
Sayup-sayup suara adzan berkumandang, memecah keheningan fajar , memanggil para penduduk bumi yang muslim agar bangun dari peraduannya untuk bersegera menunaikan kewajibannya. Salah satunya Aileena, ia mulai mengerjapkan matanya saat mendengar lantunan merdu suara adzan subuh. Menyesuaikan pendarnya dengan pencahayaan temaram di dalam kamarnya. Tangannya meraba ke sisi sebelahnya. Tiba-tiba, Aileena menjengit kaget saat merasakan sisi sebelahnya itu ternyata kosong bahkan terasa dingin, seperti sudah lama ditinggalkan penghuninya.
Aileena lantas mendudukkan tubuhnya dan mengedarkan pandangannya ke segala arah, namun sosok yang dicari tak kunjung tampak di pelupuk matanya. Ia merentangkan tangannya untuk mengusir penat sisa-sisa kegiatan panas semalam. Ia sontak tersenyum simpul membayangkan apa yang telah ia lakukan semalam. Biarpun Fatur tak mampu menggoyang ranjang panas mereka, tapi ia cukup puas sebab menara Fatur ternyata cukup perkasa sehingga mampu membuatnya mencapai puncak berkali-kali. Tetapi tidak dengan suaminya, Aileena justru harus bekerja ekstra keras dan cukup lama agar suaminya itu bisa mencapai titik tertinggi kepuasannya. Oleh sebab itulah, kini ia merasakan amat sangat lelah. Tubuhnya rasanya rontok semua. Ia harap, Fatur segera pulih supaya biar dia saja yang memimpin di lain hari sebab cukup melelahkan bila ia harus kembali memimpin. Seandainya ia tidak kelelahan saja, semalam bahkan sang suami ingin menambah lagi, tapi sungguh tubuhnya tak mampu lagi melakukannya. Untuk saja, suaminya itu sungguh pengertian.
Aileena segera tersadar dari lamunan absurd-nya. Ia segera berdiri untuk mencari sang suami. Sebelum keluar, ia melirik ke arah box bayi yang terdengar senyap, pikirnya mungkin Fareezky masih terlelap.
Setibanya di luar, mata Aileena membola sebab ternyata Fatur telah mengenakan baju Koko dan kain sarung, sepertinya ia sudah bersiap untuk melaksanakan ibadah subuh. Tapi sepertinya si kecil sedang ingin bermanja dengan ayahnya. Sebab saat ini Fatur justru sedang menggendong si kecil tampan yang tampaknya sedang kegirangan digendong ayahnya.
"Mas mau sholat?" tanya Aileena.
"Hmm ... tapi sepertinya si kecil sedang ingin ikut ayahnya sholat. Sehabis berwudhu tadi, tau-tau dia bangun dan merengek. Saat mas gendong, eh dia malah tertawa."ujar Fatur sambil mendusel-dusel hidungnya di leher Fareezky. Aroma khas bayi menguar dari area lipatan, biarpun masam tapi begitu nikmat saat dihirup.
"Kenapa nggak bangunin, Ai? Sini, biar Ai gendong. Mas sholat aja dulu. Nanti gantian aja. Mau bareng juga udah nggak sempat soalnya Ai kan belum mandi." ujar Aileena seraya mengulurkan tangan untuk menyambut Fareezky.
Fatur pun menuruti apa perkataan Aileena dan menyerahkan Fareezky ke bundanya.
...***...
Aileena kini tengah berkutat dengan peralatan dapur miliknya. Hari ini ia tidak dibantu mbok Ningsih sebab mbok Ningsih sedang melakukan rutinitas yang dilakukan 2 kali seminggu, yaitu pergi ke pasar tradisional untuk membeli beragam kebutuhan dapur. Sedangkan Fareezky sedang bersama Nina di taman belakang rumah.
Saat sedang sibuk mengaduk nasi di dalam wajan, tiba-tiba ada sepasang lengan kekar memeluk tubuh Aileena dari belakang. Dari aroma maskulin yang menguar ke indra penciumannya, ia sangat tau siapa pemilik tangan kekar itu. Aileena tersenyum simpul saat punggungnya merasakan detak jantung Fatur yang begitu menggebu. Tak jauh berbeda dengan Fatur, Aileena pun merasakan hal yang sama. Debar jantung keduanya seakan sulit untuk dikontrol saat mereka tengah bersama.
"Mas, entar dilihat mbak Nina lho! Lepas ih!" bisik Aileena saat dagu Fatur tampak santai bertumpu di pundaknya.
__ADS_1
"Emang kenapa? Kan kita udah suami istri jadi wajar mau mesra-mesraan. Apalagi kita ini masih pengantin baru. Masih hangat kayak teh yang baru Ai-yang sajikan itu." tukasnya seraya tersenyum simpul dengan hidung sibuk menelusuri kulit leher Aileena yang harum. Lalu bibirnya bergerak menghisapnya hingga meninggalkan jejak merah kebiruan di leher Aileena.
" Aduh, mas iseng banget sih!" desis Aileena seraya mengerucutkan bibirnya. "Iya juga sih, tapi ya nggak enak aja diliatin, mas." imbuhnya setelah Fatur melepaskan bibirnya dari leher putih itu.
"Ck ... dia juga ngerti kok kan dia udah nikah. Pasti tau kalau kita ini lagi hot-hotnya." ujar Fatur seraya cekikikan hingga terdengar suara ctak, kompor dimatikan.
