
Dengan baby Fareezky di dalam dekapannya, Aileena duduk di salah satu kursi tunggu Bandara Internasional Soekarno Hatta. Ia kini sedang menunggu jadwal penerbangannya menuju Bandara Internasional Sultan Mahmud Badaruddin II yang ada di Palembang. Ditatapnya dengan lembut wajah Fareezky yang sedang terbuai dalam tidurnya, semoga ia tidak rewel saat penerbangannya nanti, harapnya dalam hati.
Pengumuman keberangkatan telah terdengar, Aileena pun segera berdiri sambil menggendong Fareezky. Karena usianya yang masih sangat kecil, Baby Fareezky lebih banyak tidur sehingga memudahkan Aileena mengajaknya tanpa ada drama rewel dan tangis-menangis.
Setelah menyerahkan boarding pass, Aileena segera masuk ke dalam pesawat dan duduk di kursi yang langsung menghadap ke jendela. Tak lama kemudian, pesawat pun mengudara, meninggalkan kota Jakarta. Ini adalah kali pertama penerbangannya selama 10 tahun ini. Ia akan menuju kota Palembang, tempat kelahiran sang nenek. Walaupun neneknya telah tiada, tapi disana masih ada sepupu neneknya. Ia berharap, keluarga neneknya di sana mau menampungnya sementara waktu.
Sementara itu, di kediaman Aileena, ada mbok Ningsih dan Nina tampak kelimpungan mencari sang majikan yang tak kunjung pulang. Padahal jarum jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, tapi Aileena dan Fareezky belum juga menampakkan batang hidungnya. Mbok Ningsih dan Nina pun sangat khawatir. Mereka tidak tau kemana perginya majikannya itu sebab saat itu mereka tengah keluar rumah disuruh Aileena.
"Nin, ayo rewanin mbok periksa kamar non Aileena, entah kenapa mbok merasa nggak enak gini." ucap mbok Ningsih mengajak Nina sang baby sitter memeriksa kamar Aileena. Sebenarnya ia sejak tadi ingin masuk ke kamar itu, tapi rasanya tak sopan masuk ke kamar majikan di saat majikannya pergi. Tapi karena ini sudah berapa jam berlalu, tapi Aileena tak kunjung pulang, jadilah Mbok Ningsih memberanikan diri masuk ke kamar itu tetapi harus ditemani Nina agar ada saksi bila ada sesuatu yang hilang kemudian ia jadi tersangka. Walaupun ia tau, Aileena takkan mungkin melakukan hal itu, tapi Mbok Ningsih berjaga-jaga saja untuk menghindari sesuatu yang bisa saja terjadi.
"Ayo mbok, Nina temenin."
Lalu kedua orang itu pun masuk, diperiksanya, pakaian Aileena dan Fareezky masih ada tapi jumlahnya sepertinya berkurang. Alat-alat make up dan skin care serta perlengkapan bayi Fareezky seperti minyak telon, bedak, baby oil, shampo, tak ada di tempat biasanya. Nina menoleh ke arah dimana biasanya diletakkan tas perlengkapan bayi Fareezky, ternyata sudah tidak ada.
"Seperti non Aileena pergi, mbok." ucap Nina panik.
"Iya nduk, duh gimana ini! Mereka pergi kemana ya? Mana nggak ngasih tau lagi."
__ADS_1
Mbok Ningsih sibuk mondar-mandir karena pusing memikirkan kemana perginya Aileena.
Semua berawal dari sore tadi, mengapa ia mau saja saat Aileena menyuruhnya ke rumah majikan saudaranya, Asih. Tapi bukankah dia hanya seorang pembantu, mana bisa menolak. Ia akan dianggap pembantu kurang ajar bila menolak permintaan majikannya itu. Begitu pula Nina, dia bingung setengah mati, sebab majikannya pergi ternyata saat ia pergi ke minimarket untuk membeli diapers Fareezky yang memang sudah hampir habis. Ia tidak memiliki firasat apapun tentang kepergian majikannya itu.
Flashback on
"Mbok, Ai bisa minta tolong nggak?"ucap Aileena dengan wajah memelas membuat mbok Ningsih yang saat itu hendak membuat donat jadi menghentikan kegiatannya.
"Minta tolong apa, non? Selagi bisa mbok lakukan akan mbok lakukan. Kan memang tugas mbok membantu, non." tukas Mbok Ningsih cepat.
