
Fatur kini sedang dalam perjalanan pulang ke rumahnya. Tidak seperti biasanya yang pulang ke apartemen, kali ini dengan semangat Fatur mengendarai mobilnya menuju ke rumah orang tuanya.
Setelah mobilnya terparkir cantik di carport, Fatur segera turun dari mobil sambil bersiul. Padahal hari sudah menjelang malam, tapi ia justru tampak segar bugar .Tampak jelas sekali raut bahagia di wajah Fatur. Ternyata efek jatuh cinta benar-benar luar biasa.
"Assalamu'alaikum, Ma, Pa." ucap Fatur sopan. Lalu ia segera menghampiri kedua orang tuanya dan mencium punggung tangannya keduanya dengan takdzim.
Kedua orang tua Fatur membelalakkan matanya. Merasa aneh dengan tingkah putra semata wayang mereka. Bukan hanya dari wajahnya yang terlihat sangat bahagia. Tapi juga dari caranya masuk dan menyalami mereka, sungguh mereka sudah lupa kapan terakhir kali putra mereka itu menyalami dan mencium punggung tangan mereka.
"Kayaknya lagi bahagia banget nih! Ada apa sih, bikin Mama dan Papa penasaran aja?" goda Malika saat Fatur sudah mendudukkan bokongnya di sofa tepat di samping sang mama.
Fatur tersenyum lebar sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ia salah tingkah sendiri.
"Duh, dari gelagatnya ni yah ma, anak mama ini sedang kasmaran, benar nggak tebakan papa?" tanya Fatahillah sambil mengerlingkan sebelah matanya.
"Emang kentara banget ya, Ma, Pa?" tanya Fatur.
"Tuh kan, bener kata Papa, Ma!" ujar Fatahillah merasa bangga karena tebakannya benar.
"Alah, jangankan papa, mama juga udah bisa nebak kok!" sanggah Malika. "Jadi ada apa nih sampai anak mama ini bahagia banget?" tanya Malika penasaran.
"Emm ... ma, akhirnya perjuangan Fatur membuahkan hasil. Perempuan yang Fatur taksir akhirnya kasi lampu hijau. Tapi ya itu, dia minta Fatur ajak mama dan papa ketemu dia, kalau mama dan papa kasi restu, dia baru bakal terima Fatur 100%." ujar Fatur menceritakan semuanya.
Malika dan Fatahillah saling bertatapan, lalu mereka tersenyum lebar mendengar penuturan putranya.
"Wah, pantesan aja bahagia banget!" ucap Malika. "Jadi gimana pa, kapan papa ada waktu temuin wanita yang hasil meluluhkan hati Putra kita?" tanya Malika lagi.
__ADS_1
"Hmm ... kalau Minggu nanti bagaimana? Kalau besok dan lusa papa sibuk." ujar Fatahillah menanyakan pendapat anak dan istrinya.
"Mama setuju. Mama juga besok ada kerjaan di cafe. Kalau Minggu kan, mama bisa luangkan waktu mulai sekarang." timpal Malika yang disambut senyuman bahagia oleh Fatur.
...***...
"Mas, dari mana sih? Pulang-pulang kok wajah kamu ditekuk gitu. Diteleponin nggak diangkat-angkat. Nanda nanyain kamu terus dari pagi. Udah berapa hari dia nggak ketemu sama kamu. Kayaknya dia kangen. Emang sibuk apa sih?" omel Delima seraya memunguti pakaian kotor yang diletakkan Adnan sembarangan.
"Kamu bisa diam tidak, Ima. Aku pusing. Suami pulang bukannya diberi minum, disiapkan air mandi, malah ngomel kesana kesini." seru Adnan kesal dengan mata mendelik tajam.
Delima tertegun. Bukan hanya karena Adnan makin berubah menjadi dingin dan ketus , ia juga jadi acuh tak acuh dan pemarah.
"Wajah kamu kenapa, mas? Kamu habis bertengkar?" tanya Delima lagi saat melihat lebam di pipi Adnan. Delima mendekati Adnan dan berusaha menyentuh lebam itu, namun belum sampai tangan Delima di pipi Adnan, ia langsung menepisnya membuat Delima menjengit kaget.
"Mas, kamu apa-apaan sih? Kenapa kamu makin hari makin berubah?" cecar Delima yang mulai emosi.
