Duri Dalam Pernikahan

Duri Dalam Pernikahan
Ch.62 UGD 2


__ADS_3

Dengan tergesa, Radika mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Bahkan untuk pertama kalinya, ia sampai menerobos lampu merah mengabaikan teriakan pengendara lain. Beruntung lampu merah yang dilewatinya tidak terdapat polisi satlantas yang berjaga, jadi ia bisa melenggang begitu saja dari sana.


Hanya butuh 15 menit dari yang biasanya 35 menit, Radika tiba di rumah sakit. Ia berlarian di sepanjang koridor lalu masuk ke ruangannya sekedar untuk memakai snelinya dan mengambil beberapa perlengkapannya. Setelah itu, ia langsung menuju ke ruang UGD dimana Aileena baru saja dibawa kesana.


Fatur yang melihat Radika berlarian, segera menghentikan langkahnya dan meraih Kedua tangannya seraya mengucapkan permohonan pertolongan.


"Ka, aku mohon sama kamu, usahakan yang terbaik. Selamatkan Aileena dan anaknya. Aku mohon." ucap Fatur seraya memelas. Wajah panik begitu kentara terlihat. Tidak ada penampilan rapi dengan rambut klimis. Penampilannya begitu berantakan persis seorang suami yang tengah mengkhawatirkan istrinya. Tak jauh dari tempatnya berdiri, tampak Adnan dengan penampilan jauh lebih berantakan karena pakaiannya yang tampak merah terkena darah Delima.


Radika menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembus perlahan, kemudian ia menatap lekat netra Fatur.


"Akan aku usahakan semampuku. Doakan semuanya lancar, bang." tukas Radika seraya menepuk bahu Fatur. Lalu ia masuk ke ruangan Aileena.


Sedangkan di ruangan lain, Delima ditangani oleh dokter lain yang lain. Tetapi karena kondisi Delima yang kritis, ia harus ditangani beberapa dokter sekaligus.


Baru 10 menit Radika masuk ke ruangan Aileena, ia keluar lagi. Fatur yang penasaran, sontak berdiri mendekati Radika.


"Ada apa?" tanya Fatur khawatir.


"Aileena harus segera menjalani operasi Caesar. Ia sudah kehabisan banyak tenaga, belum lagi air ketubannya sudah hampir kering jadi tidak memungkinkan ia melahirkan secara normal. " tukas Radika memberitahu. "Tapi yang jadi masalah, siapa yang akan menandatangani surat pernyataan persetujuannya?" tanya Radika.


"Lakukanlah apa yang terbaik. Aku calon suaminya, jadi aku yang akan menandatangani surat itu." sahut Fatur mantap penuh keyakinan.

__ADS_1


Radika pun kembali masuk ke dalam ruangan serba putih itu dan menjalankan tugasnya sebaik mungkin. Sedangkan dari kamar Delima , seorang dokter juga keluar dengan wajah yang tampak mengguratkan rasa tak enak hati.


"Keluarga ibu Delima?" tanya dokter itu.


Karena tau Delima tidak memiliki keluarga lain, sama seperti Aileena, Adnan pun maju.


"Ada apa, dok?" tanya Adnan dengan jantung berdegup kencang.


"Apa Anda suaminya?" tanya dokter itu.


Adnan menggeleng, "Tetapi saya mantan suaminya. Dia tidak memiliki keluarga lain. Jadi beritahukan saja kepada saya ada apa sebenarnya?" imbuh Adnan berusaha untuk tenang.


Dokter itu menghela nafas berat, sulit menyampaikan ini, tapi ia harus melakukannya.


Hatinya mencelos, tangannya gemetar. Bukan hanya Adnan yang terkejut, tapi juga Fatur yang berada tidak jauh dari ruangan Delima.