"Mbok tau kan rumah mamanya mas Fatur?" tanya Aileena.
"Ya tentu lah, non. Kan sodara mbok alias kakak perempuan mbok kerja disana, Si Asih. Emang kenapa non? Terus , apa ini?" mbok Ningsih mengangkat paper bag itu tanpa membukanya.
"Itu ... itu buku milik bapak dulu sama surat peninggalan dari ibu. Ternyata, orang tua Ai kenal sama Tante Malika dan di dalamnya ada sesuatu yang penting banget untuk Tante Malika baca. Jadi tolong kesana terus titipin ini sama mbok Asih ya mbok. Minta mbok Asih kasiin ini ke Tante Malika. Bilang, tolong dibaca untuk mengurai kesalahan pahaman di masa lalu." tukas Aileena berpesan. Mbok Ningsih pun bergegas bersiap dan pergi menuju rumah Malika untuk mengantarkan titipan majikannya itu.
Dalam perjalanan, mbok Ningsih tersenyum, berharap masalah orang tua Fatur dan Aileena bisa selesai.
__ADS_1
Sementara mbok Ningsih pergi ke rumah Malika, Nina justru diminta Aileena pergi ke minimarket untuk membeli diapers Fareezky yang sudah hampir habis. Tanpa pikir panjang, Nina pun segera melaksanakan perintah majikannya itu.
Di saat semua orang telah pergi, Aileena pun segera memesan taksi dan pergi dari rumah itu secara diam-diam. Aileena hanya meninggalkan selembar kertas bertuliskan, Mbok Ningsih, Mbak Nina, maafin Aileena ya yang pergi tanpa pamit. Ia hanya ingin menenangkan diri. Terlalu banyak masalah yang datang silih berganti ke kehidupan Ai. Sekali lagi, maafin Ai. Tak usah mencemaskan, Ai. Insya Allah, Ai akan baik-baik saja.
Flashback off
Mbok Ningsih dan Nina yang membaca surat itu pun cukup terkejut. Surat itu ditinggalkan Aileena di atas nakas yang berada di kamarnya. Mbok Ningsih yang panik pun mencoba menghubungi Fatur, tapi ia tak kunjung bisa dihubungi. Nomornya tidak aktif. Sudah berulang kali, bahkan Nina sampai turun tangan menghubungi Fatur, tapi tetap di luar jangkauan.
Rasa khawatir Mbok Ningsih dan Nina makin menjadi-jadi. Ia khawatir kalau terjadi sesuatu pada Aileena dan bayinya. Memang semenjak kemarin, Fatur tidak menghubungi mbok Ningsih, entah apa yang terjadi. Sebelumnya, walaupun Fatur tidak menghubungi Aileena, ia masih menghubungi Mbok Ningsih untuk menanyakan keadaan wanita pujaannya itu dan bayinya. Ia ingin segera menyelesaikan segala urusannya dulu di Bali baru setelah itu menemui Aileena untuk menceritakan masa lalu ibunya yang berhubungan dengan orang tua Aileena. Ia sudah berpikir keras, bahwa masalah itu tidak mungkin bisa ia selesaikan sendiri.
Sungguh ia tidak pernah berniat mengabaikan Aileena, tapi ia harus menenangkan pikirannya terlebih dahulu agar tidak salah langkah. Malika dan Aileena, adalah dua wanita yang sangat berarti dalam hidupnya tentu ia tidak ingin menyakiti keduanya apalagi kehilangan. Fatur telah berjanji pada mbok Ningsih akan menemui Aileena dan ingin mengajaknya berjuang. Seandainya orang tua Aileena masih hidup, mungkin akan lebih mudah menyelesaikan masalah ini. Bukankah bisa saja telah terjadi kesalahpahaman diantara mereka. Sebab terkadang apa yang terlihat di mata kita tidak menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Begitu juga kisah cinta segitiga antara mamanya, ibu Aileena, dan ayah Aileena, bisa saja ada sesuatu yang membuat mereka terpaksa melakukan itu jadi Fatur menyendiri untuk berpikir dan mencari solusi bagaimana caranya agar bisa mengurai benang kusut ini.
Lalu bagaimana saat Fatur tau Aileena ternyata sudah pergi? ???
...***...
...Happy reading 🥰🥰🥰...
__ADS_1