"Aku lagi? Jadi semua salah aku lagi? Kamu egois, Mas. " teriak Delima tidak terima lagi-lagi ia disalahkan.
"Ya, semua itu memang salah kamu. Karena itu, aku akan mempercepat perceraian kita. Mulai saat ini juga, keluar kau dari kamarku. Karena aku akan kembali rujuk dengan Aileena. Jadi aku tidak mau lagi tidur sekamar denganmu." usir Adnan dengan jari telunjuk menunjuk pintu kamar.
"Nggak, aku nggak mau bercerai, aku nggak mau pindah kamar ." tolak Delima sama kerasnya.
Ingin rasanya Adnan menyeret tubuh Delima dan menghempaskannya ke luar dari dalam kamarnya, tetapi ia masih bisa berpikir logis. Delima saat ini sedang hamil. Ia tidak bisa mencelakai anak yang dikandung Delima.
"Terserah." teriaknya. "Yang penting tekadku sudah bulat. Setelah kau melahirkan, kita cerai." tegasnya lagi lalu meninggalkan Delima yang makin panik bagaimana kalau ia benar-benar diceraikan Adnan.
__ADS_1
Delima yang panik lantas menggigiti kukunya. Itu adalah kebiasaannya dikala panik. Lalu ia teringat sesuatu. Ia pun mengambil ponsel dan menghubungi seseorang dari kamar Nanda.
"Halo." sahut seseorang di seberang sana dengan suara setengah berteriak. Delima mendengar suara berisik di seberang sana. Ia sangat tau dimana itu. Suara bising dengan hentakkan musik yang menggema, sudah pasti itu orang itu sedang berada di klub malam.
"Halo Don, ini Ima." ucapnya yang tidak disahuti Doni.
Delima menggeram kesal. Ia masih kesal dengan Adnan, sekarang Doni pun membuatnya kesal.
"Don, kau mendengarkku atau tidak?" teriaknya setelah masuk ke dalam kamar mandi yang ada di kamar Nanda.
"Mau apa lagi kau hubungi aku, hm?" desis Doni .
"Mengapa kau belum melakukan apa yang aku pinta? Apa kau tidak taku aku mengatakan semuanya kepada istrimu?" desis Delima mengancam.
Terdengar suara kekehan di seberang sana, membuat Delima mengerutkan keningnya.
"Kau ingin mengancamku, hah? Silahkan, kau katakan saja semua . Semua sudah percuma. Ancamanmu tidak berarti lagi sekarang. Kau tau, istriku sudah pergi meninggalkanku. Dia sudah pergi. Dia pergi meninggalkan ku karena dia telah lebih dahulu mengetahui rahasiaku. Nuri, kau dimana? Aku mohon maafkan aku. Nuri, aku mohon maafkan aku. Aku mencintaimu. hiks ... hiks ..." Doni meracau lalu menangis.
Delima tertegun mendengar racauan dan isakan Doni. Lalu ia menutup secara sepihak panggilan itu. Ia tak menyangka secepat itu istri Doni mengetahui rahasia mereka. Ia khawatir bagaimana bila suatu hari nanti, Adnan juga mengetahui kebohongannya.
"Tidak ... itu tidak boleh terjadi. Aku yakin, mas Adnan nggak akan sampai tau. Bagaimana pun aku akan terus menjadi istrinya. Aku tidak mau diceraikan lagi. Walaupun aku tidak mencintainya, tapi aku tidak mau jadi gelandangan lagi seperti dulu." gumam Delima khawatir.
Ia tidak berpikir, kebohongan itu ibarat bangkai, serapat-rapat menyimpan bangkai, baunya pasti akan tercium juga. Begitu pula serapat-rapat kita menyembunyikan kebohongan, suatu hari nanti, cepat atau lambat, semua pasti akan terkuak juga.
Adnan baru saja membaringkan tubuhnya di ranjang dengan berbantalkan lengan kirinya. Pikirannya menerawang memikirkan bagaimana caranya meluluhkan hati Aileena. Lalu tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dengan tangan kanannya, ia meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Diliriknya sang penelepon. Ia pun segera mengangkat panggilan itu. Setelah mendengar informasi dari seberang sana, Adnan pun segera menutup panggilan itu.
__ADS_1
...***...
...Happy reading 🥰🙏💪...