"Mas, lepas dulu, Ai mau ambil piring." pinta Aileena seraya menggerak-gerakkan tubuhnya agar terlepas dari lilitan tangan Fatur.
Seperti gurita, Fatur seakan enggan melepaskan belitannya walau sedetik saja membuat Aileena berdecak lalu ia bergerak menuju rak piring dan mengambil beberapa piring untuk nasi gorengnya.
"Ai, tau nggak, mas nyesel banget ... " ucap Fatur ambigu membuat Aileena mengerutkan keningnya.
"Nyesel? Mas nyesel apa? Nyesel nikah sama Ai? Karena Ai janda gitu?" cerocos Aileena tak suka. Entah mengapa pikirannya tiba-tiba mengarah kesana. Mungkin di bawah alam sadarnya, ia sedikit insecure dengan dirinya sendiri.
Dinaikkannya dagu Aileena hingga mata mereka saling bersirobok. Dikecupnya kedua belah mata itu dengan lembut, kemudian beralih ke dahi, kedua pipi, hidung, dan terakhir bibir.
"Kenapa kamu mikirnya ke situ, Ai-yang? Kamu gak nggak, sesuatu yang paling mas syukuri itu justru kehadiranmu dalam hidup mas." tukasnya lembut dengan sorot mata penuh cinta. "Yang mas sesali itu bukan itu Ai-yang'nya mas tersayang. Justru yang mas sesali itu kenapa Mas terlambat mengenal kamu. Kenapa mas terlambat menjadikanmu bidadari dalam hidup, mas. Seandainya mas yang duluan, pasti mas akan sangat bahagia. Bukan hanya itu, tapi Ai-yang'nya mas tak akan pernah merasakan sakitnya dikhianati. Dan lebih sempurna lagi, Fareezky akan lahir dari buah cinta kita." imbuhnya lagi seraya mengusap pipi putih Aileena.
Aileena tersenyum haru lalu memeluk tubuh suaminya dengan kepala bersandar di dada bidang yang hangat itu.
"Masa lalu nggak usah disesali, mas. Yang terpenting itu masa depan. Yakinlah, ini adalah cara Allah mempertemukan kita. Kalaupun kita kenal lebih dulu, apakah ada jaminan mas akan jatuh cinta sama Ai? Apakah ada jaminan juga kita bisa bersama? Nggak kan. Allah itu maha mengetahui apa yang terbaik bagi hamba-nya." pungkas Aileena yang membuat Fatur terperangah dan makin terperosok ke dalam jurang cinta Aileena.
...***...
__ADS_1
"Rasyid ... Rasyid ... " teriak seorang pria paruh baya. Ia melangkahkan kakinya dengan tergesa dan nafas memburu. Kilatan emosi dan amarah terlihat jelas di matanya.
"Pa ... kenapa teriak-teriak? Ada apa? Apa yang terjadi?" tanya seorang wanita paruh baya panik saat melihat wajah suaminya tampak kelam menahan emosi yang membara.
"Kemana anak kurang ajar itu? Cepat panggil dia kemari!" tukas pria itu dengan tangan terkepal.
Baru saja tubuh wanita paruh baya itu hendak berbalik memanggil sang anak, Rasyid telah terlebih dahulu turun dari tangga dan segera mendaratkan bokongnya di sofa ruang tamu.
"Ada apa pa? Pulang-pulang kok marah-marah sih?" cibir Rasyid.
"Heh anak kurang ajar, apa yang kau lakukan pada Antika hah?" bentak Sanusi pada putranya.
"Antika ? Siapa itu Antika? Oh, anak jal@ng selingkanmu itu, hm?" cibirnya lagi membuat Sanusi membulatkan matanya.
"Apa maksudmu? Jangan bicara kurang ajar kamu! Papa tidak mendidikmu untuk menjadi anak kurang ajar seperti ini!" desis Sanusi marah.
"Cih, Anda masih mau berkilah tuan Sanusi? Aku dan ibuku sudah tau kalau kau memiliki hubungan terlarang dengan perempuan itu. Seorang janda. Padahal kuburan suaminya saja belum lama mengering tapi istrinya sudah bermain gila dengan suami orang. Apalagi sebutannya kalau bukan jal@ng." desis Rasyid tak kalah tajam.
"Hubungan terlarang? Jangan sembarangan bicara anak kurang ajar! Aku masih memiliki moral untuk melakukan perbuatan terkutuk itu jadi jangan sembarangan berbicara." teriaknya. "Ma, apa kau mengira aku selama ini memiliki selingkuhan? Begitu?" tanyanya pada sang isteri.
Mirna terdiam di tempatnya. Ia ingat beberapa bulan yang lalu saat sedang menuju bagian administrasi, ia melihat suaminya berjalan menuju sebuah ruangan dengan seorang wanita di sisinya. Mirna pun mengikuti suaminya itu hingga masuk ke dalam ruangan dokter membuatnya penasaran untuk apa suaminya kesana. Mirna pun mencoba mencuri dengar dan tubuhnya sontak bergetar saat suaminya disebut sang dokter sebagai suami sang perempuan itu. Tanpa mendengarkan lebih lanjut pembicaraan itu, Mirna pun bergegas pergi karena tak mampu menahan sakit hatinya yang begitu terluka. Terluka tapi tak berdarah, itulah yang Mirna rasakan saat tau ternyata suaminya memiliki istri lain selain dirinya.
...***...
__ADS_1
...Happy reading 🥰🥰🥰...