihatnya ini? Diliriknya jam yang melingkar di pergelangan tangannya, masih lagi pikirnya, lalu ada urusan apa orang ini ke sini, pikirnya. Dan untuk pertama kalinya, Rere melihat orang itu memakai motor yang membuatnya kian manly.


"Eh Kak Radi, kok kemari? Ada urusan apa?" tanya Rere penasaran. Ia bahkan sampai lupa kalau sedang terburu-buru.


"Mau jemput kamu terus ajak sarapan bareng." ucap Radika singkat.


"Tapi Rere nggak sempat kak. 20 menit lagi ada kelas. Ini aja hampir telat. Rere mau pesan ojek online dulu ya kak! Kalau pake mobil takutnya nggak keburu." ujar Rere sambil melirik jarum jam yang jarum panjangnya telah berada di angka 8.


"Ya udah, aku antar. Yuk ... !" ajak Radika seraya turun dari motornya dan mengambil helm cadangan yang ia bawa. Tanpa persetujuan Rere, Radika pun memasangkan helm itu di kepala Rere membuat Rere cengo di tempatnya.


Rere yang memang sedang di buru waktu pun, lantas membiarkan saja apa yang hendak dilakukan Radika. Lalu Radika membantunya duduk di belakangnya. Radika telah menyalakan motornya, namun belum berniat menjalankannya.


"Motornya kapan jalan sih, kak? Udah hampir telat nih." rengek Rere sambil mengerucutkan bibirnya.


"Gimana mau jalan kalau belum pegangan. Entar jatuh, aku yang disalahin lagi." ujar Radika sambil tersenyum penuh arti.


Tau apa yang dimaksud Radika, Rere pun segera memegang pinggiran baju Radika membuat Radika berdecak kesal. Lalu tanpa seizin Rere, Radika menarik tangan Rere dan melingkarkannya di perutnya membuat Rere menjengit kaget. Baru saja Rere hendak membuka suara untuk protes, tapi Radika sudah melajukan motornya dengan kecepatan cukup tinggi.


Rere yang takut jatuh pun terpaksa mengeratkan pelukannya membuat Radika tersenyum menang. Satu langkah bisa lebih dekat. Kali ini ia akan berjuang untuk mendapatkan gadis yang disukainya. Pertama ia gagal karena terhalang restu, kedua ia gagal karena bertepuk sebelah tangan, dan ini yang ketiga, ia takkan menyerah. Bila sebelumnya ia sempat mengikhlaskan karena Rere telah menjalin hubungan dengan Rasyid, namun kini ia akan berjuang meluluhkan hati yang ia yakini pernah ada rasa untuknya. Kini ia telah menyadari apa yang menyebabkan Rere menjauhinya tempo hari, namun kali ini ia takkan membuat kesalahan yang sama sebab kini ia telah menyadari perasaannya pada gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2