"Saya mohon dok, selamatkan wanita itu. Selamatkan Delima. Saya akan membayar berapa saja asal Anda bisa menyelamatkannya." tukas Adnan dengan wajah memelas. Bagaimanapun ini kesalahannya. Ia benar-benar tak menyangka, perbuatannya bisa berakibat fatal seperti ini. Bahkan sangat-sangat fatal. Satu nyawa tak berdosa telah melayang dan kini satunya sedang berjuang untuk bertahan. Ia merasa sangat berdosa sekali kepada bayi yang tidak tau apa-apa itu. Padahal setahunya, hari kelahiran bayi itu tinggal menghitung hari saja.


"Maaf tuan, saya hanya bisa berusaha dan Allah yang menentukan segalanya. Namun, saya akan tetap berupaya sebaik mungkin. Mohon doanya. Dan tolong Anda tanda tangani surat pernyataan di bagian administrasi. Saya akan kembali melanjutkan tugas saya." tukas dokter itu pada Adnan. Setelah dokter itu masuk ke dalam, Adnan berusaha menyeret kakinya menuju bagian administrasi. Matanya memanas, betapa besar dosanya, pikirnya. Delima memang bersalah padanya, tapi ia tidak pernah berpikir untuk membalasnya apalagi dengan cara seperti ini.


Selesai menyelesaikan urusan administrasi dan menandatangani surat pernyataan, Adnan kembali duduk di sebuah bangku di depan ruang UGD yang disediakan untuk keluarga pasien. Ia menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Kini penyesalannya kian bertambah-tambah. Karena keegoisan dan kebodohannya, dua wanita harus berjuang untuk bertahan hidup. Karena dirinya, bayi Delima meninggal. Karena dirinya, kini Aileena juga harus menjalani operasi Caesar. Semua masalah ini berasal dari dirinya.

__ADS_1


Fatur menatap sinis pada Adnan. Lalu ia berdiri menghampiri Adnan. Matanya kini memerah, menahan amarah sekaligus kesedihan. Orang yang dicintainya kini sedang berjuang di dalam sana akibat kebodohan mantan suaminya yang egois. Lalu Fatur menarik kerah baju Adnan dan mencengkramnya kuat hingga Adnan rasanya tercekik.


"Apa yang ada dalam otakmu sebenarnya, hah? Kau tahu Aileena sedang hamil, tapi kau malah menyeretnya. Kau juga membuat seorang wanita harus kehilangan bayinya sebelum sempat melihat dunia? Apa kau sudah hilang akal, hah? Kau itu orang berpendidikan, tetapi mengapa bertindak tanpa memikirkan risikonya? Lihat sekarang, karenamu, karena dirimu 2 wanita sedang berjuang di dalam sana. Dan Aileena, kau mengatakan kau mencintainya, tapi apa yang kau lakukan? Seakan tiada bosan, kau terus-menerus menyakitinya. Ini yang kau sebut cinta, hah!" pekik Fatur seraya mengguncang tubuh Adnan yang hanya bisa terdiam. Ia tau, ia salah. Ia tak mampu berkelit sebab apa yang disampaikan Fatur itu semuanya benar.


"Mas Fatur, kak Adnan, ada apa ini?" tanya Rere yang tiba-tiba saja telah berada di samping Fatur. Ia menahan tangan Fatur agar tidak melakukan hal yang berlebih dan bisa berakibat fatal.


"Adnan, mengapa kau ada di sini?" tanya Santi yang ternyata juga datang bersama Andreas.


"Jangan bilang, semua ini terjadi akibat ulahmu?" tanya Andreas dengan nada meninggi dan penuh penekanan.


Fatur yang melihat kedatangan orang tua Adnan sontak melepaskan cengkramannya dengan kasar hingga tubuh Adnan sedikit terhempas ke dinding.


Adnan hanya tertunduk, tidak tau harus menjelaskan dengan cara apa.


"B*jingan!" umpat Andreas seraya melepaskan sebuah Bogeman tepat di rahang Adnan.


"Mama takkan memaafkanmu bila terjadi sesuatu pada cucuku, Adnan." ancam Santi.


"Tapi dia juga anakku, ma?" cicit Adnan.


"Anakmu? Yang mana? Bukankah anakmu adalah anak yang dikandung perempuan sialan itu?" cibir Santi.

__ADS_1


...***...


...Happy reading 🥰🥰🥰...


__ADS_2